{"id":3555,"date":"2004-07-19T00:48:00","date_gmt":"2004-07-19T00:48:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=3555"},"modified":"2020-07-03T00:50:12","modified_gmt":"2020-07-03T00:50:12","slug":"admiral-sentot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=3555","title":{"rendered":"Admiral Sentot"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Juni Poppin<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Aku menyukai lagu-lagu berbahasa Amerika Latin. Terdengar amat sexy dan menggetarkan jiwa. Sayangnya, kesukaanku tidak disertai motivasi untuk belajar bahasa sexy itu, sehingga lirik lagu-lagu yang kudengar itu lalu kuterjemahkan sendiri berdasarkan intonasi dan cara si penyanyi menyanyikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pacarku Nana yang juga menyukai hal yang sama mengata-ngatai aku <em>ngawur,<\/em> tapi dia malah keranjingan mendengarkanku menyanyikan lirik-lirik <em>ngawur<\/em> versiku dan aku diam-diam menciumi-Nya berterima kasih atas Nana untuk hidupku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarusnya kamu menyukai telenovela juga seperti aku Luc..&#8221;<br>\u201cLou\u2026.\u201d<br>\u201cHe he he .. ok, kenapa kamu nggak suka telenovela lou\u2026\u201d<br>\u201cTelenovela kan bukan lagu nana sayang!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Nana-ku yang seenaknya. Di awal hubungan kami, dia memaksa untuk memenggal namaku menjadi Luc, memendekkan Lucas Patriat.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya,\u2018Luc terdengar eksotik. Hah? Karenanya aku malah takut membawanya ke tengah teman-temanku. Dasar cewek bandel!<\/p>\n\n\n\n<p>Jess teman sekost-ku malah mengatai nanaku \u2018dasar cewek indonesia &#8216;.<\/p>\n\n\n\n<p>Mencintai nana adalah yang termudah yang aku lakukan sejak aku tiba di negeri khatulistiwa ini 2 bulan lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Di kampungku Les Andelys, aku tidak pernah punya hubungan percintaan yang \u2018mudah&#8217;. Menurut dua kakakku, aku terlalu bodoh untuk bercinta.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Dua pacaran pertamaku adalah eksperimen atas nama pencarian jati diri, apakah aku laki-laki, atau banci, atau homoseks. Pacaran berikutnya lebih kepada misi kemanusiaan karena gadis tetanggaku yang juga kebanyakan baca dan bermain komputer tidak pernah merasakan ciuman laki-laki. Aku bahkan menyebut namaNya saat mencengkram rahangnya dan menempelkan bibirku ke kawat giginya. Yaiks.<\/p><p>Lalu saat teman-temanku mulai menyukai acara berperahu berdua di sungai Seine , atau mendatangi reruntuhan kuil Gaillard menjelang malam, aku malah ditinggalkan gadisku yang mengejar seorang cowok Amerika saat berkencan di kafe disamping gereja Saint Sauveur. Dan cewek berikutnya tersedot ke dalam mobil Ferarri pejantan kampusku saat berjalan berangkulan denganku di Rue Philippe Auguste. Bercinta kemudian seperti menghadapi tangan ibuku dengan <em>minyak castor<\/em> di tangannya, luar biasa menyulitkan.<\/p><p>Nana menghuni hatiku seperti jantung buatan. Awalnya terasa asing dan aneh. Perempuan indonesia dengan kecentilan anak 14 tahun, otak psikolog, dan kelenturan bahasa tubuhnya\u2026 benarkah cowok bule tampan sepertiku membuat nana dan teman-temannya tergila-gila. Jangan-jangan mereka hanya mencari romantisme sesaat, atau mungkin kemungkinan punya anak setengah bule yang konon adalah luar biasa bagi mereka.<\/p><p>Nana lalu menghapus semua itu dan menggantikannya dengan percintaan yang amat mudah dan menyenangkan. Seperti yang dilakukannya petang ini, tanpa ba bi bu dia merampas telepon genggamku saat aku berniat membooking hotel untukku menginap di Bandung selama aku menyelesaikan bukuku. Dengan wajah hingar bingar dia kemudian menyeretku ke rumah orang tuanya di kaki bukit di pinggiran bandung .<\/p><p>\u201cHei kamu seharusnya menelepon mereka dulu sayang, barangkali mereka keberatan aku\u2026 \u2018<\/p><p>Nana menjejalkan satu jarinya ke mulutku lalu menyanyikan lagu kesukaannya untuk menghentikan pertanyaanku. Aku tidak yakin orang tuanya akan membiarkan aku menginap di rumah mereka selama 2 bulan, sampai bukuku selesai.<\/p><p>Rumah tanpa pagar itu seperti membetot ragaku masuk. Selama ini nana menggambarkannya sebagai istana kecil tempat dia bermain dan bersembunyi dari semua yang menyakitkannya. Satu sofa berkesan hangat dan dua kursi kayu menyambutku masuk.<\/p><p>Nana berlari masuk dan membiarkanku menghirup udara masa kecilnya. Kalau benar dia menyelesaikan kuliahnya di luar negri, lalu bekerja di Jakarta, kota tempat kami bertemu, maka rumah ini sudah kehilangan nana selama 9 tahun. Cukup lama.<\/p><p>Sofa empuk itu membuat mataku mengantuk, padahal perempuan tu yang dikenalkan nana sebagai Mbok Ruri sudah menyuguhkan <em>coke<\/em> kesukaanku dan sepiring makanan goreng. Nana pasti sudah mengumumkan ketergantunganku pada <em>coke.<\/em> Makanan indonesia sering membuatku terpaksa menelan obat sakit perut atau bahkan aspirin, dan <em>coke <\/em>itu seperti ramuan mustajab perpaduan keduanya.<\/p><p>\u201c Ayo kutunjukkan kamarmu <em>my lord <\/em>!\u201d<\/p><p>Baru saja aku ingin memotongnya dengan bertanya dimana kedua orang tuanya, saat sepasang mata menatapku nanar dari balik punggung nanaku. Mata itu setengah tertawa tapi berteriak mengusirku, aku agak menggigil.<\/p><p>\u201c <em>What&#8217;s wrong<\/em> luc?\u201d<\/p><p>Aku merasakan otakku menyuruhku untuk mengabaikan tatap nanar itu dan kembali menatap wajah indah nanaku, tapi mata itu berteriak lagi mengusirku.<\/p><p>\u2018\u201dLou\u2026 kamu baik-baik saja kan sayang?\u201d<\/p><p>Tiba-tiba aku merasa harus memeluk erat-erat nanaku. Somehow aku takut mata itu akan menyakiti nanaku. Pelukanku malah membuat nana tertawa keras dan berusaha melepaskan kedua lenganku yang besar dan melilitnya.<\/p><p>\u201cHa ha ha \u2026 kamu takut sama Admiral Sentot ya?!\u201d<\/p><p>Admiral? Sosok dalam lukisan besar di balik punggung nanaku pemilik mata yang berteriak-teriak itu jauh dari sosok seorang admiral. Bahkan sama sekali tidak tampak seperti pelaut atau nelayan sekalipun! Admiral?<br>***<\/p><p>Aku sama sekali tidak mengerti apa yang menahanku bertanya lagi pada nanaku soal admiral sentot yang matanya tidak bersahabat itu. Yang jelas saat aku berada di istana kecil nana itu, aku akan melewatkan ruang tamu secepat mungkin.<\/p><p>Kamar untukku amatlah nyaman, dibelakang, dengan pemandangan kebun, dan <em>design <\/em>interior unik, benar-benar ruang kerja yang menyenangkan. Aku langsung merasa nana teramat sangat mencintaiku.<\/p><p>Akhirnya aku tahu kalau orang tua nana sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Selama ini aku terlalu asyik mencumbunya saja rupanya, sehingga data yang amat mendasar seperti itu luput dari pengetahuanku.<\/p><p>Setelah 3 hari aku memaksa memoriku me-<em>reject <\/em>Admiral Sentot dan teriakan di matanya, malam ini kuingin nana menjelaskan arti teriakan itu kepadaku.<\/p><p>Perempuan dan kegiatan belanja seperti kulit dan pori-porinya. Aku sama sekali tidak merasa kesal nana meninggalkanku seharian untuk belanja makan malam. Mbok Ruri juga ketakutan kalau aku tidak bisa berbahasa Indonesia , dan itu memunculkan tembok Berlin lengkap dengan gelondongan kawat berduri dan ratusan<em> snipers<\/em> antara aku dan Mbok Ruri.<\/p><p>Komputer di kamar yang sudah kuakui sebagai kamarku itu sudah seharian juga menyala. Aku berniat untuk mematikannya, lalu berjalan sedikit ke belakang rumah mencari sejumput alang-alang dan bunga liar untuk menggoda nanaku saat dia pulang nanti.<\/p><p>\u201c Hey! Kowe! Pergilah kamu dari sini dan jangan balik-balik lagi\u201d<\/p><p>Panggilan hey dan kowe itu kutahu berlogat jawa tengah, tapi satu kalimat pengusiran dalam bahasa Perancis fasih? Siapa dia.<\/p><p>Sepasang mata AdmiralSentot yang kubenci berteriak ke arahku dari layar monitor yang mau kumatikan itu. Gerak motorikku sudah tidak berdasarkan perintah <em>neuron<\/em>ku lagi, seperti kucing menyambar tikus, kumatikan monitor dan teriakan mata admiral itu. Apakah aku ketakutan? &nbsp;Aku lebih merasa benci daripada ketakutan.<\/p><p>Kakakku pernah mengajariku karate di Rouen waktu aku berumur 11 tahun. Dan saat ini, aku yakin akan mampu melawan si admiral kalau ia mampu menampakkan diri tidak dari layar komputer ataupun lukisan di dinding ruang tamu.<\/p><p>\u201cEhh, <em>kowe budegh<\/em> ya?!\u201d<\/p><p>Aku seperti diserang. Kali ini, si admiral sudah berani menepuk bahuku dari belakang. Tapi tangkisan a&#8217;la karateka Rouen-ku tidak mampu menghalau Admiral Sentot, bahkan kemudian ia menjerit-jerit seperti nenek sihir tua. Ahhh tidak! Dia bahkan menangis.<\/p><p>Tangisan nenek tua dengan bahasa yang tidak kumengerti itu mereda. Kini Admiral Sentot meminjam raga Mbok Ruri yang tersudut di tepi kusen pintu sambil kedua tangannya menutupi kepala.<\/p><p><em>God, <\/em>intonasi yang keluar dari mulut Mbok Ruri menuduhku telah memukulinya. Aku berjuang menterjemahkan maaf-ku dalam bahasa Mbok Ruri. Semoga saja, dia mampu menangkap intonasi-ku yang menyesal telah menganggapnya si admiral. Aku juga coba jelaskan pada perempuan tua dengan belasan <em>sniper<\/em> di kepalanya itu bahwa dia juga harus menyalahkan si admiral.<\/p><p>Tampaknya, Mbok Ruri mampu memahami intonasiku, dan dia mencampur bahasa mulut dan tangannya menyuruhku menerima telepon yang berbunyi di ruang tamu.<\/p><p>Ruang tamu? Tidak. itu wilayah kekuasaan si admiral. Aku akan mencari pesawat telepon lainnya. Aku ingat satu di ruang tidur orang tua Nana yang kini dipakai Nanaku.<\/p><p>\u201cHallo&#8230;\u201d<br>\u201c <em>Kowe<\/em> nggak mau minggat juga??!!\u201d<br>***<\/p><p>Jess si orang Amerika itu tidak pernah bosan menendangi pintuku hanya untuk membuatku keluar kamar dan membentaknya. Tapi tingkah usilnya itu tak akan kulayani hari ini.<\/p><p>Tiga butir aspirin tampaknya tidak cukup mengusir bayangan Admiral Sentot dari kepalaku. Bahkan telepon dari nana pun tak sanggup kuterima. Apa yang akan dipikirkan nanaku kalau kubilang ada hantu seorang admiral di rumahnya mengusirku dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, hingga aku harus mengeluarkan jurus-jurus karate Rouen-ku untuk menghajar pembantu tua itu.<\/p><p>Mbok Ruri di atas tembok <em>Berlin <\/em>-nya pasti sudah menghasut nanaku untuk menghapusku dari hidupnya, dengan alasan yang amat gamblang. Aku si psikopat tak tahu adat, menghajar seorang perempuan tua&#8230;<\/p><p>\u201c <em>Easy bro&#8230; There are many of them !\u201d<\/em><\/p><p>Ya, Jess dengan lusinan gadis pribumi dalam daftar kencannya. Menurutnya, gadis-gadis itu hanya punya satu konsep; bule = uang. Dan Jess seringkali menertawakan versi baru prostitusi gadis-gadis lugu itu. Jess yang malang &#8230;<\/p><p>\u201c <em>Come on!\u201d<\/em><\/p><p>Terima kasih Tuhan, Jess tidak bertemu Nana-ku.<\/p><p>\u201c <em>Wellcome to Indonesiaaa&#8230; !\u201d<\/em><\/p><p>Tapi itu berarti Jess juga sudah beruntung tidak bertemu si Admiral Sentot. Apa yang akan dilakukan Jess kalau ia bertemu si admiral. Dari bentuk tulang rusuknya, Jess sepertinya tidak pernah diajari karate di kampungnya di Amerika sana . Tapi mungkin Jess diajari untuk tidak memukul wanita tua&#8230;<\/p><p>Ah, mungkin aku harus melupakan Nana, dan menjadi &#8216;malang&#8217; seperti Jess. Otakku tidak juga bekerja memberiku solusi, apa yang harus kulakukan dengan nanaku, <em>or at least <\/em>memberiku beberapa kalimat untuk kuucapkan kepada nana di telepon.<\/p><p>Seorang Lucas lainnya mengerang-erang membayangkan hidupnya tanpa nana, dan berkata : \u2018Ayo kita kembali ke Les Andelys&#8230; dan belajar bercinta lagi&#8217;.<\/p><p>Lampu hijau di mesin penjawab teleponku nyala lagi. nana!<\/p><p>Lucas pesimis menyuruhku segera <em>packing<\/em> dan mengejar data lain untuk bukuku di Kalimantan, jauh dari Bandung , jauh dari nana dan Admiral Sentot. Tapi lampu mesin penjawab itu seperti mengeluarkan tangan-tangan robotik menyeretku mendekati telepon.<\/p><p>\u201cLuc&#8230;\u201d<br>Nanaku&#8230;.<br>\u201cLou&#8230; <em>answer me!\u201d<br><\/em>\u201c I&#8230;..\u201d<br>\u201c <em>We have to talk&#8230;.\u201d<\/em><\/p><p>Aku menyebutkan ketakutanku pada admiral Sentot? Ah <em>No.<\/em> Kenapa tak kukatakan&#8230;<br>***<\/p><p>Aku akan meminta Nana untuk mengerti ketakutanku pada Admiral Sentot. Apapun resikonya! Aku akan menelanjangi diriku dan jiwaku di depannya sore ini&#8230; Aku tidak akan sanggup menjadi pesimis, kembali ke Les Andelys dan tidak bernana.<\/p><p>\u201c <em>Kowe.. <\/em>kurang ajar!\u201d:<\/p><p>Mataku berdusta! Aku ada di dalam gerbong kereta yang akan membawaku ke Nana-ku. mana mungkin si Admiral bisa mendatangiku disini&#8230;<\/p><p>\u201c <em>Kowe<\/em> cari mati ya?! ayo sana kembali ke desamu! atau <em>nyebur <\/em>sana ke sungai tempat kamu belajar berenang dan bermasturbasi waktu kamu bocah dulu!\u201d<\/p><p>Kowe dan kata-kata dalam bahasa Perancis suara si admiral itu&#8230; <em>Damn! <\/em>Bagaimana ia tahu aku pernah bermasturbasi di sungai Seine di masa kecilku.<\/p><p>Pramugari cantik yang melewatiku kutatap lekat-lekat. Tidak, matanya tidak berteriak! Artinya si admiral tidak meminjam raganya. Apa yang harus kulakukan?<\/p><p>Dua jam berikutnya, si admiral berteriak keras-keras saat keretaku menyentuh peron stasiun kereta api Bandung. Seorang pengasong koran hampir saja dipinjam raganya oleh si admiral sialan itu. Tapi kini aku lebih sigap. Karate a&#8217;la Rouen-ku kuganti dengan ajaran semadi a&#8217;la Anand Krishna. Aku membiarkan si admiral meraih penjaga pintu masuk penumpang. Dan saat aku berpaling ke arah penjual donat berpantat <em>Jennifer Lopez <\/em>, ia juga berusaha merasuki raga seksi itu.<\/p><p>Si Admiral juga merasuki si pengemudi taksi yang kutumpangi, dan aku bernyanyi keras-keras di dalam taksi yang membawaku ke rumah nanaku, untuk tidak menghiraukannya. Sempat kudengar intonasi riang berbunyi : Bule <em>gelo <\/em>keluar dari mulutnya. Tak kumengerti itu, tapi untunglah bukan suara teriakan si admiral.<\/p><p>Tips yang kuberikan pada supir taksi itu kuniatkan sebagai imbalan atas <em>Bule gelo- <\/em>nya. Aku bisa bernafas lancar karena sejenak si admiral seperti tiada. Dua detik kemudian nafasku ganti memburu karena kerinduanku yang menyengat pada perempuan yang tampak melompat-lompat menghampiriku.<\/p><p>\u201cLou!&#8230; <em>Honey&#8230; <\/em>\u201d<br>\u201c <em>Kowe bangsat!! minggat Kowe dari sini!\u201d<br><\/em><em>\u201c <\/em>Lou&#8230; <em>come on in babe <\/em>..\u201d<br>\u201c <em>Kowe bakal matii! <\/em>\u201d<\/p><p>Mata Admiral Sentot yang berteriak-teriak, lalu wajah nana-ku yang seperti pelangi di atas Seine , lalu si Admiral lagi, lalu..<\/p><p>\u201cAku akan mencintaimu nana, <em>whether <\/em>kamu memanggilku Luc atau Lou\u201d<\/p><p>Aku memaksakan bibirku menghujam bibir nana-ku. Berharap saat itu raganya tidak dimasuki si Admiral.<\/p><p>\u201c <em>Hahh! Kowe bakal \u2018ta bikin sengsaraaa!\u201d<\/em><\/p><p>Dengan nana dipelukanku, Admiral Sentot kini merasuki tubuh tua dengan belasan <em>sniper <\/em>di atas kepalanya. Mbok Ruri entah membawa benda apa di tangannya setengah berlari menghampiri kami berdua. Kucermati benda kecoklatan itu, bukan benda tajam dan berbahaya kurasa.<\/p><p>&#8220;Sayang, tak perlu berkata apa-apa. Aku akan bercerita padamu sambil kita berjalan ke suatu tempat yang harus kau tahu.\u201d Ujar nanaku sambil jemarinya menahan bicaraku.<\/p><p>Aku tetap mencemaskan benda kecoklatan di tangan Mbok Ruri.<\/p><p>Apa yang kamu tahu tentang hukum sebab akibat jika kamu berkata \u201clancang\u201d. Aku diingatkan ucapan Johan, wartawan Indonesia yang menemaniku berburu data di salah satu kota di Sumatra Utara bulan lalu. Johan bercerita tentang kekuatan mitos di negrinya.<\/p><p>Orang Indonesia masa kini hanya mendengar cerita kekuatan itu dari orang-orang tua disekitarnya. Konon, diantara mereka sering disadarkan tentang kekuatan itu melalui pengalaman \u2013 pengalaman &#8216;aneh.&#8217; Yang kutahu, Johan bukan wartawan kacangan. Ia menelan berbagai doktrin jurnalistik dari berbagai negara, termasuk negriku. Apa yang sudah dialami Johan hingga ia &#8216;tersadarkan&#8217; kekuatan mitos di negrinya ini.<\/p><p>Sepanjang jalan kaki aku dan nanaku, dan Mbok Ruri dengan benda kecoklatan yang mencurigakan di tangannya, nana menceritakan ihwal si Admiral.<\/p><p>Sentot Hadi Wibowo memang bukan seorang pelaut. Bukan nelayan yang ke- <em>ge&#8217;er <\/em>-an menunjuk dadanya sendiri dengan sebutan Admiral di atas perahu kayu tua. Sentot Hadi Wibowo adalah ayah yang kalap karena anak gadis semata wayang-nya telah dengan &#8216;lancang&#8217; kutiduri tanpa se-ijinnya. Predikat Admiral adalah julukan sayang nana pada ayahnya yang bercita-cita jadi pelaut dimasa kecilnya.<\/p><p>Nana menjelaskan, bahwa Mbok Ruri sebenarnya tidak memasang belasan <em>sniper <\/em>di kepalanya. Atau berdiri di atas tembok <em>Berlin<\/em> menuduhku penjajah. Mbok Ruri sebenarnya sangat paham apa yang kualami dengan Admiral Sentot. Aku telah salah menterjemahkan intonasi gemetarannya, saat ku\u2013karate beberapa hari lalu. Perempuan tua yang menurut nana ketakutan melihat panjangnya tungkai-tungkaiku itu, sebebnarnya ingin memperingatkanku atas keberadaan si admiral.<\/p><p>Aku merangkul nana-ku lebih erat. Kami berdua akan mendatangi si admiral di pusaranya, dan meminta ijin. Ijin untuk mendiami kamar kerjanya yang diberikan nana padaku, ijin untuk memetik <em>golden shower<\/em> kesayangannya setiap malam bulan purnama, bekal rayuanku untuk nana, ijin untuk membawa anak gadis semata wayangnya ke kampungku di Les Andelys untuk kukenalkan pada kedua kakak dan orang tuaku, terutama ijin untuk menidurinya setelah kami menikah nanti.<\/p><p>Mbok Ruri memberikan benda kecoklatan berisi bunga itu kepadaku. Tangan lembut nanaku lalu mengajariku untuk menaburkan gundukan bunga tanpa <em>Golden shower<\/em> itu di atas kubur Admiral Sentot.<\/p><p>Aku tidak tahu, apa si admiral mampu membaca intonasi suaraku saat aku memintanya untuk tidak lagi menggangguku. Tapi air mata nana dan sentuhan jemariku di atas tanah kuburnya dengan tulus kuterjemahkan penyesalanku, maafku dan permohonan kami berdua agar ia mau mengijinkan<br>***<br><strong><em>Bandung , 16 Oktober 2003<\/em><\/strong><\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Juni Poppin Aku menyukai lagu-lagu berbahasa Amerika Latin. Terdengar amat sexy dan menggetarkan jiwa. Sayangnya, kesukaanku tidak disertai motivasi untuk belajar bahasa sexy itu, sehingga lirik lagu-lagu yang kudengar itu lalu kuterjemahkan sendiri berdasarkan intonasi dan cara si penyanyi menyanyikannya. Pacarku Nana yang juga menyukai hal yang sama mengata-ngatai aku ngawur, tapi dia malah keranjingan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[661,649],"class_list":["post-3555","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-661","tag-juni-poppin"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3555"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3555\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3556,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3555\/revisions\/3556"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}