{"id":3852,"date":"2005-05-08T05:12:19","date_gmt":"2005-05-08T05:12:19","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=3852"},"modified":"2020-07-03T05:15:47","modified_gmt":"2020-07-03T05:15:47","slug":"untung-ada-abbas-kiarostami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=3852","title":{"rendered":"Untung Ada Abbas Kiarostami"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Liston P Siregar<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Saya bertekad akan gosok gigi setiap menjelang tidur sejak Selasa 4 Mei 2005. Sebelumnya? Angin-anginan. Kalau kedua anak saya protes \u2018kenapa kami harus gosok gigi, tapi kau tidak\u2019 atau ketika istri sedang galak, maka sayapun ogah-ogahan gosok gigi sebelum tidur. Tapi kalau istri cuma mengancam \u2018biar nanti kau cepat ompong\u2019 maka saya cuma tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Bapak saya, yang lahir tahun 1928 di kampung Sibadoar &#8211;sekitar 12 kilometer dari Sipirok, sekitar 90 kilometer dari Padang Sidempuan, sekitar 300 kilometer dari Medan, Sumatera Utara\u2014 baru mengenal sikat gigi setelah sekolah PSKD (Pendidikan Sekolah Kesehatan Djasmani) di Medan. Dan, seingat saya, sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah menggosok gigi menjelang tidur. Saat meninggal dunia pada usia 74 tahun &#8211;karena serangan jantung&#8211; hanya dua giginya depannya yang rusak \u2013bukan ompong tapi agak maju ke depan&#8211; dan itupun karena jatuh ketika SD dulu, di Sibadoar. Selebihnya masih utuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibunya bapak saya, Ompu ni Ihutan, tinggal bersama kami, dan juga tak pernah gosok gigi setiap malam. Dia meninggal dunia di usia 82 pada tahun 1984, dan memang ompong total. Tapi ompong pada usia 82 tahun pada masa itu jelas merupakan kewajaran. Lantas ibu saya \u201370 tahun&#8211; juga tidak gosok gigi setiap menjelang tidur, juga masih utuh giginya<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan catatan sejarah keluarga seperti itu, amat berat rasanya kalau masih harus gosok gigi lagi ketika mata sudah terkantuk-kantuk. Kadang saya selesai kerja jam 1200 malam, dan sampai rumah sekitar 30 menit selepas tengah malam. Istri dan anak-anak sudah terlelap tidur, jadi buat apa lagi saya harus tersadarkan kembali oleh pedasnya mentol kuat dari odol Euthymol &#8211;cobalah sekali odol Euthymol?<\/p>\n\n\n\n<p>Memang gigi geraham kiri saya yang paling belakang sudah setengah hancur, tapi saya tetap teguh; gosok gigi menjelang tidur hanya jika terpaksa \u2013baik dipaksa kedua anak maupun istri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai Selasa 4 Mei 2005. Malam itu saya sampai rumah jam sekitar pukul 2330, dan istri serta kedua anak sudah terlelap. Saya ganti baju, cuci muka, gosok gigi secara baik dan benar dengan odol pedas Euthymol.<\/p>\n\n\n\n<p>Kenapa?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sakit Gigi<\/strong><br>Saya penggemar berat Abbas Kiarostami. Beberapa perburuan saya atas film-filmnya cukup berhasil, mulai dari sebuah situs www.iranianmovie.com di Amerika Serikat, persewaan video, perpustakaan umum, sampai bioskop non-konvensional ICA di pusat kota London. Praktis semua filmnya yang sudah dalam format video dan DVD saya tonton, dan beberapa bahkan saya beli. Tiga tahun lalu saya juga beruntung sempat menonton lima film pendeknya yang bertema pendidikan, ketika Abbas Kiarostami masih bekerja di Lembaga Pengembangan Intelektual Anak dan Remaja Iran.<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan Mei 2005, NFT dan Iran Heritage Foundation bekerja-sama menggelar festival film Abbas Kiarostami dengan memutar semua film yang pernah dia produksi, mulai dari tahun 1973 sampai tahun 2002. Semua karya-karyanya, komplit. Dengan booklet festival film Abbas Kiarostami di tangan kiri dan jadwal kerja di tangan kanan, saya berhasil menyusun rencana yang matang untuk tidak kehilangan kesempatan menyaksikan karya-karya awalnya, yang belum pernah saya tonton. Dan ada kekuatiran, bahwa inilah kesempatan satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu ada pula satu pameran foto dan instalasi di Victoria &amp; Albert Museum \u2013 salah satu pusat kemapanan seni dan budaya Inggris\u2014 juga workshop di beberapa tempat. Dan sebuah saluran TV Inggris, Channel Four, ikut meluncurkan dua pekan film Iran untuk mendamping Bulan Abbas Kiraostami.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari deretan film Abbas Kirasotami, salah satunya adalah<em> Dandan dard<\/em> atau Sakit Gigi, tentang Mohamad Reza. \u201cDia anak yang rajin belajar, juga rajin membantu orang tua\u2026\u201d papar narator saat memulai cerita dengan gambar Mohammad Reza duduk di bangku paling depan, bersama dua temannya di kiri dan kanan. Kamera kemudian menyorot Reza, siswa kelas 2 SD, mengangkat tong sampah ke depan rumahnya, dan belajar sebelum tidur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasalahnya Reza malas gosok gigi\u2026.\u201d dilanjutkan dengan narasi tentang ayahnya yang selalu mengingatkan dia untuk gosok gigi setiap pagi dan setiap malam. Dari tampilan wajahnya, ayah Reza yang berusia sekitar 40 tahun tersenyum dengan gigi putih bersih yang rapi. Tapi itu gigi palsu, karena malas gosok gigi. Dan menjelang tidur, di meja samping tempat tidur ayahnya, terletak sebuah gelas air berisi gigi palsu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kamera kemudian menampilkan foto keluarga hitam putih. Ayah Reza masih kecil, bersama kakeknya, yang juga tidak gosok gigi dan ompong. Pengalaman buruk itulah yang membuat ayah Reza menegakkan rejim disiplin gosok gigi. Tapi Reza masih tetap dengan rejim tidak perlu gosok gigi jika ayah tidak ada, baik pagi maupun malam.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan pindah ke kelas Reza, dan dia ditinggal kedua teman sebangku. \u201cKarena mulut Reza bau,\u201d kata teman di sebelah kanan ketika ditanya kenapa ikut-ikutan pindah bangku menjauh dari Reza, seperti teman di sayap kiri. Lebih parah lagi keesokan harinya Reza tak bisa ikut main bersama kawan-kawan karena sakit gigi. Dia duduk di pojok memegang rahang kanan, menahan sakit gigi.<\/p>\n\n\n\n<p>Penderitaan semakin buruk dan Reza menangis keras bertahan menutup mulut di depan dokter gigi. Juru kamera kemudian mewawancarai dokter gigi; \u201ckenapa orang sakit gigi?\u2019 Sambil kamera berpindah-pindah &#8211;dari penjelasan si dokter, ke ilustrasi setan-setan sisa makanan yang memukul-mukul gigi, juga ke wajah Reza yang kesakitan giginya dicabut&#8211; maka lengkaplah penjelasan kenapa orang bisa sakit gigi, kenapa orang penting gosok gigi sedikitnya selepas sarapan dan sebelum tidur \u2013karena ketika tidur mulut tidak memproduksi saliva. Lengkaplah penjelasan \u2013yang untuk sebagian besar orang\u2014 sebenarnya sudah amat biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Sakit Gigi kemudian ditutup dengan Reza yang kembali ditemani kedua teman sebangku, Reza yang riang ikut main bersama teman-teman, dan Reza yang setiap pagi dan malam rajin gosok gigi, secara baik dan benar sesuai petunjuk dokter.<\/p>\n\n\n\n<p>Film sepanjang 23 menit ini diproduksi oleh Abbas Kiarostami ketika dia masih bekerja di Lembaga Pengembangan Intelektual Anak dan Remaja Iran. Pada masa inilah Abbas memproduksi sejumlah film-film pendidikan berbasis dokumentasi dengan plot kehidupan sehari-hari yang jauh dari pendekatan \u2018indoktrinasi\u2019 dan &#8211;salah satu ciri Abbas&#8211; selalu diwarnai dengan unsur jenaka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah wawancara, Abbas mengenang gagasan dibalik Sakit Gigi. &#8220;Kenapa, ketika kita sudah setengah tertidur, masih harus menaruh odol yang rasanya tidak enak ke sikat gigi dan memasukkannya ke dalam mulut?&#8221; Karya-karya Abbas memang bermula dari pertanyaan sederhana, seperti <em>Mashq-e shab <\/em>yang berawal dari pekerjaan rumah anak sekolah. Pertanyaan kecil yang kemudian bisa melempar renungan besar, tanpa harus menggurui.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Negara Kuat ?<\/strong><br>Dalam First Case and Second Case (1979), Abbas menyusun skenario tentang sekelompok murid yang memukul-mukul meja setiap guru menghadap ke papan tulis. Karena tak bisa menemukan pelakunya, Pak guru memutuskan untuk mengirim keluar 7 siswa di dua barisan paling belakang. \u201cKalian akan diluar kelas selama seminggu sampai ada yang memberi tahu siapa yang memukul-mukul meja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dua hari kemudian, seorang anak memutuskan masuk ke dalam kelas setelah memberi tahu siswa yang meng\u2019goyang\u2019 guru itu. Abbas kemudian mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat \u2013penyair, menteri, pejabat pendidikan, sutradara film, dokter, ulama, maupun akademisi. Juga diwawancarai ketujuh orang tua murid yang terlibat. Apa pendapat mereka?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu pertanyaan sulit, antara menjaga persatuan dan solidaritas dengan menjadi mata-mata teman,\u201d kata seseorang. Ada yang berpendapat; \u201cuntuk apa menjaga solidaritas demi sebuah perbuatan yang tidak benar.\u201d Sedangkan seorang tua murid cuma bisa mengungkapkan keyakinan kalau anaknya tidak mungkin mengganggu guru karena dia sudah bersusah payah mencari uang untuk menyekolahkan anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang lainnya mengatakan; \u201cgurunya yang salah karena memprovokasi anak-anak dengan pilihan sulit tersebut.\u201d Sementara seorang ibu berpendapat tidak ada gunanya lagi memberi tahu siapa pelakunya; \u201clihatlah anak itu, dia duduk di kelas dengan wajah merasa bersalah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Gambar kemudian diulang untuk kasus kedua. Setelah satu minggu berlalu para murid masuk kelas lagi dengan tetap sepakat tidak memberi tahu kepada guru siapa pelaku \u2018kejahatan\u2019 itu. Para narasumber kembali ditanya pendapatnya atas \u2018keputusan mempertahankan solidaritas dan persatuan.\u2019 Masing-masing pun kembali menguraikan pendapat. \u201cMasalah ini cerminan dari masyarakat Iran yang memiliki dinas rahasia yang mematai-matai masyarakat sejak tahun 1950an,\u201d pendapat seseorang yang diwawancara.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi apa yang sebenarnya harus dilakukan. Dari kasus pertama maupun kedua yang amat sederhana &#8211;yang hampir dipastikan pernah terjadi di semua ruang kelas di seluruh dunia&#8211; jelas tak ada solusi yang terbaik. Namun bagi masyarakat Iran &#8211;yang berada di bawah rejim ulama yang ketat, yang ingin mengatur seluruh perilaku masyarakatnya&#8211; pertanyaan atau perdebatan seperti itu bisa dianggap sebagai rongrongan terhadap negara, atau terhadap sebuah nilai yang sudah diyakini keluhuran dan kebenarannya. <em>Ghazieh-e shekl-e eval, ghazieh-e shekl-e douum<\/em> sempat dilarang beredar di Iran.<\/p>\n\n\n\n<p>Abbas Kiarostami juga punya First Graders. Lokasi utama adalah ruang kepala sekolah dan kamera menyorot ke pintu masuk serta dinding tempat murid-murid bermasalah berdiri menunggu \u2018penyelidikan kepala sekolah.\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Ada seorang mengaku di\u2019pukul\u2019 temannya, dan dia menceritakan kronologi pemukulan. Temannya mengakui pemukulan itu dan kepala sekolah menganjurkan meminta maaf dan korban pemukulan menerima permintaan maaf. \u201cSekarang kalian kembali ke kelas dengan berpegangan tangan.\u201d Masuklah giliran kasus-kasus lainnya, yang tidak lagi sekedar hitam putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiga orang anak dikirim ke ruang kepala sekolah. Yang satu mengaku di\u2019pukul\u2019 sama yang satunya, sedang orang ketiga berperan sebagai tukang ketawa. Masalahnya adalah kenapa si korban dipukul? \u201cMereka berdua mengatakan ayah dan ibu saya berasal dari hutan.\u201d Penyelidikan kepala sekolah tidak berhasil memutus rantai, tapi ketiganya sepakat juga untuk saling memaafkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau seorang anak yang terlambat karena disuruh ayahnya membeli roti. \u201cDi tempat roti ada tiga orang antri di depan saya, dan mereka ngobrol sama tukang roti.\u201d Yang lain menghadap kepala sekolah sambil menangis karena kehilangan gelas minum. \u201cSaya pasti dimarahi ibu di rumah.\u201d Atau seorang anak yang mengaku disepak tapi yang menyepak mengaku tidak sengaja karena dia tergelincir. Tentu ada juga anak yang bandal yang sudah 5 kali menghadap kepala sekolah, yang kemudian merasa perlu menulis surat panggilan kepara orang tua si anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Gambar lain tentang seorang ibu yang mendaftarkan anaknya masuk sekolah. \u201cSudah terlambat, karena mestinya sepekan lalu,\u201d kata kepala sekolah &#8211;tapi sang ibu sakit dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah. \u201cBaiklah, mana akte kelahirannya,\u201d kata Pak kepsek yang kemudian menyadari; \u201cmestinya dia sudah kemari tahun lalu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak, balas si ibu. \u201cAkte kelahirannya sengaja dibuat lebih tua satu tahun oleh bapaknya supaya kelak bisa lebih cepat masuk tentara.\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah-kisah sebuah masyarakat &#8211;yang pasti beragam&#8211; di dalam sebuah rejim yang berupaya menyeragamkannya menjadi dasar bagi Kiarostamisme. Dalam Fellow Citizen, seorang petugas lalu lintas, jelas tak mampu mengendalikan zona bebas kenderaan bermotor. Semua orang punya alasan masing-masing, dan petugas lalu lintas itu ternyata tak bisa menegakkan hukum yang terdengar amat sederhana; \u2018kenderaan bermotor dilarang masuk, kecuali ambulans, polisi, diplomat asing, dan para pemilik kartu pas.\u201d<br>Kamera yang menyorot perdebatan pengemudi mobil dan petugas lalu lintas itu menujukkan bahwa petugas bukanlah mesin yang bisa diprogram dengan rapi dan masyarakat bukanlah kelompok individu yang kaku. Negara boleh unjuk kekuatan, tapi masyarakat punya instink menyelamatkan diri pula.<\/p>\n\n\n\n<p>Cuma, mungkin ketegasan sebuah rejim pula yang membuat Abbas berhasil mengembangkan film-film cerita berbasis dokumenter yang unik dan istimewa. Larangan keras atas adegan percintaan, kekerasan, penentangan atas rejim, justru membuat Abbas Kiarostami memeras kreatifitas, jadi bukan sekedar mengikuti peraturan dengan karya-karya konvensional yang membosankan. Juga bukan melarikan diri ke dunia underground untuk mengeksploitir kebebasan ekspresi. Abbas menyesuaikan diri dengan tekanan lewat pilihan-pilihan baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 2002, Abbas Kiarostami, memproduksi Ten yang terdiri dari 10 adegan pembicaraan seorang supir taksi perempuan dengan 10 penumpangnya. Kamera ditempatkan di kaca spion menghadap ke penumpang, dan sesekali ditaruh di pinggir jendela untuk menyorot supir taksi. Film ini \u2013yang menggunakan pendekatan ketika Abbas bekerja untuk film pendidikan sekitar 25 tahun lalu\u2014 sudah menjadi milik sinema internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, Taste of Cherry, meraih penghargaan tertinggi Palme d&#8217;Or di Cannes Film Festival tahun 1997. Film ini juga tak jauh berbeda dari masa-masa awal Abbas, dengan menuturkan perjalanan seorang pria untuk mencari orang yang mau membantunya bunuh diri. Abbas juga menurunkan trilogy \u2013begitulah kata para penggemarnya\u2014 dengan konteks gempa bumi yang melanda Iran Utara tahun 1990 yang menewaskan sekitar 50.000 jiwa: Where is My Friend House, Life and Nothing More, dan Through The Olive Tree. Film-film yang menggambarkan hubungan antar manusia, kepedihan manusia diterpa bencana sekaligus kekuatan manusia menghadapi tragedi. \u201cBiarlah yang meninggal itu meninggal dan yang hidup pasti memerlukan yang saya beli ini,\u201d kata seorang kakek yang membawa toilet di tengah-tengah reruntuhan gempa.<\/p>\n\n\n\n<p>Di London, salah satu pusat peradaban modern Barat, Abbas Kiraostami mendapat tempat khusus. Karya-karyanya yang tidak pretensius dan tidak artifical \u2013dia percaya keberadaan kamera tidak akan membuat orang terganggu melakukan kegiatannya; \u201cwalau sesekali melihat ke kamera tapi tidak menatap,\u201d katanya \u2014 tidak akan pernah membanjiri bioskop-bioskop di seluruh dunia. Tapi, dibalik heroisme film-film Holywood &#8211;yang selalu membanjiri bioskop-bioskop seluruh dunia&#8211; betapa melegakan ketika menyadari ada orang bernama Abbas Kiarostami, yang lahir di Iran tahun 1940 dan menjadi warga dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi apakah saya bertekad gosok gigi setiap malam karena Abbas Kiarostami? Mungkin ya, mungkin tidak. Saya jelas bukan orang pintar, tapi juga tidak terlalu bodoh untuk tidak bisa memahami seluruh tataran kognisi dan afeksi di Sakit Gigi-nya Abbas Kiraostami. Tapi, siapa tahu pula tekad saya cuma bertahan dua minggu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liston P Siregar Saya bertekad akan gosok gigi setiap menjelang tidur sejak Selasa 4 Mei 2005. Sebelumnya? Angin-anginan. Kalau kedua anak saya protes \u2018kenapa kami harus gosok gigi, tapi kau tidak\u2019 atau ketika istri sedang galak, maka sayapun ogah-ogahan gosok gigi sebelum tidur. Tapi kalau istri cuma mengancam \u2018biar nanti kau cepat ompong\u2019 maka saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[695,15],"class_list":["post-3852","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-laporan","tag-695","tag-liston-siregar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3852"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3853,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3852\/revisions\/3853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}