{"id":387,"date":"2019-05-26T05:00:00","date_gmt":"2019-05-26T05:00:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=387"},"modified":"2020-06-26T05:04:18","modified_gmt":"2020-06-26T05:04:18","slug":"chairil-anwar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=387","title":{"rendered":"Chairil Anwar"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cAku mau hidup seribu tahun lagi\u201d, tulis Chairil Anwar dalam sajak \u201cAku\u201d atau \u201dSemangat\u201d pada tahun 1943, ketika ia berumur 20 tahun. Enam tahun kemudian ia meninggal dunia, dimakamkan di Karet, yang disebutnya sebagai \u201cdaerahku y.a.d.\u201d dalam \u201cYang Terampas dan Yang Putus\u201d &#8211; sajak yang ditulisnya beberapa waktu menjelang kematiannya pada tahun 1949. Sejak itu, sajak-sajaknya hidup di tengah-tengah kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa larik puisinya telah menjelma semacam pepatah atau kata-kata mutiara: \u201dhidup hanya menunda kekalahan\u201d, \u201cSekali berarti sudah itu mati\u201d, \u201cKami cuma tulang-tulang berserakan\u201d, dan terutama larik yang dikutip di awal tulisan ini. Secara lisan maupun tertulis, larik-larik tersebut kadang-kadang dikutip terlepas dari makna-utuh masing-masing sajak; kenyataan ini tentu tidak membuktikan bahwa kebanyakan anggota masyarakat kita telah menekuni puisi Chairil Anwar, juga belum menunjukkan bahwa pemahaman dan penghargaan masyarakat kita terhadap sastra telah tinggi. Namun, setidaknya ia mengungkapkan bahwa beberapa larik puisi Chairil Anwar sudah dianggap menjadi milik masyarakat, bukan lagi milik pribadi penyair itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia dianggap pelopor Angkatan 45; oleh karenanya beberapa sajaknya dikenal siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah menengah. Dalam kelas, Chairil Anwar biasanya diperkenalkan sebagai penyair yang memiliki vitalitas, yang terutama terungkap dalam \u201dAku\u201d. Sajak yang larik terakhirnya mengawali tulisan ini mengandung antara lain bait-bait berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Aku ini binatang jalang<br>Dari kumpulannya terbuang<br>Biar peluru menembus kulitku<br>Aku tetap meradang menerjang.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dari larik-larik tersebut jelas bahwa, di samping vitalitas, ada sisi lain kehidupannya yang tergambar \u2014 yang mungkin tidak bisa terhapus dari kehidupan berkesenian di negeri ini \u2014 yakni kejalangannya. Sebagai \u201cbinatang jalang\u201d-lah Chairil Anwar merupakan lambang kesenimanan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan Rustam Effendi, Sanusi Pane, atau Amir Hamzah, tetapi Chairil Anwar yang dianggap memiliki seperangkat ciri seniman: tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Sejumlah anekdot telah lahir dari ciri-ciri tersebut. Tampaknya masyarakat menganggap bahwa seniman tidak berminat mengurus jasmaninya, dan lebih sering tergoda oleh khayalannya; mungkin yang paling mirip dengan golongan \u201cbinatang jalang\u201d ini adalah orang sakit jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Lepas dari benar-tidaknya gambaran mengenai penyair ini, sebenarnya penggambaran itu sendiri membuktikan adanya sikap mendua terhadap seniman dalam masyarakat. Ia dikagumi sekaligus diejek; ia menjengkelkan, tetapi selalu dimaafkan. Keinginan untuk menjalani hidup dengan Cara tersendiri itulah, yang sering tidak sesuai dengan cara masyarakat umum, yang menyebabkan kebanyakan orang sulit memahami sikapnya. Tetapi mengapa Chairil Anwar yang umumnya dianggap melambangkan ciri kesenimanan?<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa hidup penyair itu, sejumlah seniman kita \u2014 sastrawan, pelukis, dan komponis \u2014 tentunya juga menjalani hidup bohemian. Dalam bidang masing-masing, Ismail Marzuki, Affandi, dan Sudjojono tentu tidak bisa dianggap lebih rendah dari Chairil Anwar, namun dalam kehidupan bohemian ternyata penyair inilah .yang dianggap mewakili mereka. Hal ini tentu erat kaitannya dengan kehidupan dan kematiannya; tampaknya Chairil Anwar bisa bergaul dengan seniman dalam bidang apa pun sehingga pada zamannya mungkin ia paling banyak dikenal di antara mereka; dan ia mati muda. Kematiannya itu, yang umumnya dipandang sebagai akibat kehidupannya yang bohemian, menyebabkan gambaran tentangnya sebagai \u201cbinatang jalang\u201d tidak pernah berubah. Rekan-rekannya dikaruniai umur lebih panjang, suatu hal yang tentu bisa menggeser-geser gambaran masyarakat tentang mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Chairil Anwar dan cara hidupnya yang \u201cjalang\u201d telah menjadi semacam mitos; kita suka lupa bahwa sajak-sajak yang ditulis menjelang kematiannya menunjukkan sikap hidup yang matang dan mengendap meskipun umurnya baru 26 tahun. Kita umumnya lebih suka membayangkan semangat hidup penyair ini seperti yang terungkap dalam sajak-sajaknya \u201dSemangat\u201d dan \u201cKepada Kawan\u201d, padahal dekat-dekat kematiannya ia menulis larik-larik sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>DERAI-DERAI CEMARA<\/p><p>cemara menderai sampai jauh,<br>terasa hari jadi akan malam,<br>ada beberapa dahan di tingkap merapuh,<br>dipukul angin yang terpendam.<\/p><p>aku sekarang orangnya bisa tahan,<br>sudah berapa waktu bukan kanak lagi,<br>tapi dulu memang ada suatu bahan,<br>yang bukan dasar perhitungan kini.<\/p><p>hidup hanya menunda kekalahan,<br>tambah terasing dari cinta sekolah rendah,<br>dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,<br>sebelum pada akhirnya kita menyerah.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Penyair yang pada usia 20 tahun meneriakkan keinginan untuk \u201chidup seribu tahun lagi\u201d ini, pada usia 26 tahun menyadari bahwa \u201chidup hanya menunda kekalahan\u2026 sebelum pada akhirnya kita menyerah\u201d. Sajak ini merupakan semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap yang sudah mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari gejolak masa lampau. Proses itu begitu cepat, sehingga \u201cada yang tetap tidak diucapkan\u201d \u2014 sesuatu yang tentunya mengganjal di tenggorokan \u2014 \u201csebelum pada akhirnya kita menyerah\u201d. Pengutaraan sajak ini pun tertib dan tenang: masing-masing bait terdiri dari empat larik yang sepenuhnya mempergunakan rima a-b-a-b. Citraan alam yang dipergunakan Chairil Anwar pun menampilkan ketenangan itu: suara deraian cemara sampai di kejauhan yang menyebabkan hari terasa akan menjadi malam, dan dahan yang di tingkap merapuh itu pun \u201cdipukul angin yang terpendam\u201d. Dalam keseluruhan sajak ini, kata \u201ddipukul\u201d jelas merupakan kata yang paling \u201dkeras\u201d \u2014 mengungkapkan masih adanya sesuatu di dalam yang \u201cterpendam\u201d, yang memukul-mukul dahan yang \u201dmerapuh\u201d. Si aku lirik dalam sajak ini pun menyadari sepenuhnya bahwa hari belum malam, namun terasa \u201cjadi akan malam\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Suasana yang mengendap dan pikiran yang tertib dalam sajak tersebut sama sekali berlainan dengan semangat yang teraduk dalam, misalnya, \u201dDiponegoro\u201d dan \u201cAku\u201d. Namun, dalam perkembangan puisi Chairil, perbedaan tersebut tidak membuktikan adanya perubahan yang mendadak. Benih kematangan perenungan itu sudah tampak sejak dini, bahkan pada sajak \u201cNisan\u201d, yang ditulis pada awal kegiatannya sebagai penyair. Perbedaan antara \u201cNisan\u201d dan \u201cDerai-derai Cemara\u201d mengungkapkan perubahan yang mendasar: dalam sajak yang ditulisnya tahun 1942 itu rahasia kehidupan diungkapkan dengan teknik yang belum dikuasai sehingga cenderung gelap, sedangkan sajak yang disusun menjelang kematiannya itu menunjukkan teknik persajakan yang sepenuhnya telah dikuasai sehingga terasa jernih.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimanapun, Chairil Anwar tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan. Sajak-sajaknya yang paling sering terdengar dalam pelbagai acara pembacaan puisi mungkin adalah \u201cAku\u201d dan sadurannya \u201cKrawang-Bekasi\u201d. Kita umumnya beranggapan bahwa \u201cAku\u201d mencerminkan sikap individualistis penyair ini; boleh dikatakan berdasarkan sajak inilah ia dianggap seorang individualis. Tetapi sajak sadurannya \u201cKrawang-Bekasi\u201d sama sekali tidak menunjukkan sikap itu. Bahkan sebenarnya Chairil Anwar adalah salah seorang penyair kita yang memperhatikan kepentingan sosial dan politik bangsa. Beberapa larik \u201dKrawang-Bekasi\u201d berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Teruskan, teruskan jiwa kami<br>Menjaga Bung Karno<br>Menjaga Bung Hatta<br>Menjaga Sjahrir.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sajak saduran ini ditulis tahun 1948, ketika kita semua berada dalam kesulitan dan kebanyakan pemimpin bangsa menghadapi bahaya. Tahun demi tahun keadaan politik pun bergeser, dan 15 tahun setelah ditulis, dua larik \u201cMenjaga Bung Hatta\/Menjaga Bung Sjahrir\u201d itu tidak jarang dihapus dalam pembacaan puisi. Demikianlah, \u201cbinatang jalang\u201d yang dahulu hidupnya bohemian itu menjadi tokoh yang diperhitungkan dalam percaturan politik, suatu kenyataan yang tentunya ia sendiri pun tidak menduganya. Perhatiannya terhadap perjuangan bangsanyalah yang telah mendorongnya menyusun sajak saduran itu, dan bukan kecenderungan untuk memihak kelompok politik tertentu. Dorongan itu pulalah tentunya yang telah menghasilkan sajak yang sama sekali tidak mencerminkan sikap individualistis dan jalang:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO<\/p><p>Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji<br>Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang<br>atas apimu, digarami oleh lautmu<\/p><p>Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945<br>Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br>Aku sekarang api aku sekarang laut<\/p><p>Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat<br>Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar<br>Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp;<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; berlabuh.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Penyair yang tidak pernah secara tersurat menyatakan keterlibatannya pada kegiatan politik pihak tertentu, yang pernah menulis larik-larik sajak yang menyatakan bahwa sejak Proklamasi ia \u201cmelangkah ke depan berada rapat di sisi\u201d Bung Karno dan merasa bahwa ia dan Bung Karno \u201dsatu zat&nbsp; satu urat\u201d itu, pada akhir paruh pertama tahun 60-an menjadi taruhan pelbagai pihak dalam kegiatan politik praktis. Pada tahun 1965, komisaris dewan mahasiswa sebuah fakultas sastra menyatakan bahwa gagasan kepenyairan Chairil Anwar bertentangan dengan faham Sosialisme Indonesia dan Amanat Berdikari yang digariskan Bung Karno; pernyataan itu kemudian dibenarkan oleh pimpinan fakultas yang bersangkutan, bahkan kemudian menolak tanggal 28 April \u2013 hari kematian Chairil Anwar \u2014 sebagai Hari Sastra. Pada pertengahan tahun yang sama, seorang tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia memuji keberanian pernyataan tersebut dan menyatakan bahwa pokoknya sesuai dengan sikap lembaganya yang tidak mengakui gagasan penyair yang diakui sebagai penyair terbesar ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada waktu itu pula, Roeslan Abdoelgani \u2014 masih seorang tokoh politik yang sangat berwibawa \u2014 menulis sebuah karangan, \u201cChairil Anwar juga Milik Seluruh Bangsa Indonesia\u201d. Sangat terasa, nasib si \u201cbinatang jalang\u201d ini berada di tangan orang-orang politik. Pihak-pihak yang berebut kekuasaan ketika itu tentu telah memilih penyair ini sebagai salah satu bahan taruhan berdasarkan pertimbangan yang masak. Sudah sejak semula Chairil Anwar dinilai sebagai penyair penting; dan antara lain berkat pandangan H.B. J assin, ia kemudian dianggap sebagai penyair terbesar \u2014 setidaknya sesudah Perang Dunia II. Dalam kedudukan demikian, sikapnya berkesenian tentu bisa berpengaruh terhadap pandangan kesenian bangsa. Hal ini tentu tidak disukai golongan yang telah memiliki pandangan kesenian yang tegas, yang berpandangan bahwa kegiatan kesenian merupakan faktor sangat penting dalam serbuan politiknya. Pandangan politik pada masa itu tampaknya sulit sekali memisahkan Chairil Anwar dari \u201cpenemu\u201d-nya, H.B. J assin, yang menolak faham realisme sosialis dan menawarkan humanisme universal.<\/p>\n\n\n\n<p>Penolakan tanggal 28 April sebagai Hari Sastra menyiratkan kenyataan bahwa penyair ini memang sungguh-sungguh dianggap memainkan peranan menentukan dalam perkembangan sastra kita. Ia tumbuh di zaman yang sangat ribut, menegangkan, dan bergerak cepat. Peristiwa-peristiwa penting susul-menyusul; untuk pertama kalinya sej ak dijajah Belanda negeri ini membukakan diri lebar-lebar terhadap segala macam pengaruh dari luar. Pemuda yang pendidikan formalnya tidak sangat tinggi ini harus menghadapi serba pengaruh itu; dan ia pun tidak hanya mengenal para sastrawan Belanda yang dicantumkan dalam pelajaran sekolah, tetapi juga membaca karya sastrawan sezaman dari Eropa dan Amerika, seperti T.S. Eliot, Archibald MacLeish, W.H. Auden, John Steinbeck, dan Ernest Hemingway. Ia sempat menerjemahkan beberapa di antaranya, atau menyadurnya, atau mencuri beberapa larik dan ungkapannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecerdasan dan dorongan semangatnya untuk menjadi pembaru menjadikannya mampu mengatasi serba bacaan itu; ia tidak dikuasai sepenuhnya oleh yang dibacanya, tetapi berusaha benar-benar untuk menguasainya. Hasilnya adalah antara lain sajak saduran \u201cKrawang-Bekasi\u201d (dari karya MacLeish) dan terjemahan \u201cHuesca\u201d (dari karya John Cornford, seorang penyair yang tidak begitu terkenal). Sadurannya itu boleh dikatakan sudah menjadi milik umum di sini, sedangkan \u201cHuesca\u201d membuktikan keunggulannya sebagai penerjemah puisi. Dan ia telah pula berhasil mencuri dari khasanah sastra dunia demi puisi yang ditulisnya; kata T.S. Eliot, penyair yang salah sebuah sajaknya telah diterjemahkan Chairil Anwar, \u201dpenyair teri meminjam, penyair kakap mencuri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti perubahan yang sangat cepat di sekelilingnya, Chairil Anwar pun tumbuh sangat cepat, dan raganya layu dengan cepat pula. Ketika meninggal, mungkin sekali ia sudah berada di puncak kepenyairannya, tetapi mungkin juga ia masih akan menghasilkan sajak-sajak yang lebih unggul lagi seandainya dia hidup lebih lama. Tetapi mungkin ia malah berhenti menulis puisi dan memasuki dunia politik atau dagang seandainya dikaruniai umur panjang. Sebaiknya, kita tidak usah saja membuat pengandaian. Chairil Anwar tidak bisa bekerja lebih lama. Ia telah meninggalkan sejumlah sajak untuk kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada hasil kerja manusia yang sempurna. Sebagian besar sajak Chairil Anwar mungkin sekali sudah merupakan masa lampau, yang tidak cukup pantas diteladani para sastrawan sesudahnya. Namun, beberapa sajaknya yang terbaik menunjukkan bahwa ia telah bergerak begitu cepat ke depan, sehingga bahkan bagi banyak penyair masa kini taraf saj ak-saj aknya tersebut bukan merupakan masa lampau tetapi masa depan, yang mungkin hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat, dan kecerdasan yang tinggi.<br>***<br><em>*. Depok, akhir tahun 1985<\/em><br><em>**. Menutup seri puisi Chairil Anwar<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cAku mau hidup seribu tahun lagi\u201d, tulis Chairil Anwar dalam sajak \u201cAku\u201d atau \u201dSemangat\u201d pada tahun 1943, ketika ia berumur 20 tahun. Enam tahun kemudian ia meninggal dunia, dimakamkan di Karet, yang disebutnya sebagai \u201cdaerahku y.a.d.\u201d dalam \u201cYang Terampas dan Yang Putus\u201d &#8211; sajak yang ditulisnya beberapa waktu menjelang kematiannya pada tahun 1949. Sejak itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[38,39],"class_list":["post-387","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memoar","tag-38","tag-sapardi-djoko-damono"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":388,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/387\/revisions\/388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}