{"id":4016,"date":"2005-10-16T01:55:00","date_gmt":"2005-10-16T01:55:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4016"},"modified":"2020-07-04T01:56:52","modified_gmt":"2020-07-04T01:56:52","slug":"yani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4016","title":{"rendered":"Yani"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Lenah Susianty<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dia tiba suatu malam di musim panas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pukul 20.00. Aku sedang membereskan rak buku. Suamiku muncul, \u201cAda tamu untukmu.\u201d<br>\u201cTamu? Siapa?\u201d Aku tidak menunggu siapa pun, tidak ada juga yang berjanji akan datang. Aku tidak suka kejutan semacam ini. Takut kalau tamu yang datang tanpa diduga membawa kabar buruk.<br>\u201cPerempuan bawa koper,\u201d wajah suamiku kelihatan curiga, ada tamu datang bawa koper dan aku tidak tahu?<br>\u201cBawa koper? Siapa? Siapa namanya\u201d<br>\u201cEntah, tanya saja sendiri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku segera turun ke bawah. Aku segera mengenalinya, bekas teman kuliah lebih dari 10 tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tidak pernah bertemu dia lagi setelah lulus. Dia masih berdiri di ambang pintu, koper sudah diletakannya di lantai. Wajahnya menunjukkan kelelahan sehabis menempuh perjalanan jauh.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami berpelukan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKejutan,\u201d kataku sambil menelitinya, lebih gemuk, dulu ia kurus sekali, lebih matang dan kelihatan sudah ibu-ibu.<br>\u201c Angin apa yang membawamu ke sini?\u201d<br>\u201cLoh, Nina tidak memberi tahu?\u201d tanya temanku itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Nina adalah teman kuliah kami dulu. Dulu kami selalu pulang bersama-sama, numpang mobil teman kami lainnya yang selalu dijemput supirnya. Nina cukup akrab dengan aku dulu, tapi tidak kawan yang satu ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengajaknya duduk di ruang tamu.<\/p>\n\n\n\n<p>Suamiku mondar-mandir, aku tahu maksudnya ingin diperkenalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenalkan ini Mark suamiku.\u201d Mereka bersalaman,<br>\u201cMark. Ini Yani, teman kuliahku di Fakultas Sastra dulu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yani hanya tersenyum dan ia berbisik padaku \u201cTerjemahkan dong pada suamimu, aku tidak bisa Bahasa Inggris.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda apa nih, kok kamu mendadak muncul di rumahku? Bawa koper lagi!\u201d kami duduk di sofa<\/p>\n\n\n\n<p>Suamiku duduk di sofa lain di seberang kami, mendengarkan walau aku yakin percakapan kami dalam Bahasa Indonesia sama sekali tidak dimengertinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku dapat kerja di Jersey, di sebuah restoran Cina di sana.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Jersey, adalah pulau terbesar di daerah kepulauan yang biasa disebut Channel Islands, letaknya di selatan Inggris dan lebih dekat ke pantai Perancis.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau begitu kenapa kamu ada di sini?\u201d Rumah kami di London, jauh dari Jersey.<br>\u201cAku tidak tahu seperti apa itu Jersey dan ingin tanya dulu sama kamu, kalau tidak enak aku mungkin minta diberi pekerjaan di London saja,\u201d penjelasan Yani membuat aku bingung.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa semudah itu mencari kerja di London?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa, kata agenku aku bisa kalau mau kerja di London, tapi mungkin tidak di restoran.\u201d Agen, sekarang dia bicara agen.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengorek banyak keterangan dari Yani. Rupanya kedatangannya ke London memang lewat satu agen wisata di bilangan Kelapa Gading di Jakarta. Agen itu bukan hanya menjual tiket dan paket perjalanan wisata, tapi juga bisa mengurus dan mengatur jika ada warga Indonesia yang ingin kerja di London atau negara besar lainnya seperti Amerika. Tentu saja mereka yang tertarik harus membayar mahal. Mereka harus membeli tiket pulang pergi dan membayar jasa agen menyediakan pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi dijamin dapat pekerjaan! Akomodasi ditanggung pula,\u201d Yani menuturkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak tanggung-tanggung untuk semua itu ia mengeluarkan lebih dari 10 juta rupiah. Visa harus diperolehnya sendiri, tambahnya lagi. Sang agen tidak membantu. Itu salah satu sebabnya ia muncul di London ini, sebab tempat tujuan pertamanya Amerika menolak memberinya visa masuk.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPaspor ku baru, aku kan belum pernah ke mana-mana, karena itu kedutaan Amerika menolak. Untung Inggris mau memberiku visa.\u201d Visanya visa turis, yang sebetulnya berarti ia dilarang bekerja di Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang aku jadi pekerja gelap di sini, tapi teman-temanku banyak juga kok yang begitu. Yang pulang dari Amerika malah aku lihat mobilnya langsung ganti! Bisa mengirim banyak uang untuk juga.\u201d Yani berusaha membela diri waktu aku bilang risikonya juga besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu sebagai pekerja gelap tentunya kalau sang majikan misalnya memperbudaknya, ia tak akan bisa membela diri, juga tidak bisa melaporkan ke mana-mana. Paspornya mungkin saja ditahan oleh majikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku jadi ingat semua cerita yang pernah kubaca tentang TKI di Arab, di Hong Kong. Beberapa bulan sebelum Yani muncul dengan kopernya, berita tentang pekerja gelap sedang ramai menghiasi halaman utama surat kabar dan majalah di Inggris. Terutama dengan adanya kecelakaan di Morecambe Bay, sebuah pantai di Inggris Selatan, yang menewaskan puluhan imigran gelap dari Cina yang sedang bekerja mencari cockle atau semacam kerang di pinggiran laut Morecambe Bay. Dari naiknya air pasang yang membunuh para pencari kerang itu kemudian diketahui bahwa para pekerja gelap itu masuk ke Inggris dengan cara yang mirip yang dilakukan Yani sekarang: membayar agen, visa turis dan kerja gelap dengan gaji yang untuk makan pun tak cukup. Kebanyakan dari mereka adalah orang desa yang ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera dari segi materi.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk membayar agen yang kebanyakan juga kaki tangan kelompok Mafia Cina Triad, mereka tak segan-segan menjual tanah, menjual rumah, meminjam uang. Keluarga mereka ditinggalkan di kampung halaman dengan sejuta mimpi dan harapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesampai di Inggris, mereka yang beruntung mungkin mendapat pekerjaan gelap di restoran yang pemiliknya cukup baik sehingga mereka bisa menyisihkan sedikit uang untuk dikirim ke kampung halaman, tapi yang banyak terdengar bukan seperti ini. Kebanyakan mereka diperbudak, kerja sampai akhirnya tewas seperti para imigran di Morecambe Bay itu atau untuk kaum perempuan tak jarang yang berakhir dijadikan pelacur.<\/p>\n\n\n\n<p>Yani tidak masuk dalam kategori yang terdesak harus kerja di luar negeri demi memperbaiki ekonomi keluarag seperti itu. Suaminya kerja di sebuah bank, mereka tinggal di daerah perumahan cukup mewah di kawasan timur Jakarta, anak-anaknya sekolah di sekolah swasta yang juga tidak murah. Mobil ada, makanan ada, pembantu ada.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAku ingin hidup lebih makmur, dulu aku kerja juga di Jakarta. Tapi aku lihat temanku yang kerja seperti ini di Amerika, wah sukses, mobil bagus, rumah bagus. Jadi aku pikir lebih baik aku pergi juga, kan ini untuk keluargaku juga,\u201d katanya penuh harapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hanya bisa mengelus dada. Malam itu ia menginap di rumah kami dengan mimpinya jadi orang kaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya ia berangkat ke Jersey dan bekerja gelap di sebuah restoran Cina.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku harus mengaku jadi saudara pemilik restoran,\u201d katanya membuka rahasia kerja gelapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia lenyap tak ada beritanya setelah itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Enam bulan kemudian, ia muncul untuk pamitan \u201cAku mau pulang nih, nggak betah ah, mana di restoran Cina susah makannya, banyak yang mengandung babi\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Uang yang dikumpulkan pun tidak terlalu banyak menurutnya, \u201cAh sudahlah, aku mau pulang saja, kangen sama anak-anakku dan kerja susah di sini aku tidak suka seperti pembantu saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di rumahnya pembantu selalu siap mentaati perintahnya, di restoran di Jersey itu dia yang memegang peranan pembantu. Melayani tamu yang makan di restoran, membersihkan restoran, mencuci, mengepel, membersihkan dapur dan sederetan daftar pekerjaan lain yang harus dilakukannya tiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku bayar banyak untuk jadi pembantu! Hahaha\u201d ia menertawakan dirinya sendiri. Ironis memang.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pikir syukurlah, mungkin kenyataan yang tidak seindah mimpinya semula sudah membuatnya lebih realistis.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi suatu siang, suaranya terdengar lagi di teleponku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHallo, aku di London lagi nih, sekarang aku kerja di pabrik di utara London&#8230;\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lenah Susianty Dia tiba suatu malam di musim panas. Pukul 20.00. Aku sedang membereskan rak buku. Suamiku muncul, \u201cAda tamu untukmu.\u201d\u201cTamu? Siapa?\u201d Aku tidak menunggu siapa pun, tidak ada juga yang berjanji akan datang. Aku tidak suka kejutan semacam ini. Takut kalau tamu yang datang tanpa diduga membawa kabar buruk.\u201cPerempuan bawa koper,\u201d wajah suamiku kelihatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[716,18],"class_list":["post-4016","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memoar","tag-716","tag-lenah-susianty"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4016"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4016\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4017,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4016\/revisions\/4017"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}