{"id":4061,"date":"2005-11-13T02:21:45","date_gmt":"2005-11-13T02:21:45","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4061"},"modified":"2020-07-04T02:22:27","modified_gmt":"2020-07-04T02:22:27","slug":"dokter-zhivago-117","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4061","title":{"rendered":"Dokter Zhivago"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Boris Pasternak<br>(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Di deresi terlalu panas dan berbeda untuk tidur. Bantal Yury diresapi keringat. Hati-hati agar tak membangunkan yang lain-lain, ia turun dari bangku tidurnya, lalu menggeser pintu deresi.<\/p>\n\n\n\n<p>Hawa panas lembab yang melengket melecut ke wajahnya seakan ia dalam kolong rumah melanda sarang laba-laba. \u201cKabut,\u201d terkanya. \u201cPanas teriklah besok. Itu sebabnya sekarang tak ada angin, hawa sesak menekan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Stasiun itu besar, boleh jadi stasiun penghubung. Kecuali kabut dan kesunyian, ada pula rasa kehampaan, keterlantaran, seolah kereta api telah kesasar dan dilupakan orang. Kereta api itu agaknya tepat di belakang daerah langsir, jauh ke belakang, hingga orang-orang didalamnya tak akan tahu menahu, andaikata di ujung lain dari jaringan rel itu bumi terbelah dan menelan gedung stasiun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari jauh sayup-sayup terdengar dua bunyi.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sebelah belakang yang telah mereka lewati ada bunyi berkelepak seperti ada baju sedang dicuci atau angin memecutkan bendera basah yang berat ke tiangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari depan datang gemuruh merata yang membuat Yury dengan pengalamannya dalam perang itu menajamkan telinganya. \u201cArtileri,\u201d demikian putusannya, sesudah mendengarkan nada rendah yang berlangsung terus itu dengan berkumandang tenang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c Itu dia, kita di tengah medan perang.\u201d Ia mengangguk pada diri sendiri, sambil meloncat dari deresi. Ia melangkah sedikit ke depan. Dua deresi kemuka sudah merupakan ujung keret api; deresi-deresi lainnya sudah dilepas dan pergi bersama lokomotif.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi inilah sebabnya mereka begitu tegang kemaren. Mereka sudah merasa akan segera masuk kancah, bila tiba di sini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berjalan mengitari deresi terdepan, dengan maksud menyeberangi rel dan melihat sebagian besar stasiun, tapi didepannya muncullah seorang pengawal bersenjatakan bedil.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKemana? Ada pas?\u201d ujarnya lembut.<br>\u201c Ini stasiun apa?\u201d<br>\u201c Itu tak soal. Tuan siapa?\u201d<br>\u201c Saya dokter dari Moskow. Kami sekeluarga bepergian dengan kereta api. Inilah surat-surat keterangan saya.\u201d<br>\u201c Boleh kamu isi dengan\u2026Saya tidak gila, siapa bisa baca dalam gelap\u201d Ada kabut, tak lihat sendiri? Dan saya tak perlu surat-surat untuk tahu dokter macam apa kamu ini. Banyak lagi dokter macam kamu yang menembaki kami dengan meriam dua belas inci. Saya ingin hancurkan otakmu tapi kini telalu pagi. Baiklah, mumpung badanmu masih utuh.\u201d<br>\u201c Dia sangka aku orang lain,\u201d pikir Yury. Teranglah tak ada gunanya untuk membantah, baik menurut nasehatnya saja, sebelum terlambat. Iapun berpaling dan jalan balik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tembakan meriam reda di belakangnya. Dibelakanganya itulah Timur. Di sana matahari telah terbit di tengah kabut berarak, suram menembusi bayangan-bayangan yang mengambang, seperti orang mandi telanjang di belakang kepulan uap.<\/p>\n\n\n\n<p>Yury berjalan sepanjang kereta api dan melwati deresi-deresi terakhir, kakinya kian dalam tenggelam dalam pasir empuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Bunyi kelepak yang tunggal-nada itu mendekat. Tanah melandai curam. Ia berhenti hendak mengamati bentuk-bentuk tak tentu di depannya; kabut memperbesar mereka secara tak wajar. Selangkah lagi, maka wujud perahu-perahu yang tertambat di pantai muncul dari gelap. Di depannya ada sungai lebar, riak-riaknya malas berkecipuk, pelan dan lelah terantuk pada pinggiran bahtera-bahtera nelayan serta papan-papan tempat pungguhan di tepian.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesosok tubuh muncul dari pantai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSiapa ijinkan kamu bergelandangan?\u201d tanya seorang pengawal lainnya yang bersenjata.<br>\u201c Ini sungai apa?\u201d Pertanyaan terlontar, meskipun Yury sudah tegas mengambil putusan tak akan bertanya-tanya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai jawabannya, pengawal itu memasang peluitnya ke mulut, tapi ia tak usah berpayah-payah menggunakannya, sebab datanglah pengawal pertama yang hendak dipanggilnya dengan peluit itu; dia rupa-rupanya telah mengikuti Yury dengan diam-diam dan kini bergabung degan kawannya. Mereka berdiri sambil bercakap-cakap.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTak syak lagi. Burung macam ini dapat kau kenal dalam sekejap mata. \u2018Ini stasiun mana?\u2019 \u2018Sungai apa ini?\u2019 Dia kelabui mata kita. Bagaimana. Kita bawa dia langsug ke dermaga atau kereta api dulu?\u201d<br>\u201c Kereta saja. Tunggu putusan pemimpin, Surat-surat kamu,\u201d bentaknya pada Yury. Dengan menggenggam seberkas kertas itu dan sambil berseru pada seseorang. \u201cAwas dia.\u201d Iapun bersama pengawal pertama tadi berjalan ke stasiun.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang ketiga yang sampai saat itu belum dilihat Yruy, agaknya seorang nelayan. Tadi dia berbaring di pantai, tapi kini ia bergumam, bergerak, mulai menerangkan pada Yury tentang kedudukannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUntung kamu dibawa pada pemimpin. Itu mungkin menyelamatkanmu. Tapi jangan salahkan mereka. Mereka hanya melakukan tugas. Sekarang rakyat yang berkuasa. Barangkali itu lambat laun malah baik, sungguhpun sekarang belum dapat dikatakan apa-apa. Mereka keliru. Mereka sudah lama mengejar-ngejar seseorang. Maka kamu disangka ini, ini dia, pikir mereka, inilah musuh Negara Buruh, kita tangkap dia. Keliru ya, itu saja. Kalau terjadi apa, kamu harus mendesak supaya dibawa ke pemimpinnya, Jangan biarkan dua orang ini berhasil, mereka sadar politik; celaka. Tuhan melindungi kita. Mengenyahkan kamu, bagi mereka tidak jadi soal. Jadi jika mereka katakan \u2018ikut\u2019 jangan mau. Katakan, kamu mau ketemu pemimpin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dari nelayan ini Yury mendengar bahwa sungai itu sungai Rynva yang terkenal sebagai jalan lalu lintas dan bahwa stasiun itu adalah keperluan bagi Razvilye, daerah indusri di sekitar kota Yuryatin. Di dengarnya pula bahwa Yuryatin yang letaknya beberapa mil lagi ke udik, kini agaknya sudah direbut kembali dari Tentara Putih; juga bahwa barusan ada huru hara di Razvilye yang rupa-rupanya telah diredakan pula, maka sunyi senyaplah semua karena wilayah stasiun telah dibersihkan dari penduduk dan dikepung. Akhirnya didapatnya kabar bahwa deresi-deresi dari beberapa kereta api di stasiun digunakan sebagai markas besar tentara, antaranya kereta api istimewa untuk komisaris tentara Strelnikov, yang kepadanya dua orang pengawal tadi pergi melapor.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengawal ketiga kini datang dari jurusan yang ditempuh dua orang tadi; dia berbeda dari mereka, terutama karena ia menghela bedilnya yang popornya terseret-seret di tanah, ataupun ia menopang bedil itu di depannya, macam seorang kawan yang mabuk yang memerlukan bantuannya. Pengawal inilah yang mengantar Yury ke komisaris.<br>***<em>bersambung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Boris Pasternak(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960) Di deresi terlalu panas dan berbeda untuk tidur. Bantal Yury diresapi keringat. Hati-hati agar tak membangunkan yang lain-lain, ia turun dari bangku tidurnya, lalu menggeser pintu deresi. Hawa panas lembab yang melengket melecut ke wajahnya seakan ia dalam kolong rumah melanda sarang laba-laba. \u201cKabut,\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[719,16,17],"class_list":["post-4061","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel","tag-719","tag-boris-pasternak","tag-trisno-sumardjo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4061","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4061"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4061\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4062,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4061\/revisions\/4062"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4061"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4061"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4061"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}