{"id":4097,"date":"2005-05-23T02:48:20","date_gmt":"2005-05-23T02:48:20","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4097"},"modified":"2020-07-04T02:49:37","modified_gmt":"2020-07-04T02:49:37","slug":"dear-dina-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4097","title":{"rendered":"Dear Dina"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Titi Supardi<\/em><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Sudah amat lama aku tak pernah mau percaya pada berita yang ditulis koran-koran di Dili. Aku tak pernah merasa mendapat informasi apa pun dari yang mereka tulis itu. Mungkin juga karena koran-koran nggak dibaca oleh mayoritas penduduk di Dili, maka segera merebak kabar burung sejak ex-FDTL itu melakukan aksi damai itu. Desas-desus itu bermacam-macam.<\/p><p>Tapi aku hanya mau percaya pada informasi yang disampaikan oleh Edio, Carlito, atau teman lain yang memang berada di lapangan. Dua hari sebelum insiden itu, aku marah pada Susmita, seorang mahasiswa dari Nepal yang sedang magang di kantor. Bisa dimengerti kalau dia panik atau ketakutan. Ya, karena dia tak mengerti percaturan dunia politik di Timor-Leste meskipun dia telah beberapa bulan di sini.<\/p><p>Rabu sore itu dia bertanya pada Julino yang tengah bekerja. \u201cApa yang terjadi di Taibessi?\u201d Aku tak mendengar apa jawaban Julino. Tetapi ketika Susmita kembali ke ruangannya, dia mengatakan kepadaku bahwa telah terjadi kerusuhan di pasar Taibessi. Dengan kesal aku menjawab; \u201cKalau kamu takut dan ingin dengar kabar, jangan bertanya pada orang yang sejak pagi berada di kantor, <em>dong<\/em>. Kamu bisa bertanya kepada <em>Maun <\/em>Jos\u00e9 Luis atau Edio, atau teman lain yang pulang dari lapangan.\u201d<\/p><p>Dia diam saja. Dan aku mendengar Julino tertawa dari ruang sebelah.<\/p><p>Teman-teman di kantor juga belum ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Pasar Taibessi, sehari sebelum insiden itu. Aku yakin kamu masih ingat lokasi pasar itu. Karena ketika kamu bekerja di Kupang, kamu sering pergi ke kantor Jesuit Refugee Service di kawasan Taibessi.<\/p><p>Menurut yang aku dengar dari Edio, ada pemuda-pemuda setempat yang berkelahi di sana dan polisi berusaha melerainya. Tentu saja perkelahian itu membuat takut para pedagang. Para pedagang tentu saja panik. Di antara mereka ada yang segera bergegas meninggalkan kawasan itu. Itu yang aku dengar dari Renny, istrinya Marcelino Magno yang tinggal tak jauh dari Pasar Taibessi. Mereka menjinjing barang-barang dagangannya keluar pasar. Malam berlalu dengan tenang hari itu.<\/p><p>Sejak itu, mulai terdengar bermacam-macam rumor, yang kadang-kadang sangat tidak masuk akal. Desas-desus yang sempat aku dengar, polisi menutup Pasar Comoro dan sejak itu polisi berjaga-jaga di pasar itu. Bahkan, mulai ada yang khawatir akan terjadinya perang saudara seperti 1975 silam. Ketika mendengar omongan seperti itu aku tertawa, lalu berkomentar; \u201cWah, jangan terlalu jauh begitu. Kita belum tamat membaca sejarah <em>kok <\/em>menduga yang bukan-bukan.\u201d<\/p><p>Mendengar jawabanku itu Le\u00e3o dos Santos marah. \u201cIni bisa saja terjadi. <em>Kayak <\/em>tidak tahu Timor saja,\u201d jawabnya sambil bersungut-sungut.<\/p><p>Informasi yang simpang siur semakin santer. Banyak orang mulai percaya pada satu atau beberapa kabar yang beredar itu. Desas-desus itu bukan hanya dari mulut ke mulut. Kabar angin pun mulai disebarkan dalam bahasa Inggris lewat pesan pendek. Aku mendapat beberapa di antaranya dari murid-muridku yang belajar bahasa Indonesia. Seperti kepada teman-teman di kantor aku membalas pesan itu dengan tidak serius.<\/p><p>Setelah insiden itu jalan-jalan menjadi sepi. Toko-toko di Colmera tutup lebih cepat. Aku tidak tahu di tempat lain. Sore sampai malam itu kami masih ngobrol di kantor seperti biasanya. Teman-teman yang hobi main pingpong, ya, tetap bermain seperti hari-hari sebelumnya.<\/p><p>Sejak insiden itu meletup, aku semakin nggak tahu arah pertanyaan teman-teman yang dikirim melalui SMS. Keesokan paginya, Fay menanyakan kabar yang menurut media di Jakarta, keadaan di Dili jelek banget. Aku menjawab apa yang telah terjadi. Eh, malah dia menanyakan kembali, apakah NGO juga menjadi sasaran. Aku hanya menjawab tidak tahu tetapi bisa saja keadaan memburuk. Lagi-lagi aku nggak tahu apa saja yang diberitakan di media, <em>kok <\/em>tiba-tiba Fay malah mengusulkan mengapa aku tidak mengungsi dulu ke Dare atau ke rumah Suster atau ke rumah Jos\u00e9 Lu\u00eds.<\/p><p><em>Lho<\/em>, <em>kok<\/em> harus mengungsi? Mungkin, karena aku mengatakan tak akan kemana-mana, Fay kemudian menulis, \u201cKalau keadaan membahayakan, <em>lu<\/em> mengungsi <em>dong<\/em>, <em>ah<\/em>.\u201d<\/p><p>Aku menceritakan pesan Fay tersebut kepada Nug. Dia hanya tertawa. \u201cMengapa kita harus mengungsi karena tidak ada apa-apa yang membahayakan,\u201d komentarnya.<\/p><p>Pasca insiden sesungguhnya ekonomi di Dili tidak lumpuh seperti yang diberitakan <em>Tempo Interaktif.<\/em> Jems de Fortuna, si wartawan itu yang mengutip wawancara dengan Senior <em>Liason Officer<\/em> Polri di KBRI. Komisaris Besar Polisi Minton Maryaty Simanjuntak mengatakan pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan belum dibuka karena para pegawai yang&nbsp; merupakan warga lokal telah meninggalkan Dili.<\/p><p>Berita yang disiarkan Sabtu, 6 Mei jam 14:01 WIB itu tentu saja tak berdasarkan fakta. Mungkin, ada saja toko-toko yang dimiliki pengusaha Indonesia tutup karena sebelumnya ada yang berlindung di KBRI. Dua supermarket terbesar di Dili, Lita Store di sebelah hotel Turismo dan Leader di kawasan Comoro tutup satu setengah jam lebih cepat dari biasanya. Menurut petugas keamanan di supermarket itu, sekarang lebih banyak orang&nbsp; yang berbelanja pada siang sampai sore. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.<\/p><p>Kalau kita hanya berada di rumah memang tidak akan tahu apa-apa. Tetapi kalau kita keliling-keliling kita bisa tahu bahwa kehidupan berjalan seperti biasa. Kedai-kedai makanan tetap buka, bahkan restoran masakan Cina di Audian tetap buka seperti biasa termasuk pada saat terjadinya insiden itu. Hari Kamis dan Jumat, satu-satunya pompa bensin milik orang Australia diserbu pembeli. Antrean panjang mobil-mobil yang akan pergi ke distrik aku lihat di sana. Pompa-pompa bensin yang lain \u2013yang menjual bensin asal Pertamina dan asal Singapura\u2013 tutup. Agaknya pegawainya tidak masuk kerja karena insiden sebelumnya.<\/p><p>Kenapa orang-orang pada pergi ke distrik? Kamis itu puncaknya orang-orang meninggalkan Dili. Kami melihat sebagian dari mereka membawa seluruh harta bendanya yang diangkut dengan truk atau mobil-mobil pribadi. Aran, petugas kebersihan di kantor termasuk juga yang mengungsikan barang-barangnya ke kampungnya. Katanya, dia harus membayar sewa mobil A$ 38 untuk sekali jalan ke L\u00e1clo di Manatuto.<\/p><p>\u201cKalau ada apa-apa saya pasti tidak akan bisa lagi beli televisi dan antena parabola,\u201d katanya, memberi alasan.<\/p><p>Beberapa hari setelah insiden itu beredar rumor bahwa bekas anggota militer yang demonstrasi itu akan melakukan serangan balik. \u201cDalam tiga hari Dili harus dikosongkan,\u201d begitu kabar yang tersiar meluas. Anehnya, ketika ditanya balik tak ada seorang pun yang bisa menjelaskan \u201ctiga hari\u201d itu; mulai dari kapan dan sampai kapan. \u201cPokoknya, dalam tiga hari Dili harus dikosongkan.\u201d Itu saja. Berita itu terbukti tidak benar. Tak ada penyerangan oleh siapa pun.<\/p><p>Teman-teman menduga, sekitar separuh penduduk Dili telah meninggalkan ibukota Timor-Leste ini. Berita dari BBC menyebutkan angka 75%. Entah dari mana sumbernya. Selain mereka yang meninggalkan Dili, ada juga penduduk yang memilih tinggal di Susteran Canossiana, Balide, atau kompleks Don Bosco, tidak jauh dari bandara, atau tempat-tempat lain di dalam kota. Liputan televisi melaporkan mereka pulang ke rumah masing-masing pada pagi hari dan kembali lagi ke tempat-tempat berlindung pada malam hari.<\/p><p>Aku merasa aneh karena mereka itu diberi bantuan berupa beras, minyak goreng dan mie instant \u2013standar bantuan untuk pengungsi dari Departemen Sosial. Kalau mereka bisa pulang ke rumah artinya mereka kan punya cukup persediaan makan ya. Bantuan itu jangan-jangan malah membuat orang-orang betah tinggal di tempat-tempat berlindung itu.<\/p><p>Pada hari setelah kerusuhan mulai ada warga negara Indonesia yang meminta perlindungan di KBRI dan orang-orang yang datang ke sana semakin banyak. Di antara para pengungsi itu termasuk Hor\u00e1cio Bambo bersama istri dan dua anaknya. Ya, dia \u2018kan menikah dengan perempuan asal Sumatra Utara. Ketika hari Minggu lalu dia numpang mencuci pakaian di kantor, aku sempat menggoda dia. \u201cBambo, kamu ini tragis betul. Dulu, pada 1999 kamu ikut membantu para pengungsi, tetapi sekarang kamu menjadi pengungsi.\u201d Dia hanya tertawa sambil menjemur pakaian.<\/p><p>Sedih amat ketika melihat orang berbondong-bondong meninggalkan Dili. Kamis pagi, ketika aku dan Marcelino membeli ikan di seberang Kedutaan Amerika Serikat di Pantai Kelapa, kami melihat rombongan yang menunggu kendaraan atau melihat truk dan kendaraan lain yang berisi orang-orang yang pergi lengkap dengan barang-barang bawaannya. Ingatanku langsung kembali ke rombongan orang yang terusir pasca pengumuman hasil referendum 1999 lalu.<\/p><p>Belum tahu juga apa jadinya kalau penduduk Dili tetap belum mau kembali. Pernyataan Menteri Luar Negeri dan Kerjasama yang tanpa tanggal, tetapi beredar minggu ini, menyebutkan bahwa Perdana Menteri telah menginstruksikan para pegawai negeri untuk kembali bekerja pada Senin 8 Mei, jika tidak mereka akan mendapatkan sanksi karena tidak disiplin. Ya, tentu saja di antara mereka yang meninggalkan Dili itu ada begitu banyak pegawai negeri maupun pegawai swasta. Bisa saja terjadi para pegawai itu malah tidak pulang, <em>wong<\/em> takut <em>kok<\/em> disuruh kembali dan bekerja.<\/p><p>Mayoritas penduduk juga takut akan terjadi \u201cperang saudara\u201d antara mereka yang berasal dari wilayah barat dan wilayah timur. Masalah Loromonu dan Lorosae itu merebak justru setelah Xanana Gusm\u00e3o pidato kenegaraan, sepulang dari kunjungan ke luar negeri, pertengahan Maret lalu. Xanana bilang bahwa wilayah Loromonu itu terdiri dari 10 distrik mulai Manatuto sampai Oecussi.<\/p><p>Nggak tahu juga kenapa dia jadi bingung dengan pembatasan wilayah di Timor-Leste. Selama ini empat distrik dari 10 yang disebut Xanana itu dikenal sebagi Raiklaran (Wilayah Tengah): Manatuto, Aileu, Same, dan Ainaro. Entah mengapa juga Xanana mengatakan bahwa Panglima FDTL Taur Matan Ruak bilang: \u201cKalau&nbsp; mau perang, ya perang\u201d, tanpa menyebut latar belakangnya.<\/p><p>Mendengar pidato Presiden Xanana itu masyarakat mulai ketakutan. Mulai banyak orang menafsirkan apa yang sedang terjadi dengan pemimpin mereka itu. Semakin banyak \u201corang awam\u201d yang menafsirkan yang tentu bisa diduga hasilnya juga akan <em>ngalor-ngidul.<\/em><\/p><p>Menangkap kegelisahan penduduk itu, kawan-kawan aktivis kebudayaan dan hak asasi manusia di kawasan Farol merancang sebuah konser musik, yang diberi tajuk \u201cKonser Damai\u201d. Beberapa pemusik menggelar konser di dua tempat, di Taman Borja da Costa dan di Taman Integrasi, di depan pelabuhan, dekat Colmera. Masyarakat memang terhibur sejenak tetapi setelah pulang ke rumah masing-masing mungkin kembali gelisah.<\/p><p>Beberapa waktu kemudian, Xanana tampil lagi di televisi. Dia mencoba menjelaskan apa yang pernah diucapkannya itu dan meminta maaf kalau ucapannya itu menimbulkan masyarakat takut. Setelah itu, ya, tidak mudah bagi mereka untuk melupakan ucapan Xanana itu.<\/p><p>Sejak pagi, di hari Minggu kemarin aku kembali menerima beberapa SMS. Ada yang menyaksikan siaran berita yang mengatakan ada 500 warga negara Indonesia ke luar Dili lewat perbatasan sementara 2.000 orang tengah antre di Batugade. Sementara Olly, kakakku yang tidak pernah menanyakan dimana aku tinggal di Dili, tiba-tiba menanyakan aku tinggal di Dili Barat atau Dili Timur.<\/p><p>Aku bingung menjawabnya karena aku nggak pernah peduli aku ini berdomisili di wilayah timur atau barat. Setelah aku jawab aku tinggal di Dili Barat, dia malah semakin ketakutan. Katanya, laporan televisi mengatakan bahwa wilayah Dili barat itu yang berbahaya. Kok bisa? Oh, mungkin saja karena Taci Tolu yang merupakan pusat terjadinya kerusuhan itu terletak di wilayah Dili sebelah barat.<\/p><p>Kalau aku tidak bisa menjelaskan secara rinci pertanyaan-pertanyaan itu karena seringkali penjelasanku ternyata malah menimbulkan masalah baru. Seringkali pula aku tak mengerti apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan pertanyaannya itu. Pernah sekali, Fay menanyakan bagaimana keadaan malam itu. Aku jawab, bahwa penjaga keamanan di rumah Perdana Menteri Mar\u00ed Alkatiri menjadi lebih banyak dari biasanya. Aku tahu itu karena aku mengintip dari kamar mandi depan.<em> Eh<\/em>, Fay malah bingung bagaimana aku bisa tahu keadaan di rumah Perdana Menteri dari kamar mandi kami. Rupa-rupanya aku lupa menjelaskan bahwa Perdana Menteri telah pindah rumah di Farol karena rumah dinasnya di pinggir pantai tengah direnovasi.<\/p><p>Hal lain yang membuat kami bingung ketika Ibu Ade menanyakan kemungkinan kami kembali ke Jakarta dulu sambil menunggu keadaan aman. Pulang? Tentu saja kami tak terpikir untuk pulang. \u201cPulang saja dulu dengan tabungan untuk biaya membangun rumah. Nanti di Jakarta kami ganti,\u201d begitu pesan dari Ibu Ade.<\/p><p>Ketika aku menjawab bahwa kami memang sedang tidak punya uang karena kami tengah membangun rumah, malah datang pesan lain dari Fay, \u201cKita sedang mencari tiket Merpati Dili-Denpasar yang bisa dibayar di Jakarta. Kalau OK, segera beritahu nama-nama sesuai paspor\u201d. Ketika aku memberi tahu hal ini ke Nug, dia malah tertawa. \u201cBoleh saja kirim tiket karena aku juga mau jalan-jalan.\u201d<\/p><p>Pesan yang datang bertubi-tubi, yang menyuruh kami mengungsi tentu saja membuat aku menjadi pening. Teman-teman ini bagaimana, <em>wong <\/em>aku ini memilih bekerja di Timor karena mengungsi dari Indonesia <em>kok <\/em>sekarang harus mengungsi lagi ke tempat lain. Lagi pula, sekarang ini aku lebih merasa sebagai orang Timor dibandingkan sebagai orang asing yang menetap di sini. Apa pun yang terjadi di Timor tentu aku tak akan meninggalkan negeri ini. Ketika menceritakan beberapa pesan yang meminta aku mengungsi, Nug malah meminta aku menjawab, \u201cKami sedang mencari jalan untuk mengungsi ke hutan\u201d.<\/p><p>Sejak awal, aku dan Nug memang tak terpikir pergi untuk mengungsi. Kami mendapat informasi yang cukup bisa dipercaya, sehingga tak khawatir akan terjadi apa pun. Kami juga tak percaya \u2013-seperti orang kebanyakan, yang mempercayai bahwa telah terjadi konflik antara Polisi Nasional dengan militer dari FDTL. Hal lain yang membuat panik orang-orang karena aparat keamanan juga mulai sibuk mengamankan keluarganya.<\/p><p>\u201cKalau aparat saja sudah menjemput keluarganya untuk mengungsi, tentu akan terjadi sesuatu yang besar.\u201d Teman ini juga tak merinci apa yang dimaksud dengan \u201csesuatu\u201d itu. Desas-desus itu semakin merebak dan semakin tak masuk akal. Ya, namanya saja kabar burung.<\/p><p>Salah satu penyebab merebaknya desas-desus, ya, karena berita-berita yang dipublikasikan oleh media di luar negeri tak sepenuhnya melaporkan fakta. Sebuah saluran televisi di Jakarta, menurut seorang teman telah melaporkan bahwa bandara udara telah ditutup dan baru dibuka lagi pada pertengahan Mei. Kabar itu tentu tidak benar. Ketika kami bertemu dengan manager Merpati di Dili, Pak Max Mandagi, di restoran Manado, dia mengatakan, \u201cMedia itu mendapatkan informasi dari mana. Kami tetap melayani penumpang yang mau pergi ke Denpasar seperti biasanya,\u201d katanya. Orang-orang di sini mengira bahwa informasi yang diberitakan yang di luar negeri itu pasti benar.<\/p><p>Menurut dugaan Mariano Ferreira, orang-orang yang pergi meninggalkan Dili itu adalah orang-orang yang baru menjadi penduduk Dili pasca kemerdekaan. Orang-orang asli Dili, ya, tetap tenang-tenang di rumah masing-masing. Mereka tak ikut-ikutan mengungsi.<br>Kami tetap tinggal di kantor HAK seperti biasa bersama-sama teman-teman yang <em>indekos <\/em>di kantor. Pembangunan rumah kembali agak tersendat karena tukang-tukang yang bekerja tidak tentu datangnya, tergantung pada rumor apa yang sedang berkembang. Repot juga, ya. Tentu saja, kami tak bisa memaksa orang-orang untuk tetap bekerja kalau mereka memang ketakutan.<\/p><p>Aku salut pada teman-teman di HAK yang tetap bekerja sambil terus mencari informasi yang benar. Ya, tentu saja ada satu dua orang yang tidak masuk bekerja. Jelas bahwa teman-teman \u201clulusan\u201d 1999 tahu apa yang harus dikerjakan di tengah-tengah kepanikan dan derasnya rumor itu. Nyata bedanya dengan mereka yang sepanjang proses referendum lalu entah dimana dan melakukan apa di tengah amuk massa yang dilakukan oleh milisi dan TNI dan memilih mengungsi.<\/p><p>Sesungguhnya aku geli melihat kelakuan beberapa teman. Ada seorang teman yang baru saja kembali ke Dili, entah dari mana, secara tiba-tiba saja mengunjungi kami di kantor. Sepanjang siang itu dia hanya bisa <em>ngomel,<\/em> betapa pemerintah itu goblog dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tinggal pergi ketika dia semakin seru menyalahkan pihak ini dan pihak itu. Dalam hatiku, selama ini, orang itu <em>toh<\/em> juga tidak melakukan apa-apa untuk membangun negerinya.<\/p><p>Teman yang lain lagi, yang kalau datang ke kantor, selalu memasang wajah panik. Setiap datang dia hanya mengkhawatirkan keadaan keluarganya, yang tinggal di wilayah anu dan di tempat lain. Padahal kalau dia tidak memasang muka keruh seperti itu, dia pasti bisa berpikir bahwa saudara-saudaranya itu akan baik-baik saja.<\/p><p>Ya, aku mencoba mengerti mengapa banyak orang meninggalkan tempat tinggalnya. Aku pernah mengirim pesan ke Fay, yang mengatakan, aku merasa ngeri betul melihat massa yang panik. Mungkin, diperlukan waktu yang lama agar masyarakat bisa tenang ketika menghadapi desas-desus (lagi). Ya, mereka ini \u2018kan mengalami <em>post-conflict trauma. <\/em>Sejak Timor-Leste bebas dari pendudukan militer Indonesia, banyak lembaga hanya mengatasi trauma yang dialami oleh individu-individu.<\/p><p>Sejauh yang aku tahu, tak ada lembaga yang mencoba membantu mengatasi masyarakat yang mengalami trauma secara keseluruhan. Lembaga-lembaga itu mungkin saja beranggapan bahwa dengan memberi bantuan berupa seng, terpal atau beras dan lain sebagainya otomatis akan menghapus trauma mereka akibat konflik yang berkepanjangan.<\/p><p>Sekarang aku membantu teman-teman yang tergabung dalam Jaringan Pemantau Hak Asasi Manusia di sini untuk mengumpulkan fakta selama terjadinya <em>runggu-rangga <\/em>ini. Minggu depan laporan ini akan dikeluarkan. Pemerintah juga telah membentuk satu komisi yang disebut dengan Comiss\u00e3o de Not\u00e1veis atau Komisi Tingkat Tinggi.<\/p><p>Anggota-anggota komisi yang dilantik Perdana Menteri pada 5 Mei lalu, terdiri dari Longuinhos Monteiro dan Sebasti\u00e3o Ximenes yang ditunjuk oleh Presiden Xanana Gusm\u00e3o, Francisco Miranda Branco dan Pedro M\u00e1rtires da Costa mewakili Parlemen Nasional, Ana Pesoa dan Alcino Baris mewakili pemerintah, sedangkan Maria Nat\u00e9rcia Gum\u00e3o mewakili Conselho Superior de Magistratura Judicial \u2013 kalau tidak salah, terjemahan dari \u201cDewan Tertinggi Kehakiman\u201d. Gereja Katolik diwakili oleh Padre Ant\u00f3nio Gon\u00e7alves, sedangkan Aniceto das Neves (Perkumpulan HAK) dan Tiago Sarmento dari Judicial System Monitoring Program mewakili masyarakat sipil. Kita tunggu saja hasil kerja mereka itu. Nanti aku beritahu apa kesimpulan dari kerja Komisi ini.<\/p><p>Kabar lain yang menggembirakan, Senin pagi tadi, pemuda-pemuda yang dipimpin oleh Sekretaris Negara urusan Pemuda dan Olahraga, Jos\u00e9 Manuel Fernandes, bekerja bakti membersihkan kawasan Taci Tolu. Semoga saja ketakutan yang dialami penduduk segera pulih kembali. Mereka yang pulang ke distrik segera kembali lagi. Di antara mereka yang meninggalkan Dili termasuk dokter hewan langgananku.<\/p><p>Ketika aku mengirim SMS ke drh. Ant\u00f3nino karena si Kinur, kucingku yang tertua sakit, dia hanya mengabarkan, \u201cMaaf, saya tidak berada di Dili.\u201d<\/p><p>Sekian dulu suratku. Jangan khawatir, kami tetap waspada. Semoga di lain waktu aku akan menulis lagi.<\/p><p><em>Dili 8 Mei 2006, Salam hangat,<br>Te-I<\/em><\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Titi Supardi Sudah amat lama aku tak pernah mau percaya pada berita yang ditulis koran-koran di Dili. Aku tak pernah merasa mendapat informasi apa pun dari yang mereka tulis itu. Mungkin juga karena koran-koran nggak dibaca oleh mayoritas penduduk di Dili, maka segera merebak kabar burung sejak ex-FDTL itu melakukan aksi damai itu. Desas-desus itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[736,730],"class_list":["post-4097","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memoar","tag-736","tag-titi-supardi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4097","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4097"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4097\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4098,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4097\/revisions\/4098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}