{"id":4141,"date":"2006-09-27T04:12:42","date_gmt":"2006-09-27T04:12:42","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4141"},"modified":"2020-07-04T04:13:55","modified_gmt":"2020-07-04T04:13:55","slug":"penari-liar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4141","title":{"rendered":"Penari Liar"},"content":{"rendered":"\n<p>Sugianto Thoha<\/p>\n\n\n\n<p>Hingar musik keras memekakkan gendang telinga. Muda-mudi melenggak-lenggokkan tubuh dibawah gemerlap lampu sorot yang berubah-ubah warna. Seorang gadis centil merangsek kesana kemari, tangannya menggapai-gapai, rambutnya mengibas-ngibas. Ia seperti kesurupan. Kadang mengerang, menjerit, dan meraung menandingi volume sound system yang kian meninggi. Gadis itu menari liar sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Ruang bundar gedung diskotik di kaki bukit Hon Heo, di desa Ninh Phuoc, Vietnam Selatan ini, tidak begitu besar. Hanya cukup untuk anak surau mengaji. Ada lorong sempit menuju ke kamar mandi, laki-laki di sebelah kiri bertuliskan <em>\u2018Nam\u2019<\/em> dan perempuan <em>\u2018Nu\u2019<\/em>di sebelah kanan. Di tengah lorong ditabiri horden berwarna biru tua yang berbelah tengah.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk di sofa empuk di dalam diskotik. Iseng, SMS si Panca dari Linggau Pos kubaca ulang; <em>\u2018kalo biso sisi kehidupan malam om\u2019<\/em> tulisnya. \u2018Ya. Aku sedang melakukannya\u2019 jawabku dalam hati sembari memijit bahuku yang ngilu hingga ke dasar tulang. Barusan di lorong WC aku bertabrakan dengan si penari liar. Dia mau keluar, aku bergegas masuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah jalur, aku berjalan di sebelah kiri seperti kebiasaan di Indonesia. \u201cMa\u2019af&#8230;\u201d ucapku sopan gaya Yogya. Gadis itu mendelik, bola matanya membesar seperti Rahwana. \u201cMaaf, maaf&#8230;.!\u201d katanya ketus. Aku mulai salah tingkah, takut-takut dituduh mau memperkosa. Namun, sejurus kemudian kelegaanku muncrat laksana botol champagne yang ditinggalkan gabus. \u201cBelikan aku minuman, baru kumaafkan kamu&#8230;!\u201d katanya bercanda. Nah! Ini yang aku suka. Aku manut-manut tanda setuju.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkenalan yang \u2018menyakitkan\u2019 itu terus berlanjut. Rutin aku mengapeli si centil di diskotik itu. Namanya Thai Thi MyLinh, dan karena seret di lidah, aku memanggilnya Lina saja. Katanya sih, babenya orang terkaya di daerah ini. Dulu dia tidak pernah datang kemari. Baru-baru ini saja. Nyeeessss, seperti terjatuh di puncak Jayawijaya, hatiku sejuk bak didalam kulkas. Aku dapat barang baru nih&#8230;.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami sudah berbicara hati ke hati. Dia tanya kok aku tidak pakai cincin kawin.<br>\u201cYang kawin aku, bukan cincin,\u201d jawabku sekenanya.<br>\u201cBenar kau sudah bekeluarga?\u201d ia memastikan.<br>\u201cIya&#8230;&#8230;\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menatap wajahku lurus. Aku deg-degan gede rasa. \u2018Oh Neknang,\u2019 puji ku dalam hati, \u2018ilmu warisanmu masih manjur juga hingga hari segini.\u2019<br>&nbsp;<br>\u201cPelaut yang datang kesini selalunya mengaku bujangan. Ataupun pisah ranjang\u201d kata Lina.<br>\u201cIya,\u201d jawabku \u201cdipisahkan oleh lautan yang beribu-ribu mil jaraknya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lina menahan tawa. \u201cApa kau bersikap lain didepan anak-anakmu&#8230;?\u201d pertanyaan yang tak pernah kusangka-sangka.<br>\u201cMaksud mu?\u201d<br>\u201cSeperti sikap dibuat-buat agar terkesan kau seorang ayah yang baik, alim dan berbudi luhur di depan mereka?\u201d paparnya panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku berpikir sejenak, meraba-raba arah pembicaraan si cantik ini. Lalu menggeleng; \u201ctidak, aku biasa-biasa saja\u201d kataku.<br>\u201cKau tidak menipu anak-anak mu dengan sikapmu kan?\u201d<br>\u201cSudah jelas tidak dong. Aku bersikap apa adanya\u201d jawabku agak tersinggung.<\/p>\n\n\n\n<p>Lina tercenung beberapa saat. Aku tak tahu apa yang ada di benaknya. Dia beranjak menuju lantai disko meninggalkanku. Aku kemudian jadi sentimentil dan hanyut dalam perasaan sendiri. Betapa gemerlapnya kehidupan malam di sini. Dan betapa gelapnya kehidupan malam di dusunku. Tidak ada listrik dan fasilitas hiburan. Bukan itu saja, bahkan jalan ke sana seperti bubur kertas milik PT. Tel di Tanjung Enim tatkala musim hujan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku jadi miris memikirkan dusunku itu. Teman dari kota meledek; \u201ckalau saja orang itu bersembunyi disini, dia tidak akan pernah tertangkap oleh mereka,\u201d katanya, \u201ctapi sekarang orang itu harus mencuci kolor sendiri, tidur di ruangan pengap dan tangan diborgol di kursi pesakitan.\u201d Temanku diam menunggu reaksiku.<br>\u201cSiapa orang itu?\u201d<br>\u201cSaddam Hussein\u201d jawabnya tak berdosa.<br>\u201cOoooo&#8230;..\u201d aku sempat terdiam beberapa detik, \u201cbarangkali Osama bin Laden tengah bersembunyi di <em>Lubuk Pauh<\/em>, ya&#8230;.?\u201d pikirku mengira-ngira.<\/p>\n\n\n\n<p>Dusun yang kumaksud adalah <em>Binjai, <\/em>mencangking ringkih di bibir sungai Musi, satu jam bersekoci dari Muara Kelingi &#8211;kalau kipas perahu biatnya tidak tersangkut sampah yang dibuang penduduk sembarangan ke sungai. Itulah alat transportasi disana, yang terbukti handal di zaman nabi Nuh dulu sampai sekarang. Sedang transportasi darat tidak pernah ada ke kampung kami, sejak bermulanya sejarah umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Di ujung jalan aspal. Di pangkal jalan tanah yang menuju kedusunku terdapat perkampungan orang Bali. Jalan disitu becek di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Di atas tanah yang agak meninggi, terdapat pura kecil tempat orang Bali bersembahyang. Tempat itu sepi dan sedikit angker. Kata orang-orang yang percaya, disitu berdiam komunitas para lelembut dan dedemit yang sering meminta sesembahan.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Pesawat yang ditumpangi Hoa telah tinggal landas dari bandara Kam Ranh menuju Ho Chi Minh City. Dari sana ia akan naik pesawat lain menuju Tokyo. Hoa, yang sempat menacantol hatiku, telah meninggalkan aku untuk <em>Merengkuh Rembulan<\/em>-nya<\/p>\n\n\n\n<p>Taksi yang&nbsp; kusewa meninggalkan bandara. Semenanjung Kam Ranh senja itu lengang sekali. Burung camar tak nampak di awang-awang. Siluet perahu nelayan di dalam teluk sudah mulai kehilangan garis. Warna jingga tidak lagi dominan.<\/p>\n\n\n\n<p>Taksi makin melaju, dan diskotik langgananku sudah lewat. Perjalanan mulai tidak terasa nyaman. Jalan mulus sudah berakhir, kini memasuki jalan tanah bebatuan. Sebuah kuil pemujaan terlihat di tepi tikungan yang baru kami masuki. Orang-orang berkerumun memberi sesajian. Deru motor anak-anak muda mengganggu kekhusyukan orang-orang yang bersembahyang. Kata sopir, lewat tengah malam akan tambah banyak lagi anak muda balapan di jalan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sopir itu tiba-tiba menggumam; \u201csyukur..?\u201d ucapnya setengah tak bersuara.<br>\u201cApanya yang syukur?\u201d tanyaku.<br>\u201cOrang-orang di kuil mengucapkan syukur kepada Dewata\u201d katanya pelan.<br>\u201cKenapa?\u201d<br>\u201cSebab Dewata telah mendengar doa-doa mereka.\u201d<br>\u201cDoa apa..?\u201d<br>\u201cSekarang dia sudah ditangkap dan masuk penjara,\u201d sopir itu melanjutkan lagi.<br>\u201cSiapa?\u201d tanyaku makin tak mengerti.<br>\u201dOrang penting di daerah ini, karena korupsi dana pembangunan jalan ke kuil.\u201d<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Kangkung hijau tumis dan terasi menu makan siang tadi membuat kuapku gencar tak terbendung. Aku menggigil di tengah jalan berkubang di depan pura di kampung Bali. Lina berpegang teguh di bahu kiriku. Aku mendongak tiga puluh derajat meladeni dua orang lelaki yang menjulang di depanku. Ubun-ubun mereka menjejas dahan-dahan karet yang menaungi badan jalan. Yang satu berkulit putih, berwajah klimis, mengenakan pakaian adat Bali. Yang satu lagi berkulit hitam legam seperti orang Afrika, setengah telanjang. \u201cKami adalah lelembut dan dedemit\u201d mereka mengenalkan diri dengan suara menggema.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBawalah dia kepembaringanmu dan dekap hingga esok pagi. Jangan kau lepaskan!\u201d perintah si kulit putih tiba-tiba.<br>\u201cTapi tuan&#8230;.\u201d jawabku terbata-bata.<br>\u201cKenapa..?\u201d tanyanya.<br>\u201cDia kan bukan isteriku, mana mungkin aku mendekapnya\u201d jawabku lagi.<br>\u201cHai, tolol!\u201d hardiknya, \u201cAbaikan norma. Tinggalkan hukum. Selamat kan dia\u201d. \u201cSekarang juga!\u201d<br>\u201cTapi&#8230;.tapi..ta..p.i&#8230;.\u201d aku terbata-bata.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJanganlah kau berbuat maksiat, hai anak muda..\u201d si kulit hitam berkata lembut menyejukkan hati. Ekor matanya ia kerlingkan kearah si kulit putih.<br>\u201cJangan percaya! Dia adalah penipu.\u201d si kulit putih melengking.<br>\u201cApakah ada penipu yang mencegah seseorang berbuat kebatilan, hai anak muda&#8230;?\u201d tanya si kulit hitam padaku.<br>Aku menggeleng.<br>\u201cBerikanlah gadis itu padaku, kalau begitu\u201d pintanya pelan.<br>Aku mulai gamang, jangan-jangan si kulit putih adalah serigala berbulu domba, sedangkan si kulit hitam adalah domba berbulu serigala, batinku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau kau memberikan gadis itu, aku akan memberimu hadiah,\u201d bujuk si kulit hitam meyakinkan. \u201cAku akan baguskan jalan untuk orang-orang dusunmu. Penjualan hasil karet, sawit dan transportasi ke kota akan lancar tanpa hambatan. Pikirkan itu anak muda&#8230;!\u201d si kulit hitam menggoyahkan pendirianku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melirik Lina di samping. Ia merenggangkan pegangannya. Aku melepas perlahan. Secepat kilat si kulit hitam merenggut Lina dari sisiku.<br>\u201cTidaaaaaaakkkkkkk&#8230;&#8230;\u201d aku terpekik. Teman-teman terkejut&nbsp; mendengar aku mengigau selepas makan siang. Apa takwil mimpi itu?<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Teman-temannya bilang, selain anak orang kaya, Lina juga sangat religius. Ia selalu ke kuil ketika pergi maupun pulang dari diskotik. Mulanya aku tak percaya. Cewek diskotik kok alim sih! Tapi malam itu aku harus percaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu itu aku iseng bertanya tentang orang tua Lina.<br>\u201cKau jangan meledekku..!\u201d deliknya&nbsp; tiba-tiba.<br>\u201cAku tidak meledekmu, <em>honey<\/em>!\u201d jawabku tak kalah sengit, dengan sedikit dibule-bulekan.<br>\u201cSemua orang disini sudah tau!\u201d tandasnya.<br>\u201cTahu apa&#8230;?\u201d tanyaku bego.<br>\u201cBapak ku adalah <em>koruptor<\/em> yang tertangkap dua minggu yang lalu. Tahu &#8230;!!?\u201d ia melotot kearahku.<br>\u201cHaaahh&#8230;&#8230;!\u201d aku terlonjak dari sofa empuk diskotik. Lonjakan itu begitu bertenaga, laksana roket Rusia yang tinggal landas di Kazakhstan. Perasaan ada gas pendorong yang keluar bersama lonjakan tadi. Kusempat-sempatkan menitip salam, <em>Priviet Dorogaya<\/em>, dalam bahasa Rusia, untuk seseorang yang baru berultah ke-25 di Almaty&#8230; <em>Moya Lyubov Nasto Yaziya<\/em>.<br>&nbsp;<br>Lina mulai sesenggukan. Kurogoh sapu tangan dari kantong celana. Kucium dulu, takut bau terasi siang tadi lengket disitu. Kuulurkan kearahnya dengan gaya <em>Surakarta.<\/em> Tapi aku ditepisnya dengan gaya <em>Batu Gajah<\/em>. <em>Oh! My God<\/em>. Aku meniru puteri bungsuku Icha. murid sekolah dasar yang keranjingan berbahasa Inggris. <em>Please help me,<\/em> aku sudah kehabisan gaya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku mengerti Lina, kau sedih karena ayahmu di penjara\u201d celotehku sekenanya, mencari simpati. Diluar dugaan, ia beranjak dari tempat duduknya dan \u201cTidaakkk&#8230;.\u201d ia menggebrak meja. Gelas minuman terloncat ke bawah meja. Isinya tumpah membasahi sepatu kets yang petangnya baru aku lem pakai <em>super glue<\/em>. Orang-orang melongoh kearah kami, mulut-mulut berbentuk O besar menganga ke satu arah. Seperti isteriku yang nonton artis cantik yang dimarahin emaknya, yang sedang mengepit ayam jago dari Lampung di acara infotainment.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku tidak sedih ayahku masuk penjara. Karena itu memang kesalahannya\u201d cetus Lina yang mulai <em>cool.<\/em> Aku diam saja tidak berani berkomentar. \u201cYang aku tidak terima, dia telah membohongi diriku, seumur hidupku\u201d. Dia mengambil nafas sejenak. \u201cSembilan belas tahun dia berakting sebagai padri di depan mataku. Dia membangun altar besar di ruang tamu. Patung Dewa setinggi kepala. Tiap hari kami menyalakan gahru&#8230;&#8230;.\u201d Lina seolah berbicara kepada dirinya sendiri. \u201cTapi kini, dia mengkhianati itu semua&#8230;.dia koruptor! Dia seorang munafik! Aku telah kehilangan figur&#8230;!\u201d Lina berapi-api.<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil menyeka air matanya dia berkata lirih;&nbsp; \u201cAku malu kepada Dewa. Aku ingin memberikan hidupku untukNya. Selamanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pukul dua subuh, diskotik segera ditutup. Tanpa kata, Lina ngebut dengan motor bebeknya. Aku membuntuti. Jalan aspal sudah habis. Lampu merah belakang di motornya naik turun laksana pompa angguk di lapangan minyak Prabumulih. Lina sudah berada di jalanan tanah. Deru motor anak muda mengaum-ngaum. Menikung, Lina memperlambat laju motornya, bermaksud belok kekiri. Terlambat. Gedubraakkkk&#8230; Lina ditabrak dari belakang. Motornya merangsek entah kemana. Lina terpelanting ke dalam kuil. Tubuhnya mendarat di pelukan Dewa yang tersenyum. Penari itu kini tidak&nbsp; liar lagi. Ia pasrah, diam dan mati, di jalanan yang dikorupsi oleh ayahnya sendiri.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penasaran takwil mimpi, kuhubungi orang dusun. Adikku mengirim SMS; \u2018jln ke Binjai tersapu banjir.\u2019<br>\u201cDasar dedemit&#8230;!\u201d makiku. Si kulit hitam menipuku.<br>***<em>Vietnam, 03 Maret 2006<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Cat.<br>Neknang = kakek<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sugianto Thoha Hingar musik keras memekakkan gendang telinga. Muda-mudi melenggak-lenggokkan tubuh dibawah gemerlap lampu sorot yang berubah-ubah warna. Seorang gadis centil merangsek kesana kemari, tangannya menggapai-gapai, rambutnya mengibas-ngibas. Ia seperti kesurupan. Kadang mengerang, menjerit, dan meraung menandingi volume sound system yang kian meninggi. Gadis itu menari liar sekali. Ruang bundar gedung diskotik di kaki bukit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[746,742],"class_list":["post-4141","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-746","tag-sugianto-thoha"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4142,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4141\/revisions\/4142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}