{"id":4464,"date":"2020-07-20T10:40:07","date_gmt":"2020-07-20T10:40:07","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4464"},"modified":"2020-12-21T07:40:33","modified_gmt":"2020-12-21T07:40:33","slug":"berkah-pandemi-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4464","title":{"rendered":"Berkah Pandemi Covid-19 &#8211; Liston P Siregar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-normal-font-size\">Karena aku mengidap diabetes maka aku dan istri harus tidur terpisah selama pandemi Covid-19, begitulah vonis dokter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Aku protes, tapi vonis tak berubah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cKalau mau selamat, kalau nggak ya silahkan\u2026,\u201d tegas dokter langganan keluarga itu ketus. Tak biasanya dia galak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Waktu dia -seperti biasa dengan sabar dan jernih- menjelaskan pengidap diabetes, jantung, ginjal, kanker, dan penyakit-penyakit kronis lainnya serta orang-orang tua tergolong kelompok yang \u2018vulnerable\u2019 serangan virus corona, aku memotong, \u201cKan covid-19 tak pandang bulu, pintar bodoh, kaya miskim ya kena dok. Semua orang rentan terserang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dia tetap sabar menjelaskan, \u201cSemua rentan terserang tapi yang punya <em>underlying illness<\/em> berisiko amat tinggi, sedang yang sehat ya pulih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ketika aku potong lagi, \u201cSaya juga diisolasi dok, kerja dari rumah\u2026,\u201d itu tadi, dia jadi ketus \u2018\u201cKalau mau cari selamat, kalau nggak ya silahkan\u2026 \u201c sambil melempar pulpen yang dipegangnya ke atas meja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Akupun diam, dan dia tambah vonisnya, masih dengan ketus, \u201cKamar mandi dan toilet juga pisah.\u00a0 Jaga jarak minimal satu meter sama semua orang di rumah, entah istri, anak, pembantu. Itu kalau mau selamat\u2026\u201d<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Sampai di rumah, vonis itu kuteruskan ke istri, yang menanggapinya tenang-tenang saja, \u201cMari kita patuhi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Aku curiga dia malah senang, bisa cuti dari salah satu tugas seorang istri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dan soal pertama langsung muncul ketika memutuskan \u2018siapa tidur di mana\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ada kamar tamu di bawah, lengkap dengan kamar mandi. Kami jarang kedatangan tamu, jadi hanya satu ranjang tunggal yang kasurnya agak keras, sedang kamar mandinya sempit: cuma cukup untuk berdiri di bawah pancuran air dan duduk di atas toilet.&nbsp; Tak ada <em>bathtub <\/em>untuk malas-malasan berendam air hangat sambil berangan-angan diiringi musik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Aku yakin orang sakit yang mestinya harus tidur nikmat di ranjang <em>king size<\/em>, kasur empuk, ruang lapang, dan kamar mandi luas yang bukan cuma ada <em>bathtub<\/em>-nya, juga TV kecil dan sound system Bose.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Cilakanya istriku, pegawai bank, punya alasan lain. \u201cAku harus ngantor, bajuku di kamar ini semua. Kau cuma pake zoom, atasan doang yang perlu. Bawahnya nggak pake apa-apa juga nggak ada yang lihat.\u201d\u00a0 Dan dibukanya empat pintu di lemari panjang berisi bajunya yang bergantungan berdempet-dempet, sebelum bergerak ke lemari kecilku di sebelahnya, yang tak pernah penuh.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Malam pertama, aku kesulitan tidur. Pastilah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ketika akhirnya bisa tertidur lelap, eh tersentak bangun subuh karena pembantu mulai bersih-bersih di ruang tamu dan siap-siap masak di dapur. Hari itu pula, aku terlambat rapat zoom dan ditegur bos di depan belasan orang. Tak mungkin kujelaskan alasan kenapa tertidur sampai jam sembilan pagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Tapi peribahasa \u2018Alah bisa karena biasa\u2019 benar sepenuhnya. Malam demi malam aku terbiasa tidur di ranjang tunggal dan kasur keras. Tentu setelah disiasati.&nbsp; Pertama kutambah satu lapisan kasur tipis, terus menaruh lampu baca kecil, dan sound system Bose dari kamar mandi atas pindah ke kamar baruku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">&nbsp;\u201cTerserah, mau kau jadikan apa kamar itu. TV kamar mandi pun boleh kau pindahkan,\u201d kata istri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kebiasaan masa lajang dulu terwujud, bisa membaca novel sampai mata tak mampu menahan kantuk dan tidur diiringi alunan lembut jazz fusion atau klasik pop sementara suara beres-beres pembantu tiap subuh bertransformasi jadi senandung teduh yang sayup-sayup dalam mimpi.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ternyata nikmat sekali kembali ke rutinitas 20-an tahun lalu, karena setelah kawin, aturan kamar tidur kami jelas: lampu mati dan tak ada suara.&nbsp; \u201cKamar tidur untuk tidur, bukan baca atau dengar musik,\u201d tegas istri, setelah masa bulan madu kami lewat, 22 tahun lalu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Yang lebih asyik \u2013setelah kenikmatan rutin masa lalu itu terjamin-&nbsp; setiap bangun pagi muncul pula rasa kangen. Jadi begitu bangun pagi setelah tidur enak, aku riang berlari kecil naik ke atas, membuka pintu kamar pelan-pelan, dan \u201cSelamat pagi cintaku&#8230;\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kata cinta yang sudah lama tenggelam di balik manajemen praktis keluarga, mengambang kembali terangkat rasa kangen, riang, dan tidur nyenyak bersama novel serta musik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Biasanya istri sudah bangun tiap aku membuka pintu. Kamipun ngobrol berjarak, aku duduk di kursi ujung kamar dan dia baring sambil bersandar di dinding sebelum masing-masing siap-siap kerja, aku di rumah dan istri berangkat ke kantor. Segala macam kami omongin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Pelan-pelan pula kami bersaing menyapa duluan. Kalau aku keasyikan baca malamnya, giliranku yang mendengar suara lembut istri di kamar kerajaanku, \u201cSelamat pagi cintaku\u2026\u201d dan kami ngobrol sekitar sepuluh menitan. Karena kamar tamu sempit \u2013yang menurut istriku, \u201cIni asli udah kayak kamarmu sebelum kawin.\u201d- maka istriku tetap berdiri di pintu dan aku selonjor di ranjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Sekali dua kali kami malah bertemu di tangga, aku mau naik ke atas tapi istri pas mau turun ke kamarku. Berdua kami tertawa dan lanjut ngobrol, satu di anak tangga paling atas, satu di anak tangga paling bawah.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nyaris empat bulan berlalu dan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial.&nbsp; Aku telepon dokter andalan keluarga kami menanyakan urusan pisah kamar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dengan sabar dan jernih, dokter pengalaman dan bijaksana itu menjelaskan bahwa keputusan pemerintah ada unsur politiknya, ada pertimbangan ekonominya, sedang dia semata-mata berlandaskan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cJangan buru-buru. Ada risiko gelombang kedua. Lebih bagus ekstra hati-hati. Sudah puluhan tahun disiplin injeksi insulin, sia-sia kalau kena Covid-19. Tahan dulu kangen istrinya\u2026 paling sebulan dua bulan lagi,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kali ini aku tidak protes, dan ketika menyampaikan perpanjangan vonis, istri mendukung tanpa syarat. \u201cIya, mending patuh sama dokter, bukan pemerintah yang memble.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Malamnya aku sulit tertidur lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Mata tetap melotot walau terus membaca ketika otak tidak bisa menyerap apapun. <em>Playlist <\/em>di Spotify yang kubuat lebih panjang juga tak mampu membuai sedang suara beres-beres pembantu terdengar seperti beduk keras bertalu-talu yang niatnya memang membangunkan orang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Parahnya, jantungku berdebar jauh lebih cepat dan lebih keras, seperti sedang menanti datangnya sesuatu yang berbahaya, yang entah apa wujudnya tak bisa diduga namun pasti akan datang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Subuh-subuh kusempatkan kirim email ke bos, mohon izin sakit. Juga kutempel pengumuman di pintu kamar, \u2018Jangan dibangunkan, perlu tidur!\u2019 untuk mencegah sapaan pagi istri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Cilakanya dia malah penasaran, membuka pintu pelan-pelan namun tetap terdengar. Aku terbangun kesal, \u201cKan udah kubilang jangan bangunin!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dibalasnya keras, \u201cLa kan aku perlu tau kau baik-baik atau ada masalah!.\u201d<br>\u201cSebelum kau bangunkan, aku baik-baik saja!,\u201d bohongku dengan suara lebih keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan pintu kamarku dibanting, \u201cYa sudah, sana tidur seharian!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Terganggu oleh pertengkaran pertama dalam tiga&nbsp; bulan terakhir lebih itu, aku makin tak bisa tertidur, dan debaran jantung makin keras, makin cepat, ditambah agak sesak nafas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Tengah hari, kutelepon istriku dengan suara ngos-ngosan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dia panik, pulang. Kami sempat bertengkar kecil&nbsp; karena dia mau langsung ke rumah sakit tapi aku mau ke dokter langganan keluarga, tak yakin sama dokter-dokter muda yang lebih banyak gaya dibanding keahliannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kamipun ke rumahnya karena jam praktek masih sore nanti. Istriku menyetir di depan kanan, dan aku terpisah di kursi kiri belakang, masih dengan nafas sesak dan jantung berdebar. \u201cKena Covid juga aku,\u201d pikirku.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Setelah dicek sana-sini, termasuk periksa darah di ruang kerja di rumahnya, kusaksikan rona wajah dokter kembali tenang walau awalnya tadi tampak tegang. Tapi debaran jantungku tetap cepat dan kuat, sementara nafas terasa berat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dipanggilnya istriku, dan kami bertiga duduk membentuk segitiga sama sisi berjarak satu meteran lebih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dibarengi senyum, dia menjelaskan dengan tenang dan jernih.&nbsp; \u201cBukan virus corona, tapi stress\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Istriku malah tampak agak lega, tapi aku tidak. Justru terasa ada tekanan baru akibat tertanya-tanya sendiri di dalam hati, \u201cStress???\u201d&nbsp; Sebagai orang pragmatis, pekerja keras, dan terbiasa terus terang, kata stress tak ada dalam kamusku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cSaya kasih obat penenang. Tidur yang enak, nanti kita lihat lagi,\u201d kata dokter sambil menulis resep. \u201cJangan ngikutin berita-berita dulu. Isolasi bisa bikin stress, mana berita-beritanya didramatisir wartawan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Usai menulis resep, dokter melihat kami satu persatu, kembali dengan senyum kecil, \u201cYa sudah, boleh sekamar lagi tapi cegah dulu persentuhan kulit langsung. Pelukan boleh tapi dari belakang jadi masih berlapis pakaian dan tanpa hembusan nafas langsung\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Debaran jantungku tetap kuat dan cepat, nafas tetap berat, dan malah bertambah dengan jari-jari tangan gemetaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cDulu itu bukan saya kejam misahin suami istri\u2026\u00a0 tapi si Mbak masih ke kantor, ketemu banyak orang, jadi lebih baik meminimalkan risiko\u2026\u201d tambah dokter beruban itu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dari rumah dokter, kami langsung ke apotik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Stres&nbsp; menyerangku&nbsp; selama menunggu di dalam mobil.&nbsp; Tak tahu berapa lama aku menunggu di kursi belakang mobil sambil menutup mata tapi tetap tak bisa tertidur dengan debaran jantung yang aku duga sampai terdengar ke luar mobil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Sudah 24 jam lebih berlalu sejak aku menanyakan ke dokter aturan pisah kamar dan aku paling sempat tertidur lelap sejaman sebelum istriku membuka pintu kamar pagi tadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ketika istriku kembali ke mobil, dengan suara lemah dan masih ngos-ngosan aku minta maaf, \u201cMaaf ya cinta kalau tadi pagi aku marah-marah&#8230;\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cAku juga maaf ya,\u201d jawab istriku lembut dan menjalankan mobil.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Di salah satu persimpangan lampu merah, mobil berhenti dan istriku menatapku dari spion. \u201cNanti kalau sudah normal tak ada covid tapi kau mau tetap tidur di kamar sendiri, nggak apa-apa. Nggak usah mikirin apa kata orang, kok suami istri tidur pisah kamar\u2026 Yang penting kita happy.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Lampu hijau dan mobil jalan. Dengan mata menatap lurus ke jalan di depan, diteruskannya dengan suara riang, \u201cYa sekali-kali kau boleh kok berkunjung ke kamarku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Sedetik kemudian, aku tertidur lelap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ketika terbangun, aku masih di dalam mobil di pekarangan rumah. Tak tahu berapa lama tertidur tapi tubuh enak, hati ringan, nafas lancar, dan debaran jantung normal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Menikah 22 tahun memang cukup membuat seorang istri lebih paham kesehatan suami dibanding dokter langganan keluarga sekalipun. Jika dokter mendiagnosa stress pasiennya karena pisah ranjang, istri sejati yakin justru balik tidur sekamar lagi, tanpa bacaan dan tanpa musik, yang jadi sumber stress suaminya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Liston P Siregar, <\/strong><em>pendiri dan editor ceritanet.com<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>*. Cerpen ini  diterbitkan juga dalam cerita suara di Difalitera.org.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karena aku mengidap diabetes maka aku dan istri harus tidur terpisah selama pandemi Covid-19, begitulah vonis dokter. Aku protes, tapi vonis tak berubah. \u201cKalau mau selamat, kalau nggak ya silahkan\u2026,\u201d tegas dokter langganan keluarga itu ketus. Tak biasanya dia galak. Waktu dia -seperti biasa dengan sabar dan jernih- menjelaskan pengidap diabetes, jantung, ginjal, kanker, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[793,804,876,15],"class_list":["post-4464","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-793","tag-cerpen","tag-covid19","tag-liston-siregar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4464"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4852,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4464\/revisions\/4852"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}