{"id":4474,"date":"2020-08-21T03:05:34","date_gmt":"2020-08-21T03:05:34","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4474"},"modified":"2020-12-21T07:26:23","modified_gmt":"2020-12-21T07:26:23","slug":"empat-menara-di-langit-subuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4474","title":{"rendered":"Empat Menara di Langit Subuh &#8211; Melly Wati"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay terpaku menatap langit. Hawa dingin kota Bukittinggi di waktu subuh begitu menyengat persendian. Di tatapnya menara masjid yang tak jauh dari Jam Gadang. Sorot mata yang tajam tak berkedip sedikit pun mengawasi empat menara masjid itu. Muadzin mulai mengumandangkan suara azan. Napasnya berat tertarik panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">&nbsp;\u201cUni, kenapa diam di sini?\u201d suara itu mengejutkannya. Seorang lelaki muda menyapa dalam remang bias lampu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay hanya menggeleng perlahan. Dan dengan ekor mata ia dapat menangkap sosok yang menyapa ramah. Lalu segera gadis itu menghindar dengan berjalan cepat memasuki pasar atas dan hilang di antara kerumunan orang-orang. Ammar terheran melihat Nay yang sesekali menengok ke belakang dengan pandangan ke arahnya. Gadis aneh! pikirnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ammar terduduk di anak tangga mesjid. Pikirannya kembali pada gadis aneh yang ia jumpai di bawah pohon beringin dekat penjual kue serabi. Ini kali kedua ia melihat gadis itu sedang menatap menara masjid tanpa kedip. Sepertinya wajah gadis itu asing baginya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">&nbsp;\u201cMak Etek lihat gadis yang tadi berdiri dekat pohon beringin itu?\u201d tanya Ammar pada Ibu penjual kue serabi seraya menunjuk ke arah pohon beringin yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ibu tua itu menatap Ammar sebentar, lalu ia kembali sibuk membalik kue serabi yang baru ia tuang di dalam wajan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u00a0\u201cAmbo ndak kenal sia gadis itu. Tapi sudah beberapa hari ini ia terlihat selalu berdiri di sana. Entah apo yang di pandangnyo,\u201d sahut Ibu penjual kue itu.<br>\u00a0\u201cApo ia bukan warga sini?\u201d tanya Ammar lagi penasaran. Ibu itu menggeleng cepat.<br>\u201cAdo apo memangnyo?\u201d\u00a0<br>\u201cAh.ndak apo-apo, Mak. Cuma penasaran saja karena gadis itu memandang ke arah masjid dan ia<br>menatap menara itu dengan tatapan kosong.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ammar menghela napas sambil tatapannya mengarah pada menara masjid yang menjulang tinggi. Ada apa dengan gadis itu? tanya batinnya. Fajar mulai menyingsing. Orang-orang pun sudah banyak yang lalu lalang. Kabut mulai menipis tersapu mentari pagi. Ammar melipat tangan. Hawa dingin kota Bukittinggi yang baru kembali dirasakan membuat ia merasa harus merapatkan syal yang melingkar di leher.<br>***\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cKamu pikir bisa sembunyi dari kami, hah?!\u201d suara bariton itu berteriak lantang di telpon, \u201cDasar pelacur, ya tetap saja pelacur!!\u201d teriaknya lagi di telinga Nay. Gadis itu segera menutup telpon yang belum usai di dengar. Napasnya memburu dengan ekor mata yang penuh curiga, seolah ada seseorang yang mengintainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ia mendekati pohon beringin besar dekat Jam Gadang. Tubuh yang kurus di sandarkannya di batang pohon besar itu. Lalu ia beringsut mendekati penjual kue serabi yang tak jauh dari sana. Nay berjongkok sembari memperhatikan si penjual serabi. Tuhan, ke mana aku harus sembunyi? rintih batinnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cMau beli serabinyo?\u201d tanya penjual serabi. Nay sejenak terpaku dengan tatapan kosong. Bunyi perutnya tak dapat lagi disembunyikan. Ia lalu mengangguk lemas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dua potong serabi bercampur tape ketan hitam sudah memenuhi mangkok di tangan. Dengar gemetar ia menyuap serabi ke dalam mulut. Mak Etek penjual serabi memperhatikan penuh selidik. Gadis inikah yang di tanya pemuda itu kemarin?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cTampaknyo, kau bukan urang sini?\u201d tanya Mak Etek dengan menatap Nay yang seketika itu pula menghentikan kunyahannya.<br>\u201cIyo, Mak,\u201d jawabnya singkat.<br>\u201cAmbo perhatikan kau selalu nampak menatap ke masjid itu. Siapo yang kau cari, Nak?\u201d Nay menghela napas panjang. Kepalanya terlihat menggeleng dengan tatapan jatuh pada mangkok yang tinggal tersisa sedikit kue serabi.<br>\u201cBara kue ini, Mak?\u201d tanya Nay mengalihkan apa yang di tanya penjual kue.<br>\u201cTak perlu kau bayar. Amak kasih untukmu,\u201d jawabnya dengan senyum mengulum di sudut bibir keriput. Nay menatap penuh tanya, \u201cAmak ikhlas!\u201d lanjutnya lagi.<br>\u201cMakasih, Mak. Ambo pamit.\u201d Nay menjawab singkat. Lalu berdiri dan kembali menatap menara masjid dengan penuh kepiluan sebelum kaki jenjangnya melangkah lunglai.<br>\u201cKamu ini sudah di takdirkan menjadi pelacur. Ibumu pun dulunya pelacur! Jadi terima saja nasibmu!\u201d<br>\u201cAku nggak mau lagi kerja seperti ini. Aku capek! Aku ingin hidup normal, aku ingin berumahtangga dan punya anak!\u201d<br>\u201cMana ada lelaki yang mau punya istri perempuan kotor seperti kamu!\u201d<br>\u201cDiam!\u201d\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Plaak!!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Tangan besar lelaki itu mendarat di pipinya yang halus. Dan gadis itu terjerembab akibat dorongan kasar. Itulah perlakuan yang sering di terima Nay selama bekerja dengan cukong itu. Mulanya di perlakukan dengan manis dan menerima dengan pasrah pada nasib yang membawa pada jurang dosa dan kenistaan. Hingga pada akhirnya berperang pada batin. Nay memegang wajah lalu ia menutup telinga seolah tak ingin lagi mendengar kalimat itu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ammar terkejut melihat kejadian yang tak jauh dari masjid tempatnya biasa salat. Dari anak tangga masjid jelas terlihat dua orang lelaki tengah memaksa seorang gadis untuk ikut bersama mereka. Langkah Ammar begitu cepat menghampiri mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cLepaskan aku! Aku nggak mau lagi kerja dengan kalian. Aku capek!\u201d teriak Nay.<br>\u201cEnak banget lo, selama ini ditampung dengan hidup mewah lalu sekarang mau begitu aja berhenti kerja?\u201d<br>\u201cTolong lepaskan aku! Bebaskan aku!\u201d<br>\u201cNggak bisa! Ayo ikut kami pulang ke Jakarta!\u201d bentaknya sambil menarik tangan Nay dengan kasar.<br>\u201cHey! Ada apo ini? Kenapa kalian kasar sama perempuan?\u201d tanya Ammar yang berteriak tak jauh dari mereka.<br>\u201cSiapa lo, ikut campur urusan orang?!\u201d<br>\u201cYa, tapi ndak usah \u2026.\u201d<br>\u201cEmang lo kenal dia?\u201d tanyanya sambil menunjuk pada Nay.<br>\u201cLo tahu siapa perempuan ini?\u201d tanya lelaki yang satunya dengan bahasa yang kasar, \u201cDia ini pelacur kelas kakap di Jakarta. Dia kabur dan mau berhenti kerja di tempat kami. Enak aja lo, udah hidup mewah sekarang mau coba kabur!\u201d bentaknya sembari satu tangan menepis kepala Nay. Gadis itu meringis kesakitan.<br>\u201cHey, jangan kasar begitu! Siapa pun dia, tak akan kubiarkan lelaki berbuat kasar pada perempuan. Kalian mau lepaskan dia atau kalian akan berhadapan dengan orang-orang sekitar sini?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kedua lelaki itu saling pandang. Resiko bagi mereka jika ribut di kampung orang, begitu pikirnya. Lalu dengan bahasa isyarat mereka melepaskan genggaman pada tangan Nay. Gadis itu mengusap pergelangan tangan yang sakit. Ada ketakutan yang jelas terpancar di wajahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cOke, kita lepasin dia. Lo sanggup nebus dia berapa dari kami?\u201d tanyanya dengan nada angkuh, \u201cKalo nggak bisa nebus, lo yang berurusan dengan kami. Suatu saat kami akan mencari lo. Lihat aja, lo akan menyesal udah menolong pelacur ini!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Pyuuh!!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Satu dari lelaki itu membuang ludah di hadapan Ammar sebelum mereka pergi. Ada beberapa pasang mata melihat kejadian itu. Ammar tak peduli. Di dekatinya Nay yang masih dalam ketakutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cSiapa namamu?\u201d tanya Ammar dengan suara yang di pelankan.<br>\u201cAku, Nay,\u201d jawabnya gemetar, \u201cMakasih Uda sudah menolongku. Entah apa jadinya kalau ndak ada Uda tadi. Makasih,\u201d sambungnya dengan melangkah meninggalkan Ammar.<br>\u201cTunggu!\u201d Ammar menghampiri Nay. Di perhatikannya gadis itu dari kepala hingga kaki, \u201cKamu tinggal di mana?\u201d<br>\u201cAku tinggal di losmen dekat sini. Sudah empat hari ini aku bersembunyi dari mereka. Entah kenapa mereka bisa menemukanku di sini.\u201d<br>\u201cTempatmu sudah ndak aman kalau begitu. Kamu mau untuk sementara tinggal di tempat sepupuku? Dia hampir sebaya denganmu.\u201d Ammar menatap Nay dengan menunggu jawaban dari gadis itu. Tapi Nay membalas tatapannya penuh curiga. \u201cJangan kuatir, aku ndak akan berbuat jahat padamu,\u201d sahutnya seolah menjawab kecurigaan Nay.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay tersenyum getir. Pengalaman buruk sudah membuatnya selalu curiga pada kebaikan orang lain tapi menolak tawaran Ammar amatlah sayang jika di lewatkan karena di kota ini ia tak punya lagi sanak saudara. Kini ia memperhatikan Ammar, pasti dia bukan orang sembarangan, pikir Nay dalam hati. Kemudian Nay menganggukan kepala dan mengikuti langkah Ammar. Senja itu di antara Jam Gadang dan empat menara masjid, Nay merasakan ada sebuah jalan terbuka lebar baginya menuju suatu kebaikan.<br>***\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dua hari Nay tinggal dalam perlindungan Ammar. Di dapatinya semua perhatian lelaki itu seperti ia mendapat perhatian seorang saudara. Diam-diam hatinya mulai tak nyaman dengan perasaan sendiri. Rasa simpatik pada Ammar menjalari tiap sudut hati. Tak boleh! Aku tak boleh membiarkan rasa ini hadir. Ammar orang baik sedang aku perempuan hina dan kotor. Baiknya aku harus segera pergi dari sini sebelum rasa ini bertambah parah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay mengendap dalam gelap Subuh. Sepupu Ammar yang masih terlelap tak mengetahui kepergian Nay. Di selipkannya selembar surat di antara piring yang bersusun di meja makan. Maafkan aku Din. Maafkan aku Ammar &#8230; aku harus pergi tanpa ijin kalian &#8230;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Ia menyeret koper kecil miliknya. Dalam remang lampu jalan Nay melangkah di antara jajaran pedagang sekitar Jam Gadang. Ia berhenti kembali di bawah pohon beringin itu. Selalu ada kepiluan setiap kali ia menatap empat menara masjid. Ingin rasanya ia melangkah masuk ke dalamnya. Namun dosa yang berlumuran di tubuhnya selalu menghentikan niat untuk menjejaki langkah ke sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Apa Tuhan masih mau menerima sedang diriku bersimbah dosa dan kesalahan? Dosa yang sengaja dan berulang kali kuperbuat. Tapi ke mana harus mengadu&nbsp; segala resah ini? Nay menarik napas panjang. Ada beribu sesak yang ia coba untuk mengenyahkan. Diliriknya penjual serabi yang dengan setia setiap hari mengais rejeki di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cMak!\u201d panggil Nay seraya menghampiri penjual serabi itu, \u201cAku beli serabi satu saja,\u201d lanjutnya sambil duduk di batu kecil dekat sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cKau mau ke mana, Nak?\u201d tanya Ibu itu melihat Nay dengan menatap koper kecil miliknya. Gadis ini hanya diam seolah tak mendengar apa yang di tanya si Mak penjual serabi itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Azan Subuh jelas terdengar di telinga Nay. Dadanya berdegup kencang dan bergemuruh hebat. Perang batin mulai berkecamuk lagi di hati. Ribuan tangis penyesalan berteriak di kalbu saat mendengar azan. Berulang kali Nay menelan ludah, menahan kegetiran yang selalu menguasai hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Sesekali matanya menyapu sekitar tempat duduk. Perasaan Nay mulai tak nyaman. Di telannya serabi empuk itu dengan sudah payah seperti ia menelan benda keras. Si Mak penjual serabi terus memperhatikan. Ia tahu Nay sedang gelisah. Matanya pun ikut menyapu sekeliling mengikuti arah pandang Nay.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Satu-satu jamaah mulai meninggalkan masjid. Nay beringsut ke balik pohon beringin. Ia melihat sosok Ammar melewati gerbang masjid itu. Aku harus sembunyi. Ammar tak boleh melihat aku ada di sini, bisiknya. Ya Tuhan! Nay menjerit dalam hati. Di tutupnya mulut agar tak bersuara. Gadis itu melihat anak buah cukong dari Jakarta itu tengah berkeliaran di sekitar Jam Gadang yang tak jauh dari masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cMak, Ambo harus pergi, nanti Ambo bayar!\u201d jawabnya gugup.<br>\u201cAdo apo, Nak. Kau seperti ketakutan begitu?\u201d tanya Mak tua itu.<br>\u201cMak jangan bilang pada mereka kalau lihat Ambo, ya?\u201d pinta Nay sembari matanya memandang pada orang-orang yang tengah mencari dirinya. Mak tua itu mengikuti arah pandang Nay. Dua kerutan sudah terukir di kening. Lalu ia mengangguk dan membiarkan Nay pergi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay menyelinap masuk ke dalam menara masjid saat tatapan beradu dengan anak buah cukong itu. Ia berdiri di balik pintu menara dengan menahan getar di seluruh tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cBro, dia masuk ke masjid itu!\u201d teriak si gendut.<br>\u201cBeneran lo liat cewe itu masuk ke sana?\u201d<br>\u201cIya, gue liat dia masuk ke arah masjid itu. Ayo kita cari ke sana!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Dua orang bertubuh bongsor itu melangkah cepat menuju masjid. Matanya nanar dengan napas yang membara geram. Namun langkah mereka terhenti saat melihat Pak Haji Umay berdiri di anak tangga dekat menara masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cApo yang kalian cari di sini?\u201d tanya pak Haji pada mereka yang terlihat menyelidik sekitar masjid. Dua orang asing itu menatap sinis Pak Haji.<br>\u201cKami mencari perempuan yang tadi masuk ke masjid ini, Pak Haji!\u201d jawab si gendut sambil matanya terus memperhatikan sekitar. Pak Haji Umay melirik ke arah Nay. Gadis itu menggelengkan kepala untuk memberi isyarat agar Pak Haji tak memberitahukan keberadaannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cTak ado perempuan masuk sini. Ambo sedari tadi berdiri di sini!\u201d<br>\u201cTapi kita melihatnya Pak Haji!\u201d<br>\u201cAmbo bilang tak ado yang masuk sini!\u201d teriak Pak Haji.<br>\u201cAdo apo ini?\u201d tanya Ammar yang berdiri di belakang lelaki itu.<br>\u201cNah, ini dia orangnya! Lo umpetin di mana cewe itu, hah?!\u201d tanya mereka dengan amat tak sopan. Ammar berusaha tenang di dalam kegeraman. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Mereka mendekati Ammar dan mengapit pemuda itu seolah ingin mendesak. Dan mereka menggiring lelaki itu menjauh dari gerbang masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cApo yang kalian mau dari gadis itu? Dan apo yang kalian minta supaya gadis itu di bebaskan?\u201d<br>\u201cHah, udah jangan banyak bacot, lo! Kasih tau aja di mana cewe itu dan lo nggak bakal berurusan dengan kami lagi!\u201d<br>\u201cJustru Ambo ingin kalian melepaskan gadis itu, tanpa syarat apa pun! Bilang pada bos kalian, dia mau membebaskan gadis itu atau kalian semua akan berhadapan dengan seluruh jajaran polisi di negeri ini?\u201d<br>\u201cLo kira siapa diri lo, hah? Lo nggak tau lagi berhadapan dengan anak buahnya siapa?\u201d Suara si Tambur sungguh sombong. Ammar senyum dan bersikap tenang.<br>\u201cAmbo ndak peduli siapa pun bos kalian. Sekali bersuara, pantang menarik kembali!\u201d seru Ammar. Kedua lelaki itu saling pandang kemudian memandang Ammar dengan rasa penuh curiga. \u201cJangan kalian anggap ucapanku hanya gertakan atau omong kosong. Sekarang cepat telpon bos kalian dan bilang sama dia kalau gadis itu tak pernah kalian jumpai lagi di mana pun. Kalian mau pulang dengan selamat, kan? Sekarang cepat pergi dari sini dan jangan pernah kembali atau kalian tak akan pernah bernyawa lagi!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kedua lelaki bertubuh tambur itu jelas cemas dengan ucapan Ammar yang terkesan amat serius. Satu di antara mereka melirik pistol yang bertengger di samping kanan pinggang Ammar. Dengan memberi isyarat pada temannya lalu kedua orang itu berlalu dari sana. Sambil berjalan mereka menelpon seseorang yang sepertinya bos mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cPak Kapten, kenal dengan mereka?\u201d tanya Pak Haji dengan raut kebingungan. Ammar hanya tersenyum tanpa menjawab.<br>\u201cNay, keluarlah. Sekarang sudah aman!\u201d teriak Ammar meminta Nay untuk keluar dari tempatnya sembunyi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay beringsut keluar dari balik pintu menara masjid. Wajahnya terlihat pucat menahan ketakutan yang ia coba sembunyikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cTerima kasih, Uda selalu menolongku. Maaf aku harus cepat pergi dari sini,\u201d jawab Nay cepat.<br>\u201cMau ke mana kamu, Nay? Tak perlu bersembunyi lagi. Tak perlu takut lagi karena sekarang kamu sudah jadi manusia bebas. Hidupmu adalah hakmu sepenuhnya. Tak akan ada lagi yang akan menindasmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Nay terpaku menatap Ammar. Ia masih tak percaya apa yang diucapkan lelaki itu. Lalu Nay menggelengkan kepala dengan menahan tangisnya. Kilatan sudah membayang di mata beningnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cTak mungkin. Aku tak akan mungkin bisa bebas dari mereka bahkan sudah tak punya hak lagi atas hidupku sendiri.\u201d<br>\u201cKamu masih tak percaya? Aku yang akan jadi jaminanmu.\u201d Ammar tersenyum menjawab tanya Nay. \u201cSetidaknya sekarang kamu bisa jadi teman baikku,\u201d ucapnya sembari mendekati tempat Nay berdiri, \u201cdan kamu tak perlu bersembunyi lagi. Kamu juga tahu kan ke mana harus kembali pulang?\u201d lanjut Ammar sembari mengurai senyumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Lelaki itu berjalan meninggalkan Nay yang masih berdiri terpaku di gerbang masjid. Sesaat kemudian Nay memandang Pak Haji seolah meminta penjelasan tentang siapa Ammar sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cSi..siapa dia sebenarnya, Pak Haji?\u201d tanya Nay, terbata.<br>\u201cDia adalah kapten Ammar. Seorang perwira polisi yang baru selesai bertugas dari luar negeri. Beruntung kamu kenal dengannya karena kamu akan aman jika tetap bersamanya. Terlebih lagi ia masih bujang!\u201d papar Pak Haji diiringi senyumnya dengan melangkah pergi meninggalkan Nay.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">Kapten polisi? Benarkah Ammar seorang perwira polisi? Benarkah sekarang aku bebas? Aku bebas menentukan jalan hidupku sendiri? Ya Tuhan, sungguh suatu impian yang menjadi nyata. Aku bebas! Aku bebas!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-normal-font-size\">\u201cAku bebas!\u201d teriak Nay. Di tengah keramaian pejalan kaki yang hilir mudik di sekitar masjid dan Jam Gadang. Ups! Mata Nay menyapu sekitarnya. Semua mata tertuju pada tingkahnya yang terlihat aneh. Nay berlari kecil ke arah pohon beringin. Aku bebas! Aku bebas! Aku bebas! teriaknya dalam hati. Terima kasih Tuhan \u2026<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Melly Wati<\/strong>, <em>seorang penulis cerpen dan novel. Karyanya berupa antologi sudah mencapai 145 buku. Novel solo 4 dan novel ke 5 masih dalam proses terbit. Juga punya 4 novel kolaborasi. Founder komunitas P2I yang juga aktif dalam komunitas menulis baik offline maupun online. Jika ingin mengenalnya bisa dilihat akun Facebook: Melly Waty, IG: @melooy54, Email: mellywaty.mw@gmail.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nay terpaku menatap langit. Hawa dingin kota Bukittinggi di waktu subuh begitu menyengat persendian. Di tatapnya menara masjid yang tak jauh dari Jam Gadang. Sorot mata yang tajam tak berkedip sedikit pun mengawasi empat menara masjid itu. Muadzin mulai mengumandangkan suara azan. Napasnya berat tertarik panjang. &nbsp;\u201cUni, kenapa diam di sini?\u201d suara itu mengejutkannya. Seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[798,797],"class_list":["post-4474","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-798","tag-melly-wati"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4474","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4474"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4474\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4847,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4474\/revisions\/4847"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4474"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4474"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4474"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}