{"id":4612,"date":"2020-11-19T18:27:53","date_gmt":"2020-11-19T18:27:53","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=4612"},"modified":"2021-07-08T16:44:06","modified_gmt":"2021-07-08T16:44:06","slug":"menjadi-sarereiket-dalam-novel-burung-kayu-tjak-s-parlan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=4612","title":{"rendered":"Menjadi &#8216;Sarereiket&#8217; Dalam Novel Burung Kayu &#8211; Tjak S. Parlan"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Judul: Burung Kayu<\/em><br><em>Penulis: Niduparas Erlang<\/em><br><em>Penerbit: Teroka (Cetakan I, Juni 2020);<\/em><br><em>Tebal: 174 halaman<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"819\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a-1024x819.jpeg\" alt=\"Burung Kayu - Niduparas Erlang\" class=\"wp-image-4615\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a-1024x819.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a-300x240.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a-768x614.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a-1536x1229.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/BCCE1448-0D5A-4D1B-86F3-B46ED941A055_1_201_a.jpeg 1920w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Novel <em>Burung Kayu<\/em> dibuka dengan <em>muturuk<\/em>\u2014sebuah ritual menari yang terdapat dalam rangkaian pengukuhan seorang <em>sikerei<\/em> (penyembuh\/tabib). <\/p>\n\n\n\n<p>Penulis tidak hanya membuka pintu gerbang seraya mengucapkan, \u201cSelamat datang di Bumi Sikerei,\u201d seperti para agen wisata, atau seperti kata penyambutan yang terpampang pada gapura selamat datang ketika memasuki Tuapeijat, ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, tetapi ia langsung membawa pembaca ke jantung: pusat denyut sosial-budaya masyarakat Mentawai, nun di Pulau Siberut.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui suara entakan kaki yang ritmis, berselingan dengan irama <em>gejeumak <\/em>(gendang)<em>, <\/em>gemerincing<em> jejeneng <\/em>(genta kecil) yang bertabur nyanyian-mantra seorang <em>sikerei<\/em>, pembaca dituntun memasuki gerbang ekstase, yang semakin lama terasa semakin jauh-tinggi, hingga melemparkannya ke suatu tempat di pagi hari: sebuah <em>uma, <\/em>rumah besar tempat seluruh anggota klan berkumpul. <\/p>\n\n\n\n<p>Kita mendengar mereka berbicara dengan bahasanya sendiri. Mereka tahu, kita (pembaca) adalah <em>Sasareu <\/em>(orang luar suku\/pendatang). Oleh karenanya, mereka berkenan memberitahu sejumlah diksi lokal tanpa terkesan menggurui atau menghabiskan waktu dengan menjelas-jelaskan dalam catatan kaki atau menyusunnya dalam sebuah halaman <em>glosarium<\/em>. Barangkali, pola semacam itulah yang dipilih oleh Niduparas Erlang dalam mengeksekusi novel berlatar Mentawai ini. Penulis seperti memposisikan dirinya sebagai <em>Sarereiket <\/em>(masyarakat pemukim DAS Rereiket) di Siberut Selatan dan menjadikan Mentawai sebagai subyek.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gaya pemaparan dengan banyak memborehkan bahasa lokal dalam sekujur novel adalah sebuah keberanian yang patut diapresiasi. Sepertinya novel <em>Burung Kayu<\/em> memang tidak diniatkan untuk pembaca yang malas, yang tidak mau meluangkan waktunya untuk benar-benar membaca secara terperinci sehingga tidak akan kehilangan peristiwa yang berfungsi sebagai <em>wikipedia<\/em> bagi diksi-diksi lokal tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penerimaan Sekaligus Perlawanan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jalan hidup Saengrekerei, Aman Legeumanai, Taksilitoni, Legeumanai \u2014orang-orang hulu yang jauh dari akses\u2014 tidak semulus cara penulis bertutur. Dari waktu ke waktu mereka membawa kekalahan perang melawan dominasi negara, dominasi sistem-rejim pariwisata, juga dominasi para penganjur agama-agama &#8216;baru&#8217;. Perselisihan antar suku penghuni DAS Rereiket yang sebelumnya berangkat dari titik nol Mentawai, yakni Simatalu (Siberut Barat), ditambah dengan inisiatif pembangunan dari negara, telah membuat masyarakat hulu tersingkir mendekati hilir.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan keterpisahan antar-<em>uma<\/em> (sebagai tatanan sosial), tetapi masyarakat adat juga kehilangan <em>uma <\/em>(rumah tradisional Mentawai) sebagai tempat tinggal dan berkumpulnya masyarakat se-suku. Mereka dipindahkan ke desa-desa\/dusun-dusun kecil bikinan pemerintah (<em>barasi<\/em>) dengan alasan: demi kemajuan pembangunan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cerita dalam novel ini berkembang dengan alur yang melingkar-lingkar. <\/p>\n\n\n\n<p>Tokoh-tokohnya berkelindan dalam konflik yang tak berkesudahan; baik konflik internal antara dirinya dengan budayanya sendiri, konflik antara dirinya dengan suku-suku lainnya yang masih dalam &#8216;rumah besar&#8217; Mentawai, konflik masyarakat adat dengan negara, ataupun konflik penghayat <em>arat sabulungan<\/em> dengan para penganjur agama &#8216;baru&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa dibayangkan bagaimana masyarakat (adat) Mentawai menjadi bulan-bulanan. Sejak tahun 1953 pemerintah telah berupaya &#8216;menertibkan&#8217; agama-agama lokal dan kepercayaan-kepercayaan yang berada di berbagai daerah. Dan Mentawai, adalah salah satu daerah yang menanggung akibat dari kebijakan itu. Diketahui, pada tahun yang sama, di Mentawai diadakan <em>Rapat Tiga Agama <\/em>yang melibatkan Kristen, Islam, dan <em>Arat Sabulungan\u2014<\/em>yang dalam novel ini, juga dalam realitas, sepertinya adalah rapat dua agama saja. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejak saat itu pula, orang-orang Mentawai mau tidak mau mesti memeluk agama yang ditawarkan pemerintah tak lain adalah Katolik, Protestan, dan Islam. Bagaimana pun, pilihan semacam itu dianggap paling realistis, meski banyak masyarakat yang akhirnya perpindah-pindah agama. Kecenderungan semacam ini bisa dilihat dengan gamblang dalam dialog-dialog ringan sejumlah tokoh dalam novel, baik sebagai realitas yang terjadi di masyarakat maupun sebagai sebuah sindiran\u2014perlawanan simbolik masyarakat adat terhadap kebijakan penguasa yang dirasa tidak memihak.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan salah satu tokoh utama dalam novel ini, Legeumanai, sempat berpindah agama beberapa kali, walau akhirnya memutuskan untuk menjadi <em>sipuisilam <\/em>(pemeluk agama Islam)<em>. <\/em>Mungkin bisa disebutkan ia adalah <em>sipuisilam<\/em> yang bikultural. Ia menerima Islam sebagai agamanya, namun tetap menjalankan adat-tradisi-kepercayaan turun temurun, yakni <em>arat sabulungan<\/em>. Ini mungkin adalah konsep penerimaan sekaligus perlawanan, yang boleh jadi tidak hanya terjadi di Mentawai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam deraan konflik yang bertubi-tubi, masyarakat Mentawai selalu punya cara untuk menyelesaikannya. Mereka memiliki tahapan-tahapan yang tujuannya untuk menjeda konflik yang sebenarnya. Misalnya saja, mereka melakukan ritual <em>pako\u2019<\/em> dengan menenggerkan burung kayu di atas pohon yang sangat tinggi (pohon <em>katuka<\/em>) sebagai sebuah tantangan -sebuah eksistensi bahwa hanya <em>uma <\/em>yang mampu menenggerkan burung kayu-lah yang tak terkalahkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari adegan burung kayu yang ditenggerkan inilah, tokoh-tokoh dalam novel ini menjalani karakternya sebagai orang &#8216;lokal&#8217; yang dari waktu ke waktu tidak lepas dari konflik batin maupun fisik, baik dengan budayanya sendiri, budaya dari luar, bahkan juga penguasa. Tradisi-tradisi, lanskap, suasana psikologis tokoh-tokohnya digambarkan secara puitis oleh Nidu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Sebagai sebuah novel etnografis, <em>Burung Kayu<\/em> adalah juga novel yang puitis. <em>Setting<\/em> masa lampau yang digambarkan oleh Nidu dengan menjadi <em>Sarereiket, <\/em>berhasil memukau. Kita banyak menangkap warna <em>sephia <\/em>dengan sejumlah materi yang liar: rimba-sungai-rumpun <em>poupoupou-<\/em>tahi babi-nguik-ludah yang berdahak, dan lain-lain. Namun di sisi lain, Nidu juga menggunakan \u2018penggayaan baru\u2019 dalam berbahasa yang terkadang terasa sedikit membuat jarak dengan <em>setting<\/em> masa lampau tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Novel ini ditutup dengan <em>muturuk <\/em>yang lain. Setelah segala ingar-bingar perseteruan di lembah; setelah segala kehampaan dalam dunia <em>kiwari<\/em> yang dilalui oleh Legeumanai; setelah ia kembali mengalami <em>muturuk <\/em>dalam ritual pembabtisannya sebagai <em>sikerei. <\/em>Tampaknya, pilihan hidup Legeumanai tidak cukup populer. Ia menanggalkan segala ingar-bingar di luar dan kembali ke rahim hulu \u2014<em>barasi<\/em> kecil tempatnya tumbuh-besar.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Muturuk<\/em> yang lain itu adalah anak-anak muda yang terlibat dalam sebuah festival \u2014mungkin ia adalah festival tahunan yang sudah tercantum sebagai agenda tetap dalam Kalender Pariwisata. Mereka <em>muturuk<\/em> seperti para pendahulunya menirukan gerak-gerik dari alam, gerak-gerik binatang buruan, gerak-gerik kehidupan. Dan burung-burung kayu itu, bergoyang-goyang diterpa angin. Namun, burung-burung kayu kali ini telah kehilangan rohnya. Burung-burung kayu yang mungkin bukan lagi menjadi mainan yang menyenangkan bagi para roh. <\/p>\n\n\n\n<p>Dan kita \u2014pembaca\u2014 dibawa kembali ke senyap kekinian. Senyap dalam keramaian brosur pariwisata. <br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em>16 September 2020<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tjak S. Parlan<\/strong>, <em>lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Buku terbarunya &#8216;Sebuah Rumah di Bawah Menara&#8217; \u2014Kumpulan Cerpen (Rua Aksara, 2020). Menulis buku feature perjalanan berlatar Mentawai &#8216;Berlabuh di Bumi Sikerei&#8217;  (Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul: Burung KayuPenulis: Niduparas ErlangPenerbit: Teroka (Cetakan I, Juni 2020);Tebal: 174 halaman Novel Burung Kayu dibuka dengan muturuk\u2014sebuah ritual menari yang terdapat dalam rangkaian pengukuhan seorang sikerei (penyembuh\/tabib). Penulis tidak hanya membuka pintu gerbang seraya mengucapkan, \u201cSelamat datang di Bumi Sikerei,\u201d seperti para agen wisata, atau seperti kata penyambutan yang terpampang pada gapura selamat datang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61],"tags":[857,842,808,855,841,844,856,858,845,843],"class_list":["post-4612","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","tag-buku","tag-burungkayu","tag-ceritanet","tag-edisi306","tag-mentawai","tag-niduparaserlang","tag-resensi","tag-resensibuku","tag-sarereikat","tag-tjaksparlan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4612"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5430,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4612\/revisions\/5430"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}