{"id":5263,"date":"2021-05-14T17:42:15","date_gmt":"2021-05-14T17:42:15","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=5263"},"modified":"2021-05-14T17:42:17","modified_gmt":"2021-05-14T17:42:17","slug":"benam-mata-pada-lentera-kinanthi-anggraini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5263","title":{"rendered":"Benam Mata Pada Lentera &#8211; Kinanthi Anggraini"},"content":{"rendered":"\n<p>mungkin benar,<br>minyak di tubuhmu telah dikremasi&nbsp;<br>oleh ruh malam dan kepentingan nyala api<br>dalam lelap ia terus bercahaya&nbsp;<br>meskipun,<br>bukanlah bulan menjadi tandingnya<\/p>\n\n\n\n<p>di lentera aku menyimpan benam mata<br>yang telah pedih memandang luka-luka&nbsp;<br>memendam erat sengatan prasangka&nbsp;<br>berkarat dan mengalir, ujung air mata<\/p>\n\n\n\n<p>sementara, hanya di bangku sebuah meja<br>aku telah lama membaringkan kepala<br>yang telah berat oleh sesaknya udara<br>dari pembeda dan juga getir nestapa.<br>***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center has-text-color has-medium-font-size\" style=\"color:#47a37e\"><strong>Kepada Yang Belum Kuterjemahkan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">barangkali benar,<br>kesepian selalu lebih menentramkan&nbsp;<br>ketika berpadu dengan selimut hujan&nbsp;<br>membawa turun beragam bahasa air&nbsp;<br>dari gumpalan beban awan, ia mencair&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">tak lepas dari denting,&nbsp;<br>beranjak turun dari ujung bibir genting<br>berjatuhan merata pada badan ranting<br>mengusap harap, yang beranjak kering<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">atau mungkin jika beruntung&nbsp;<br>ia mampir dan lihai bergantung&nbsp;<br>berwujud setengah lingkaran bening&nbsp;<br>pada jendela yang basah oleh hening&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">sementara,<br>di dalamnya ada secangkir kopi <em>mocca<\/em><br>dan sesosok perempuan dengan puisinya<br>berusaha menerjemahkan bahasa air&nbsp;<br>berarti kebebasan atau justru tersingkir<br>atau bahkan,<br>luas senyuman bagi alam yang kehausan<br>membawa kehidupan, penyelamat rintihan<br>mungkin kerap tak terbaca oleh sungai<br>hingga menuju lautan, surut dan lalai.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right has-text-color has-medium-font-size\" style=\"color:#47a37e\"><strong>Analogi Senyuman dan Hujan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">sembari menumpang kicau burung&nbsp;<br>sebentuk luka tak habis merenung&nbsp;<br>antara menerima atau menangisi&nbsp;<br>untuk kesalahan yang belum terjadi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">maka percayalah,<br>sebaik-baik penolong adalah senyum&nbsp;<br>diantara sesak luka yang tumbuh ranum<br>sebaik-baik penolong adalah diam&nbsp;<br>jika kasih sayang, justru berbuah dendam<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">barangkali untuk menurunkan beban<br>awan hitam harus memukul air hujan&nbsp;<br>agar segera luruh dan terus pergi<br>menuju parit atau akar-akar pelangi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">membawa serbuk aroma hamparan<br>musim semi telah berbuah harapan&nbsp;<br>para ibu daun yang penuh kesegaran<br>juga cinta akar yang tertambat tujuan.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kinanthi Anggraini<\/strong>, <em>lahir di Magetan. Karya puisinya sudah dimuat di berbagai media cetak dan daring. Meraih Juara 1 Puisi Terbaik pilihan Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul &#8216;Mata Elang Biru&#8217; (Pustaka Puitika, 2014) dan &#8216;Pelajaran Kincir Angin&#8217; (Buku Katta, 2017).&nbsp; Puisinya juga termaktub dalam belasan buku antologi. Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini pernah&nbsp; menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011 dan meraih Juara II pada Lomba Tutorial Hijab yang diadakan Koran Bogor 2015.&nbsp;<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>mungkin benar,minyak di tubuhmu telah dikremasi&nbsp;oleh ruh malam dan kepentingan nyala apidalam lelap ia terus bercahaya&nbsp;meskipun,bukanlah bulan menjadi tandingnya di lentera aku menyimpan benam matayang telah pedih memandang luka-luka&nbsp;memendam erat sengatan prasangka&nbsp;berkarat dan mengalir, ujung air mata sementara, hanya di bangku sebuah mejaaku telah lama membaringkan kepalayang telah berat oleh sesaknya udaradari pembeda dan juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[962,808,957,961,809,824],"class_list":["post-5263","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-benammata","tag-ceritanet","tag-edisi342","tag-kinanthianggraini","tag-puisi","tag-sajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5263","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5263"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5263\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5295,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5263\/revisions\/5295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}