{"id":5311,"date":"2021-06-14T16:33:25","date_gmt":"2021-06-14T16:33:25","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=5311"},"modified":"2021-06-14T17:07:28","modified_gmt":"2021-06-14T17:07:28","slug":"5-kisah-kisah-kecil-kafka-norrahman-alif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5311","title":{"rendered":"5 Kisah Kecil Kafka &#8211; Norrahman Alif"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>6<\/strong><br>malam ini:<br>tak ada yang lebih senyap dari hatiku. tak ada yang lebih&nbsp;<br>nyaring dari mesin kepalamu. kau-aku saling memburu kata.&nbsp;<br>menjahit kisah-kisah kecil yang belum kita ingat beberapa&nbsp;<br>detik lalu. sementara kafka sudah sejam lampau kulepas ke&nbsp;<br>hutan-hutan bahasa, ke ladang-ladang kenangan, sebelum&nbsp;<br>kata pertama kucangkul mengawali puisi panjang ini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>ini malam sungguh puisi. tak lazim. tak ada kekasih&nbsp;<br>memanggil dalam telepon. mungkin hanya kafka yang<br>sibuk berjalan. bolak-balik dari masa lalumu ke masa kiniku:&nbsp;<br>memanggul beban curiga, rindu dan cinta menjadi segenap&nbsp;<br>keresahan dalam bentuk wajahmu yang terus bergantung<br>di langit-langit kamarku, di dinding mata dan pikiranku. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>sejak detik runtuh, kafka telah berusaha menghapus&nbsp;<br>gambar-gambar rindu, bercak-bercak wajahmu di dinding&nbsp;<br>kamar ini. jurus pertama tak mempan. kuputar lagu-lagu&nbsp;<br>pembasmi hama rindu dan sendu.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>malam jadi pahit. waktu menjadi tangis. dan air matamu&nbsp;<br>jatuh dari sepasang mataku yang runtuh: melebur dalam&nbsp;<br>bayang-bayang ketidakpastian melupakanmu hanya untuk&nbsp;<br>malam ini.<\/p>\n\n\n\n<p>tiba-tiba kafka menelurkan tanya dalam kepalaku. namun kita&nbsp;<br>ini siapa ? apakah sepasang puisi keabadian? atau sekadar sejoli&nbsp;<br>daun kering pada reranting rapuh: tak lama \u2013esok atau lusa akan<br>jatuh dan terbakar dalam ritus api di pagi hari.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>7<\/strong><br>sejak matahari membakar ubun-ubun kepala siangku.&nbsp;<br>kafka gelisah. mondar-mandir di sekitar terik bahasa duka.&nbsp;<br>ia ingin mencari detak yang memberi degup pada jantung puisi.&nbsp;<br>lalu ia pun mandi. mencoba meluruhkan seluruh panas di badan.&nbsp;<br>atau mencari cara memadamkan api yang sedang melalap hutan&nbsp;<br>waktu. namun naas. ternyata panas itu meluap dari dalam hatiku.&nbsp;<br>lalu ia coba pergi ke rumah tuhan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>karena ia ingat \u2013 ini hari jumat:<br>waktunya orang-orang mencari muka<br>dihadapan gusti yang murka pada kepuraan-puraan<br>doa dan air mata.<br><br>setiba di rumah tuhan pada saf paling belakang,&nbsp;<br>hatinya khusuk berdoa. air matanya rajin mengalir.<br>layaknya agamawan picisan yang mencoba membeli&nbsp;<br>obat hati di apotik kemurahan hati tuhan dengan&nbsp;<br>selembar doa-doa palsu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>8<\/strong><br>di hadapan jendela, malam telanjang tanpa mantel kebisingan.<br>angin berimigrasi ke negara lain. pohon-pohon mati tak bergerak.&nbsp;<br>burung-burung bergumam pada tuhan: sunyi sungguh menyakitkan!&nbsp;<br>akhirnya kafka murung di dekat jendela. entah apa yang ingin ia&nbsp;<br>rencanakan untuk malam ini. pikiran petang, ingatan mengais-ngais&nbsp;<br>kata di antara detik yang sudah lewat tanpa menitipkan sesobek peristiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>lalu perasaanku mengajak kafka berlibur ke baris-baris puisi penyair<br>dunia, ke buku-buku sejarah. siapa tahu di sana ia mendapat permata atau&nbsp;<br>harta benda. namun selalu makhluk menyebalkan yang bernama kemalasan itu: <br>mencegatku di tengah jalan dengan berbagai alasan. seperti polisi<br>yang&nbsp;ditakuti para pengendara hitam. seperti perampok yang merampas isi<br>dompet kebahagiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>pun akhirnya kafka kembali ke kampung murungnya. seperti biasa,<br>malam ini ia ingin mencangkul sawah-sawah kenangan. menyabit rumput-<br>rumput peristiwa. dan kembali biji-biji kata di tabur di lahan-lahan puisi.<br>bersama hujan waktu yang terus berguguran detik-detik ke haribaan malam.<br>kurawat dan kudewasakan kata sampai menjadi puisi. sebagaimana langit<br>menyusui bumi dengan gerimis kasih-sayangnya. sebagaimana tangan-tanganku<br>menjaga api pada lilin cinta di tengah angin yang berkibar musibah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>9<\/strong><br>dengan segelas pagi sekental kopi. di dekat jendela, kafka lari-lari&nbsp;<br>pagi di halaman kata-kata ibu tadi malam:<br>uang memang bisa melupakan&nbsp; segalanya, nak. bahkan anak pada&nbsp;<br>ibunya sendiri. seperti bunarso, bunarwi, mereka menelantarkan<br>ibunya sendiri yang sedang sakit-sakitan. mereka malah sibuk<br>mengeloni uang tak ingin luang. bahkan menjenguk pun hanya&nbsp;<br>satu minggu satu kali. anak macam apa itu!<\/p>\n\n\n\n<p>di setiap larik, kafka istirahat: merokok, berkipir dan mungiliti kata-katanya.<br>siapa tahu dibalik kulit ada daging makna yang bisa ia masak untuk puisi ini.<br>lalu pada saat ia berhenti di perempatan kata uang dan manusia \u2013kafka<br>gelisah, marah-marah dan berpuisi: manusia dan uang adalah sepasang<br>kekasih setan, mereka saling membutakan mata bila tak mampu saling mengendalikan.<\/p>\n\n\n\n<p>uang adalah jalan menuju neraka paling terang. karena dengan uang manusia<br>gampang menukar-membeli kasih-sayang, kebohongan dan kejujuran. uang&nbsp;<br>juga mampu melipat cinta pada ibu dan ayah sekalipun, hanya dalam satu&nbsp;<br>lipat ketidakpedulian.&nbsp; &nbsp;<br><br>memang:<br>tak ada yang mustahil dalam uang. sebab uang layaknya<br>raja yang sangat di hormati oleh penduduknya. bahkan uang<br>adalah tuhan-surga baru yang diidam-idamkan oleh setiap<br>makhluk mesin. oleh setiap manusia buta.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>10<\/strong><br>setiap detik \u2013kata saling berpelukan di udara. tak kenal musim&nbsp;<br>dan cuaca. sebab segalanya adalah bara cinta. selalu kaleng-kaleng&nbsp;<br>waktu yang kosong, kita isi dengan gumam-gumam kecil dan nakal,<br>atau desah cinta yang terlalu kanak berciuman setiap kafkaku mengajakmu&nbsp;<br>menaiki tangga khayali ketidakwarasan.<\/p>\n\n\n\n<p>ketika kau-aku kemabukan bahagia di malam lengang dalam telepon.<br>mulut kita bagai burung condet pada suatu pagi: berkicauan dengan&nbsp;<br>berbagai variasi bunyi yang timbul dari karnaval berita pemerkosaan,<br>pelecehan seksual, corona dan tentang hidup kita yang sama-sama<br>mengenyam derita nasib yang sama.<br>*** 2020<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Norrahman Alif<\/strong>&nbsp; <em>lahir di Jurang Ara \u2013Sumenep \u2013Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,&nbsp; Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres dll. Buku puisi terbarunya &#8220;Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan&#8221; (sublimpustaka-2019). &nbsp;<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>6malam ini:tak ada yang lebih senyap dari hatiku. tak ada yang lebih&nbsp;nyaring dari mesin kepalamu. kau-aku saling memburu kata.&nbsp;menjahit kisah-kisah kecil yang belum kita ingat beberapa&nbsp;detik lalu. sementara kafka sudah sejam lampau kulepas ke&nbsp;hutan-hutan bahasa, ke ladang-ladang kenangan, sebelum&nbsp;kata pertama kucangkul mengawali puisi panjang ini.&nbsp; ini malam sungguh puisi. tak lazim. tak ada kekasih&nbsp;memanggil dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[808,970,971,972,823,809,824],"class_list":["post-5311","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-ceritanet","tag-edisi343","tag-kafka","tag-kisah-kisahkecilkafka","tag-norrahmanalif","tag-puisi","tag-sajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5311","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5311"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5311\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5390,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5311\/revisions\/5390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5311"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5311"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5311"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}