{"id":5318,"date":"2021-06-14T16:37:37","date_gmt":"2021-06-14T16:37:37","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=5318"},"modified":"2021-06-15T05:39:51","modified_gmt":"2021-06-15T05:39:51","slug":"kisah-cinta-wastra-nusantra-para-mama-di-watublapi-indah-darmastuti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5318","title":{"rendered":"Kisah Cinta Wastra Nusantara Para Mama di Watublapi -Indah Darmastuti"},"content":{"rendered":"\n<p>Awal Juni 2021, aku masuk menjadi bagian Susur Selubung \u201cMerekam Cerita Perempuan\u201d yang digagas Maria Ludvina, yang bekerjama dengan Komunitas Kahe dan Peretas (Perempuan Lintas Batas). Susur Selubung bermaksud mempelajari peran para perempuan di Maumere Provinsi Nusa Tenggara Timur, sekitar 1.800 km dari rumahku di Solo. Dan perjalanan terrbang yang panjang itu masih harus bersambung-sambung pula: dari Solo transit di Denpasar sebelum akhirnya mendarat di Maumere<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-1024x683.jpg\" alt=\"Sanggar Watubo, Watublapi - Indah Darmastuti\" class=\"wp-image-5306\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-300x200.jpg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-768x512.jpg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/05_menenun-motif-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam Susur Selubung itu kami akan mendengar kisah-kisah para Mama penenun di Watublapi, sebuah kampung yang masih harus ditempuh lagi dengan satu jam perjalanan mobil. Jadi sedikitnya empat jam perjalanan menyeberang lautan dan menelusuri jalan aspal untuk mendengar pengalaman kreatif sesama perempuan. Dan aku merasa amat beruntung mendengarnya langsung.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cuaca cukup panas ketika tiba di Maumere. Sebelum menuju Watublapi, kami sempatkan berkeliling museum ternama Bikon Blewut, dengan koleksi alat-alat kebudayaan pra-sejarah, hingga karya seni budaya era kontemporer kawasan itu.&nbsp; Terletak di Kampus STFK Ledaloro, yang artinya bukit tempat sandar Matahari, museum ini menjadi semacam pengantar pertemuan dengan para Mama penentun di Watublapi, bahwa karya-karya seni budaya sudah mengakar kuat sejak ribuan tahun lalu.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Barulah mobil kami membelah perbukitan dengan jalanan&nbsp; berkelok dan menanjak selama kurang lebih satu jam. Udara mulai terasa lebih sejuk dingin ketika memasuki wilayah Watublapi. Pohon-pohon besar dan tinggi tumbuh rapat di tanah perbukitan.&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar pukul 13.00 kamipun tiba di perkampungan hening yang \u2018platonik\u2019: menarik dan terasa dekat namun sekaligus berjarak tanpa emosi yang meluap-luap. Juga ada kejutan&nbsp; yang mengesankan: sehimpun Mama menyambut dengan busana tenun nan indah sedang di sisi kanan Para Bapa siap dengan alat musiknya. Kami tidak menyangka akan ada upacara penyambutan seperti itu, yang tampaknya memang dihadirkan sebagai sebuah kejutan, yang amat menyegarkan&nbsp; di siang yang sejuk itu di Sanggar Watubo, sebuah sanggar seni di Watublapi, yang memproduksi, dan sekaligus pula, melestarikan tenun ikat dengan pewarna alam serta selain seni tari tradisi. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-1024x683.jpg\" alt=\"Sanggar Watubo, Watublapi - Indah Darmastuti\" class=\"wp-image-5305\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-300x200.jpg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-768x512.jpg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/04_Nona-Ross-mempresentasikan-tata-busana-dan-tata-rambut-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Aku sedikit gugup tetapi kemudian jatuh haru ketika seorang Mama mengalungkan selendang tenun cantik di leherku, lalu secara bergiliran kepada kawan-kawan lain dari Jogja, Bandung, Bali, dan Palu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Usai mengalungkan selendang di leher kami berlima, Bapa pemimpin (keturunan Kepala Suku) sedikit maju mendekat, lalu menyampaikan sapaan adat dalam Bahasa Sikka dan memercikkan air dari tempurung kelapa&nbsp; menggunakan helai-helai Daun Huller.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201c<em>Bliran ganu wair, blatan ganu bao\u2019e mai e bawo, mai saing genang ei sanggar amin Watubo<\/em>.\u201d yang berarti sejuk dan dingin seperti air di kali dan pohon di bukit-bukit. Selamat datang dan selamat bertemu di Watubo.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian dengan suara bersemangat Bapa Pemimpin mengucap Kahe, atau&nbsp; sebuah kalimat seruan, sebuah simbol adat masyarakat sekitar untuk mengenalkan diri dan memberi semangat. Setiap adat mempunyai Kahe yang berbeda-beda. \u201c<em>Waning Ata Lamen<\/em>\u201d pekiknya, disusul suara Gong Woning dan semua perempuan menari, menjemput dan mengarak kami. Tarian gembira itu diselingi pekikan memberi semangat. Hatiku berkata: \u201cJadi seperti ini rasanya disambut dengan tarian tradisi, hangat dan bersahabat. Terima kasih, Semesta!\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"643\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-1024x643.jpg\" alt=\"Sanggar Watubo, Watublapi - Indah Darmastuti\" class=\"wp-image-5304\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-1024x643.jpg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-300x188.jpg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-768x482.jpg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-1536x965.jpg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/03_Para-Bapa-Pemain-Musik-2048x1287.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kami diarak menuju sebidang tanah cukup luas, didindingi batang-batang bambu untuk memajang lembar-lembar tenun hasil karya para Mama. Sebatang pohon pisang tertancap persis di tengah tanah lapang itu. Tarian terus berlangsung. Sepasang penari laki-laki dan perempuan meragakan sebuah tradisi dalam pesta pernikahan. Sambil menari dan sesekali diselingi pekikan, penari laki-laki membawa golok langsung menebas pohon pisang dengan sekali tebas. Harus sekali tebas, untuk menggambarkan totalitas dan kesungguhan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tarian penyambutan yang sangat indah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Semua perempuan tampak cantik dan anggun, tapi bedanya, seperti dijelaskan Rosvita Sensiana, perempuan muda koordinator para Mama. Dalam tradisi ia berpakaian di Watublapi, tuturnya, ada perbedaan antara perempuan muda, dewasa dan usia lanjut. Ada perbedaan juga pada gelung rambut sehingga orang bisa tahu status sosial seorang perempuan. Orang tua mengenakan sarung dua lapis dengan bagian bawah berwarna gelap, dan mengenakan empat gelang di tangan kanan dan kirinya. Jadi tiap kain mempunyai tata cara penggunaan yang berbeda menurut usia, jenis kelamin, status sosial dan tentunya keperluan ritual itu, apakah untuk menyambut kelahiran, merayakan pernikahan, atau mengantarkan kematian.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi laki-laki rupanya tak perlu berbeda, baik busana sarung atau perhiasan yang dikenakan Bujang atau menikah, tua atau muda,&nbsp; sama-sama menggunakan balak (kalung gading) dan lado (ikat kepala) sebagai simbol kejantanan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Upacara penyambutan itu dilengkapi dengan mengunyah sirih pinang. Masing-masing kami diberi satu paket mangkuk terbuat dari daun pisang (kalau di Jawa biasa kami sebut takir.) Takir itu berisi secuwil sirih, pinang, selinting rokok tradisional dan kulit jagung (atau klobot di Jawa). Aku yang tak biasa mengunyah sirih pinang, bersemangat mencobanya demi sebuah pengalaman dan hormat pada Tuan dan Nyonya Rumah. Tetapi aku, dan juga kawan-kawan pendatang lainnya, tak bisa lama mengunyahnya: telalu pahit dan getir rasanya. Jadi kami coba dan berhenti ketika belum sampai memerahkan bibir, sebagaimana seharusnya. Tetapi untuk rokok, hampir semua bisa menghabiskan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c-1024x683.jpeg\" alt=\"Sanggar Watubo, Watublapi - Indah Darmastuti\" class=\"wp-image-5307\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c-750x500.jpeg 750w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/B810EE2E-69D2-4C6F-9A8F-AD7A19F869EE_1_105_c.jpeg 1086w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Keramahan dan sambutan Sanggar Watubo jelas bukan hanya dalam bentuk tarian, juga sajian makan siang yang lengkap. Ikan kuah bumbu asam, ikan bakar, nasi jagung, nasi merah dan popcorn yang ditempatkan dalam mangkuk terbuat dari buah maja yang dikeringkan. Sayur ikan asamnya sangat enak. Aku suka rasa asam yang berasal dari belimbing wuluh, yang&nbsp; sangat dekat dengan lidah Jawa-ku. Juga lawar, berbahan daun singkong dibumbu kelapa parut dan bawang putih, daun kemangi serta&nbsp; tambahan perasan jeruk nipis. Jamuan besar&nbsp; ditutup dengan mencecap moke, tuak tradisonal Maumere yang dibuat dari pohon lontar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Usai makan siang yang nikmat, kami kembali menari secara massal. Membuat lingkaran besar, bergabung dengan para Mama, bergembira bersama dalam iringan musik yang rencak dan mengentak. Tubuh kami yang tak biasa menari, tetap mencoba mengikuti dan meniru para Mama meliak-liukkan tubuh dan tangannya.&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami sudah berkeringat ketika musik berhenti tapi kami tertawa bergembira.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Barulah para Mama&nbsp; menuju ke peralatan menenun yang disiapkan secara berurutan&nbsp; tahap-tahap, mulai dari <em>ngeung<\/em> yaitu memisalkan biji kapas, lalu melembutkan kapas menggunakan <em>wetig<\/em> (alat pelembut kapas), memelintirnya atau menggiling dengan <em>ogor<\/em> untuk menjadi benang hingga menuju pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan alam, seperti kunyit, daun nila, akar mengkudu dan bahan alam lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Benang yang sudah diwarnai itu kemudian dijalin membentuk pola motif, misalnya bintang, rusa, naga, atau ular yang melambangkan Pulau Flores.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku coba beberapa tahapan proses itu: sulit sekali! Ketelatenan, kecermatan dan keterampilan tangan adalah mutlak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c-1024x683.jpeg\" alt=\"Sanggar Watubo, Watublapi - Indah Darmastuti\" class=\"wp-image-5308\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c-750x500.jpeg 750w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/A30892B8-AADE-4695-BAC3-71A457A3ED0A_1_105_c.jpeg 1086w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Saat berbincang dengan Nona Rosvita dan beberapa Mama, kudengar kisah pagi demi pagi&nbsp; mereka, saat anak-anak masih terlelap dan matahari belum mengintip bukit, dengan menenun sambil bersenandung. Merema menyeandungkan sebuah doa, sebuah kisah yang mengajarkan bagaimana perempuan harus melakukan kewajibannya. Syair tentang bagimana proses menenun itu adalah nafas, adalah nyawa, adalah kehormatan sebagai perempuan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Suara-suara yang berasal dari alat-alat tenun itu menjadi musik pengiring saat Mama menyenandungkan syair dalam Bahasa Sikka Iwangetik. Syair itu menceritakan tentang proses ketika menenun., dari memintal benang yang harus betul-betul baik, lalu dibuat dalam gulungan, direntang di pemindang, kemudian dibuat menjadi motif naga, diwarnai biru yang betul-betul bagus. Lalu setelah menjadi kain, akan diberikan kepada saudara atau orang tua. Itu simbol kebanggaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses menenun dari memisahkan biji kapas hingga menjadi kain membutuhkan waktu antara dua sampai lima bulan hingga satu atau dua tahun. Sungguh keindahan itu bukan <em>instant<\/em>, butuh waktu, juga butuh sentuhan cinta bukan hanya pada keluarga, tetapi pada tradisi serta keselarasan dengan alam. Dan Nona Rosvita beserta 25 anggota Sanggar Watubo merawatnya dengan penih cinta pula.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi bila Anda ke Maumere, singgahlah Sanggar Watubo di Watublapi, bukan hanya memberi apresiasi pada Wastra Nusantara, juga menikmati siraman kehangatan sambutan para Mama dan Bapa, seperti senandung mereka, \u201c<em>E mai e bawo ami deri bui inan lau natar blawir, nawang amang lau nian. Uhe sine die bui, dan jawa hading nawang<\/em>. (Mari datang, kami menanti, kami menunggu bapa, ibu, teman-teman yang jauh di sana di pulau seberang untuk berkunjung. Kita bagai saudara dalam ikatan budaya. Pintu terbuka lebar, menanti kedatangan).<br>***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Indah Darmastuti<\/strong>, <em>tinggal di Solo sebagai penulis, pegiat sastra, juga pegiat difabel. Karya fiksinya bisa ditemukan di berbagai media dan juga sudah diterbitkan, seperti seperti Kepompong (Jalasutra, 2006), Kumpulan Novelette &#8216;Cundamanik&#8217; (Sheila, 2012), dan &#8216;Makan Malam Bersama Dewi Gandari&#8217; (Bukukatta, 2016), &#8216;Pengukur Bobot Dosa&#8217; (Marjin Kiri, 2020).  Dia pendiri situs Difalitera (<a href=\"https:\/\/difalitera.org\/\">difalitera.org<\/a>), dengan misi menyediakan karya-karya sastra untuk kau difabel. Juga aktif dalam buletin sastra Pawon (<a href=\"http:\/\/www.pawonsastra.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">pawonsastra.com<\/a>) <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awal Juni 2021, aku masuk menjadi bagian Susur Selubung \u201cMerekam Cerita Perempuan\u201d yang digagas Maria Ludvina, yang bekerjama dengan Komunitas Kahe dan Peretas (Perempuan Lintas Batas). Susur Selubung bermaksud mempelajari peran para perempuan di Maumere Provinsi Nusa Tenggara Timur, sekitar 1.800 km dari rumahku di Solo. Dan perjalanan terrbang yang panjang itu masih harus bersambung-sambung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5],"tags":[871,808,970,974,965,977,979,973,978,976,975],"class_list":["post-5318","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","tag-catatan","tag-ceritanet","tag-edisi343","tag-indahdarmastuti","tag-laporan","tag-maumere","tag-nusantara","tag-perjalanan","tag-sanggarwatubo","tag-tenun","tag-watublapi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5318","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5318"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5318\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5404,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5318\/revisions\/5404"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}