{"id":5562,"date":"2021-08-14T17:29:55","date_gmt":"2021-08-14T17:29:55","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=5562"},"modified":"2021-08-14T17:29:57","modified_gmt":"2021-08-14T17:29:57","slug":"cintaku-yang-berbalas-joe-hassan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5562","title":{"rendered":"Cintaku Yang Berbalas &#8211; Joe Hassan"},"content":{"rendered":"\n<p>Tiba-tiba aku naik pangkat jadi pelatih, sebagai <em>Sabeum<\/em>. Biasanya cuma asisten pelatih, yang tak terlalu jelas tugas dan perannya karena mengambang di antara dua dunia: atlet bukan, pelatih juga bukan. Aku ikut berlatih sama seperti yang lain tapi bukan andalan untuk kejuaraan manapun. Juga ikut teriak-teriak, cuma ya sebatas kasih semangat, bukan instruksi, strategi, atau sekedar taktik. Itu urusan pelatih. <\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini alasanku ditunjuk sebagai asisten pelatih, kayaknya lebih karena usiaku yang paling tua sebagai s<em>eonbae <\/em>atau senior dan, aku duga, karena divonis oleh <em>Sabeum<\/em> tidak akan berprestasi seperti para <em>hubae <\/em>atau junior lainnya yang masih berpotensi. Peranku sebagai asisten cuma meramai-ramaikan saja, di sana dan di sini.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi tiba-tiba aku jadi <em>Sabeum<\/em>, berhubung Hendra, sang pelatih sejati, tiba-tiba pula, punya kerjaan lain yang mendesak, yang aku yakin jelas dan besar bayarannya. Menjadi <em>Sabeum<\/em> taekwondo, ya paling dapat uang transpor yang tak pasti karena cuma sisa kumpulan iuran setelah dikurangi uang sewa tempat latihan dan biaya pendaftaran kejuaraan. Jadi ketika Hendra lepas tangan, \u201cSaya ada kerjaan lain yang mendesak untuk kebutuhan yang amat mendesak,\u201d aku sempat bingung dan sedikit panik. \u201cTolonglah, ini kejuaraan daerah tinggal tiga bulan,\u201d pintanya lagi, bernada setengah mendesak, setengah membujuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi <em>Sabeum<\/em> jelas impian semua orang biarpun aku sebenarnya belum berpengalaman. Lagipula hatiku masih ingin bertanding sebagai atlet yang terlibat aksi saling tukar tendangan di atas matras biarpun divonis tak bakal menang. Tapi aku terima desakan dan bujukan itu. Toh akhirnya prinsipnya sama saja: berikan yang terbaik, entah sebagai atlet atau sebagai <em>Sabeum<\/em>. Dan jika aku bertanding maka tidak ada yang mengurus atlet. Hendra sudah ngacir Jadi biarlah, mungkin memang sudah waktunya aku mengerti soal urus-mengurus atlet untuk bertanding.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu, waktu masih SMP, aku masuk taekwondo sekedar mengisi&nbsp;waktu luang sepulang sekolah. Waktu berlari kian cepat hingga akhirnya tak terkendali dan aku jatuh cinta pada taekwondo. Pernah aku jatuh sakit karena tidak latihan satu hari. Tubuhku terasa demam ringan, kepala sedikit pusing, akhirnya tak bergairah melakukan apa-apa. Hingga keesokan harinya aku nekat untuk latihan. Tentu karena demam yang sudah turun. Alhasil tubuhku bugar kembali. Ah, sakit ini memang karena rindu taekwondo. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah juga usai tanding aku terjatuh di atas matras. Aku rasa ada yang salah dengan lutut kiriku. Cedera dalam olahraga, termasuk taekwondo, memang hal biasa. Yang tidak biasa ialah makin hari makin parah. Tempurung lutut kiriku berpindah ke dalam, menghadap ke kaki kanan, tak bisa dilipat dan tak bisa diluruskan. Ini sakit yang tiada tara. Aku tidak mau ke dokter, hanya memakai obat tradisional. Aku memilih kunyit yang dipatur halus lalu dipanaskan dan ditempelkan bagian lutut yang cidera lalu dibalut kain untukdidiamkan selama satu malam. Jika tak ada kunyit jahe pun jadi. Akibat cedera itu aku tidak latihan selama empat bulan. Jadi empat bulan aku merasa ambruk sakit lagi: demam ringan dan kepala agak pusing. Parahnya, kali ini ditambah jalanku yang pincang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa kamu suka sekali dengan taekwondo?\u201d tanya Adi, teman sebangkuku di SMA,&nbsp; pada suatu pagi, mencuri-curi waktu untuk berbisik saat pelajaran Bahasa Indonesia, yang membosankan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena aku suka menendang,\u201d ujarku singkat. Alasan yang terlalu klasik, karena buat banyak orang taekwondo identik dengan aksi tendangan. Tapi kan tak mungkin kujawab, \u201cAku jatuh cinta pada taekwondo\u2026\u201d ketika semua kawan-kawanku jatuh cinta dengan perempuan cantik, perempuan bahenol, atau perempuan pintar. Masak jatuh cinta sama taekwondo? Walaupun sebenarnya itulah yang terjadi. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku bisa uraikan semua rincian kecantikan dan kepintaran taekwondo, sama serunya dengan Adi ketika menceritakan pacarnya di kelas sebelah. Dan hanya Adi yang sebenarnya bisa menemukan titik-titik di diri pacarnya yang tak akan terlihat orang yang sedang tidak dilanda jatuh cinta. Begitulah aku dan taekwondo.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi apa orang tahu makna dari sabuk paling rendah dari enam sabuk di taekwondo? Aku tahu. <\/p>\n\n\n\n<p>Putih yang berarti awal atau suci atau polos, yang juga diartikan seseorang itu belum memiliki ilmu apa-apa. Lalu kuning yang melambangkan bumi bahwa di bumilah segala akar tertanam. Naik setingkat lagi adalah sabuk hijau, yang artinya tanaman atau pepohonan yang terus tumbuh dengan akar-akar yang telah menancap kuat dalam tanah. Di sabuk inilah salah satu ilmu taekwondo diajarkan, yaitu tendangan berputar seperti<em> dwi hurigi<\/em> dan<em> dwi chagi<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lulus ujian akan bisa naik ke biru, sesuai dengan warna langit. Maknanya adalah bisa melihat segalanya dari atas, jadi sudahcukup bijak untuk memberi sedikit bimbingan pada <em>hubae <\/em>atau adik-adik junior. Meningkat lebih ke atas adalah sabuk merah yang melambangkan bahaya api. Pada sabuk ini, kami diajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin, mulai dari asisten pelatih hingga meneruskan sedikit materi latihan untuk <em>hubae<\/em> namun yang sesuai dengan ajaran pelatih. Dan yang terpenting adalah cara mengontrol amarah, yang sangat dibutuhkan dalam sebuah laga. Jadi bukan hanya mumpuni dalam tekhnik tendangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya sabuk tertinggi: hitam, untuk Sabeum atau sang pelatih<em>.<\/em> Hitam adalah antonim dari putih yang polos yang tak tahu apa-apa. <\/p>\n\n\n\n<p>Waktu pertama kali kami harus ujian soal arti warna sabuk, semuanya kalang kabut karena buat kami ujian sabuk adalah urusan fisik: lari-lari naik turun tanjakan, <em>push up,<\/em> menghafal jurus <em>poomsae<\/em>, lalu sparing dengan sesama kawan latihan. Menghafal jurus saja sudah membuat pusing apalagi disuruh hafal arti sabuk. \u201cKayak ujian sekolah aja,\u201d protes kami semua, tapi tak punya pilihan dan harus belajar.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu dulu. Sekarang aku sudah jatuh cinta pada taekwondo dan percayalah, berjam-jam aku akan bisa bercerita tentang taekwondo, dari negera asalnya di Korea Selatan sana sampai masuk ke Indonesia sini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Apapun alasannya, aku jadi <em>Sabeum<\/em>,&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya para hubae acuh-tak acuh dengan perintahku. Setiap kali kusuruh untuk lakukan gerakan<em> ap chagi, yeop chagi,dwi chagi, dollyo chagi, mereka cuma asal-asalan tak serius. <\/em>Hanya sekedar angkat kaki saja. Aku mulai ragu dengan cintaku yang berbalas dengan menjadi pelatih. Apalagi yang dilatih adalah anak-anak yang hidupnya pada dunia main. Sempat berpikir mau menyerah tapi aku sadar: masak cintaku secepat itu pudarnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Dan pendekatan cinta itu yang kuterapkan seutuhnya untuk mengambil hati mereka. Aku ikut bercanda tertawa haha hihi, menjadi teman bukan <em>Sabeum<\/em> atau <em>hubae<\/em>. Pelan-pelan mereka mulai patuh. Dan kuberi mereka pilihan yang tegas,  &#8220;Syarat untuk bisa ikut bertanding adalah rajin latihan, tidak terlambat, dan tidak main-main saat latihan. Atau ya bakal kalah telak.\u201d Kuping mereka terjaga oleh ucapanku. Hari-hari berikutnya, semangat mereka makin menggebu-gebu. Tak ada cengengesan saat latihan. Pelan-pelan aku berbisik sekali dua kali, &#8216;Aku cinta taekwondo&#8217; dan semakin sering semakin keras pula. Kujadikan semacam mantera. <\/p>\n\n\n\n<p>Dan kami berhasil. Aku yakin karena cinta pada taekwondo, seperti orang bilang bahwa cinta bisa mengalahkan apapun. Mungkin bukan urusan keterampilan, strategi dan taktik saja yang kualihkan kepada 23 <em>hubae itu, <\/em>juga cinta, yang bisa mengalahkan segala hal. Dari 23 atlet kami yang ikut, 18 mendapat medali dan enam adalah medali emas. Itu pencapaian besar buat sanggar kami yang relatif kecil dengan para atlet anak-anak sekolah, yang sama seperti aku, awalnya ingin mengisi waktu luang selepas sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami bersorak-sorak sorai kegirangan dan berfoto penuh bangga dengan <em>dobok<\/em> seragam taekwondo pada hari terakhir kejuaraan. Mantera yang sering kusebut saat latihan selama tiga bulan dan juga ketika para <em>hubae <\/em>bertanding kami pekikkan bersama dengan amat keras saat berfoto, \u201cAku cinta taekwondo!\u201d sambil menaruh tangan kanan di dada.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Dua minggu setelah kejuaraan yang sukses itu, masa istirahat usai dan kami mulai kembali berlatih. Sebagai <em>Sabeum <\/em>aku selalu datang lebih awal ke tempat latihan, dan Hendra sesuai dengan permohonannya dulu masih akan \u2018kerja mendesak\u2019 sekitar sebulan lagi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi sore itu aku kaget melihat dia sudah tiba di tempat latihan, sibuk menyiapkan matras-matras. Melihat aku datang, dia cuma melirik sekilas dengan sorot mata dingin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSelamat&#8230;  kemarin sukses besar ya,\u201d katanya dengan suara datar sambil tetap menyusun matras untuk latihan dan menambahkan. \u201cSekarang harus lebih serius untuk persiapan PON.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sempat kagok sebelum bergegas membantunya namun Hendra menolak. \u201cSudah beres kok. Sana kamu ganti <em>dobok<\/em>, siap-siap latihan lagi,\u201d tambahnya menegaskan aku kembali ke posisi sebagai s<em>eonbae,<\/em> yang kembali mengawang-awang di dua dunia: atlet bukan, pelatih juga bukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sore itu, aku pun kembali jadi asisten pelatih, berdiri dan menendang bersama yang lainnya. Dua hari kemudian kudengar dia rupanya mengeluh ke banyak orang bahwa aku mencuri hasil kerja kerasnya. Dalam bahasanya, seperti yang kudengar-dengar itu, \u201cSaya yang latih habis-habisan, dia yang dapat kredit. Dasar pengkhianat, menikam dari belakang.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Aku terkenang pada jawaban atas pertanyaan Adi dulu, \u201cKarena aku suka menendang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Belasan tahun latihan taekwondon dan jatuh cinta pada taekwondo, aku cuma menendang saat mengenakan <em>dobok,<\/em> entah itu ketika latihan atau ketika bertanding. Tapi untuk pertama kalinya aku ingin menendang orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Menendang sekeras mungkin dengan teknik <em>dwi hurigi<\/em>atau<em> dwi chagi<\/em>ke ala <em>Saebum<\/em> Hendra.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em>Bau-Bau, Agustus 2021<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Joe Hasan<\/strong>, lahir di Ambon pada 22 Februari. Pecinta olahraga taekwondo. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di media cetak dan online.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiba-tiba aku naik pangkat jadi pelatih, sebagai Sabeum. Biasanya cuma asisten pelatih, yang tak terlalu jelas tugas dan perannya karena mengambang di antara dua dunia: atlet bukan, pelatih juga bukan. Aku ikut berlatih sama seperti yang lain tapi bukan andalan untuk kejuaraan manapun. Juga ikut teriak-teriak, cuma ya sebatas kasih semangat, bukan instruksi, strategi, atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1028,1027,1026],"class_list":["post-5562","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edis345","tag-joehassan","tag-taekwondo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5562","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5562"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5562\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5564,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5562\/revisions\/5564"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5562"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5562"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5562"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}