{"id":5703,"date":"2021-11-14T19:04:36","date_gmt":"2021-11-14T19:04:36","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=5703"},"modified":"2023-11-14T19:01:12","modified_gmt":"2023-11-14T19:01:12","slug":"tin-yang-progresif-meninggalkan-tum-dan-ton-liston-p-siregar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5703","title":{"rendered":"Tin Yang Progresif Meninggalkan Tum dan Ton &#8211; Liston P Siregar"},"content":{"rendered":"\n<p>Jika Bapak kami menemukan panggilan Tum, Tin, Ton maka Mamak yang membeli tiga boneka kecil perempuan dengan wajah serius, tertawa, dan menangis. Boneka yang mencerminkan <em>Tum<\/em>pal yang serius, Mar<em>Tin<\/em> yang riang, dan Lis<em>Ton<\/em> yang cengeng.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"616\" height=\"342\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/tumtin.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5699\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/tumtin.jpg 616w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/tumtin-300x167.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 616px) 100vw, 616px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Begitulah kami bertiga laki-laki dikenal di kalangan keluarga besar Siregar-Gultom di Medan akhir 1960-an namun hingga menjadi bapak-bapak, rasanya, masih dengan karakter sama: satu serius, satu riang, dan satu cengeng. Ketiga boneka perempuan itu juga masih ada di ruang tamu rumah di Padang Bulan, Medan, yang kini cuma dihuni seorang pelajar perantau dari kampung.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan keriangan Tin menjadi kenangan utama ketika dia pergi  Minggu 17 Oktober.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak kecil Tin selalu paling populer di kalangan keluarga dan kawan-kawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia punya lesung pipit yang menarik perhatian perempuan, muda dan tua -entah itu tante-tante adik Mamak, tetangga, dan kawan-kawan sepermainan. Tin juga paling tinggi, dengan wajah paling tampan dan rambut lebat bergelombang serta peduli penampilan. <\/p>\n\n\n\n<p>Foto kami bertiga di atas Vespa, mencerminkannya: Tum duduk serius, Ton berdiri bosan, tapi Tin bergaya miring di dekat stang. Mungkin dia paling banyak mewarisi gen Mamak, seorang kepala sekolah SD yang cantik dan bergaya yang selalu mengenakan sepatu hak tinggi. Sedang Tum dan Ton? Dari dulu cuma \u2018no frill\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 2018, beberapa hari sebelum pergi, Mamak bertanya ke pengasuhnya \u201cApa kabar si Martin ya?\u201d Hanya dia yang ditanya, bukan Tum yang tinggal 20-an km dari rumah, atau Ton yang terpisah belasan ribu kilometer. Maka pada satu petang Tin tiba di rumah dan berdua-dua bersama Mamak. Besok paginya, Mamak pergi dengan tenang setelah melihat Tin, yang saya duga memiliki gen-nya paling banyak. Bukan cuma dalam urusan gaya, tapi juga bergaul ke sana ke mari dengan canda-canda yang tak selalu lucu tapi -pasti!- beraroma akrab dan hangat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"827\" height=\"551\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/bah_-martin-siregar-2.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5706\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/bah_-martin-siregar-2.jpeg 827w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/bah_-martin-siregar-2-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/bah_-martin-siregar-2-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/bah_-martin-siregar-2-750x500.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 827px) 100vw, 827px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Agaknya akrab dan hangat, plus lesung pipit dan ganteng, menjadi formula yang menarik bagi cewek-cewek. Jadi ketika masih imut-imut SD, misalnya, Tin sudah \u2018pacar-pacaran\u2019 dengan kawan sekelas walau sebenarnya cuma sekedar menulis-nulis nama MD -saya ingat nama \u2018pacar\u2019 pertamanya itu Diana. <\/p>\n\n\n\n<p>Belakangan ketika SMP, ada lagi \u2018pacar-pacaran\u2019 yang juga bersingkatan, kali ini MW dengan Wira. Masuk SMA, bahkan ada seorang cewek, yang saya tak tahu dia kenal di mana, datang ke rumah ketika kami belum punya telepon. Ibaratnya, level dia sudah 6 atau 7 sementara Tum dan Ton masih 0 karena sekedar rasa suka sama seorang perempuan saja belum terlintas.<\/p>\n\n\n\n<p>Tin memang progresif sejak kecil, dan juga \u2018nyeni\u2019. Pada masa 1970-an sampai akhir hayatnya dia tak pernah puas dengan produk-produk massal industri. Dulu kalau beli jin Levis, misalnya, nggak bakal ada dari toko yang langsung pakai dan beres urusan. Tidak begitu buat Tin. Pasti ada saja yang \u2018ditukangi\u2019, entah kancingnya dicabut atau lipatan bawah dilepas. Beli sepatu juga, ketika Adidas menjadi tren pengganti Bata, maka tiga garis legendaris Adidas itu dimodifikasi dengan spidol.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 1992 saya meliput Olimpiade Barcelona dan langsung cuti pulang ke Medan. Khusus saya belikan dia mancis dan dompet kulit dengan logo Olimpiade Barcelona, yang saya yakin jadi barang eksklusif di Medan. Begitu saya serahkan, kedua barang itu langsung \u2018ditukanginya\u2019.&nbsp; Sambil kami ngobrol di ruang TV, dikorek-koreknya mancis itu sehingga logo Olimpiade Barcelona-nya hilang menjadi mancis yang bahkan lebih buruk dari mancis biasa yang dijual di Pajak Sore. Soalnya hasil tukangannya membuat mancis Barcelona bukan cuma berwarna perak biasa, tapi berbaret-baret! Dompet kulit pun sama nasibnya:  berbolong-bolong kecil bekas borderan logo Olimpiade Barcelona.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5700\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2-750x500.jpeg 750w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_03-2.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Anti produk massal itu adalah bagian dari yang dulu sering dia sebut sebagai anti-kemapananan yang pelan-pelan berkembang menjadi ideologinya dan ditulisnya dalam buku \u2018Unkonvesional\u2019. Kawan-kawan dan sanak saudara jelas melihat bahwa sepeda-nya pun bukanlah sepeda yang digunakan oleh kebanyakan orang. Juga bukan sekedar sepeda kuno yang antik, tapi, yakinlah, pasti ada yang ditukangi sehingga cocok persis dengan topi dan oblong busuknya, yang juga sudah diatur untuk harmonis dengan sepeda agar sempurna masuk dalam bingkai \u2018unkonvensional\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Ideologi itu sendiri tidak menyebar, mungkin karena jelas terlalu berat buat banyak orang di jaman globalisasi dengan standar produk yang kaku. Tapi dia tetap berkeras dan rajin ke sana ke mari menerbitkan ulang \u2018Unkonvensional\u2019 sampai menemukan penerbit tahun 2020 lalu. Saya  bertanya lewat aplikasi Telegram apakah bukunya laris. Ternyata tidak maka saya sok-sok menyarankan, \u201cGimana kalau kontak kawan-kawan lama supaya beli\u201d tapi malah dibentaknya, \u201cKalau cuma saran-saran kayak gitu, nggak usahlah sampaikan!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sempat kesal &#8211;<em>dikasih saran kok membentak<\/em>&#8211; saya jadi malu sendiri. Betapa konvensional-nya saran itu di masa pandemi, ketika banyak orang yang bahkan membayar untuk menerbitkan buku yang dijual ke kawan-kawan sendiri. Pemasaran langsung ke komunitas sekitar&nbsp; -yang baru muncul di benak saya tahun 2021- sudah diwujudkannya belasan tahun sebelumnya, ketika \u2018Unkonvensional\u2019 cetakan pertama dan dua buku lainnya terbit.&nbsp;<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Saya dekat dengan Tin atau persisnya jadi anak buahnya. Mungkin awalnya karena urusan praktis semata. Waktu SD, setiap pagi mau ke sekolah, misalnya, kami berjalan kaki beberapa ratus meter ke rumah seorang dokter yang punya mobil Land Rover Defender yang panjang untuk numpang ke sekolah. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"427\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_02-2.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5702\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_02-2.jpeg 640w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_02-2-300x200.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Jaman itu pula sekeliling rumah kami masih berupa hamparan sawah dan sesekali bertemu ular yang meliuk-liuk di jalanan. Saya takut setengah mati, tapi Tin tenang saja menarik tangan saya menjauh dari ular yang masih melata ke ujung jalan. Sekarang mungkin saya tertawa karena cuma ular kecil yang tidak mungkin mengejar dan mematuk tapi masa 1960-an akhir, saya kagum ada orang yang \u2018cuek\u2019 sama ular.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Tin punya SIM motor, maka saya ikut naik pangkat duduk di goncengan untuk pergi dan pulang sekolah. Tahun 1978 kami ditabrak angkutan kota waktu pulang sekolah. Telak ditabrak dari d\u00e9pan sampai Tin tak sadar sekitar semingguan. Nyawanya tergantung pada pasokan darah, oksigen, dan infus sedang saya cuma gegar otak -cukup istirahat berbaring tanpa bantal. Tin bertahan hidup dengan berbagai jahitan di wajah. Saya duga pengalaman itu membuat dia semakin yakin bahwa hidup dijalani saja, tak perlu direncanakan rumit-rumit.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya juga anak buahnya waktu ikut-ikutan berenang sampai masuk klub Bara Taruna di kolam renang Senayan Medan. Jika dia amat serius dengan renangnya karena badannya relatif tinggi maka saya cuma ecek-ecek. Juga ikut jadi anak buahnya nonton pertandingan polo air di jaman Raja Nasution, ayahnya perenang nasional, Eflira Rosa Nasution. <\/p>\n\n\n\n<p>Dia selalu bersemangat dengan dua olahraga air itu dan sempat sempat pula jadi asisten pelatih renang tapi, begitulah, dia tak suka hidup terstruktur dan pelan-pelan semakin larut dengan kegiatan LSM yang memberi perhatian pada anak jalanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bersama anak jalanan dia galang pemberontakan, bukan melawan pemerintah tapi orang tua, guru sekolah, dan pemuka agama, yang menurutnya telah menyempitkan makna keberhasilan seseorang terbatas dalam kotak-kotak kemapanan. Dia menjalin jaringan dan sempat tinggal di Yogyakarta membawa semangat \u2018unkonvensional\u2019 ke jaringan Samin (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) dengan main bersama anak jalanan, ngobrol, melawan-lawan doktrin konvensional sambil bernyanyi-nyanyi. Ada satu lagu mereka yang juga diajarkannya ke saya -lupa lengkapnya tapi teringat terus sampai sekarang- \u2026<em>kupetik matahari lalu kubagi sama rata\u2026&nbsp;<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika rezim Orde Baru campur tangan urusan internal gereja HKPB dengan mengganti Ephorus atau pimpinan tertinggi, Tin terlibat sengit dalam gerakan perlawanan dan dikejar-kejar tentara. Musuhnya bukan lagi sekedar kaum mapan, tapi rezim korup yang punya banyak sumber daya untuk menggunakan kekerasan. Tak tahu persisnya tapi kami sekeluarga kaget menerima kenyataan dia sampai melarikan diri mengungsi ke Pontianak, Kalimantan Barat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"552\" height=\"368\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_01-2.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5701\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_01-2.jpeg 552w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/martin_01-2-300x200.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 552px) 100vw, 552px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dia rupanya kerasan di Pontianak dan semakin dalam pijakannya ketika menikah dengan Idawatie untuk pindah lebih ke pelosok lagi: Parindu di Kabupaten Sanggau, sekitar 170-an kilometer dari Pontianak. Tinggal di kampung kecil, dia tetap yakin dengan ideologi \u2018unkonvensional\u2019 yang terus dibawanya ke sana ke mari, termasuk sesekali menyeberang ke Pulau Jawa. Dengan karakternya yang sejak dulu suka bergaul, maka diapun melintasi batas-batas generasi, etnis, agama, dan berbagai golongan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sering pula saya \u2018jual\u2019 namanya jika meliput kegiatan LSM beragenda kesetaraan, hak asasi, apalagi kesejahteraan anak. Biasanya namanya cukup ampuh dan sayapun mendapat sambutan hangat dari mereka, seperti beberapa, antara lain, yang saya ingat jelas: mendiang Asmara Nababan, mendiang Mohammad Farid, Sandra Moniaga, Arist Merdeka Sirait, Rusdi Marpaung, maupun pelukis aliran rakyat berpikir merdeka: Yayak \u2018Kencrit\u2019 Yatmaka. Sebut namanya dan suasanapun cair!<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan keampuhannya bisa menyeberang belasan ribu kilometer sampai ke London. Seorang teman pemerhati film yang studi S3 tentang film di London, Eric Sasono, pernah bercerita diminta untuk melihat versi awal \u2018Istirahatlah Kata-Kata\u2019 tentang Widji Thukul. Waktu itu Tin sudah bercerita kepada Tum dan Ton bahwa ada bagian Widji Thukul yang tinggal di rumah mereka dalam film tersebut. Maka saya \u2018jual\u2019 bahwa Martin Siregar adalah abang saya kepada Eric, yang kaget dan -saya duga- menaikkan pamor saya bukan lagi cuma sebatas jurnalis yang biasa-biasa saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Memang banyak pegiat yang kaget mendapati saya adalah adik Tin karena mungkin saya berkesan datar, dingin, membosankan dan -menurut ukuran \u2018unkonvesional\u2019-&nbsp; tergolong tradisional dan mapan. Amat berbeda dengan Tin yang konsisten untuk menjadi progresif dalam kehidupan sehari-hari, cara berpikir, sampai penampilan fisiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi sebenarnya saya adalah murid sejatinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Ide-ide tentang kejujuran, penentangan atas kemapanan maupun kesetaraan tanpa kelas, serta anak-anak yang harus berpikir merdeka amat kuat di benak saya. Bedanya: Tin turun tangan tak henti-hentinya melakukan sesuatu untuk ide itu di pelosok sebuah kabupaten sedang Ton cuma cakap-cakap kosong membahasnya dengan kawan-kawannya sambil minum bir di salah satu pub di kota pusat keuangan dunia.\u00a0<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Liston P Siregar<\/strong>, editor ceritanet.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika Bapak kami menemukan panggilan Tum, Tin, Ton maka Mamak yang membeli tiga boneka kecil perempuan dengan wajah serius, tertawa, dan menangis. Boneka yang mencerminkan Tumpal yang serius, MarTin yang riang, dan LisTon yang cengeng.&nbsp; Begitulah kami bertiga laki-laki dikenal di kalangan keluarga besar Siregar-Gultom di Medan akhir 1960-an namun hingga menjadi bapak-bapak, rasanya, masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5,8],"tags":[808,1061,1063,1009,1065,1066],"class_list":["post-5703","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","category-memoar","tag-ceritanet","tag-edisi438","tag-martinsiregar","tag-memoar","tag-samin","tag-unkonvensional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5703","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5703"}],"version-history":[{"count":23,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5703\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7002,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5703\/revisions\/7002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5703"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5703"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5703"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}