{"id":579,"date":"2017-04-20T00:05:07","date_gmt":"2017-04-20T00:05:07","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=579"},"modified":"2020-06-27T00:10:04","modified_gmt":"2020-06-27T00:10:04","slug":"teheran-dalam-stoples-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=579","title":{"rendered":"Teheran Dalam Stoples"},"content":{"rendered":"\n<p>. Sebuah Foto yang Terbingkai<br>Aku mulai berharap-harap cemas. Mataku mulai menunjukkan gelagat ketidak percayaan diri yang sangat. Aku berjalan mondar mandir seperti yang dilakukan temanku yang lain. Ini adalah hari semua tim akan rapat, hari ketika kami merasa panik dan juga takut.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap dua minggu sekali kami mengalami hal yang sama namun rasa takutnya tak berubah sedikitpun. Harga diri kami pertaruhkan pada hari rapat lengkap tim. Aku berharap kalau aku sudah melakukan akan menjadi yang terbaik. Sedikit egois memang namun harga dirilah yang aku, dan mungkin juga kawan-kawna lain, pertaruhkan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Isaac memasuki ruang kerjaku. Ia mulai melirik sebuah foto yang sudah terbingkai. Aku dan Ali, adalah anak di dalam foto. Bukan hanya dia yang bertanya namun semua orang yang masuk ke ruangku menanyakan hal yang sama. Isaac juga melihat banyak guntingan kertas dan foto.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau tak menyuruh clening servise untk membersihkannya.\u201d<br>\u201cBelum,\u201d aku mulai duduk di kusen jendela.<br>\u201cBagaimana Ali, apakah kalian mengingat masa kalian besama? Apakah kalian mengingat masa bertemu pertama kali dan berpisah ?\u201d<br>\u201cAku malah ingin melupakan masa perpisahan kami. Kau tahu aku benci hari itu.\u201d<br>\u201cKenapa?\u201d<br>\u201cAku tak tahu. Terlalu menyakitkan untuk ingat dan juga terlalu indah untuk dikenang. Tangannya sangat lembut selembut mentega dan matanya\u2026 oh\u2026sangat indah. Kau akan terbuai jika menatap matanya. Saat aku mengandeng tangannya, aku tahu kalau ia temanku. Ia tak bisa bicara bukan karena bisu tapi ia tak mau.&#8221;<br>&#8220;Hari itu, aku melihat sebagai hari yang baru,&#8221; tambahku lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kenangan itu menyerang kembali.<\/p>\n\n\n\n<p>Semenjak pagi aku sudah duduk di anak tangga yang paling bawah dengan stoples yang berisi bunga kering, kerikil, dan juga satu bunga pinus kering. Aku mengumpulkannya susah payah selama lebih dari satu bulan. Aku hanya berkonsentrasi pada stoples itu, hartaku yang paling berharga dan tak memperdulikan yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sana, di ruang tamu kulihat ibuku memberikan setumpuk uang ke tangan Khala, yang menangis sementara namun ibu dengan sekuat hati meredakannya. Ketiga anak Khan, teman kecilku, di depan pintu gerbang kami. Mereka menangis tersedu-sedu namun aku malah senang karena aku akan pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga anak Khan datang merangkulku. Menjamah hatiku yang kalut akan kerinduan akan kasih sayang keluarga besar. Mereka merangkulku dan aku hanya terdiam.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk didekat tangga. Kulihat Ali di ujung tangga atas. Ia melihatku dengan penuh kehampaan. Ia ingin bicara namun hatinya terlalu kaku, sekaku rambut Khafsah dan juga sepenakut pinokio.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mendekatiku dan menemaniku duduk kembali di tangga. Ibuku beramah tamah dengan tetangga dan kenalan yang sengaja datang ke rumah kami untuk menyampaikan salam perpisahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku baru mau berjalan melepas diri dari tangga ketika seorang anak perempuan bersama ibunya datang. Khafsah akhirnya datang.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku mendekatinya. Ia menangis dan kami beperlukan. Dengan tanganku aku memeluknya, merasakan deritanya yang tak bisa aku ungkapkan. Jiwanya kesakitan karena ia sadar hanya aku teman yang ia miliki, seorang teman yang mau menerima keadaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepalanya kuangkat dan kuhapus air mata temanku walau hatiku sebenarnya tak merasa iba sedikitpun. Pikiranku terbang ke tempat lain. Aku sangat jahat dan saat itu seperti kejahatan terbesar yang pernah kulakukan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cMan nimikham azet juda besham.<\/em> (Aku tak mau berpisah denganmu.),&#8221; katanya dengan penuh perasaan yang menunjukkan jati diri manusia. Menunjukkan hal manusiawi bahwa perempuan itu memang mahluk yang perasa.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Tapi aku sedang marah dengan boneka besarku karena ia dengan sengaja menjatuhkan stoples hartaku. Seperti biasanya ia tak menunjukan penyesalan. Setelah melukai hatiku, ia langsung berlari menuju kamarnya. Aku enggan mendekatinya meski ingin mendengar sepatah kata darinya. Aku merindukannya sekaligus membencinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada seorangpun yang memunguti kenangan Teheranku. Biji-biji kering itu seperti tetap menghiasi lantai. Aku hanya mampu menoleh dan sepintas kulihat Ali yang sedang memandangi aku lewat jendela.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku benci kenangan yang mengecewakan itu,\u201d tuturku kepada Isaac.<br>\u201cDia mungkin marah.\u201d<br>\u201cApa?\u201d aku berbalik melihat Isaac yang dengan santai mengambil piguraku.<br>\u201cKau tak tahu ya. Ia marah, kesal, dan juga bingung. Ia tak mau kehilangan kau karena hanya kaulah temannya. Ia takut menjadi seorang diri lagi.\u201d<br>\u201cBenarkah?\u201d<br>\u201cItu benar.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku suka membayangkannya: Ali marah karena aku akan meninggalkannya. Tapi ia tak mau atau tak bisa untuk mewujudkan perasaannya itu, walau hanya untuk sekali saja. Hanya satu kata dari Ali: hanya itu yang aku mau. Jika ia menyanyangiku pastinya ia akan mau dan bisa melakukannya. Ini tidak. Maka aku ragu dengan semuanya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Kau menyesal?\u201d<br>\u201cApa?\u201d<br>\u201cApakah hanya kata apa yang menjadi kosa katamu hari ini?\u201d<br>\u201cTidak, aku hanya merasa kalau apa yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan. Ingin sekali mengulanginya Isaac. Mengulangi waktu dan meminimal kesalahan.\u201d<br>\u201cTak usah kembali. Perbaikilah kesalahan hari in,i tak usah kembali ke yang lalu karena hanya merupakan angan-angan yang tak bernalar.\u201d<br>\u201cIsaac apa mereka akan menerimaku lagi?\u201d<br>\u201cMungkin. Tapi tuju puluh persen ia akan menerimamu lagi,\u201d tegasnya sambil melirikku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tatapan itu tak menyakinkan. Tatapan itu hanya mengundang tanya. Aku, siapa aku? Akankah seorang gadis yang menghilang selama lima belas tahun akan dengan mudah mendapatkan kembali yang ia inginkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, bagaimana dengan masa depanku. Mungkin aku hanya merasakan rindu kampung halaman. Aku juga pernah bermimpi bermain dengan Reni dan mencuri tebu petani, mencari burung puyuh dan -aku juga ingat- ketika mencuri mangga saat hendak mengaji. Tapi kenapa penekanan masa laluku hanya pada kelima teman cilikku. Sebenarnya apa yang terjadi denganku?<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau kenapa?\u201d tanya Isaac sambil menyandarkan bahunya di kursi.<br>\u201cHanya berpikir.\u201d<br>\u201cApa lagi yang kau pikirkan?\u201d<br>\u201cAku mungkin merindukan kampung halamanku.\u201d<br>&#8220;Kau yakin?\u201d<br>&#8220;Aku tak tahu.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Kutaruh cangkir kopi dan berjalan menuju papan pengumuman. Aku melihat ide siapa yang diambil. Kali ini ada dua ide yang terpampang. Ide untuk edisi berikutnya milik M. Durant. Ide dengan tema Class 2006.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melirik ke lembaran berikutnya. Ini tak biasa. Sebuah majalah yang akan terbit satu bulan lagi namun sudah direncanakan bersamaan dengan ide edisi lain. Tapi kanehan itulah yang membukakan jalanku pada pintu yang aku cari.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu ide milikku, itu karyaku yang mengambarkan tentang Teheran dan juga gaya hidupnya. Ternyata gambar ibuku memang berkelas walaupun apa adanya. Aku senang bukan main. Semuanya bunyar ketika bos botak dengan perut buncitnya mendekatiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tak berpikir banyak hal. Aku hanya senang menerima kalau akulah yang menjadi edisi berikut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cFoto yang lumayan,\u201d Arti kata lumayan sebenarnya adalah kata yang buruk. Kata lumayan mengandung makna jauh dari kata layak.<br>\u201cIbuku yang mengambilnya.\u201d<br>\u201cSudah kuduga bukan kau yang mengambilnya.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku berbalik menatap ujung rambutnya dan ia menatapku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku suka.\u201d<br>\u201cApa?\u201d tanyaku sambil melihat Isaac yang juga mengamati desain majalahku.<br>\u201cIya. Suka dengan yang kau disain namun tak yakin dalam jangka waktu cepat bisa kau selesaikan,\u201d katanya sambil ikut dalam lingkaran forum&nbsp; kecil.<br>\u201cKau saja yang jadi fotografernya. Aku dengar kau pernah tinggal di Teheran.\u201d<br>\u201cBaik bos.\u201d&nbsp;<br>***<br><em>bersambung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>. Sebuah Foto yang TerbingkaiAku mulai berharap-harap cemas. Mataku mulai menunjukkan gelagat ketidak percayaan diri yang sangat. Aku berjalan mondar mandir seperti yang dilakukan temanku yang lain. Ini adalah hari semua tim akan rapat, hari ketika kami merasa panik dan juga takut. Setiap dua minggu sekali kami mengalami hal yang sama namun rasa takutnya tak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[69,64],"class_list":["post-579","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel","tag-69","tag-aminatul-faizah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=579"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":582,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579\/revisions\/582"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=579"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=579"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=579"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}