{"id":5819,"date":"2022-01-14T23:25:36","date_gmt":"2022-01-14T23:25:36","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5819"},"modified":"2022-01-14T23:25:37","modified_gmt":"2022-01-14T23:25:37","slug":"kematian-sang-gembala-babi-abul-muamar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=5819","title":{"rendered":"Kematian Sang Gembala Babi &#8211; Abul Muamar"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cUlangi, untuk siapa kau bertugas?\u201d<br>\u201cSiap! Untuk negara!\u201d<br>\u201cLebih keras!\u201d<br>\u201cSiap! Untuk negara!\u201d<br>\u201cSiap menumpas pengkhianat?\u201d<br>\u201cSiap! Siap menumpas para pengkhianat!\u201d<br>\u201cTermasuk si pendeta itu?\u201d<br>\u201cSiap! Termasuk pendeta itu.\u201d<br>\u201cLebih keras!\u201d<br>\u201cSiap! Termasuk pendeta itu!\u201d<br>\u201cBagus. Laksanakan tugasmu!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tentara muda pejabat komando rayon itu segera pamit kepada komandan distrik. Langkahnya tegas, namun berat. Ada bongkahan keraguan yang mengganjal pikirannya. Ancaman pencopotan hingga pemecatan menantinya bila gagal menjalankan perintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Baku tembak yang terjadi dua hari sebelumnya membuat ia harus menghadap atasannya. Baku tembak itu menewaskan seorang tentara republik, anggota komandonya. Senjata anggotanya dirampas oleh kelompok separatis. Namun, baku tembak itu hanyalah puncak dari laporan yang menyebut bahwa ia sering berkunjung ke rumah Yeremia. Karenanya, bukan kematian prajurit itu yang membuat komandan distrik turun tangan, melainkan fakta bahwa ia menjalin hubungan dengan Yeremia. <\/p>\n\n\n\n<p>Pun begitu, senjata yang dirampas itu juga menjadi masalah serius. Tak ingin ada tuduhan memasok senjata kepada kelompok separatis, komandan distrik memerintah segerombol prajurit untuk menggeledah semua rumah penduduk di Kampung Sugapa Lama, tempat baku tembak itu terjadi, untuk menemukan senjata yang dirampas itu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Ketukan di pintu belakang rumah itu terdengar mendesak. Kalau saja tak mengenal suara yang lamat-lamat memanggil-manggil di luar, penghuninya tak akan mau membukakan pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTolong Mama. Tolong Mama,\u201d kata si tamu, dengan napas tersengal-sengal begitu tuan rumah membuka pintu.<br>\u201cAda apa, Mama?\u201d<br>\u201cBapak, Bapak\u2026\u201d<br>\u201cKenapa Bapak?\u201d<br>\u201cBapak ditembak, ditikam\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kepanikan segera menular. Si penghuni rumah bergegas membangunkan adiknya. Jika bukan karena mendengar kabar Yeremia ditembak, mungkin adiknya akan berpura-pura tidur meskipun sudah kembali dari alam mimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi mana Bapak sekarang, Mama?\u201d<br>\u201cDi kandang babi. Cepat ke sana. Tolong dia. Mama ke rumah Yusak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara Meriam Zoana pergi menuju rumah Yusak, kakak beradik itu berlari menuju kandang babi Yeremia, menerobos gelapnya hutan kampung. Meriam tak memedulikan apapun yang diinjaknya di kegelapan malam di tengah hutan sepanjang jalan menuju rumah Yusak. Duri-duri perdu liar yang menusuk telapak kakinya yang telanjang tak lagi memberikan rasa sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Yusak, yang badannya memar-memar karena dipukuli tentara republik, tengah merokok di depan pintu rumahnya yang tak ditutup. Batinnya sudah merasakan sesuatu yang tak beres saat melihat Meriam berlari tergopoh-gopoh dari jarak belasan meter sebelum mencapai halaman rumahnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYusak! Yusak!\u201d<br>\u201cAda apa Mama?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Meriam sejenak ragu memberitahu Yusak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYusak\u2026\u201d katanya, setengah berbisik.<br>\u201cKasih <em>sa<\/em> tahu ada apa, Mama?\u201d Yusak juga memelankan suaranya.<br>\u201cBapak, Yusak. Bapak ditembak. Ditembak, Yusak. Ditikam\u2026\u201d<br>\u201cSiapa yang tembak?\u201d<br>\u201cAnak muda itu. Kau tahu, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yusak langsung menangkap siapa yang dimaksud Meriam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMama tinggal di sini. <em>Sa<\/em> akan tolong Bapak. Di luar tidak aman. Kunci pintu dari dalam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Meriam, meski berat, mengiyakan. Saat Yusak menghilang ditelan kegelapan hutan, tangis yang sudah ditahannya akhirnya pecah.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Para penduduk Kampung Hitadipa yang mayoritas adalah Suku Moni, sangat menyayangi Yeremia. Bagi mereka, Yeremia tak sekadar pendeta, tapi juga pahlawan. Tanpanya, mereka tak akan memahami isi Injil. Dengan telaten selama belasan tahun, pendeta yang lebih senang disebut gembala babi itu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Moni.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak cuma perkara iman ia berjasa. Kebaikannya yang tak habis-habis justru ia berikan di luar urusan gereja. Tiap panen, Yeremia selalu membagi-bagikan padi ladangnya kepada semua penduduk. Ia sendiri hanya perlu menyimpan sedikit sampai panen berikutnya. Pun begitu dengan ternak babinya. Ia tak pernah menjualnya. Babi-babi itu ia pelihara untuk dimakan bersama-sama dengan warga.<\/p>\n\n\n\n<p>Siang itu, Yeremia baru saja hendak masuk ke dalam rumahnya usai menyemai benih padi ladang di kebunnya ketika seorang pemuda menyapanya dengan teriakan kecil, penuh kehangatan. Pemuda itu mempercepat langkah untuk menghampiri Yeremia. Ia membungkuk dan mencium tangan Yeremia dengan takzim. Yeremia mencoba menghalau tindakan pemuda itu karena tangannya masih kotor, namun terlambat karena gerakan pemuda itu terlalu cepat. Tampak ketulusan di mata pemuda itu saat memperkenalkan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNama saya Alpius, Bapak Pendeta.\u201d<br>\u201cAlpius\u2026\u201d<br>\u201cYa, Bapak. <em>Sa<\/em> dari Poso.\u201d&nbsp;\u201cSelamat datang, Anakku,\u201d kata Yeremia setelah memerhatikan pemuda itu, \u201cselamat datang di tanah yang subur dan kaya ini.\u201d<br>\u201cTerima kasih, Bapak Pendeta, terima kasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pemuda itu diajak masuk. Mereka duduk di ruangan kecil, tempat Yeremia biasa menerima tamu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah berapa lama Nak Alpius bertugas di sini?<br>\u201cBaru, Bapak. Baru dua minggu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dari obrolan itu, Yeremia tahu bahwa tamu di hadapannya adalah tentara yang ditugaskan di markas komando rayon. Meski masih muda, dia diberi mandat sebagai wakil komandan. Yeremia senang belaka dengan kedatangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama, istri Yeremia keluar dari dapur, membawa minuman untuk si tamu. Sama seperti yang dilakukannya pada Yeremia, pemuda itu juga mencium tangan Meriam saat memperkenalkan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOrang sini semua panggil saya Mama. Jadi panggil saya Mama saja.\u201d<br>\u201cSiap, Mama!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka pun mengobrol bertiga. Yeremia dan istrinya secara bergantian menanyai si pemuda, mulai soal karier kemiliterannya hingga urusan asmara si pemuda. Sepintas mereka terlihat seperti keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBapak Pendeta, bolehkah saya menumpang mandi?\u201d kata pemuda itu, usai berjam-jam mereka mengobrol.<br>\u201cTentu saja. Anggap rumah ini rumahmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak hari itu, hubungan pendeta Yeremia dengan Alpius semakin akrab. Hampir setiap hari Alpius menumpang makan dan mandi di rumah Yeremia. Sesekali ia juga menginap di rumah Yeremia. Sebagai bentuk balas budi, ia membantu Yeremia menggarap ladang dan bertani. Ia ikut menanam, menyiangi, hingga memanen padi ladang di kebun Yeremia. Ia juga menanam kacang tanah dan singkong di lahan yang masih kosong.<\/p>\n\n\n\n<p>Yeremia dan istrinya bahagia dengan keberadaan pemuda itu di rumah mereka. Diam-diam mereka menganggap pemuda itu seperti anak mereka sendiri. Tak cuma dekat dengan keluarga Yeremia yang tak punya anak, Alpius juga akrab dengan penduduk sekitar gereja. Dengan anak-anak, ia sering bermain, menggendong mereka ke sana kemari. Dan anak-anak pun senang pula dibopong-bopong olehnya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Dua hari setelah baku tembak yang menewaskan seorang tentara republik, para penduduk Hitadipa dikumpulkan di lapangan depan kantor Koramil Hitadipa, di bawah todongan senjata laras panjang. Kebanyakan dari mereka tinggal di Kampung Sugapa Lama yang dihuni orang-orang Moni. Di antara warga yang dikumpulkan itu, ada Melianus Wandagau, kepala suku Moni. Juga di sana ada Yeremia Zanambani, Meriam Zoana, dan Yusak. Mereka ditanyai satu per satu perihal keberadaan senjata milik tentara republik yang dirampas. Mereka semua menjawab tak tahu. Beberapa orang dihantam dengan gagang senjata karena menjawab dengan intonasi yang terkesan melawan. Mereka dibubarkan ketika matahari mulai menyengat dan perut para tentara yang mengancam mereka mulai keroncongan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jelang sore, mereka kembali dikumpulkan di depan Gereja Imanuel 1 oleh orang nomor dua di komando rayon. Kali itu tidak ada Yeremia dan istrinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPendeta gembala tidak pernah mengajarkan sepuluh perintah Tuhan kepada jemaat gembala untuk membunuh orang, tapi si pendeta itu malah membunuh orang,\u201d kata si pejabat koramil mondar-mandir. Semua orang yang dikumpulkan di halaman gereja itu tahu belaka kepada siapa kalimat itu ditujukan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Yusak, yang tak terima atas ucapan itu, membantah dengan lantang. \u201cPendeta kami tidak pernah ajarkan kami membunuh. Kau jangan sembarangan bicara. Kau tentara tak tahu terima kasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Si pejabat koramil segera menghampiri Yusak dan menghajarnya sampai tersungkur. Penduduk yang lain hanya berani melihat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang menjadi musuh, pengkhianat, lawan dan perang dengan saya,\u201d kata si pejabat koramil setelah puas menghajar Yusak. Para wanita yang dikumpulkan mulai menangis, memohon agar dipulangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat tangisan warga semakin nyaring, seorang tentara utusan datang ke halaman gereja itu menghampiri si pejabat koramil. Ia mengabarkan bahwa seorang anggota komando mereka tewas tertembak di gedung SD YPPGI di dekat markas mereka. Mendapat kabar itu, si pejabat koramil bergegas pergi dari halaman gereja, meninggalkan begitu saja warga yang sudah dikumpulkannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengajak tiga anggotanya menuju rumah Yeremia. Kepada anggotanya yang lain, ia perintahkan mengejar penembak sampai ke balik punggung bukit di samping markas mereka. Di perjalanan, mereka menembaki perkampungan penduduk di sepanjang muara Sungai Hiyabu dan Sungai Dogabu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Orang nomor dua koramil dan tiga anggotanya tiba di rumah Yeremia sebelum petang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMama lihat Bapak Pendeta?&#8221; tanyanya.<br>&#8220;Bapak masih di kandang babi,&#8221; jawab istri Yeremia.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa menggubris ajakan untuk masuk dan minum, si pejabat koramil dan tiga anggotanya itu langsung pergi. Meriam merasakan ada sesuatu yang tak beres.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara si pejabat koramil berjalan kaki mendatangi kandang babi Yeremia bersama tiga anggotanya, di tempat terpisah, berkompi-kompi prajurit dari komando distrik dikerahkan untuk membakar Kampung Taunduga, termasuk puskesmas dan rumah sakit. Mereka mengira bahwa anggota kelompok separatis bersembunyi di kampung itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama berselang, si pejabat koramil sampai di jalan setapak menuju kandang babi Yeremia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalian di sini saja,\u201d perintahnya kepada dua anggotanya. Ia meminta mereka mengawasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bersama seorang anggotanya, si pejabat koramil berjalan mengendap-ngendap menuju kandang babi Yeremia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Angkat tangan!&#8221;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Babi-babi di kandang itu panik. Sebagian lari keluar kandang. Yeremia pasrah mengangkat tangannya. Bola matanya segera berpindah ke arah tentara yang satunya, si pejabat koramil. Ia menyebut nama tentara muda itu, lirih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua pengkhianat akan<em> sa<\/em> tembak!\u201d kata si pejabat koramil tanpa melihat wajah Yeremia.<br>\u201c<em>Sa<\/em> hamba Tuhan, <em>sa<\/em> bukan pengkhianat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat setelah mengucapkan itu, peluru bersarang ke lengan kiri Yeremia. Ia segera roboh, telungkup di antara babi-babinya yang berputar-putar ketakutan di dalam kandang. Sejurus kemudian, sebilah pisau tentara menembus punggungnya. Dua tentara itu pergi tanpa memastikan ia sudah mati atau belum.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat langit sudah gelap, Meriam Zoana memberanikan diri ke kandang babi untuk menjemput suaminya. Ia melihat suaminya tergeletak telungkup di tanah, di luar kandang babi. Yeremia mencoba mencari pertolongan usai tentara-tentara itu pergi. Ia mengesot-ngesot keluar dari kandang babinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam keadaan sekarat, dengan sisa-sisa napas terakhirnya, Yeremia membisikkan sesuatu ke telinga Meriam.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Orang yang kita kasih makan yang tembak dan tikam\u2026&#8221; <br>***<\/p>\n\n\n\n<p>&#8211; <em>Cerita ini diadaptasi dari kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.<\/em><br>&#8211; <em>Sa<\/em>: saya<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Abul Muamar<\/em><\/strong><em>, lahir di Perbaungan, 6 November. Alumnus Pascasarjana Filsafat UGM. Menulis kumpulan cerpen bertajuk \u2018Pacar Baru Angelina Jolie\u2019 (Gorga, 2019).<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cUlangi, untuk siapa kau bertugas?\u201d\u201cSiap! Untuk negara!\u201d\u201cLebih keras!\u201d\u201cSiap! Untuk negara!\u201d\u201cSiap menumpas pengkhianat?\u201d\u201cSiap! Siap menumpas para pengkhianat!\u201d\u201cTermasuk si pendeta itu?\u201d\u201cSiap! Termasuk pendeta itu.\u201d\u201cLebih keras!\u201d\u201cSiap! Termasuk pendeta itu!\u201d\u201cBagus. Laksanakan tugasmu!\u201d Tentara muda pejabat komando rayon itu segera pamit kepada komandan distrik. Langkahnya tegas, namun berat. Ada bongkahan keraguan yang mengganjal pikirannya. Ancaman pencopotan hingga pemecatan menantinya bila [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1088,808,804,1091,1092,1089,1090],"class_list":["post-5819","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-abulmuamar","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi350","tag-kematiansanggembalababi","tag-papua","tag-pendetayeremia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5819"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5847,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5819\/revisions\/5847"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}