{"id":590,"date":"2017-03-16T00:16:00","date_gmt":"2017-03-16T00:16:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=590"},"modified":"2020-06-27T00:22:01","modified_gmt":"2020-06-27T00:22:01","slug":"teheran-dalam-stoples-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=590","title":{"rendered":"Teheran Dalam Stoples"},"content":{"rendered":"\n<p>-. In Memory<br>Aku tahu judulnya. In memory adalah judul yang pas. Aku mengambil semua foto yang ibu kirimkan, merangkainya dalam satu alur cerita dan aku kumpulkan sema momen dalam hidup: baik bahagia, sedih, kecewa pasrah atau yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku bekerja hingga larut malam. Aku ubah lantai kantorku menjadi musalah dan juga menjadi latar dalam ideku. Aku biarkan semua foto yang ibu kirimkan. Aku susun menjasi sebuah pola dan kutulis, kutempel di atas karton putih dan kupajang di tembok kantor.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya usai sudah. <em>Alhamdulillah ya Allah<\/em> akhirnya usai juga.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku berjalan di malam gelap di antara hingar binar kota yang tak pernah tidur. Di sana di depanku ada segeromblan wisatawan yang sedang melakukan tur malam. Mereka mengendarai sepeda melihat indahnya kota paris di malam hari. Melihat bintang buatan manusia yang menghiasi sudut jalanan kota ini.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang anak kecil berlari, ia menabrakku dari belakang, temannya tidak perduli. Keduanya masih sangat kecil dan sambil bergandengan tangan mereka berhenti di toko es krim. Aku sempat mengambil kamera, hendak mengambil foto mereka. Tapi lagi-lagi memori tentang Teheran datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Khafsah, ia juga mengandeng tanganku.<\/p>\n\n\n\n<p>Matanya sangat teduh dengan gairah hidup yang menyenangkan. Tangannya sehalus kasmir dan tak mengekuh walau aku berlari sangat lambat. Kami menghindar dari kejaran dua bocah kembar yang menyebalkan sepulang sekolah. Dua bocah gila yang selalu mengoceh tentang hal yang tak penting, mengomentari sesuatu yang tak seharusnya dikomentari. Kami berdua selalu takut jika melintasi pasar tanpa adanya pendamping orang dewasa. Akan ada jin botol Aladdin gila.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tak tahu siapa anak yang berkulit coklat tua dengan rambut kriwulnya. Mungkin ia suku Arab atau mungkin juga dari Yaman. Keduanya selalu berusaha mengejar kami dan jika tertangkap mereka akan menjambak rambut kami atau membuang kerudung kami di selokan. Hanya Faris dan juga dua anak buahnya yang berani dengan kedua bocah nakal itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kenakalan dua anak penjual makanan Arab itu sudah sangat terkenal. Aku bahkan sering harus mengurungkan niat untuk bermain di rumah Khafsah jika melihat dua algojo gila itu ada di depan toko mereka. Aku juga tak mau jika diajak ibu atau ayah membeli makanan, apalagi makan makan di tokonya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Suatu kali, kami sangat senang melihat tokonya tutup yang artinya kami akan aman-aman saja melintas. Namun dugaan kami salah: mereka pas membuka pintu toko saat kami berjalan santai melintas di depannya. Kami pun lari tunggang langgang dan menerjang apapun di hadapan kami. Begitu kencangnya lari kami, hingga dua keledai yang sedang ditunggangi seorang wanita bercadur kalah cepat dengan kami, yang cukan cuma cepat tapi juga berlari sangat jauh sampai melupakan akal kami. Kami tak tahu jalan mana di tuju. Pokoknya berlari sejauh mungkin agar dua jin botol Aladdin tak bisa mengejar kami lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesampainya di ujung jalan, lari kami terhenti, mengambil nafas yang sangat dalam. Akhirnya kami sampai juga di rumah munggil Khafsah dengan pagar tinggi yang khas Iran. Aku mengikuti jejak Khafsah yang memasukan kaki di kolam yang dingin. Kolam yang ada di tengah halaman adalah satu-satunya alat pendingin yang mereka miliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumahnya hanya memiliki perabotan makan yang sangat sederhana, tak ada kursi ataupun dipan untuk tidur. Karpet di ruang tamu itulah yang menjadi kamar tidur. Seperti umumnya kaum miskin Iran lainnya, keluarga Khafsah melakukan dwifungsi ruang tamu, yang disulap menjadi kamar tidur keluarga disaat malam hari.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ibunya memberiku semug yang terbuat dari seng dan juga roti nan dengan kentang dan sedikit gula di atas piring kaleng. Ujung piring sudah berkarat namun kami tak perduli. Masakan yang sederhana itu terasa enak di mulut kami.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf ya Leila&#8230; hanya ini yang mampu <em>khamum<\/em> berikan untukmu,\u201d&nbsp;kata ibunya sambil melanjutkan memintal benang dari baju Khafsah yang sudah tak terpakai lagi. Ia mendaur ulang benang wol besar menjadi sesuatu yang lain. Itulah kegiatannya setelah membuat kue untuk dagangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerima kasih <em>Khanum<\/em>, ini enak kok.\u201d<br>\u201cLeila, makanlah ya nak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengangguk dan kami santap makan makanan itu dengan lahap. Setelah makan, kami langsung memajat pohon zaitun arbequena yang tumbuh di samping kolam. Kami membantu ibu Khafsah untuk mengambil semua biji zaitun. Aku tak berani mencicipi biji zaitun karena rasanya sangat pahit walau pun sudah dimasak. Kami berhasil mengumpulkan satu ember kecil penuh dengan biji zaitun.<\/p>\n\n\n\n<p>Khafsah dan aku membersihkan biji zaitun itu dan kami tak tahu kalau sebernarnya kami meringankan beban ibunya. Yang kami ketahui adalah bermain dengan zaitun dan juga air. Kami bahkan saling bercipratan air dan saling tertawa saat aku bertanya apa bubuk putih yang ditaburkan di zaitun. <em>Khanum<\/em> tak memberi tahu aku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu gula,\u201d kata Khafsah.<br>\u201cBenarkah, boleh aku mencicipi gulanya.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Khamum hanya tertawa. Aku melihat ada konspirasi kecil di antara mereka namun rasa cintaku pada mereka menyakinkan kalau hal itu tidaklah menyakitkan. Aku mengambil sejumput putih yang ada di tangan <em>Khanum<\/em>. Aku mencicipinya dan \u2026<br>\u201cDu..uhhhh.. duuhhh. Ini asin.. ini garam kan?\u2019\u2019<br>\u201ctentu ini garam nak. Garam menetralisir agar rasa pahit zaitun hilang,\u201d Kata ibunya sambil memberiku segelas air.<br>\u201cMasa kau tak tahu,\u201d kata khafsah sambil melirikku.<br>\u201cTidak. Ibu tak pernah membuatnya.\u201d<br>\u201cKalau begitu bawalah pulang sebagian. Biar ibumu membuat minyak zaitun seperti kami,\u201d pinta kata ibu Khafsah padaku.<br>\u201cLalu minyak zaitun untuk apa?\u201d tanyaku.<br>\u201cUntuk banyak hal. Untuk minyak goreng, untuk menghaluskan kulit dan juga bisa untuk manisan tapi bukan minyak namun buahnya.\u201d<br>\u201cBenarkah, <em>Khanum<\/em>,\u201d aku mulai tak percaya dengan Khafsah.<br>\u201cIya,\u201d katanya sambil membersihkan tangan dari butiran garam.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibunya bercerita tentang zaitun yang tumbuh di rumahnya. Katanya umurnya sudah 124 tahun. Semakin tua pohon zaitun semakin banyak buahnya. Aku terdiam dan hanya berpikir pantas saja rantingnya tak patah saat aku dan Khafsah memanjatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap hari aku selalu melihat toples yang berisi biji zaitun yang mengandung garam. Aku tak sabar untuk melihat biji itu menjadi minyak. Dan aku tak punya kesempatan untuk melihat seseorang mengolahnya. Suatu hari toples itu sudah tak ada lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sedikit kecewa namun bersamaan aku melihat ada semangkuk manisan. Hatiku terobati mungkin waktu itu tapi tidak untuk saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku malah merindukan saat-saat malam yang panjang bersama kawan-kawanku di Teheran: main banyak kembang api di rumah Faris, memanjat pohon fig, melihat nenek tua Faris yang meramu mantra saat beliau memiliki nadzar, menonton Ttom &amp; Jerry di bioskop Simbab, menyaksikan ibu yang selalu mengoceh kalau tubuhku penuh dengan lumpur dan harus mengendap-ngendap lewat pintu belakang jika tubuhku penuh dengan getah pohon fig.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu saat aku melihat Ali menggambar sesuatu di gudukan tanah. Ia menggambar seorang anak-anak kecil yang diwakili dengan bentuk-bentuk tak layak namun memiliki banyak makna. Sebuah lingkaran kecil dengan garis vertikal lalu horizontal dengan banyak garis yang mewakili jari tangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Gambar itu juga memiliki kaki yang terbungkus dengan sepatu bulat. Lima orang tertawa dengan mata dan juga senyum yang melengkung. Menyenangkan sekali rasanya. Aku melihatnya dan kupandangi wajah temanku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Jariku menuju sebuah gambar yang memiliki kuncir, sebuah gambar dengan kerudung, sebuah gambar dengan bola, sebuah gambar dengan rambut kriwul, seorang anak yang tak memiliki cirri khas dan sebuah gambar yang terhenti.<\/p>\n\n\n\n<p>Gambar paling ujung itu terhapus. Aku melihat Ali menghapusnya. Bukan emam melainkan hanya lima anak.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMana dirimu Ali?\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menggelengkan kepalanya. Ali tak pernah merasa kalau ia adalah bagian dari kami. Selalu saja begitu. Ali dan Khafsah selalu merasa risih dengan kehadiran tiga Khan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa tak ada?\u201d aku mengambar seorang anak yang juga ikut bergandengan tangan.<br>\u201cIni kau. Kau adalah teman kami.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia tersenyum. Aku menggambar lagi. Menuliskan nama Ali dalam abjad arab. Alif lam ya\u2019 lalu aku menulis namaku dan terakhir kulingkari dengan garis yang membentuk hati.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau suka aku kan Ali?\u201d tanyaku dengan tiba-tiba.<br>Dia diam. Kedua pipirnya memerah dan matanya menuju ke bawah. Arti kata suka yang diucapkan gadis berusia sembilan tahun ternyata berbeda dengan arti suka seorang pemuda munggil sebelas tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Arti kata suka bagiku adalah suka, suka sebagai teman, suka sebagai saudara dan suka sebagai sahabat. Arti kata suka untuk Ali, aku tak tahu. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Arti kata suka baginya mungkin kata yang sakral hingga saat mendengarnya saja ia sudah merasa malu.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa diam?&#8221; tanyaku sambil mulai mengambil kayu yang ada di sampingku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Dia diam dan hanya tersenyum. Senyumnya bukanlah yang tulus melainkan sebuah senyuman yang hampa dan juga penuh keterpaksaan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau tak suka aku? Baiklah akan aku ganti dengan Khafsah.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku menjulurkan kakiku. Aku hapus tulisan itu segera dan menulis Khafsah. Ia melirikku dan tak berkomentar apapun. Debu tanah itu masih bisa aku cium dan juga masih ada di sekelilingku. Debu yang muncul karena kuhapus namaku. Seperti itulah mungkin aku di mata temanku. Andai Ali mau bicara mungkin aku tak akan pulang dan tak akan mengalami kerinduan ini.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku masih penasaran dengan sikapnya. Aku masih ingin tahu siapa yang ia suka. Akukah atau temanku yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAli, kau suka kan?\u2019\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Matanya hanya tertuju padaku. Mata yang sayu dengan iris yang indah dan alis mata yang hitam. Lewat matanya dia seolah bertanya puaskah aku dengan yang aku lakukan dan dengan mata pula aku menjawab bahwa aku puas jika kau puas. Mata itulah yang menyakiti dan juga mengubah kata suka dalam dirinya menjadi kata suka dalam kamusku yang tak bermakna dan mengandung arti universal.<\/p>\n\n\n\n<p>Suka yang ia maksud mungkin cinta.<\/p>\n\n\n\n<p>Ya cinta, mungkin aku adalah cinta petamanya, tapi mungkin juga tidak. Arti suka yang aku jabarkan adalah satu-satunya kata yang membuat kami mengalami kekacauan komunikasi. Kata cinta dalam balutan kata suka terlalu muluk untukku. Aku masih sembilan tahun dan aku belum tahu banyak tentang cinta.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cH<em>ai\u2026c\u2019est o\u00f9, la staton de metro ?\u201d <\/em>(hai\u2026dimana stasion metro?)<br><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang lelaki dengan tas cangklong yang menghalagi jalanku. Membuyarkan semua lamunan tentang masa laluku dan aku hanya bisa tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cC\u2019est_\u00e1 50 m\u00e8tresici,\u201d jawabku<\/em>. (Station 50 meter jauhnya)<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu ia menujuk sebuah toko yang ada di depannya. Sebuah toko dengan rancangan zaman Romawi yang menyediakan makanan Yunani tradisional yang rendah kandungan lemak. Memang sepintas toko makanan cepat saji itu menakutkan namun sebenarnya banyak kemewahan di dalamnya. Orang tak percaya dengan papan pengumuman kalau toko itu tutup selama dua hari.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cLe magasin est_ouvert?\u201d (<\/em>Apakah toko itu buka<em>?)<\/em><br><em>\u201cNon, il est ferm\u00e9.\u201d(<\/em>Tidak, toko itu tutup<em>)<\/em><br><\/p>\n\n\n\n<p>Dia kecewa, sama dengan rasa kecewaku padanya, yang membuyarkan lamunan indah masa laluku. Ia menghela nafas panjang, menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari toko lain yang cocok dengan perutnya.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cIl y a un restaurant dans I\u2019h\u00f4tel?\u201d(<\/em>Adakah resoran di dalam hotel?<em>)<\/em><br><em>\u201c Oui, il y en_a un.\u201d(<\/em>Ya ada<em>.)<\/em><br><em>\u201cC\u2019est loin? (<\/em>Apakah jauh?<em>)\u201d<\/em><br>\u201cC\u2019est <em>\u00e1 5 minutes \u00e1 pied.\u201d(<\/em>Restoran lima menit jalan kaki.<em>)<\/em><br><em>\u201cAu revoir madame, merci beaucoup.\u201d (<\/em>Selamat tinggal nona, terima kasih banyak<em>.)<\/em><br><em>\u201cAu revoir Monsier (<\/em>Selamat tinggal tuan<em>.) <\/em>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lelaki itu menghilang. Aku tak tahu persis bagaimana wajahnya dan hanya melihat punggungnya semakin mejauh. Sama menjauh seperti kenangan pada masa laluku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku berada di gang sepi dan seolah menapaki sebuah jalan yang kukenal. Jalanan dengan bata kasar namun ini bukan jalan biasa menuju tempatku. Aku berdiri sejenak di gang sepi. Di sebuah banguan perkantoran aku menatap bangunan itu, dari arah yang lain. Di persimpangan jalan aku mendengar langkah kaki bergema. Suatu kegembiraan aneh memasukiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Derap langkah kaki itu semakin lama semakin keras dan meski suara kaki biasa namun terasa luar biasa di pikiranku. Seperti sebuah ritual dengan musik yang membahagiakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkinkah aku gila\u2026 karena beberapa detik yang lalu aku rasakan kerinduan berselimut kesedihan?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau mungkin, inikah kepasrahan.. Kepasrahan yang membuat manusia kembali pada fitrahnya. Kurasa aku tak sebaik itu: aku hanya merasa bahagia karena mampu mengingat masa laluku.<br>***<br><em>bersambung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>-. In MemoryAku tahu judulnya. In memory adalah judul yang pas. Aku mengambil semua foto yang ibu kirimkan, merangkainya dalam satu alur cerita dan aku kumpulkan sema momen dalam hidup: baik bahagia, sedih, kecewa pasrah atau yang lainnya. Aku bekerja hingga larut malam. Aku ubah lantai kantorku menjadi musalah dan juga menjadi latar dalam ideku. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[70,64],"class_list":["post-590","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel","tag-70","tag-aminatul-faizah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=590"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":593,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590\/revisions\/593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}