{"id":6073,"date":"2022-05-15T06:32:24","date_gmt":"2022-05-15T06:32:24","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6073"},"modified":"2022-05-15T06:32:26","modified_gmt":"2022-05-15T06:32:26","slug":"di-bawah-pohon-asam-tjak-s-parlan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6073","title":{"rendered":"Di Bawah Pohon Asam &#8211; Tjak S Parlan"},"content":{"rendered":"\n<p>Mata Aisyah berbinar mendapati polong-polong buah asam yang tergeletak di antara rerumputan kerdil. Pohon asam itu berbuah lebat dan angin kencang selalu mudah menjatuhkan buahnya yang sudah matang. Aisyah bergegas memungutnya sebelum kemudian memamerkannya kepada Badri, laki-laki 60-an tahun yang tengah suntuk menjalin jaring ikan\u2014jaring itu robek di sana-sini akibat tersangkut terumbu karang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKek, lihat ini!\u201d ujar Aisah seraya mengguncang-guncangkan buah berwarna cokelat kusam itu di dekat telinganya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Polong-polong itu mengeluarkan bebunyian yang teramat dikenal Badri; bunyi buah matang yang kerap memancing rasa ngilu di giginya dan ia selalu tidak bisa menolaknya. Ia tersenyum seraya mengulurkan kepalanya, mencoba menyimak bunyi itu lebih dekat lagi. \u201cAis juga mendengar bunyinya, kan?\u201d ujar Badri. \u201cKalau sudah begini, rasa buahnya pasti lebih manis. Mau kakek kupaskan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Bocah perempuan 6 tahun itu cepat-cepat menggeleng seraya menirukan suara desis seperti seseorang yang tengah menahan rasa kecut di lidah. Badri tertawa melihat tingkah cucu perempuan satu-satunya itu. \u201cYa, sudah,\u201d ujar Badri, \u201ckalau begitu, bawa saja ini ke dalam. Taruh di dapur, ya!\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seekor anjing kampung berwarna cokelat dekil, mengekor Aisyah. Tepat di depan pintu rumah, bocah perempuan itu mengentakkan kakinya dan anjing itu pun berhenti sejenak sebelum kemudian kembali ke kolong balai-balai untuk mengendus-endus tulang ayam kering. Anjing itu baru berhenti mengendus ketika terdengar bunyi sepeda motor mendekat. Pengendara sepeda motor itu seorang laki-laki paruh baya berwajah tembam\u2014ia turun dari kendaraannya dan langsung menghampiri Badri. \u201cRobek lagi?\u201d sapanya. \u201cPasti karena tersangkut karang. Mungkin sudah saatnya ganti jaring yang baru.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri tersenyum tipis, matanya tetap awas dan tangannya tetap sibuk di antara senar-senar jaring yang terkoyak. Laki-laki yang baru saja tiba itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong kresek dan melambai kepada Aisyah yang segera berlari kecil menujunya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni, Paman Salman bawakan ayam <em>kentaki<\/em>. Ais pasti suka,\u201d ujar laki-laki itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Bocah berwajah tirus itu menelan ludah dan tangannya bergegas membuka bungkusan. \u201cOh, ayam <em>taki-<\/em>nya beli di mana, Paman?\u201d tanyanya seraya mencomot sepotong paha ayam dengan takjub.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni paman beli di supermarket,\u201d jawab Salman dengan bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Badri menoleh ringan, memperhatikan sejenak Aisyah yang sedang menikmati ayam goreng tepung. Tangan, bibir, dan sebagian pipi bocah perempuan itu segera berlepotan minyak goreng; dan itu mengingatkan Badri pada seorang penjual makanan serupa di pinggir jalan di dekat kantor kecamatan. Suatu hari, Mahir\u2014anak laki-lakinya\u2014pernah membelikannya makanan seperti itu di sana. Ingatan itu membuat Badri semakin yakin bahwa Salman sedang berbohong: ia tidak membeli \u2018ayam tepung berminyak\u2019 itu di supermarket!<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKata orang, kalau di supermarket makanan seperti ini jadinya lebih mahal,\u201d ujar Badri. \u201cKenapa tidak beli yang di pinggir jalan saja? Rasanya juga mirip.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201cOh, sesekali bolehlah,\u201d tanggap Salman dengan air muka mencurigakan. \u201cKebetulan sedang ada sedikit rezeki.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri berdeham\u2014seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya. Sementara ia kembali mengurus jaring, Salman berjalan ke arah pembatas lahan. Dua batang pohon banten tumbuh berdekatan. Dari celah kedua batang pohon itu, Salman mengintip melalui kamera gawainya. Tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, pagar lintasan memanjang, lurus, berkelok, lurus lagi hingga tikungan paling jauh berlatar bebukitan. Sebuah nama perusahaan besar terpampang besar di punggung bukit. Perusahaan itu\u2014bersama seluruh rekanannya, baik dari pusat maupun daerah\u2014telah merampungkan proyek pembangungan sirkuit yang akan segera digunakan untuk menggelar balapan bertaraf internasional. Seraya tersenyum, Salman membidik beberapa gambar dengan kamera gawainya, termasuk Badri yang sedang menyulam jaring di bawah pohon asam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya ambil beberapa foto,\u201d ujar Salman setelah kembali di samping Badri. \u201cBiar orang pusat tahu, beginilah kondisi sebenarnya di sini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sudah sering lihat foto saya di koran. Wartawan-wartawan itu menunjukkannya pada saya. Mereka sudah tahu semua. Orang pusat, orang kota, orang daerah, orang-orang di sekitar sini tahu semua. Memangnya masih ada lagi yang belum tahu?\u201d tanggap Badri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya kenal dengan orang-orang penting.\u201d Salman mencoba meyakinkan. \u201cTenang saja, mereka akan ke sini dan masalah tanah ini akan selesai secepatnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201cHahaha! Saya juga sudah sering mendengar yang seperti itu,\u201d tanggap Badri, suaranya terdengar sinis.<\/p>\n\n\n\n<p>Tampaknya Salman belum menyerah, ia berusaha memasang tampang tenang. Ia kembali menyinggung sejumlah kasus yang menurut pengakuannya bisa selesai dengan baik berkat campur tangannya. Badri tidak punya pilihan lain selain membiarkan Salman terus mengoceh. Lagi pula bukan hanya sekali-dua Salman datang ke tempatnya dengan perangai yang sama. Salman terlihat di kawasan itu sejak sirkuit diresmikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Badri sempat melihatnya di antara para pengunjuk rasa\u2014Salman memegang sebuah kamera dan sepertinya sedang mendokumentasikan peristiwa itu. Bahkan sosok Badri yang baru saja pulang dari pantai, ikut terekam juga. Salman menunjukkan kepadanya beberapa hari kemudian. Pada saat itu, ia mengira Salman adalah seorang wartawan, tapi ternyata bukan. Salman mengaku bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dan Badri tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya. Apalagi, Salman jelas tampak peduli.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSampai sekarang, tak ada yang bisa membuktikan tanah ini telah dijual,\u201d ujar Salman, seperti yang sudah-sudah. \u201cMakanya, Pak Badri tetap berhak dapat ganti rugi yang layak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri membuang napasnya. Ada keinginan untuk menanggapi ocehan Salman, tapi ia berusaha menahannya ketika sebuah sepeda motor memasuki pekarangan. Aisyah bergegas menyongsong. \u201cLihat, lihat! Paman Salman bawa ayam <em>taki<\/em>. Enak sekali,\u201d ujarnya seraya memamerkan paha ayam goreng tepung yang nyaris tinggal tulang kepada sosok perempuan yang baru datang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sahnim tersenyum, turun dari sepeda motor, lantas mengelap sisa minyak goreng di pipi anak perempuannya itu dengan ujung bajunya. Tanpa mengujarkan sepatah kata pun\u2014kecuali tatapan ramah kepada Salman dan Badri\u2014ia berjalan memasuki rumah dan langsung menuju dapur untuk menyalakan kompor. Ia belum memasak apapun hari itu. Sejak pagi ia pergi ke kantor pos yang letaknya cukup jauh dari dusun untuk mengurus pencairan uang BLT. Biasanya ia meminta tolong Sali, seorang pemuda tetangga jauh\u2014dengan mengganti uang bensin\u2014agar bisa sampai ke sana. Namun, belakangan ia selalu punya alasan untuk mengendarai sendiri sepeda motor <em>matic<\/em> tua milik suaminya yang selama ini hanya teronggok di pojok ruangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Suatu kali, Salman menawarkan diri untuk memperbaikinya dengan mendatangkan seorang montir dari kota. Satu-satunya barang peninggalan Mahir itu akhirnya bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Sahnim belum juga berminat mengendarai sepeda motor itu, sampai kemudian Salman semakin sering berkunjung. Kunjungan-kunjungan itu selalu bersamaan dengan hari di mana Sahnim keluar dusun untuk urusan-urusan tertentu. Dan biasanya, Sahnim akan kembali ke rumah ketika siang atau menjelang sore, tidak berselang lama dengan kedatangan Salman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Badri tidak tahu, apakah Salman pernah datang secara diam-diam ke rumahnya ketika ia sedang mencari rumput; atau pada malam-malam tertentu ketika ia masih berjibaku di tengah laut. Awalnya, Badri tidak menaruh prasangka terhadap kunjungan-kunjungan Salman yang sudah menjadi kebiasaan. Saking terbiasanya, Badri seolah bisa mengendus aroma kedatangan Salman dari kejauhan\u2014aroma yang nyaris sama dengan minyak wangi yang menguar dari tubuh Sahnim. <\/p>\n\n\n\n<p>Seingat Badri, menantu perempuannya itu tidak pernah lagi menyemprotkan minyak wangi sejak suaminya\u2014Mahir\u2014pergi meninggalkan dusun untuk menjadi pekerja migran. Ya, kecuali sejak rentetan kunjungan Salman dengan dalih \u2018menjembatani warga\u2019 terkait masalah ganti rugi pembebasan lahan. Dan kini, aroma itu kembali menguar dari sana. Badri menajamkan penciumannya, ia tahu aroma itu bukan hanya bersumber dari satu orang. Ketika aroma yang sama itu semakin mendekat, Badri telah menyelesaikan satu bagian jaring yang terkoyak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf, saya lupa beli gula tadi. Kopinya pasti agak pahit,\u201d ujar Sahnim yang datang dengan dua gelas kopi panas. Setelah menaruh nampan di atas balai-balai bambu, Sahnim bergegas kembali ke dapur. Namun, jejak aroma minyak wangi itu masih tertinggal di jaket yang dikenakan Salman\u2014Badri bisa mengendusnya dengan sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOmbak masih tinggi, ya?\u201d tanya Salman, terdengar seperti basa-basi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSedang musimnya,\u201d tanggap Badri.<\/p>\n\n\n\n<p>Cuaca di kawasan pesisir memang sedang tidak ramah. Badri tidak bisa melaut beberapa hari itu. Ia harus menunggu sampai cuaca benar-benar bersahabat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMestinya mereka datang besok. Bersiap-siap saja, jangan ke mana-mana. Saya juga sudah memberitahu yang lainnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri terbatuk-batuk kecil. Alih-alih menanggapi rencana pertemuan dengan orang-orang dari pihak perusahaan itu, ia justru bertanya perihal lainnya. Salman pernah bercerita tentang seorang pemilik toko sembako dan peralatan rumah tangga yang sedang mencari karyawan baru. Tampaknya Salman tidak menduga bahwa Badri tertarik dengan apa yang pernah diceritakannya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBelum terlambat,\u201d tanggap Salman dengan penuh percaya diri. \u201cBukan satu orang saja yang dicari. Jangan khawatir, pemilik toko itu teman lama saya. Kalau memang Sahnim mau, ia bisa masuk kapan saja. Bagaimana?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNanti saya tanya dulu,\u201d jawab Badri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sekejap, Air muka Salman berubah lebih <em>semringah<\/em>. Badri tersenyum tipis\u2014ia yakin, bahwa Salman memang menghendaki Sahnim keluar dari rumah. Badri juga berpikir, tidak ada gunanya Sahnim berlama-lama tinggal di dusun yang sudah tergusur itu; lebih baik ia melanjutkan hidup di tempat lain. Badri tidak akan menyalahkan menantunya itu kalau pada akhirnya harus menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Lagi pula, Mahir sudah lama meninggalkan Sahnim, bahkan berusaha melupakannya. Badri mengetahuinya, meski Mahir selalu punya dalih untuk membela diri. Tahun-tahun pertama kepergiannya, Mahir masih sering berkirim kabar; ia bahkan sempat mengirimkan sejumlah uang untuk biaya kelahiran Aisyah. Namun, sejak Aisyah mulai belajar berjalan, Mahir semakin jarang berkirim kabar hingga namanya seolah-olah lesap diisap tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita tinggal menunggu kabar baik saja besok. Mudah-mudahan soal tanah ini cepat selesai. Hal lainnya, mudah-mudahan Sahnim juga bersedia. Pak Badri tidak keberatan, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri menggeleng. Matanya tetap awas dan tangannya tetap sibuk di antara senar-senar jaring yang terkoyak. Angin bertiup kencang, polong-polong buah asam itu bergoyang-goyang. Aisyah yang sedang berbagi makanan dengan anjing kampung itu menatap ke atas. Matanya berbinar. \u201cAyo, jatuhkan lagi buahnya!\u201d teriaknya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Selepas zuhur keesokan harinya, Sahnim menyampaikan pesan kepada Badri bahwa pertemuan dengan orang-orang dari pihak perusahaan ditunda terlebih dahulu. Salman telah menghubunginya melalui ponsel ketika Badri sedang menggembalakan sapi di sekitar bukit.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKak Salman bilang, ada pertemuan mendadak dengan orang pusat,\u201d jelas Sahnim dengan hati-hati.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDitunda atau tidak, ada yang datang atau tidak, saya sudah tidak peduli. Paling-paling, hasilnya akan sama. Mutar-mutar di situ-situ saja,\u201d tanggap Badri datar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mulut Sahnim segera terkunci, meski sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Saat Badri mulai memilin tembakau, jemari Sahnim menggeser-geser layar ponsel sekenanya. Pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Angin kasar menyibak sebagian rambutnya yang jatuh di kening; ada sedikit kerutan di sana, seolah kerutan itu akan terus bertambah setiap waktu. Ibu muda itu seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam kepalanya, tapi ia masih menunggu, barangkali hingga Badri membakar rokoknya dan mulai menyesap kopi hangat yang terhidang di atas balai-balai bambu reyot itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp; \u201cApalagi yang kamu tunggu?\u201d tanya Badri tiba-tiba. \u201cBajingan itu tidak akan pernah pulang. Kalau pun pulang, mungkin tidak akan ke sini. Mahir sudah bersama perempuan lain. Saya yakin kamu juga tahu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sahnim seperti tersentak dari tidur panjang. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah mertua laki-lakinya itu. \u201cApa yang bisa saya lakukan?\u201d tanggapnya kemudian. \u201cKalau saya pergi, siapa nanti yang akan masak dan bikin kopi untuk Bapak? Siapa juga yang akan mengurus sapi sewaktu Bapak sedang melaut? Saya sudah terbiasa tinggal di sini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu pikir, siapa yang melakukan semua itu sebelum kamu tinggal di sini? Mahir? Jangan harap! Saya terbiasa mengerjakan semuanya. Ya, sepeninggal ibunya Mahir, sayalah yang mengerjakan semuanya,\u201d ujar Badri dengan suara bergetar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sahnim bisa memahami apa yang dirasakan Badri, dan ia percaya semua yang diujarkan Badri itu benar belaka. Bertahun-tahun tinggal satu rumah dengannya, membuat Sahnim tidak mempunyai alasan lain selain mempercayainya. \u201cSaya percaya sama Bapak,\u201d ujar Sahnim, terdengar seperti gumam.<\/p>\n\n\n\n<p>Badri beranjak dari balai-balai dan mulai mengemasi jaring yang beberapa bagiannya sudah selesai dijalin. Setelah terkemas dengan baik, Badri mulai bersiap-siap. Ia masuk ke rumah terlebih dahulu hanya untuk memandangi wajah cucu perempuannya yang sedang tertidur lelap di dipan beralaskan tikar pandan. Ia tidak ingin bersedih, oleh karenanya ia segera kembali ke pekarangan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya akan ke pantai memeriksa perahu. Kalau ombak surut, nanti sore saya dan Sali&nbsp; akan berangkat melaut. Lebih baik kamu hubungi Salman sekarang. Orang itu pasti senang kalau kamu mau bekerja di toko itu. Selain di sini, selama ini kalian sering bertemu di tempat lain, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Air muka Sahnim berubah sedikit pucat. Ia tidak menyangka Badri akan berujar seperti itu. Namun, Sahnim tidak ingin membantahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan jangan lupa, kamu harus bisa mengurus Ais. Pikirkan dari sekarang, bocah itu akan tinggal bersama siapa selagi kamu kerja. Kalau kamu tidak bisa mengurusnya, lebih baik tetap tinggal di sini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sahnim mendengarkan Badri dengan saksama. Ia tidak ingin membuat laki-laki tua itu tersinggung dan merasa khawatir. Bagaimanapun, Badri layak memikirkan nasib Aisyah, cucu satu-satunya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSementara saya kerja, Ais akan tinggal di rumah adik perempuan Kak Salman,\u201d ujar Sahnim. \u201cKami sudah pernah membicarakannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri terdiam sejenak. Seraya memperhatikan wajah Sahnim, ia manggut-manggut perlahan. \u201cBaguslah, kalau kalian sudah membicarakannya,\u201d ujarnya kemudian.<\/p>\n\n\n\n<p>Sahnim hanya bisa menundukkan pandangan. Kali ini ia tidak bisa lagi bersembunyi\u2014dan ia merasa sedikit lega karena telah mengatakannya. Sesaat sebelum Badri meninggalkannya siang itu, Sahnim mencium kedua tangan mertuanya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh hingga kedua matanya basah oleh air mata.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya bingung kalau kamu minta maaf,\u201d ujar Badri dengan suara tegas. \u201cBilang sama Salman, ya! Tidak perlu datang ke tempat ini lagi. Apapun keputusan soal tanah ini nanti, saya akan tetap tinggal di sini. Saya lahir dan besar di sini. Mati juga di sini\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Badri bergegas meninggalkan pekarangan menuju pembatas lahan. Sahnim kembali terduduk di balai-balai bobrok di bawah pohon asam itu. Kepalanya menengadah, dan matanya terpejam.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ampenan, 30 Maret 2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Tjak S. Parlan<\/strong>, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur. Menulis cerita pendek, esai, resensi, sejumlah feature perjalanan, dan novel. Sejumlah bukunya telah terbit, antara lain Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017\u2014Kumpulan Cerita Pendek), Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019\u2014Feature Perjalanan), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020\u2014Kumpulan Cerita Pendek), Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021\u2014Kumpulan Puisi).Selain menulis, ia menekuni perwajahan (desain) buku dan media cetak (koran, majalah, bulletin, jurnal, zine). Saat ini mukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.&nbsp;<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mata Aisyah berbinar mendapati polong-polong buah asam yang tergeletak di antara rerumputan kerdil. Pohon asam itu berbuah lebat dan angin kencang selalu mudah menjatuhkan buahnya yang sudah matang. Aisyah bergegas memungutnya sebelum kemudian memamerkannya kepada Badri, laki-laki 60-an tahun yang tengah suntuk menjalin jaring ikan\u2014jaring itu robek di sana-sini akibat tersangkut terumbu karang. \u201cKek, lihat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1157,1172,1170,1171,1169,1173,843],"class_list":["post-6073","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi353","tag-lahan","tag-pembangunan","tag-rakyat","tag-srkuit","tag-tanah","tag-tjaksparlan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6073","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6073"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6073\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6085,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6073\/revisions\/6085"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6073"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6073"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6073"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}