{"id":6107,"date":"2022-06-14T22:12:31","date_gmt":"2022-06-14T22:12:31","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6107"},"modified":"2022-06-14T22:12:33","modified_gmt":"2022-06-14T22:12:33","slug":"telur-susu-dan-perkara-yang-belum-usai-dibicarakan-wahid-kurniawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6107","title":{"rendered":"Telur, Susu, dan  Perkara yang Belum Usai Dibicarakan &#8211; Wahid Kurniawan"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:37% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"665\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur-665x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6113 size-full\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur-665x1024.jpeg 665w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur-195x300.jpeg 195w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur-768x1182.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur-998x1536.jpeg 998w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Susu_dan_Telur.jpeg 1000w\" sizes=\"(max-width: 665px) 100vw, 665px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p>Judul : Susu dan Telur<br>Penulis : Mieko Kawakami<br>Penerjemah : Asri Pratiwi Wulandari<br>Penerbit : Moooi Pustaka<br>Terbit : 2021<br>Tebal : 512 Halaman<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau kita iseng mengecek daftar novel karya penulis Jepang kontemporer di laman pencarian, kita akan mendapati nama Mieko Kawakami tidak pernah absen dari daftar tersebut. Segera saja, novelnya itu -yang edisi English berjudul <em>Breasts and Eggs<\/em> (Picador, 2020) terjemahan Sam Bett dan David Boyd- akan tampil bersama sekian nama-nama lainnya, mulai dari Banana Yoshimoto sampai Sayaka Murata. Hal itu cukup terpahami sebab novel tersebut memang telah menjadi <em>hits<\/em> tidak hanya di Jepang saja, tetapi juga di kancah global. Kesuksesan itulah, yang membuat edisi bahasa lainnya menyusul diterbitkan di hampir 30 negara.<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p>Publik global kadung tergiur, mereka penasaran. Di antara negara-negara itu, Indonesia pun tak mau ketinggalan. Tahun 2021, penerbit Moooi Pustaka menerbitkan novel ini dengan Asri Pratiwi Wulandari sebagai penerjemah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada satu pencapaian yang saya kira baik dan patut diapresiasi dari kebijakan penerbit Moooi dalam menghadirkan novel ini, yaitu pemilihan Asri sebagai penerjemah tunggal. Maksudnya begini, kalau kita mau repot mengecek sinopsis singkat dari isi novel, tentu sedikit terbayang bahwa tema \u201cperempuan\u201d dengan semangat feminisme melekat di dalam novel ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Itulah mengapa -bukannya hendak bermaksud bilang kalau terjemahan oleh penerjemah laki-laki jelek\u2014dipilihnya Asri seolah membuat saya lebih percaya bahwa pesan-pesan tersembunyi yang disisipkan oleh Kawakami, terutama yang berkaitan dengan masalah keperempuanan, akan bisa sampai ke pembaca. Sebabnya, ada kepekaan tertentu yang, mungkin saja, tidak ada pada penerjemah laki-laki. Tentu, saya berbicara tentang bias gender, yang tidak selalu valid serta bisa diperdebatkan, tetapi tetap saja, mendapati perilisan edisi Indonesia ini menjadi bahan pertimbangan bagi saya untuk memilih hendak membaca edisi yang mana.<\/p>\n\n\n\n<p>Untungnya lagi, apa yang dicapai Asri dalam proses penerjemahannya bukanlah sesuatu yang membuat kecewa. Saya pernah mendengar kalau ia berjuang sangat keras dalam menerjemahkan bagian-bagian dialog dan bagian tertentu yang sengaja ditulis Kawakami dengan dialek Osaka. Dan hasilnya, bisa saya katakan, keseluruhan isi novel bisa memiliki kualitas penerjemahan yang apik. Sejenak saya lupa kalau novel yang edisi bahasa Indonesia diberi judul \u201cSusu dan Telur\u201d adalah karya terjemahan, sebab keseluruhan isinya hampir tidak memperlihatkan kecanggungan, narasi dan dialognya betul-betul dijalin secara halus. <\/p>\n\n\n\n<p>Keberhasilan lain yang dicapai Asri, saya kira, adalah bagaimana ia tetap bisa mempertahankan suara dari narasi khas Kawakami yang memang kerap puitis dan superdetail. Ia pun bisa membedakan suara dari dua sudut pandang -Natsuko dan Midoriko- yang ada di novel ini. Dari situ, bisa saya katakan, kehadiran novel ini patut dirayakan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini, nama Mieko Kawakami mungkin belum begitu moncer dikenal di jajaran penulis Jepang yang sudah dihadirkan untuk pembaca Indonesia. Kita umumnya mengenal nama-nama yang telah menjadi kanon: dari Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, sampai Haruki Murakami. Oleh sebab itu, adalah hal baik bahwa ada nama penulis perempuan Jepang lain yang dihadirkan kepada kita setelah nama-nama lainnya datang lebih dulu, seperti Yoko Owada, Minato Kanae, Banana Yoshimoto, ataupun Sayaka Murata. Kita pun makin diberi keberagaman, yang perkaranya tidak hanya tentang siapa penulisnya, tetapi juga suara apa yang kemungkinan kita dapati dari karya-karya yang mereka terbitkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Suara Perempuan<\/strong><br>Bila menyoal isi dari novel Kawakami ini, suara yang paling keras akan kita dengar -seperti yang sudah disinggung sebelumnya- adalah suara perempuan. Kita melihat suara itu membentang dari awal sampai akhir kisah. Bingkainya juga berlapis-lapis, dari soal kemandirian, pilihan hidup, sampai upaya perjuangan mereka. Lebih jauh, apa yang ditampilkan Kawakami menyasar topik-topik yang berkisar dalam kehidupan perempuan modern, yang tidak benar-benar terlepas dari norma dan standar yang diwariskan generasi terdahulu. <\/p>\n\n\n\n<p>Gambaran itulah yang melekat dalam keseluruhan novel. <\/p>\n\n\n\n<p>Di bagian pertama, Kawakami membabarkan sekian hal yang berkaitan dengan kemandirian dan eksistensi perempuan. Kita dikenalkan dengan seorang narator perempuan berusia 30 tahun yang kelak diketahui bernama Natsuko. Lewat latar belakang keluarganya yang tidak datang dari keluarga kaya-raya, juga tentang status ibu tunggal yang melekat dalam diri ibunya, kita mengesankan bahwa Kawakami secara halus menunjukkan \u201cperempuan berdikari\u201d yang tetap bisa bertahan hidup tanpa kehadiran laki-laki. Kendati&nbsp; pada akhirnya, sang ibu takluk terhadap penyakit kanker payudara yang diidapnya, tetapi selama masa sebelum kematian ibunya, si narator atau Natsuko menggambarkan perjuangan mereka sedemikian gigih dan itu mengesankan \u201cketangguhan\u201d mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Seolah ingin menegaskan hal itu lagi, status ibu tunggal yang tangguh pun disematkan pada diri kakak Natsuko, yaitu Makiko: \u201c<em>Setelah ia hamil, melahirkan Midoriko, pindah-pindah berbagai kerjaan paruh waktu, dan di usianya yang ke-39 sekarang ini, ia masih bekerja lima hari seminggu di pub. Kehidupan seorang ibu tunggal yang banting tulang bekerja, jatuh sakit, lalu meninggal yang dijalani ibu kami\u2014kurang lebih, kehidupan seperti itulah yang kini dijalani juga oleh Makiko<\/em>.&#8221; (Hal. 16) <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara selanjutnya, kita pun mendapati kisah tentang tubuh perempuan. Bahwa ternyata, kakak Makiko yang datang dari Osaka bersama anaknya, Midoriko, punya kepentingan untuk memasang implan payudara sebab ia ingin tampil lebih cantik, seperti \u201cperempuan-perempuan di majalah\u201d.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sekilas, persoalannya sepele saja: tidak lebih keinginan seorang perempuan ingin tampil cantik. Akan tetapi, saat mencermati profesi yang dijalani Makiko, yaitu hostes bar, kita akan segera sadar kalau ada motif lain yang ada di baliknya. Makiko sadar diri kalau ia tidak muda lagi, dan teman-temannya banyak yang lebih muda dan cantik darinya. Oleh sebab itu, demi sebuah penampilan yang lebih aduhai, Makiko rela pergi jauh-jauh ke Tokyo untuk menjalani operasi implan payudara. Sebab kalau tidak, bisa saja Makiko akan kehilangan daya tarik yang membuatnya kehilangan pelanggan di tempatnya bekerja. Dan itu bisa berakibat buruk terhadap kestabilan ekonomi mereka, mengingat Makiko adalah seorang ibu tunggal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada babakan ini pula kita akan menemukan paradoks lewat penggambaran anak Makiko yang seperti berdiri di sudut yang berseberangan dengan keinginan ibunya. Kawakami memberi ruang tersendiri bagi Midoriko, yang di dalam kisah digambarkan sedang menjalani laku mogok berbicara dan hanya mau berkomunikasi lewat tulisan.&nbsp; Lewat catatan-catatannya, kita lantas mengetahui kalau Midoriko sedang kebingungan dan ketakutan terkait perkembangan dirinya sebagai perempuan yang beranjak dewasa dengan mengalami menstruasi kali pertama. <\/p>\n\n\n\n<p>Ia terus-terus mempertanyakan jati diri perempuannya yang mesti mendapati datang bulan. Ia mempertanyakan kenapa proses itu ada, sebab membuat repot dan tak nyaman. Selain itu, ia pun seperti menyesalkan dirinya telah dilahirkan di dunia ini, ia mempertanyakan mengapa \u201cseseorang mesti melahirkan seseorang\u201d kendati tahu kalau kelak ia akan dibuat repot, kesusahan, dan barangkali menderita karena kehadiran seorang anak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, kita bisa melihat babakan itu dari salah satu cuplikan catatannya: \u201c<em>Kenapa badanku yang seenaknya merasa lapar dan seenaknya menstruasi ada di sini? Aku merasa terkurung di dalam badan ini. Terus, cuma karena sudah lahir, aku harus hidup, makan terus, cari uang terus, hidup terus. Bikin pusing. Melihat keadaan bikin pusing padahal Ibu bekerja setiap hari, aku jadi heran. Kenapa? Padahal satu badan saja sudah gawat, tapi kenapa Ibu mengeluarkan satu badan lagi dari sana? Kenapa? Aku enggak bisa membayangkan. Apakah menurut Ibu melahirkanku itu luar biasa?<\/em>\u201d (Hal. 45)<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun mengenai penentuan cara berkomunikasi Midoriko ini, bisa kita pahami sebagai upaya Kawakami mengantarkan pesan bahwa masalah perempuan terkait tubuh dan repreduksi mereka kerap kali tidak disuarakan secara terang-terangan, sekalipun itu kepada orang terdekat seperti keluarga mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kasus Midoriko, mungkin motifnya lebih kekhawatiran kalau-kalau ia justru membuat repot ibunya, di samping ia pun menyimpan sedikit kemarahan soal keberadaannya di dunia ini. Dengan kata lain, ada bagian dari dirinya yang ingin memberitahu soal masalah dan kebingungan yang ia alami, tetapi ia takut hal tersebut membuat ibunya repot. Sementara di sisi lain, ia pun tidak senang akan eksistensinya, terutama soal jati dirinya sebagai perempuan yang mesti mengalami perubahan dalam periode tertentu. <\/p>\n\n\n\n<p>Mendapati gambaran ini, saya tidak bisa tidak bertanya-tanya, apakah setiap perempuan pernah mengalami kekhawatiran terkait fase awal-awal datang bulannya? Jikapun iya, apakah kekhawatiran itu seperti yang dialami Midoriko?<br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:52% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"666\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/MiekoKawakami.4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6114 size-full\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/MiekoKawakami.4.jpg 600w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/MiekoKawakami.4-270x300.jpg 270w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"has-text-align-right has-small-font-size\"><strong>Mieko Kawakami<\/strong> (\u5ddd\u4e0a\u672a\u6620\u5b50, lahir pada 29 Agustus 1976) merupakan penulis asal Osaka, Jepang. Ia berkiprah sebagai penulis setelah merilis novel pertamanya, <em>My Ego Ratio, My Teeth and the World <\/em>(2007). Novel itu dinominasikan salah satu penghargaan bergensi di Jepang, <em>Akutagawa Award<\/em>, tetapi tidak keluar sebagai pemenang. Baru ketika ia merilis novel selanjutnya, <em>Breasts and Eggs, <\/em>ia mendapatkan penghargaan itu. Selain dua novel itu, ia pun telah menulis karya-karya lainnya, yaitu novela <em>Ms. Ice Sandwich <\/em>(Pushkin Press, 2017), dan dua novel lain, <em>Heaven <\/em>(Picador, 2021) dan <em>All the Lovers in the Night <\/em>(Picador, 2022). Hampir semua karya Kawakami bernapaskan kritik terhadap keadaan masyarakat yang merugikan kaum perempuan. Fokus utama Kawakami kerap pada isu-isu perempuan dan tubuhnya. Ia menulis karya-karyanya sebagai media penyuara hal-ihwal yang jarang mengemuka di permukaan, dan hal-hal itu berkisar pada persoalan gender dan kehidupan masyarakat (khususnya perempuan) di Jepang. <\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Namun, terlepas dari semua itu, Kawakami tidak membiarkan permasalahan yang ada terus-menerus runyam seolah tak ada akhirnya. Bisa saya katakan, ia bukan tipe penulis yang membiarkan \u201csegalanya berjalan tanpa harapan.\u201d Baik persoalan implan payudara yang diinginkan Makiko maupun kekhawatiran yang dirasakan Midoriko, keduanya kelak menemukan titik temu dan penyelesaiannya masing-masing. Kendati begitu, apa yang dijalin Kawakami menuju titik temu tersebut, bukan pula sesuatu yang terburu-buru. Jalinan kisah ketiganya dihubungkan dengan interaksi-interaksi yang meletupkan klimaks \u201csaling memahami\u201d di antara mereka. Apa yang tadinya terbungkam, perlahan menyeruak dan terkatakan. Apa yang sebelumnya hanya disimpan sendirian, lambat-laun bisa dibagikan dan diceritakan. Dari situ, bagian pertama ditutup dengan sesuatu yang haru sekaligus melegakan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Orangtua tunggal<\/strong><br>Selesai dengan bagian pertama pada masa Musim Panas tahun 2008, kita lantas dilemparkan ke masa-masa sekian tahun kemudian, tepatnya Musim Panas tahun 2016&nbsp; sampai Musim Panas 2019. Kendati memiliki masa yang berbeda, tetapi tetap saja, yang memegang kendali sebagai narator adalah sosok Natsuki Natsume, narator kita, yang hampir memasuki usia kepala empat dan belum memiliki pasangan. Sehari-harinya, Natsuki menjalani profesi penulis, ia aktif menulis esai dan cerpen di berbagai media seperti majalah dan koran. Dan saat periode atau bagian kedua ini berlangsung, ia tengah dalam penggarapan novel keduanya yang tak rampung-rampung.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat sosoknya yang demikian, kita pun dihadapkan pada figur perempuan di Tokyo yang menjalani kesehariannya di apartemen dengan pekerjaannya menulis dan sesekali membaca buku untuk referensi tulisannya. Lebih jauh lagi, kita akan mendapati kompleksitas perasaan perempuan yang tergambarkan baik dalam diri Natsuko sendiri maupun karakter-karakter lain yang ada di sekitarnya. Sesuai dengan jumlah halamannya yang lebih banyak ketimbang bagian pertama, kita tidak salah menduga kalau bagian kedua ini pun lebih banyak lagi membabarkan persoalan yang berkaitan dengan eksistensi, mimpi-mimpi, dan perjuangan perempuan dalam kehidupannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kalau di bagian pertama, persoalan utama yang dibabarkan Kawakami adalah perihal ketubuhan yang ingin dipoles lebih baik lagi dengan keberadaan implan payudara; bagian kedua ini menunjukkan soal \u201ckeinginan seorang perempuan untuk memiliki anak tanpa melewati proses reproduksi konvensional\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Spesifiknya, Kawakami mengangkat persoalan terkait keberadaan donor sperma <em>(Artificial Insemination by Donor\/AID) <\/em>sebagai salah satu jalan bagi seseorang, entah perempuan tunggal, pasangan non-hetero, maupun pasangan suami-istri yang tak kunjung dikaruniai buah hati untuk memperolah anak dari pihak ketiga. Di situ, Natsuki yang sedemikian menginginkan anak ingin menggunakan jalan tersebut. Dikatakan: \u201c<em>Aku juga bisa melakukannya, aku juga punya peluang, aku tak akan memikirkan siapa ayah anakku, anak yang kulahirkan adalah anakku -ini merupakan perasaan mahakuasa yang belum pernah kucecap sebelumnya<\/em>.\u201d (Hal. 373)<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Natsuki tentu mendapati fase kebimbangan yang tak bisa ditampik. <\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah mencari informasi mengenai proses AID, Natsuki diarahkan pada sebuah video yang menampilkan seorang laki-laki bernama Aizawa Jun. Lelaki itu adalah anak dari sepasang suami-istri yeng menjalani proses AID di masa lalu, tetapi Aizawa baru mengetahui fakta tersebut saat ia sudah dewasa. Tahu bahwa ayah yang selama ini dikenalnya bukan ayah kandungnya, Aizawa pun membuat video pengumuman yang memperlihatkan kalau ia tengah mencari sosok sang ayah dengan menyebut ciri-ciri tubuhnya. Figur itu membuat Natsuki mempertimbangkan ulang keinginannya, di samping keberadaan sosok hasil proses AID lain yang menjadi pacar Aizawa, Zen Yuriko. <\/p>\n\n\n\n<p>Kisah hidup mereka yang terombang-ambing di tengah pertanyaan dan kebingungan terkait latar belakang mereka menjadi oposisi bagi keinginan Natsuki. Dari situ, perkara menginginkan anak pun menjadi tampak runyam sebab persoalannya tidak sesederhana \u201cmencari donor sperma, menyuntikkan ke tubuhmu, lalu kau bisa hamil dan memiliki anak\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sosok Zen Yuriko, juga teman sesama penulis dan editornya, Yusa dan Sengawa, Natsuki mendapati arti lain di balik keinginan mempunyai anak dan kensekuensi pilihannya terhadap keberadaan anak itu sendiri di masa depan. Apa jadinya nanti saat si anak tahu kalau ia anak dari proses AID? Apa saja dampak terhadap si anak? Sebenarnya, untuk apa kau menginginkan anak? Apa kau pernah memikirkan, umpamanya, dari sudut pandang si anak kelak alih-alih hanya dari sudut pandangmu saja? Sekali lagi, mengapa kau menginginkan anak? Kiranya, itulah serentetan pertanyaan yang perlahan bermunculan di benak Natsuki seiring interaksinya dengan seberagam tokoh-tokoh tadi. Ia torambing-ambing di antara pilihan \u201cya\u201d dan \u201ctidak\u201d dalam melanjutkan rencananya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain soal donor sperma atau AID, Kawakami pun membabarkan hal yang masih beririsan dengan topik yang diangkat di bagian pertama: orang tua tunggal. Kita, lagi-lagi dikenalkan dengan figur tersebut pada diri temannya sesama penulis, Yusa. Digambarkan, Yusa adalah ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri, dan ia menulis di tengah mengasuh anaknya. Dengan statusnya itu, ia pun dikenal sebagai sosok yang independen sekaligus kerap disinisi oleh orang tua lain di lingkungan sekolah anaknya. Dan mungkin pula karena statusnya itu, ia pula yang menjadi kubu yang menguatkan Natsuki, kubu yang sepenuhnya mendukung keinginannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang dikatakannya suatu kali: \u201c<em>Berahi laki-laki tidak diperlukan dalam memiliki anak,\u201d Yusa mendeklarasikan. \u201cTentu saja berahi perempuan juga tidak diperlukan. Bersetubuh pun tidak perlu. Yang perlu adalah tekad. Tekad perempuan saja. Apakah sang perempuan ingin memeluk bayi, memeluk anaknya? Apakah sang perempuan sudah menetapkan tekad untuk menjalani hidup dengan sang anak apa pun yang terjadi? Itu saja<\/em>.\u201d (Hal. 371)<\/p>\n\n\n\n<p>Berada di tengah kubu yang tampak mendukung dan menolak, lalu, pilihan mana yang kelak diambil oleh Natsuki? Lagi, kita mendapati kecenderungan Kawakami yang membiarkan segalanya berjalan dengan halus dan tampak wajar. Akhirnya, Natsuki melihat kembali ke dalam dirinya, ia merefleksikan ulang keinginannya, perlu atau tidaknya, dan sekian pertimbangan lainnya. Tentu, kita melihat tekanan dan tuntutan yang disematkan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, tetapi, gambaran sosok Natsuki adalah figur yang mengesampingkan hal tersebut dan, sekali lagi, menegaskan bahwa pilihan dan keputusan ada di tangannya. Kita melihat, sosok yang berjuang sampai akhir dalam memperjuangkan keinginannya tanpa mengesampingkan penilaian dari berbagai sisi, entah itu dari luar (lingkungan) maupun dari dalam dirinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perempuan Indonesia?<\/strong><br>Gambaran itu, kalau kita menghubungkannya dengan keadaan perempuan di Indonesia, tentu memiliki sejumlah relevansi. Kendati isu spesifik mengenai donor sperma tampak belum begitu familiar di kalangan masyarakat kita, tetapi kita bisa menemukan keterhubungan isu-isu serupa seperti ihwal ibu tunggal dan pilihan perempuan yang tidak sejalan dengan anggapan umum, seperti pilihan <em>child-free. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak jarang kita dapati bahwa ada stigma miring yang melekat dalam diri ibu tunggal, sebab mereka dipandang tidak dapat memberi pengasuhan yang baik terhadap anak-anaknya. Peran ganda (sebagai ibu sekaligus ayah) dianggap tidak selalu baik dilakukan, dan itu membuat kualitas pengasuhan yang diberikan tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan anak dan keluarga mereka.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun isu lainnya, seperti <em>child-free, <\/em>masyarakat kita masih menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tabu atau tak lazim untuk dilakukan. Perkara memiliki anak adalah keharusan, sebab bagi sebagian orang, hal itu dipandang sebagai kewajiban setiap pasangan yang membina bahtera rumah tangga. Namun, toh hal itu kembali pada pilihan pribadi masing-masing. Lagipula, mereka jelas memiliki alasan khusus yang melatari pengambilan keputusan tersebut. Asalkan hal itu diterima oleh dua belah pihak dan orang-orang terdekat, serta tidak merugikan orang lain, tindakan itu mestilah dimaklumi. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari dua hal ini, maka keterhubungan isu yang dipaparkan dalam kisah novel ini seperti menemui benang merahnya. Kita melihat gambaran perempuan yang bergelut dengan sejumlah pilihan-pilihannya, yang kerap kali mengalami ketidakberterimaan dari orang-orang di sekitarnya, tetapi mereka terus menebalkan keyakinan dengan merenunginya, dan menentukan pilihan mana yang tepat untuk hidup dan masa depan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, kita bisa menganggap bahwa itulah esensi dari para tokoh yang dibuat oleh Kawakami. Yang paling utama, semuanya mengalami proses untuk melihat ke dalam, memahami dirinya sendiri, sebagai pertimbangan bagi artikulasi kehidupan mereka di dunia nyata. Itulah juga, yang membuat realitas yang dibabarkan Kawakami tampak dekat dan nyata. Sebab, persoalan yang ada memang betulan ada, dan para tokohnya berfungsi sebagai representasi dari perempuan-pejuang yang suaranya kerap tidak muncul dan didengar. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemilihan para tokoh yang hampir semuanya perempuan pun seolah memberi penegasan bahwa kini saatnya para perempuan dengan segala persoalannya mesti didengarkan, sesenyap apa pun gaungnya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Foto:<br><em>1. Moooi Pustaka<br>2. dangerousreading.com<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Wahid Kurniawan<\/strong>, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul : Susu dan TelurPenulis : Mieko KawakamiPenerjemah : Asri Pratiwi WulandariPenerbit : Moooi PustakaTerbit : 2021Tebal : 512 Halaman Kalau kita iseng mengecek daftar novel karya penulis Jepang kontemporer di laman pencarian, kita akan mendapati nama Mieko Kawakami tidak pernah absen dari daftar tersebut. Segera saja, novelnya itu -yang edisi English berjudul Breasts and [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5],"tags":[808,1189,1188,849,856,1187],"class_list":["post-6107","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","tag-ceritanet","tag-edis354","tag-kawakamimieko","tag-perempuan","tag-resensi","tag-susudantelur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6107"}],"version-history":[{"count":23,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6107\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6132,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6107\/revisions\/6132"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}