{"id":612,"date":"2017-01-12T00:53:49","date_gmt":"2017-01-12T00:53:49","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=612"},"modified":"2020-06-27T01:04:26","modified_gmt":"2020-06-27T01:04:26","slug":"ciri-orang-indonesia-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=612","title":{"rendered":"Ciri Orang Indonesia di Era Digital"},"content":{"rendered":"\n<p>Rasanya agak meremehkan mendiang Mochtar Lubis jika pandangan ini disebut meniru enam atau (12) ciri manusia Indonesia yang jadi salah satu karya terkenalnya.&nbsp; Soalnya, tidak ada pengamatan sistematis berdasarkan bukti-bukti yang teruji dalam pandangan ini, jadi sebut sajalah terinspirasi mendadak oleh Mochtar Lubis dan berdasarkan pengamatan serampangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi yang \u00a0paling penting adalah maknanya bukan penilaian baik atau buruk: cuma sekedar pengamatan pribadi atas perlintasan percakapan di media sosial dan internet. \u00a0Ibaratnya, kalau ada yang suka bikin meme lucu, yang suka buat foto meriah, yang memilih video gembira, maka ada juga yang menulis pendapat, seperti saya. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Punya Facebook dan WA Grup<\/strong><br>Yang pertama ini sulit dibantah. Jalinan pertemanan antara kedua media itu agak saling tumpang tindih: orang-orang berkawan di keduanya (beberapa meluas sampai ke Twitter, Instagram, Path, atau Snapchat). Isinya agak berbeda, dengan WA Grup lebih banyak ke urusan reuni, komunitas kerjaan, kelompok keluarga, atau kepentingan praktis.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Sementara Facebook selain untuk hal-hal perkawanan maupun persaudaraan, juga untuk curhat, catatan harian, maupun mengarahkan opini dan sekaligus forum berdebat. Para pengguna aktif Facebook dan WA Grup mungkin sudah mengembangkan ketrampilan khusus untuk memilih yang mana untuk Facebook dan yang\u00a0 mana pula untuk WA Grup. Jarang sekali rasanya pengguna aktif -yang \u00a0bersentuhan dengan saya- yang menulis pesan, meme, foto, atau video\u00a0 yang sama untuk Facebook dan WA Grup.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang teman, misalnya, mengirim foto bunga segar dengan latar belakang terbitnya matahari dan pesan \u2018Selamat pagi kawan-kawan sekalian, mari kita mulai kerja\u2019 tapi di Facebook dia cuma menulis status \u2018Ayo, ayo semangat kerja\u2019. Kenapa dia tidak juga memposting foto bunga segar dan matahari terbit tadi di Facebook? Mungkin perlu wawancara lebih dalam kepada para pengguna aktif\u00a0 tentang \u2018kebijakan redaksi Facebook dan WA Grup-nya\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Suka merekam dan menyebarkan<\/strong><br>Rasanya juga tak akan banyak perdebatan tentang ciri kedua ini. Segala macam: foto, video, meme, lelucon, saran, tragedi, duka, kesedihan, dan\u2026 praktis semua yang bisa didigitalkan disebarkan lewat berbagai media sosial \u2013juga dengan kebijakan editorial untuk masing-masing media. Mungkin sentuhan fisik \u2013sudah dicoba di Jepang- \u00a0dan bau kelak juga akan disebar ke berbagai tempat jauh).\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan layanan Facebook Live, ada kawan yang menyiarkan acara makan siang keluarga di salah satu restoran maupun acara naik sepeda akhir pekan.\u00a0 Banyak beredar berbagai foto makanan di warung kaki lima, restoran mewah di Jakarta atau di kampung pelosok, maupun foto bersama di depan karangan bunga perkawinan dan karangan bunga duka kematian.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Saya sempat tertanya-tanya sendiri aspek privasi tentang foto orang yang sakit terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan selang infus dikeliling kawan-kawannya yang sedang membesuk berpose sambil mengangkat dua jari. \u00a0Tapi apa soalnya, pasien senang dikunjungi, kawan-kawan senang melihatnya dalam proses pemulihan, sementara kawan-kawan yang tidak punya waktu bisa \u2018ikut membesuk pula\u2019.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Foto-foto sadis kecelakaan atau kekerasan juga sering disebar, kadang dengan seruan untuk ikut mengucap \u2018Amin\u2019maupun untuk mengingatkan agar berhati-hati.\u00a0 Mungkin ada yang bertanya tentang aspek kepantasan untuk foto-foto sadis seperti ini, namun pada akhirnya dalam satu jaringan pertemanan atau perkawanan, rasanya tentu nilai-nilainya tak jauh berbeda. Kalaupun timbul perbedaan, maka akan memicu perdebatan, seperti yang sering terjadi dan inilah dia pula gunanya media sosial: menjalin pembicaraan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Sering membuat lelucon<\/strong><br>Masih ingat \u2018Di situ kadang saya merasa sedih\u2019? \u00a0Komentar yang disampaikan Polwan Dewi Sri Mulyani dengan serius untuk kampanye tentang polisi tersebut paling banyak dipermak jadi lelucon. \u00a0Rasanya seperti berlangsung kompetisi meme nasional berbasis komentar Ibu polisi Dewi. \u00a0Memang begitulah hidup ini, seperti kata peribahasa: tragedi seseorang adalah komedi bagi orang lain. Dengan bantuan media sosial dan teknologi digital yang semakin diakrabkan dengan pengguna, maka sering memang tragedi menjadi komedi.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu yang teringat adalah gambar seorang perempuan jilbab yang sedang berfoto narsis atau selfie di depang seorang penyerang bom Sarinah, 14 Januari 2016 lalu. Walau banyak orang yang berfoto narsis di sekitar tempat kejadian, lelucon yang satu tu tetap saja kentara biarpun bisa juga mengecoh. Variasi foto perempuan berjilbab tersenyum yang dilengkapi \u2018Mas-mas ntar malam Jumat lho\u2019 juga termasuk yang sempat banyak menyebar di Facebook dan WA. \u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Kasus \u2018Om Telolet Om\u2019 berkembang pula menjadi lelucon, antara lain \u00a0dengan mempermak video yang memperlihatkan pesawat yang sedang terbang atau sedang mendarat membunyikan klakson telolet. Wajah kakek atau nenek tua yang sudah keriput maupun bocah lugu juga sering menjadi basis untuk membuat lelucon, yang mungkin agak dipaksakan walau -saya cukup yakin- niat sejujurnya cuma untuk membuat teman-teman senang bisa tertawa lepas. \u00a0<\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. Pentingnya berkelompok<\/strong><br>Salah satu hakekat manusia adalah hidup secara bekelompok dan dalam masyarakat Indonesia yang secara umum masih didasari kekerabatan luas, jelas kehidupan kelompok menjadi salah satu hal penting. Bagi yang tinggal di rantau, Facebook dan WA Grup menjadi salah satu media penting untuk menjalin semangat kelompok.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi ada sedikit kerumitan, ketegasan dalam menarik garis kelompok itu. Di WA Grup, misalnya, ada persyaratan angkatan, jurusan, \u00a0bahkan kelompok lebih kecil lagi yang dulunya kawan berkumpul sehari-hari. Tak berarti seseorang bisa masuk grup lain dengan mudah. Sementara di Facebook, selain urusan alumni-alumni ada ribuan kelompok dan sejumlah besar -yang berbeda dengan WA Grup- malah berharap anggotanya terus bertambang banyak. Pada satu sisi semakin ekslusif semakin keren tapi di sisi lain semakin inklusif \u00a0semakin hebat<br><\/p>\n\n\n\n<p>Sentimen kelompok belakangan agak memanas ketika merembet ke soal politik. Pendukung Ahok dan penentang Ahok, adalah salah satu contoh, yang sama-sama aktif mengangkat maksud dan tujuan masing-masing, baik di Facebook dan WA Grup -walau banyak yang menetapkan larangan membahas tema-tema tertentu. Kadang rasanya bukan isu lagi yang menjadi perdebatan tapi lebih pada saya dan kelompok saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimanapun era digital -dengan media sosial dan internet- yang memungkinkan orang menegaskan kelompoknya itu pula yang sekaligus membuat terjadinya perdebatan langsung antar anggota kelompok tanpa perlu melalui perwakilan sehingga terasa lebih spontan dan jujur \u2013walau kerap pula menjadi sengit, panas, dan menghina. Seperti biasa, perkembangan teknologi selalu bisa bermata dua.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>5. Punya banyak tenaga dan waktu<\/strong><br>Ini mungkin semacam kesimpulan dari keempat ciri di atas. Jelas merupakan asumsi yang salah bahwa orang-orang yang aktif di Facebook dan WA Grup, yang sering berfoto, \u00a0rajin membuat meme, berdebat, dan membuat grup-grup adalah orang-orang yang tidak bekerja. Di kelompok usia saya \u2013manusia paruh waktu- \u00a0banyak kawan-kawan yang aktif malah justru sedang di puncak karier maupun usaha, jadi bukan orang-orang yang sudah mentok. Dalam kelompok lintas usia, banyak terlihat yang masih muda yang sedang menapak karier dan secara berbarengan rutin serta bersemangat tinggi meramaikan Facebook dan WA Grup dengan kreatifitasnya, yang tak sedikit pula tergolong istimewa.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya sempat berencana untuk memasukkan ciri suka berfoto narsis tapi rasanya ciri itu mungkin lebih umum ke orang Asia dan pelan-pelan, dalam beberapa tahun belakangan, terlihat mulai menyebar ke orang Eropa. Sementara pada sisi lain, rasanya semakin sering orang Indonesia menyebar beragam foto yang bukan lagi sekedar cuma foto narsis tapi foto-foto makanan, kegiatan, maupun pemandangan, atau hal-hal menarik lain yang terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, semua manusia, di manapun, sama saja. Selamat Tahun Baru.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasanya agak meremehkan mendiang Mochtar Lubis jika pandangan ini disebut meniru enam atau (12) ciri manusia Indonesia yang jadi salah satu karya terkenalnya.&nbsp; Soalnya, tidak ada pengamatan sistematis berdasarkan bukti-bukti yang teruji dalam pandangan ini, jadi sebut sajalah terinspirasi mendadak oleh Mochtar Lubis dan berdasarkan pengamatan serampangan. Tapi yang \u00a0paling penting adalah maknanya bukan penilaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[72,15],"class_list":["post-612","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-komentar","tag-72","tag-liston-siregar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":615,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/612\/revisions\/615"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}