{"id":6141,"date":"2022-07-14T21:05:23","date_gmt":"2022-07-14T21:05:23","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6141"},"modified":"2022-07-14T21:05:26","modified_gmt":"2022-07-14T21:05:26","slug":"anak-angkat-berkaki-empat-1-liston-p-siregar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6141","title":{"rendered":"Anak Angkat Berkaki Empat (1) &#8211; Liston P Siregar"},"content":{"rendered":"\n<p>Sekitar 15-an tahun lalu, kedua anak menuntut punya anjing peliharaan, seperti beberapa teman mereka. Punya anjing peliharaan memang seru dan begitulah pengalaman saya dan istri ketika masih kecil. Kami berdua masuk dalam kelompok yang sekarang suka disebut \u2018dog person\u2019 walau saya juga pernah punya kucing yang manja. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6145\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-2048x1366.jpeg 2048w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/51B6035D-1DB7-464A-B364-A9686CF4F562_1_201_a-750x500.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Anjing kami dulu, entah ras apa tapi agak berbulu, namanya Beffin. Masih teringat wajahnya lucu, lincah, lasak, dan sempat hilang tak pulang ke rumah ketika sudah petang. Dipimpin Ompung, maka saya dan abang tengah mencari-cari sampai akhirnya ketemu sudah dikepung orang sekampung di jalan belakang rumah. Untunglah pimpinan laskar pengepung melepaskan pengepungan karena otoritas Ompung dan Beffin langsung nurut ikut di belakang. Saya masih ingat ada pengepung yang berkomentar, \u201cmemang orang itu punya, nurut kek gitu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu asyiknya punya anjing adalah ketika bangun pagi disambut riang si Beffin, yang tidur di lantai bawah. Begitu juga ketika pulang sekolah, dia akan berlari penuh semangat dengan gonggong kecilnya untuk mendekati becak yang membawa saya. Senang rasanya dibutuhkan oleh satu mahluk hidup bernyawa lain. Saya ingat juga senang melihat dia duduk tertib di bawah meja makan, menanti lemparan-lemparan remah makanan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Itu masih jaman saya di SD.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa waktu setelah hilang, rasanya di SMP -karena abang sulung saya sudah punya motor-&nbsp; dia langsung tidur tak bertenaga selepas main-main di persawahan depan rumah. Makanannya tak disentuh. Saya paksa mendulangnya, dia melengos tak mau. Saya agak gusar tapi tak tak tahu mau ngapain. Laporan ke kedua abang saya dan bapak ibu tak ditanggapi serius. \u201cAh nggak apa-apa itu.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Esok paginya, Beffin sudah mati dengan cairan kuning tergenang keluar dari mulutnya. \u201cKena racun dia,\u201d kesimpulan abang sulung saya. Maka dia dimakamkan di belakang ruma: kasus ditutup! Saya sedih dan sempat meminta anjing baru tapi tak boleh lagi. Saya makin sedih, tapi tak lama lenyaplah kesedihan itu ditimbun rutinitas sehari-sehari yang tak kalah serunya: main bola, berenang, pramuka, dan macam-macam kegiatan lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi saya paham total ketika kedua anak -yang waktu itu baru masuk remaja dan masih SD- ingin punya anjing peliharaan. Tapi anjing di Inggris tak semudah dan semurah di Medan atau Jakarta, yang biasanya punya pembantu untuk diminta menyiapkan makanan anjing, misalnya. Lagipula, sudah sering kami dengar dari kawan-kawan sekitar di London tentang anak mereka yang ingin punya anjing tapi akhirnya diurus oleh para ayah ibu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Repot dan mahal<\/strong><br>Punya anjing di Inggris tidak mudah dan murah. Soal pertama adalah harus membeli, walau jika punya kenalan mungkin bisa minta gratis jika anjingnya beranak. Tapi ada pasar yang cukup besar untuk anjing dan anak anjing dari ras tertentu laku diperjual-belikan. Soal kedua adalah biaya vaksin dan asuransi-nya. Saya ingat dulu Beffin tak divaksin sama sekali, sementara di sini ada vaksin rabbies dan beberapa vaksin lain.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tambah lagi asuransi. Ini untuk mencegah jika anjing dioperasi maka biayanya tak ditanggung sepenuhnya oleh si pemilik. Jaman saya di Medan jelas yang terbaik adalah sikap dan perilaku abang saya: mati, putuskan kena racun, dan kuburkan. Beres urusan. Cuma di Inggris, membiarkan anjing sekarat dan tak melakukan apapun bisa tergolong melanggar \u2018perikebinatangan\u2019 yang mengundang kecaman dari para pegiat kesejahteraan hewan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"655\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-1024x655.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6148\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-1024x655.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-300x192.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-768x491.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-1536x982.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/6B9572C2-2281-4C73-A048-77CFE848AC72_1_201_a-2048x1309.jpeg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Satu lagi yang repot: membawa rutin jalan minimal sekali sehari. Aniing di Inggris tak berkeliaran seperti di Medan atau Jakarta tahun 1970-an lalu, melainkan tidur di dalam rumah. Untuk kesehatan jiwa dan raga serta demi \u2018perikebinatangan\u2019 maka para anjing harus dibawa jalan ke luar rumah, entah itu berkeling kampung atau main di taman luas. Jadi anjing layak dibawa jalan sedikitnya sekali sehari. Jika tidak, \u201cWah orang macam apa itu, anjingnya dikurung di rumah terus.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Saya yakin sudah banyak orang Indonesia yang memperlakukan anjingnya seperti di Inggris: vaksin lengkap, asuransi, dan dibawa jalan sedikitnya sekali sehari.<\/p>\n\n\n\n<p>Bedanya di Inggris tak ada pembantu yang membawa jalan atau menyiapkan makanan sedang kalau mau minta bantuan orang lain maka harus bayar ekstra lagi. Makanya banyak keluarga yang dulunya punya anjing karena permintaan anak tapi bapak mamak yang akhirnya sibuk menyiapkan makanan, membawa jalan rutin, membayar makanan, jajanan, vitamin, dan asuransi. Bukan seperti si Beffin yang praktis menunya sama dengan kami.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka keputusan saya dan istri 15-an tahun lalu itupun sederhana, \u201cKita tidak mampu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Cuma istri saya pernah mendengar tentang perusahaan yang membantu merawat anjing milik orang-orang yang sedang liburan. Tak semua hotel mau menampung anjing juga tak semua pemilik anjing mau melewati kerepotan di karantina antar negara saat berlibur. Tak semua orang pula maunya anjingnya ditampung di \u2018kennel\u2019 atau asrama anjing karena para anjing titipan ditaruh dalam kerangkeng-kerangkeng dan dikeluarkan bebas bergerak hanya untuk waktu tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa pemilik anjing, yang punya dana lebih tentunya, ingin agar anjingnya tetap menikmati suasana keluarga. Anjingnya juga tetap punya halaman pribadi yang kecil di belakang rumah, dan makan seperti biasa, jadi bukan ransum massal yang disiapkan kennel. Pokoknya kesejahteraan dan perkebinatangan tetap terjaga ketika para pemilknya berlibur selama seminggu, dua minggu, atau sebulan. Kalau harus membayar, tak masalah. Titik.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka kamipun mencalonkan diri untuk menjadi pengasuh anjing di sebuah perusahaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah berikut adalah istri saya diwawancara lewat telepon. Salah satu pertanyaan antara lain apakah ada yang merokok di dalam rumah, apakah memang suka anjing maupun luas halaman di belakang rumah. Lulus dari pertanyaan lisan, seorang penilai datang untuk bertemu kami berempat. Kami ngobrol sana sini agar penilai untuk teryakinkan bahwa kami berempat memang bisa berlembut hati dengan para anjing. Halaman belakang yang kecil juga diperiksa untuk memastikan tak ada bagian pagar terngaga yang membuat anjing bisa melarikan diri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada sekitar setengah jaman si penilai ngobrol dan melihat sana sini sebelum esoknya&nbsp; memutuskan kami layak menjadi pengasuh anjing di perusahaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan yang sempat dijadikan canda kepada beberapa teman dari Indonesia. \u201cSi pewawancara dan si penilai sudah melakukan tugas sebaik-baiknya tapi lupa dengan aspek kultural yang amat berbahaya.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Maksud kami adalah jikalah si pewawancara dan si penilai paham tentang orang Batak dan orang Manado yang punya, atau sempat punya, tradisi makan anjing, manalah mungkin kami lulus menjadi pengasuh anjing milik orang lain! Lha anjing sendiri saja bisa dipotong, kayak motong ayam peliharaan, apalagi anjing yang ditinggal oleh pemiliknya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Protap<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah resmi jadi pengasuh, ada tahapan-tahapan yang menjadi semacam prosedur tetap. Pertama, perusahaan akan mengirimkan email berisi informasi tentang anjing yang akan diasuh: nama, ras, usia, frekeunsi jalan sehari dan berapa lama tiap jalan, jadwal makan, apakah masih buang air di dalam rumah, berapa jam boleh ditinggal sendiri, tidur di dalam kamar sama pemilik atau tidak, dan sejumlah informasi terkait anjing yang akan diasuh itu.<br><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:59% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img decoding=\"async\" width=\"695\" height=\"512\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/1A39D164-3ADD-4D60-A977-4DCE3F20CDDD.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6149 size-full\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/1A39D164-3ADD-4D60-A977-4DCE3F20CDDD.png 695w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/1A39D164-3ADD-4D60-A977-4DCE3F20CDDD-300x221.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/1A39D164-3ADD-4D60-A977-4DCE3F20CDDD-380x280.png 380w\" sizes=\"(max-width: 695px) 100vw, 695px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p>Pengasuh akan menjawab apakah bersedia mengasuh calon anak asuh yang digambarkan secara rinci itu. Kami memutuskan untuk tidak menerima anjing yang tidur di dalam kamar, juga anjing yang masih belajar buang air dengan kemungkinan masih pipis atau berak di dalam rumah. Satu syarat lainnya adalah harus bisa ditinggal sendiri selama 3 jam -entah jika ditinggal harus ditemani dengan suara radio atau gambar TV. Aneh rasanya jika anjing, yang hakikatnya penjaga, kok nggak boleh ditinggal sendiri. Sayang boleh-boleh saja tapi janganlah pula berlebihan.<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p>Jika kami memutuskan tidak bisa menerima anak asuh itu, maka perusahaan akan mencari pengasuh lainnya, yang juga sudah lolos wawancara dan pengamatan langsung.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang jika kami bersedia maka si pemilik dan anjing akan menghubungi untuk bertemu istri saya, sebagai pengasuh utama, dan syukur-syukur pengasuh tambahan: kedua anak dan saya. Dari kunjungan itulah maka si pemilik bisa merasa-rasa apakah anjingnya bakal kerasan, diabaikan, atau disiksa, misalnya. Bisa jadi pemiiliknya merasa tak nyaman sete;ah mendengar kami dari Indonesia -tempat anjing masih jadi santapan, waktu itu. Mungkin juga dia tak suka dengan bentuk kaca mata istri saya. Pokoknya pemilik yang menentukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya pengasuh juga bisa saja menolak calon anjing yang akan diasuh, dengan beragam alasan. Beberapa anjing, misalnya, mengonggong terus tak henti-henti kalau ada stimulans di luar rumah, entah itu musang atau kucing yang lewat, maupun orang melintas, atau bahkan burung yang memungut remah di pojok halaman. Ada juga anjing yang amat lasak sehingga membuat pengasuh terseok-seok bermain bola dengannya. Tapi pengasuh juga bisa menolak dengan alasan -walau tak disebut secara terbuka- pemiliknya yang sombong dan merasa bahwa pengasuh anjingnya adalah pembantunya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langganan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kenyataannya kami tidak pernah ditolak, juga tidak pernah menolak.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari H, tibalah si anjing dengan segala perlengkapannya yang banyak dan rumit. Harap diingat bahwa mereka adalah anjing-anjing yang disayang, yang kadang diperlakukan seoerti anak oleh pemiliknya. Ada makanan utama yang cukup untuk selama ditinggal, juga ada jajanan -\u201cKalau dia baik,\u201d saran pemilik- berbentuk tulang-tulangan atau biskuit maupun irisan daging. Tempat tidur dan selimut juga dibawa, termasuk satu atau dua handuk. Beberapa anjing disemport parfum, yang saya yakin, milik ibunya sedang anjing lainnya disediakan bedak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6147\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-2048x1365.jpeg 2048w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/15CB9274-4F58-4B94-B8D0-E9F55466E7AC_1_201_a-750x500.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Termasuk ke dalam peralatan adalah mangkuk untuk makan dan minum, yang sederhana maupun yang dihias dengan nama anjingnya. Semua anjing punya mainan: bola tenis, boneka dari karet yang berbunyi kalau digigit, boneka dari kain yang masih baru namun saatnya diambil pulang nanti sudah robek-robek. Tak ketinggalan adalah plastik khusus untuk memungut pupup anjing ketika dibawa jalan rutin harian. Satu dua anjing punya jas hujan supaya rutin jalannya tidak sampai terganggu oleh hujan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak beda jauh dengan pindah rumah seminggu atau dua minggu. Apa yang dinikmati anjing di rumahnya harus juga dipenuhi oleh rumah pengasuhnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Yang juga harus dibawa pemiliknya adalah bayaran untuk pengasuh. Saya kira ini sengaja harus dilakukan di depan supaya pengasuh sudah tenang tak perlu lagi khawatir nanti gimana kalau pemilik pura-pura tidak punya uang tunailah. Sudah menjadi peraturan perusahaan, bayaran harus dituntaskan dalam bentuk tunai pada hari kedatangan anjing. Berapa per harinya? Tidka besar tapi, terus terang, awalnya cukup mengagetkan ada orang yang mau membayar sejumlah itu. Padahal kalau ditaruh di \u2018kennel\u2019 bisa setengahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara pemilik masih harus membayar lagi kepada perusahaan yang secara resmi merekrut kami. Saya tidak tahu persis berapa pula yang harus dibayar setiap hari ke perusahaan, tapi mengingat jumlah pegawai adminisitrasi-nya, jumlah yang rasanya lumayan juga. Terbayangkanlah biaya tambahan dari kepemilikan anjing di Inggris. Bukan hanya urusan biaya harian atau bulanan, tapi seandainya kami jadi punya anjing maka berapa ratus Poundstreling lagi yang harus kami sediakan jika pulang selama sebulan ke Indonesia!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih mahal lagi kalau si pemilik punya dua anjing yang harus dititipkan. Biaya penitipan harian tidak langsung berlipat dua, tapi jelas lebih tinggi dibanging hanya seekor anjing. Kenyataannya beberapa memang memelihara dua ekor anjing. Ala mak\u2026 terbayangkan repot dan mahalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terasalah keputusan kami untuj tak memelihara anjing cukup tepat. Apalagi para penggantinya ternyata menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa anjing asuhan menjadi langganan. Ada empat atau lima ekor anjing yang menginap berulang di tempat kami. Karena saya bukan pengasuh utama, agak lupa nama-nama mereka tapi salah satunya Macca, yang sekali waktu kami asuh pada musim liburan paskah. Dalam satu kesempatan, kami keluar rumah dan ketika pulang, empat coklat paskah berbentuk telor yang dibungkus kertas emas sudah disantapnya habis. Dia berhasil meraihnya dari atas meja yang tak terlalu tinggi dan berpesta pora. Sampahnya bertebaran di lantai.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika istri saya marah sambil menunjuk sampah-sampah yang ditinggalkannya, dia pasang muka sedih dan bersalah. Istri saya trenyuh juga tapi tetap panik, menanti gerakan-gerakan aneh dari Macca karena coklat tak baik untuk anjing untuk segera dibawa ke dokter hewan perusahaan. Untunglah dia baik-baik saja sepanjang sisa hari dan keesokan harinya dan seterusnya. Kami menyadari bahwa coklat paskah umumnya berkonsentrasi susu yang amat tinggi dengan kandungan coklat yang amat kecil. Dengan badan cukup besar, Macca cuma terkena kandungan coklat kecil. Phuihh\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Holy punya cerita lain. Masa sekitar 15-an tahun lalu itu, telepong genggam belum semurah saat ini. Tapi ibu pemiliknya selalu menelepon Holy dari tempat liburan, entanh itu di Spanyol atau Prancis. Pertama kali menelepon si ibu paruh baya itu cuma bertanya kabar Holy, apakah bagus makannya, apakah bikin repot, dan pertanyaan basa-basi lain. Istri saya merasa, \u201cMau ngobrol sama Holy?\u201d sambil mendekatkan telepon ke telinga Holy, yang memang menyalak mendengar suara ibunya. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6146\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-2048x1366.jpeg 2048w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/DD38A335-9994-4D26-8DCA-78876608221B_1_201_a-750x500.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sejak itu, setiap ibu Holy menelepon maka telepong genggam langsung dikasih ke dekat telinga Holy. Setelah beberapa menit, barulah telepon ditarik dan ibunya pun melakukan tanya-jawab basa-basi sewajarnya dua manusia yang berhubungan sosial.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sekali waktu kami kedatangan ras German Shepherd atau Herder yang amat besar. Kedatangannya serasa langsung memenuhi ruang tamu kami, yang biasanya dijadikan kamar tidur para anjing asuhan. Kasihan rasanya dia karena tak bisa bebas ke mana-mana tapi pemiliknya yakin rumah kami cukup mengakomodir anjingnya. Waktu dia pulang, tiba-tiba ruang tamu kami rasanya amat besar dan lapang. Jadi ada masanya, jika merasa rumah kami sempit maka, \u201cAyo kita panggil si\u2026.&nbsp; nginap semalam pun jadilah biar nanti terasa lapang lagi rumah kita.\u201c <\/p>\n\n\n\n<p>Karena anjng-anjing itu bukan milik kami dan juga kami tidak langsung terbiasa dengan keberadaan mereka harus diakui pula ada semacam rasa lega ketika anak angkat berkaki empat itu dijemput pulang. Rutinitas sehari-hari pun kembali lagi: bisa buka pintu rumah sembarangan -coba kalau ada anjing, pegang dulu si Holy- dan juga tak harus menjaga kebersihan lantai dapur sama sekali tanpa sisa-sisa makanan -ada pemilik yang sama sekali tak mau anjingnya menyantap makanan manusia walau cuma sekedar remah-remah yang terlempat ketika masak. Juga bisa berbaring malas-malasan di tempat tidur walau sudah di atas jam 8 pagi -tak usah harus membawa jalan Macca yang jadwalnya jam 7 pagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Belakangan kami harus berhenti menjadi pengasuh anjing. Jam kerja harian istri saya -sebagai pengasuh utama ajnjing- ditamba sehingga hewan asuhan itu akan ditinggal lebih dari 5 jam seharian. Saya memang kadang kerja malam, dari jam 4 sore hingga tengah malam tapi berselang-seling dengan kerja pagi. Kedua anak juga sekolah dengan jam normal sehingga besar risiko anak angkat berkaki empat ditinggal sendirian lebih dari 3 jam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kamipun mundur dan perusahaan cukup kecewa karena, menurut mereka, kami termasuk pengasuh yang cukup populer.<\/p>\n\n\n\n<p>Di penghujung 2019, atau beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19, saya di-PHK. Tak mudah mencari kerja pada masa pandemi dan sekaligus pula saya tak mau bekerja lagi di sektor media. Maka setelah sempat bersantai lontang lantung di dalam rumah, saya menghubungi perusahaan yang sama. Data kami masih ada di dalam sistem mereka dan setelah beberapa pertanyaan tentang pagar di halaman belakang dan merokok di dalam rumah, saya yang kini menjadi pengasuh anjing sedang putra dan istri menjadi pengasuh tambahan sedang  putri saya sudah tinggal sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang kita alami, pandemi menghentikan kegiatan kita semua, termasuk liburan. Jadi setelah sempat kering order, pelan-pelan berdatangan juga anak-anak angkat berkaki empat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>***<br><em>bersambung&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Liston P Siregar<\/strong>. Anak Medan dan editor ceritanet.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekitar 15-an tahun lalu, kedua anak menuntut punya anjing peliharaan, seperti beberapa teman mereka. Punya anjing peliharaan memang seru dan begitulah pengalaman saya dan istri ketika masih kecil. Kami berdua masuk dalam kelompok yang sekarang suka disebut \u2018dog person\u2019 walau saya juga pernah punya kucing yang manja. Anjing kami dulu, entah ras apa tapi agak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5,8],"tags":[1197,1198,1196,877,1194,1195,918],"class_list":["post-6141","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","category-memoar","tag-anjing","tag-anjingpeliharaan","tag-catatan-2","tag-ceritanet-2","tag-edisi355-2","tag-memoar-2","tag-listonpsiregar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6141"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6162,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6141\/revisions\/6162"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}