{"id":6158,"date":"2022-07-14T21:06:41","date_gmt":"2022-07-14T21:06:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6158"},"modified":"2022-07-14T21:06:43","modified_gmt":"2022-07-14T21:06:43","slug":"bukan-topeng-berdarah-faustina-hanna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6158","title":{"rendered":"(Bukan) Topeng Berdarah &#8211; Faustina Hanna"},"content":{"rendered":"\n<p>:<em>kupukupu malam<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>menerkanerka<br>di pucuk panah sebelah mana kau karamkan biduk pelayaranmu beribu malam. sedang pandai tajamnya belum tentu jadi serupa sebam melupa jejakjejak petualanganmu. sebab hati masih saja remuk sebagaimana persegi terungku \u2013ia tak tergoreskan tuntas oleh tintatinta gagal penghuni tiap depa lailah yang membedah semburat hasrat. sedari potret jaman digiring kusir mimpi hingga titik panas jantung mentari tetaplah sebuah sesak yang dirunyamkan temaram duniamu.<br>katamu kelambu lugu itu tak pernah menanggalkan putih yang jadi panutan di antara semesta hitam. lalu mengapa rekah bibirmu tetaplah memesan merah, kelok semu bianglala kala dicumbui kenistaan. sembari kau terus sibuk menabuh malammalam berat tanpa memaknainya sebagai kumandang duka dari dinding jiwa yang lama melekang.<\/p>\n\n\n\n<p>lalu tanggung jawab siapa bila cermin akhlak dipecah bersama serpihanserpihan raga bermuara di pundi tebal menganga. aku memandang sebentang cakrawala tersemat segumpal lenyak kehidupan mengasingkan akarakar payah asuhan bunda lara malam. sementara kau bentangkan luas bebutiran air mata menjadi telaga liur dari tuantuan haus nikmat. <br>jangan pernah bersembunyi di balik topeng berpupur itu, kau tahu aku masih teguh terpaku selama pagar sajaksajakku membeku. senandung merdu serunai kian membungkus satu per satu kerangka puisi seiring sisasisa purnama tumbang dari segala pengaliran diri yang tak hanya sekadar pekat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;kakanda, lihatlah\u2026 jemari lapar belum usai menggerayangi cadasnya makammakam harga diri.<br>perempuan kakanda di sini, berani mencicipi sudutsudut rapuh ibu kota melanggar norma dan sumpah.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>maka aku adalah pengoyak desir nafsu serigala<br>tak bakal ruh sajakku meminang getar bibirbibir basah<br>kemudian ditawari pula bahu indah<br>hingga miris puncak kepedihan mesti kudengar dari poripori pinggul yang gerah.<br>pun bahasa cinta tiada cakap bermain sepanjang aroma alkohol membekas di tubuh barumu setiap pagi.<br>pada setiap kecupan hambar hanyalah mengilhami setiap taring tajam. menjadi pengerat daging di antara tulangtulang yang berteriak serupa lelakon pahit. menjadi alur usang yang paling kentara, barisan rapat kelekatu malam bergerak menjahit sayapsayap getas di kedalaman lukamu.<\/p>\n\n\n\n<p>tolong pinjami aku biduk terakhir,<br>aku hendak menemukanmu \u2013yakinlah aku akan menemukan sejatimu.<br>sebab muara hati tak hentihentinya memelihara kembara kata dan aku teriris digentayangi durjadurja<br>palsu.<br>tersenyumkah engkau<br>menangiskah engkau<br>kiranya sepenuh cahaya rembulan tengah aku ramu demi menggapai nuranimu. lalu ke perjalanan mana kau membawa keluhuran rahim yang menjadi rumah berlindung bagi malaikat kecil titipan Tuhan. mestinya kau renungkan bisikan jiwamu, wahai perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;aku mencintaimu, perempuan. perempuanku. o, perempuan kakanda. perempuan tangguh untuk dunia!<br>saat aku menyentuh bibir itu, bibirku gemetaran; saat aku menyentuh dada itu, kesakitan menekan<br>dadaku. aku kian merinding.<br>doa dan impian-impianmu demi keluarga di rumah adalah ikrar. kesucian yang tiada pernah tenggelam,<br>yang akan menyelamatkan malam.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>hingga di penghujung sajak aku dapat teguh memandangmu sebagai sekar indah yang utuh \u2013serupa bumi (masih setia menggantungkan setiap lidah kata di pucuk panah peninggalanmu):<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;engkau laksana mawar merah,<br>bukan topeng berdarah\u2026<br>engkau laksana mawar merah,<br>bukan topeng berdarah!&#8221;<br>***<br><em>2011-2017 (kepada air mata yang terpasung dalam pekatnya kehidupan)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Faustina Hanna<\/em><\/strong>, <em>lahir di Jakarta 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, BWCF (Borobudur Writers &amp; Cultural Festival), Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Nusa Bali, Pos Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto, magrib.id, berandanegeri.com, beritabaru.co. Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020). Turut bergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG). Menjuarai lomba penulisan puisi, di antaranya: Juara 3 Sajak TKI (UmaHaju Publisher, 2012), Juara Harapan 1 &#8220;Ekspresikan Dirimu dengan Puisi&#8221; (Writing Revolution, 2012). Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>:kupukupu malam menerkanerkadi pucuk panah sebelah mana kau karamkan biduk pelayaranmu beribu malam. sedang pandai tajamnya belum tentu jadi serupa sebam melupa jejakjejak petualanganmu. sebab hati masih saja remuk sebagaimana persegi terungku \u2013ia tak tergoreskan tuntas oleh tintatinta gagal penghuni tiap depa lailah yang membedah semburat hasrat. sedari potret jaman digiring kusir mimpi hingga titik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[1203,808,1190,1202,1204,809,824],"class_list":["post-6158","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-bukantopengberdarah","tag-ceritanet","tag-edisi355","tag-faustinahanna","tag-kupukupumalam","tag-puisi","tag-sajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6158"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6164,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6158\/revisions\/6164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}