{"id":6171,"date":"2022-08-14T20:49:11","date_gmt":"2022-08-14T20:49:11","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=6171"},"modified":"2022-08-14T20:49:13","modified_gmt":"2022-08-14T20:49:13","slug":"bola-api-tengah-malam-rumadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6171","title":{"rendered":"Bola Api Tengah Malam &#8211; Rumadi"},"content":{"rendered":"\n<p>Bola api melayang di udara. Berkitar-kitar membuat cemas seluruh penduduk desa. Setiap laki-laki mengintip dari celah lubang pintu atau celah dinding bambu, berharap-harap cemas semoga bola api tidak turun ke rumah mereka.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada bayi yang tidur nyenyak. Mereka menangis dalam pelukan ibunya. Tangis mereka bersahutan nyaring, seolah saling bergaung, menjawab, dan bercerita kegetiran di malam itu. Sang ibu meski berusaha menenangkan si bayi, rasanya percuma saja. Tembang-tembang selawat telah dinyanyikan, rupanya si bayi tetap merengek, menjerit, meronta, dan membuat ibu mereka menangis begitu rupa. Mereka tak mau puting ibu. Mereka mau bola api pergi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah sepekan lamanya hal itu terjadi. Sudah lima korban yang mati.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bola api itu meluncur ke kediaman korban, menghantam genteng yang paling rapuh, dan masuk ke dalam rumah. Hari pertama datangnya bola api, awalnya tidak ada yang memperhatikan\u2014tepatnya tidak ada yang peduli dengan kehadiran bola api. Mungkin saja itu santet yang dikirimkan dari orang yang jauh. Tidak pernah ada cerita tentang santet yang masuk ke dalam desa mereka.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun malam itu, adalah awal kegetiran yang melanda seluruh penduduk desa. Darmin, seorang lelaki dewasa, dihantam bola api, menghantam dadanya, yang membuat ia menjerit kesakitan. Seketika orang-orang di dalam rumahnya bangun, dan mendapati tubuh Darmin terbakar. Seluruh tubuhnya mengeluarkan asap, menjadi berwarna hitam menyedihkan dan aroma daging manusia terbakar meruap. Ibunya menjerit histeris kemudian pingsan. Betapa malang nasib lelaki itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun beberapa perempuan merasa beruntung atas kepergian Darmin. Ia lelaki bermata mesum yang tak tahan menahan kemolekan tubuh perempuan. Perangkat desa telah membagi tempat mandi untuk laki-laki dan perempuan yang berbeda. Jalanan kecil ke sebelah kanan untuk laki-laki, dan sebelah kiri untuk perempuan. Mereka melalui jalan setapak yang berbeda. Namun tetap saja, banyak lelaki yang diam-diam menyelinap melalui celah-celah rimbun semak belukar yang tumbuh di sekitar jalan setapak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Para lelaki bermata mesum, bersembunyi di bawah pohon besar yang tumbuh di sekitar sungai, dan mereka dengan perasaan bahagia tak terkira, mengintip kemolekan tubuh-tubuh perempuan yang banyak bertelanjang, tapi tak sedikit pula yang menggunakan kain penutup sebatas dada dengan lekuk tubuh yang jelas. <\/p>\n\n\n\n<p>Betapa para lelaki pengintip meneguk ludah, termasuk Darmin.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari Darmin ketahuan lagi oleh lelaki pencari kayu bakar. Maka si lelaki pencari kayu bakar berteriak kencang, yang membuat beberapa penduduk yang hendak menuju ke kali untuk mandi langsung mendekat ke arah sumber suara. Darmin tertangkap bukan untuk pertama kali. Seorang suami yang merasa istrinya diintip langsung merangsek maju, dan menyeret Darmin. Si suami mengamuk kesetanan. Menghantam tubuh Darmin berkali-kali, meski orang-orang telah berusaha untuk menghentikannya, tetapi tenaga si suami lebih kuat dan bertenaga.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darmin babak belur hari itu sampai seorang perangkat desa datang&nbsp; membawa pergi Darmin. Pipinya telah lebam, satu giginya tanggal, dan mulutnya dipenuhi darah. Bukan yang pertama kali Darmin dipukuli namun bukan Darmin jika ia jera.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Simbok Darmin menangis tergugu melihat anaknya sengsara. Namun ia lebih sedih, karena telah gagal menjadi orang tua. Ia pun semasa muda memiliki tubuh yang sintal. Para&nbsp; lelaki meneguk ludah ketika ia lewat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah seorang tetangga mengintipnya ketika sedang mandi di kali. Maka suaminya mengamuk, menghajar lelaki pengintip sampai tergeletak tak berdaya. Sekarang ia tak pernah menyangka, Darmin serupa lelaki pengintip yang dihajar bapaknya dulu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kini simbok membersihkan luka-luka Darmin, dan Darmin meringis kesakitan namun disusul senyum, yang tak dimengerti oleh simboknya sendiri.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa pekan sebelum bola api menyerang desa, sedekah bumi diadakan. Berbagai macam doa dilantunkan. Semua orang datang ke balai desa, untuk memberi sedekah, kepada para peminta dari desa lain. Pesta dangdut dipentaskan usai lantunan doa-doa.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darmin tak suka doa, tapi doyan dangdut. Ia suka melihat tubuh perempuan yang meliuk bagai ular di panggung. Maka ia datang ketika lapangan desa telah berjejalan pemuda-pemudi, orang tua, dan anak-anak. Di pinggir-pinggir lapangan telah berbaris para penjual mainan, pecel, juga tukang lotere. Namun Darmin datang karena satu alasan, melototi penyanyi molek bergoyang meliuk bagai ular, yang membuat darahnya berdesir tak keruan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Musik dimainkan. Kendang ditabuh. Suara biduan menggema membelah malam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darmin merangsek maju, menyelinap di antara lelaki yang berjoget di tanah lapang. Ia terus maju, terkadang merayap, merunduk, menghindari senggolan. Dan ia telah sampai di depan. Mampu melihat dengan jelas biduan yang melenggak-lenggok seperti ular yang meliuk-liuk. Ia ikut bergoyang kecil. Ia menikmati tubuh sintal perempuan dari sangat dekat, tanpa harus mengendap di balik pohon besar, dan tanpa harus takut akan dipukuli.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada yang berdesir dalam tubuhnya. Ada hasrat yang tidak bisa ia kendalikan. Ada yang mengelegak hebat. Ia menggesek celananya dalam diam. Dalam khidmat. Hingga tanpa seorang pun tahu, ia melenguh panjang, dengan perasaan lega tak terkira.<\/p>\n\n\n\n<p>Bermalam-malam berikutnya ia&nbsp; tak bisa tidur nyenyak. Ia keluyuran tanpa arah. Pulang ke luar rumah tanpa simboknya tahu. Ia berjalan di saat gerimis turun tipis-tipis. Ada gelegak yang tak bisa ia tahan. Hingga lewat jalan keluar makam, ia melihat seorang perempuan berjalan sendirian memakai payung hitam. Ia tak bisa menahan diri, menoleh ke segala arah, dan tak ada seorang pun yang bangun di malam pekat dengan gerimis turun disertai gelegar yang masih lemah terdengar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darmin menubruk perempuan itu. Si perempuan meronta. Namun tenaga Darmin lebih kuat. Darmin membopongnya paksa, masuk kembali ke arah pemakaman. Si perempuan menjerit, dan gelegar petir membelah sunyi. Gerimis perlahan menjadi hujan deras. Dan si perempuan terus meronta. Darmin tak berhenti.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia banting tubuh perempuan itu di pinggir pemakaman. Dibarengi sorot mata iblisnya, ia menciuminya dengan beringas. Si perempuan terus meronta. Tak ada yang mendengar. Gelegar petir semakin kuat terdengar membelah malam. Dan hasrat dalam diri Darmin membuat ia menelanjangi si perempuan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hasrat tertuntaskan. Darmin lega. Si perempuan menutupi tubuhnya yang telah koyak, meludahi Darmin sambil berlalu pergi. Darmin terkekeh melihatnya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Malam berikutnya, bola api datang berkitar di sekeliling desa. Darmin adalah lelaki pertama yang terbakar. Entah sampai berapa lama lagi, bola api itu terus melayang mencari korban. Kiai sepuh desa telah mengajari seluruh kampung untuk mengamalkan wirid. Namun bola api terus melayang, berkitar-kitar hingga azan Subuh berkumandang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lima orang sudah mati. Tapi masih banyak pria di desa yang ketakutan menanti giliran akan mati terbakar bola api, sambil menyesali perilaku masa lalunya.&nbsp;<br>***<br>Ciputat, 5 Oktober 2021<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Rumadi<\/strong>, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya dimuat berbagai media cetak dan daring. Buku pertamanya yang akan terbit berjudul Melepaskan Belenggu oleh Penerbit Jagatlitera.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bola api melayang di udara. Berkitar-kitar membuat cemas seluruh penduduk desa. Setiap laki-laki mengintip dari celah lubang pintu atau celah dinding bambu, berharap-harap cemas semoga bola api tidak turun ke rumah mereka.&nbsp; Tak ada bayi yang tidur nyenyak. Mereka menangis dalam pelukan ibunya. Tangis mereka bersahutan nyaring, seolah saling bergaung, menjawab, dan bercerita kegetiran di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1205,808,804,1206,849,1019],"class_list":["post-6171","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-bolaapi","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi356","tag-perempuan","tag-rumadi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6171"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6231,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6171\/revisions\/6231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}