{"id":6289,"date":"2022-10-14T22:46:03","date_gmt":"2022-10-14T22:46:03","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=6289"},"modified":"2022-10-14T22:46:04","modified_gmt":"2022-10-14T22:46:04","slug":"baju-pengantin-jifisa-amin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6289","title":{"rendered":"Baju Pengantin &#8211; Jifisa Amin"},"content":{"rendered":"\n<p>Malam itu merupakan malam jahanam bagi Rheina. Pamannya, Reynold, menariknya ke pinggir tempat tidur, melucuti celana dalamnya, dan melakukan hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Waktu itu ia berumur 10 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbuatan paman durjana tak hanya sekali. Terus menerus dilakukannya kala berkunjung dan menginap di rumah orang tua Rheina. Tak hanya di sana. Rheina kadang-kadang juga dibawa ke rumah neneknya dengan iming-iming dibelikan baju baru. Di rumah neneknya, Rheina bahkan diperlakukan si paman dengan lebih beringas.<\/p>\n\n\n\n<p>Rheina tak pernah mengadu. Ia tahu ibunya tak akan percaya adik kesayangannya berbuat bejat. Ibu Rheina selalu menganggap anak-anak suka berkhayal. Maka cerita seperti itu bisa jadi dikira tak masuk akal. Rheina pun memilih untuk tutup mulut.<\/p>\n\n\n\n<p>Untunglah si paman pindah kota ketika Rheina menginjak usia 15 tahun. Secara fisik, hampir tak kelihatan ada perubahan akibat ulah pamannya. Secara psikis, ia terluka dan kurang percaya pada hubungan keluarga.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata, setelah pamannya pergi, datang pula sepupunya, Raymond. Sepupu yang menikmati tubuhnya tanpa iming-iming, melainkan dengan ancaman. Ia akhirnya berpikiran bahwa lelaki hanya menginginkan perempuan untuk disiksa.<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga dua tahun kemudian, tak ada satu orang pun tahu apa yang telah dialami Rheina. Sekilas, seperti tak ada luka dalam hidupnya. Profil wajah Rheina manis dan murah senyum. Orang yang melihatnya pasti mengira ia selalu bahagia. Profil tubuh Rheina bukan hanya menarik, tapi juga merangsang, kata sepupunya yang lain. Namun, tak ada juga yang paham, mendengar komentar itu hatinya malah bagai ditusuk belati dan dipuntir perlahan-lahan. Sakit tiada tertahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari ketika telah berusia 19 tahun, Rheina bertemu dengan seorang pria yang menurutnya baik dan sopan. Hanya tiga bulan berkenalan, pria ini melamarnya. Semua berjalan lancar dan Rheina berpikir akan hidup tenang. Persepsinya terhadap lelaki mulai berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pesta dengan penuh rasa bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayang, keinginan mencapai bahagia hanya impian belaka. Kembali, Rheina merasakan sakit yang sama, seperti ketika paman dan sepupunya menggagahinya dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Roy, sang pujaan hati, tega memaksanya berhubungan suami-istri, tepat sehari sebelum sumpah pernikahan diucapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Rheina bagai di ujung jalan. Berbalik akan membuat malu keluarga dan mereka akan dicibir sepanjang masa. Maka ia menyusun rencana.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi hari menjelang pernikahan, lengkingan teriakan terdengar dari kamar Rheina. Keluarga yang kaget bergegas ke kamar dan menemukan perias yang seharusnya mendandani Rheina berdiri kaku pucat pasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Si perias menunjuk pada Rheina yang berbaring memeluk baju pengantinnya. Ayah Rheina menghampiri dan menyentuh pipi anak sulungnya. Dingin dan mulai kaku. Di samping bantalnya ada diari, berisi kisah pelecehan demi pelecehan yang dialami Rheina hingga ia memilih mati.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sesenggukan mendengar kisah buyutku yang diceritakan ibu. Lalu beliau mengangsurkan baju pengantin dalam cerita itu padaku. Baju yang sangat cantik. Berbahan halus dan sangat lembut. Baju yang akan kupakai di hari perkawinanku dengan Randy.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tahu tidak,&#8221; tambah ibu lagi, &#8220;tak lama setelah Rheina dikuburkan, Reynold pamannya ditemukan gantung diri tanpa busana dengan kelamin tersayat-sayat.<\/p>\n\n\n\n<p>Raymond sepupunya mati tersengat listrik di kolam renang. Aneh, padahal waktu itu saluran listrik sengaja dipadamkan sebab masih siang.<\/p>\n\n\n\n<p>Roy si calon suami, mati dengan tangan terikat di kepala tempat tidur, baju dan celananya robek-robek. Yang paling menjijikkan, kelaminnya terpotong dan disumpal ke mulutnya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terpekik dan menutup mulutku dengan tangan.&nbsp;<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Cantiknya pengantinku &#8230;,&#8221; decak Randy kagum saat ia menyelinap ke kamar tamu yang akan menjadi kamar pengantin kami kelak.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melirik Randy sejenak. Ia pasti berani masuk karena rumah sedang kosong. Hari ini semua sedang keluar rumah dengan urusan masing-masing. Aku yang bingung mau mengerjakan apa akhirnya memilih mencoba baju pengantin buyutku.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ukurannya kok bisa pas juga ya?&#8221; gumamku hampir tak percaya. Aku berputar kiri kanan mematut diri di depan cermin. Baju ini seakan-akan memang dibuat untukku.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sangat pas, hingga aku rasanya ingin sekarang.&#8221; Randy mendekatiku dengan tatapan mata berbeda. Tatapan penuh nafsu. Napasnya mulai memburu. Lidahnya menjilat bibirnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mundur.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Randy, tunggu seminggu lagi. Aku akan melayanimu kapan pun dan di mana pun&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8230; tapi bukan sekarang,&#8221; aku memohon sambil terus mundur.<\/p>\n\n\n\n<p>Randy tetap merangsek maju. Tangannya bahkan terulur seperti biasanya dia mengajak berdansa. Aku menggeleng pelan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba Randy melompat dan menyergapku. Aku terhempas di tempat tidur. Randy bangkit dan menduduki pinggulku.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jangan Randy, jangan &#8230;,&#8221; ujarku memohon kala tangannya menjelajah gaun.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia tersenyum liar kala tangannya menyentuh kancing kait bungkus yang tertata rapi di&nbsp; pertengahan dadaku. Air mataku mulai mengalir. Aku memang mencintainya, tapi aku benci caranya memaksa. Aku tak suka cara kasar. Aku muak dengan kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Satu demi satu kancing mulai terbuka. Aku merasakan sesuatu mengeras di bawah sana. Gerakanku untuk menghentikan Randy tak bermakna apa pun padanya, malah membuatnya makin beringas.<\/p>\n\n\n\n<p>Entah datang dari mana aku mendengar bisikan, &#8220;Isap dia! Isap napasnya sampai dia tercekik tanpa ampun!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Seketika pikiranku terang. Aku seperti dilimpahi kekuatan. Kusentuh pipinya dengan kedua tangan. Kutarik pelan dan kudekatkan ke wajahku. Randy paham. Senyumnya makin lebar. Mungkin ia mengira hasratnya akan kulayani.<\/p>\n\n\n\n<p>Kupagut ia saat bibirnya menyentuh bibirku. Mulutnya terkunci. Kuat. Tak ada lagi kelembutan. Kutanam gigiku di bibir berisi dan mudah tersenyum itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Randy menggeram. Matanya membelalak. Tangannya meremas dadaku. Untung korset kaku di balik baju pengantin menghalangi kekuatannya. Tanganku bergerak ke arah lehernya. Kutancapkan kuku ke jakunnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Randy gelagapan. Energiku bertambah entah dari mana. Makin ia meronta makin kuat tekanan jariku di lehernya. Oh, nikmatnya menguasai! Apalagi seraya menjilat cairan manis sedikit asin yang merembes dari sela-sela gigitan.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlahan gerakannya melemah. Makin lemah. Lalu ia terkulai. Kuraba lehernya. Lengannya. Kuraba lubang hidungnya. Tak ada napas tak ada denyut. Randy mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Kulepas gigitan. Kudorong tubuhnya hingga berdebam di lantai kamar. Aneh, tak ada sedih. Malah timbul rasa puas telah membunuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku bangkit dan melangkah menuju cermin. Wow! Pantulan cermin memperlihatkan wajah berkilau segar dan bibir merah merona. Rasanya tadi aku belum pakai lipstik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah berganti pakaian, kumasukkan Randy ke kantong plastik hitam besar dan kuseret masuk bagasi mobil. Hih! Orang mati itu berat! Aku banjir keringat. Malam nanti akan kugelindingkan ia ke jurang.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terpaksa bersandiwara hancur terpukul ketika keluarga ribut kenapa Randy tak bisa dihubungi. Kupasang wajah sedih dengan setetes dua tetes air mata. Undangan segera dibatalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Selang setahun kemudian, seorang lelaki berhasil menarik perhatianku kembali. Romy, lelaki baik dan humoris. Dia juga pandai menjaga diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangankan berbuat yang tidak-tidak, menyentuh tanganku pun ia tak berani. Kita belum halal, nanti saja, katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tersanjung.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiga malam sebelum pernikahan, aku kembali mencoba baju pengantin Buyut Rheina. Masih pas dan indah menempel di tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Selagi mematut diri dan tersenyum membayangkan malam pertama kami kelak, tiba-tiba lampu kamar berkedip-kedip. Desau angin terdengar begitu dekat di telinga. Udara mendadak dingin.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku diam terpaku memandang cermin. Ada sosok lain di sana. Sosok kabur yang makin lama makin jelas berdiri di sampingku. Aku terkesiap! Wajah kami mirip!<\/p>\n\n\n\n<p>[Riana, aku Rheina] [Undang Romi dan biarkan ia melihatmu dengan pakaian ini]<\/p>\n\n\n\n<p>Aku yakin tak melihat gerakan bibir sosok Rheina, tapi suaranya bisa kudengar.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku takut kejadian Randy terulang lagi,&#8221; tolakku. Dia baik. Aku ingin hidup bersamanya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>[Kalau begitu kau yang harus menggantikan]<\/p>\n\n\n\n<p>Jantungku berdetak cepat. \u201cMenggantikan\u2026.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>[Kematiannya]<\/p>\n\n\n\n<p>Bulu kudukku meremang. Kutelan ludah. Permainan macam apa ini?<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tidak! Aku mau bersama Romi.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sosok itu tersenyum, [Bersiaplah!]<\/p>\n\n\n\n<p>Usai ia berkata, kurasakan baju pengantin ini menyempit. Menekan pinggang, dada, dan leher. Aku terbatuk-batuk dan sesak napas. Tanganku menarik-narik baju. Kain halus lentur berubah menjadi sekaku dan sekeras besi. Usahaku sia-sia. Baju makin ketat tanpa celah. Aku tercekik.<\/p>\n\n\n\n<p>Sempoyongan aku menuju pintu. Tanganku sedikit lagi menyentuh gagangnya. Sedikit lagi. Hampir&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Ramona \u2014ibu Riana\u2014 tersenyum sedih. Riana tak sanggup mengikuti kemauan Rheina. Baju pengantin itu akan disimpan kembali di loteng rumah warisan. Hingga Rosana \u2014adik Riana\u2014 kelak cukup umur untuk memakainya. Ia hanya perlu korban seorang lelaki lagi untuk menuntaskan kutukan baju pengantin itu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Jifisa Amin<\/strong>, berasal dari Tanjungpandan, Belitung. Menulis cerpen, cerbung, dan cerita anak. Beberapa tulisannya telah dimuat dalam antologi.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam itu merupakan malam jahanam bagi Rheina. Pamannya, Reynold, menariknya ke pinggir tempat tidur, melucuti celana dalamnya, dan melakukan hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Waktu itu ia berumur 10 tahun. Perbuatan paman durjana tak hanya sekali. Terus menerus dilakukannya kala berkunjung dan menginap di rumah orang tua Rheina. Tak hanya di sana. Rheina [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1231,808,804,1232,1229,1230,849],"class_list":["post-6289","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-bajupengantin","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi358","tag-jifisaamin","tag-pelecehanseksual","tag-perempuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6289"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6289\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6316,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6289\/revisions\/6316"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}