{"id":6338,"date":"2022-11-14T20:58:57","date_gmt":"2022-11-14T20:58:57","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=6338"},"modified":"2026-07-15T15:49:21","modified_gmt":"2026-07-15T15:49:21","slug":"aku-pejalan-kaki-imam-khoironi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6338","title":{"rendered":"Aku Pejalan Kaki &#8211; Imam Khoironi"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Puisi, edisi 360 November 2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Aku pejalan kaki<br>Yang memungut huruf-huruf<br>Dari pagi yang bermain kabut<br>pergi meninggalkan embun<br>pada rumput yang mulai mengering<br>dan daun gugur yang ingin segera disemayamkan<br>sebelum proses kremasi<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pejalan kaki<br>sebelum gelap melarikan diri<br>meninggalkan fajar<br>yang kuinjak-injak sambil membawa gerobak<br>berisi berita-berita<br>tentang kemiskinan di kota,<br>gelandangan merajalela,<br>atau kematian seorang janda tua<br>yang jasadnya sedang kubawa<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pejalan kaki<br>Di jalan yang basah<br>Karena tangis orang-orang<br>Yang tergusur dari tanahnya sendiri<br>Tanah tempat mereka lahir<br>Dan terusir<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pejalan kaki<br>Yang sedang mengukur<br>Panjang garis kemiskinan<br>Dan membandingkannya<br>Dengan usiaku, moyangku, keturunanku<br>Dan kudapati di keturunan ke tujuh<br>Garis itu masih belum berujung<br>Maka kuputuskan untuk berhenti<br>***<br><em>Bandar Lampung, Oktober 2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right has-black-color has-text-color has-large-font-size\">Pasar Malam<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">&#8220;Bagaimana cuaca sore ini?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">Masih cerah, tapi<br>mendung mungkin berpindah&nbsp;<br>dari ufuk yang tenang<br>ke nasib kita yang muram<br>di koran tak ada ramalan cuaca<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">&#8220;Malam ini kita pergi ke pasar malam&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">Kita tak punya cukup rasa sedih<br>Untuk bisa naik bianglala<br>Kita tak bisa menukar baju kusutmu<br>Dengan dua lembar karcis<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">&#8220;Tak ada karcis bagi yang datang terlambat<br>Bianglala sudah berhenti berputar&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">Lalu untuk apa kita menziarahi lampu redup<br>mengukur keheningan di separuh akhir malam<br>pasar malam tak menjual sepi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">&#8220;Kita akan merayakan rezeki di sana<br>Banyak hal yang butuh diselesaikan<br>Oleh orang-orang seperti kita&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">Pasar malam berakhir pukul duabelas<br>Waktu yang begitu cukup<br>untuk angin membawa mendung<br>Ke atas kepalamu<br>***<br><em>Bandar Lampung, Oktober 2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Imam Khoironi.<\/em><\/strong><em> Lahir di desa Cintamulya tahun 2000. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul &#8216;Denting Jam Dinding &#8216;(ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti Simalaba.com, marewai.com, cerano.id, kawaca.com, dan lainnya serta media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, dan sejumlah lainnya. Puisinya masuk dalam buku &#8216;Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 &#8216;dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa diikuti di Facebook: Imam Imron Khoironi, Youtube: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau<a href=\"http:\/\/www.duniakataimronaka.blogspot.com\"> www.duniakataimronaka.blogspot.com<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puisi, edisi 360 November 2022 Aku pejalan kakiYang memungut huruf-hurufDari pagi yang bermain kabutpergi meninggalkan embunpada rumput yang mulai mengeringdan daun gugur yang ingin segera disemayamkansebelum proses kremasi Aku pejalan kakisebelum gelap melarikan dirimeninggalkan fajaryang kuinjak-injak sambil membawa gerobakberisi berita-beritatentang kemiskinan di kota,gelandangan merajalela,atau kematian seorang janda tuayang jasadnya sedang kubawa Aku pejalan kakiDi jalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[808,1249,1241,1240,809,824],"class_list":["post-6338","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-ceritanet","tag-edisi360","tag-imamkhoironi","tag-pejalankaki","tag-puisi","tag-sajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6338","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6338"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6338\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8167,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6338\/revisions\/8167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6338"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6338"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6338"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}