{"id":6430,"date":"2022-12-15T19:42:00","date_gmt":"2022-12-15T19:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6430"},"modified":"2026-07-15T15:46:32","modified_gmt":"2026-07-15T15:46:32","slug":"bang-maman-tukang-sapu-sekolah-gianluigi-fahrezi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6430","title":{"rendered":"Bang Maman, Tukang Sapu Sekolah &#8211; Gianluigi Fahrezi"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 361 Desember 2022<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>S<em>ekolah boleh cuti, guru-guru boleh berganti. Tapi tukang sapu, dia tetap abadi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>1. <strong>Kebaikan Bang Maman<br><\/strong><em>Mardi, anak pemilik toko batik<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengenal Bang Maman sejak hari pengumuman seleksi masuk SMA. Waktu itu SMA Bakti Husada dipadati para siswa dan orang tua yang ingin mendaftar. Ramai sekali orang-orang berkerumun di meja pendaftaran dan di depan papan pengumuman. Sebagai sekolah unggulan, setiap kali pendaftaran dibuka maka Bakti Husada selalu dibanjiri pendaftar yang berlomba-lomba ingin masuk. Para orang tua percaya bahwa anaknya akan berhasil kalau bisa bersekolah di sini sebab di lobi depan sekolah terpajang berbagai profil alumni yang sukses. Salah satu profil lulusan yang fotonya dicetak paling besar adalah presiden, yang sebenarnya hanya sempat setahun di Bakti Husada sebelum pindah ke sekolah negeri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu itu aku ikut berkumpul di depan papan pengumuman. Aku berusaha mencari namaku dari ratusan nama pendaftar yang masuk dalam daftar seleksi sementara Bakti Husada. Dari atas, ke bawah, lalu ke samping lagi, sampai mencari-cari secara acak dan akhirnya menemukan namaku dalam kelompok 10 terbawah. Ekspresiku langsung kecut.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku meninggalkan kerumunan lalu duduk di sisi lapangan sambil menopang dagu. Orang tuaku sangat menantikan \u2018kabar baik\u2019. Aku bingung harus bilang apa karena hampir pasti barisan 10 terbawah tidak bakal keterima, kecuali puluhan nama di atasku memutuskan untuk tidak masuk Bakti Husada, yang hampir pasti tidak mungkin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu kenapa, Dek?\u201d Seorang paruh baya berkemeja lusuh dan celana panjang yang sedikit menggantung menghampiriku. Di dada bagian kiri atas tertulis \u2018Maman\u2019. Kuyakin dia salah seorang petugas sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHabis lihat seleksi, Pak. Sepertinya saya <em>ga <\/em>bakal lolos, nih,\u201d ucapku lesu<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEh, memang kenapa?\u201d Tanya Pak Maman<\/p>\n\n\n\n<p>Wajah bapak itu sudah dipenuhi keriput. Kulitnya gelap karena terbakar matahari dan sorot matanya sayu. Badannya begitu kurus sampai lengan dan betisnya memiliki ketebalan yang sama dengan kulit yang sudah mengendur. Ia bicara padaku dengan jarak yang dekat sekali dengan wajahku karena suaranya sangat pelan.<\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya aku ragu dengan penampilannya tapi seragam dan namanya memastikan dia petugas sekolah. Kujelaskan peringkatku dan ayah ibu yang pasti kecewa karena amat berharap aku masuk Bakti Husada. Ternyata dia pendengar yang baik setelah menegaskan,\u201cPanggil bang saja, jangan pak, ya,\u201d dan meminta aku membawa orang tuaku untuk datang ke sekolah. Bang Maman berjanji akan berupaya membantuku masuk ke SMA Bakti Husada. Saat kutanya bagaimana caranya, dia hanya menjawab, \u201cSudah, besok orang tuanya suruh bertemu abang saja. Kita coba ya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Besoknya aku datang bersama ibu ketika pas istirahat sekolah. Tak susah mencari Bang Maman, yang sepertinya selalu berada di halaman sekolah. Bang Maman menyapa kami berdua dengan sopan dan meminta aku menunggu di kantin. \u201cDek, Abang akan mengurus administrasi sama ibumu di kantor dulu ya. Kamu tinggal di sini saja dulu, jajan.\u201d Dan Bang Maman bersama ibu berjalan menuju kantor sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Entah apa yang dilakukan Bang Maman, yang jelas Ibu menjemputku dari kantin sambil tersenyum. Setelah itu aku bisa bersekolah di SMA Bakti Husada, berkat kebaikan Bang Maman.<\/p>\n\n\n\n<p>2.<strong> Obyekan dari Bang Maman<br><\/strong><em>Sofran, teman nongkrong Bang Maman<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ingat Bang Maman, <em>gue <\/em>jadi inget masa-masa SMA dulu sebagai masa yang paling menyenangkan, menurut <em>gue<\/em>, karena waktu itu <em>gue <\/em>sering banget <em>nongkrong<\/em> sama teman-teman di warung selepas sekolah. <em>Gue <\/em>udah lelah seharian di sekolah jadi perlu medium untuk melepas penat. Kadang, waktu lagi nongkrong di warung kopi, Bang Maman ikut <em>nimbrung <\/em>bareng kita. Dia sih cuma dengar-dengar sambil senyum-senyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu <em>gue <\/em>sempat berpikiran aneh sama Bang Maman. Waktu itu <em>gue <\/em>diam-diam pergi ke toilet sekolah saat jam belajar, mau merokok. Saat itu pikiran <em>gue <\/em>lagi kacau. Di rumah dimarahi terus sama orang tua, di sekolah ditambah lagi karena lupa membawa tugas, eh pacar <em>gue <\/em>juga tiba-tiba minta putus karena alasan mau ujian. Pusing deh, pokoknya. Makanya <em>gue <\/em>cabut kelas dan pergi ke toilet.<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil jongkok-jongkok, pelan-pelan <em>gue <\/em>menghisap rokok yang lama-kelamaan keupulan asapnya memenuhi ruangan. Awalnya agak pengap, tetapi seterusnya enak juga. Pikiran <em>gue <\/em>menjadi lebih <em>rileks<\/em> saat merokok dan badan juga terasa lebih enteng. <em>Gue <\/em>tenang aja selama di toilet karena letak toilet ada di ujung koridor sekolah. Mana lagi jam pelajaran, harusnya tidak ada yang bakal memergoki <em>gue <\/em>yang lagi merokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba <em>gue <\/em>mendengar langkah kaki masuk ke dalam toilet. Sial, kata <em>gue<\/em>. Pas banget lagi enak-enaknya malah ada orang masuk! <em>Gue <\/em>tunggu orang itu keluar lagi dari kamar mandi tetapi malah masih tetap di dalam. <em>Gue <\/em>masih menutup pintu kamar mandi sementara rokok udah <em>gue matiin<\/em>. Habis itu, pintu <em>gue <\/em>dibuka sama orang yang masuk tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata Bang Maman yang lagi ngepel kamar mandi. Dia mengenakan oblongnya yang sobek-sobek sambil membawa ember dan kain pel. <em>Gue <\/em>takut banget ketahuan merokok di toilet sama Bang Maman. Dia ya pegawai sekolah\u2026 dan bisa saja <em>gue <\/em>dilaporkan ke kepala sekolah atau diadukan ke orang tua. Pokoknya nanti bakal sulit, deh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSini, minta rokoknya,\u201d ucap Bang Maman meminta rokok yang masih tersisa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEh, gimana bang?\u201d balas <em>gue <\/em>kaget mendengarnya. <em>Gue <\/em>tanya lagi, takutnya salah dengar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMinta,\u201d ucap Bang Maman singkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya <em>gue <\/em>kasih sisa rokok ke Bang Maman. Setelah menerima rokok, dia lanjut mengepel kamar mandi sampai selesai lalu pergi. Besok-besoknya tidak ada laporan kalau <em>gue <\/em>pernah merokok di kamar mandi,.<\/p>\n\n\n\n<p>Malah setelah itu <em>gue<\/em> jadi deket sama Bang Maman. Belakangan Bang Maman bahkan sering <em>ngajak<\/em> <em>gue<\/em> <em>proyekan<\/em> seperti kalau lagi bagi rapor <em>gue<\/em> sering diminta bantu-bantu jaga parkir sekolah. Hasil pungutan parkir nanti dibaginya sama temen-teman yang ikut bantu. Terus kami pakai buat beli rokok\u2026hahaha\u2026 tapi kami janji sama Bang Maman nggak merokok di dalam kompleks sekolah. Juga kalau ada pentas seni atau acara-acara di sekolah, Bang Maman sering minta <em>gue <\/em>datang dan bantu-bantu, enaknya nanti akan dijatah. Seru banget bisa kenal Bang Maman. Kira-kira <em>gimane ye <\/em>kabar dia sekarang?<\/p>\n\n\n\n<p>3<strong>. Dedikasi Pak Maman<\/strong><br><em>Masjuki, Guru Geografi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ingat Pak Maman, beliau itu orang sabar. Saya sendiri tergolong guru angkatan baru di SMA Bakti Husada. Waktu itu guru-guru angkatan lama sudah banyak yang diganti karena pensiun atau alasan lain. Yang saya tahu, Pak Maman ternyata seangkatan dengan guru-guru yang sudah pada pensiun. Bahkan ada yang bilang kalau Pak Maman dulunya juga sekolah di Bakti Husada. Berarti kurang lebih sudah 30 tahun Pak Maman bekerja di sekolah. Dedikasinya tidak diragukan lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tugas Pak Maman sebenarnya sebagaimana tercantum di struktur organisasi sekolah, adalah pegawai kebersihan. Terbukti Pak Maman memang sangat rajin. Beliau yang membuka gerbang sekolah di pagi hari dan membersihkan daun-daun yang berguguran di lapangan. Kami juga sering minta bantuan Pak Maman saat sekolah ingin mengadakan berbagai kegiatan seperti seminar atau perlombaan dan syukurnya Pak Maman tidak pernah menolak. Terlebih Pak Maman juga dekat dengan siswa-siswi jadi beliau sangat tahu kondisi peserta didik di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekali waktu ada arahan dari kementerian untuk mengurangi gaji pegawai tidak tetap sekolah. Ini bukan hal yang mudah. Kepala sekolah juga sudah mati-matian menentang aturan baru tersebut karena menganggap para pegawai sekolah sebagai keluarga. Tetapi, bagaimana lagi, keputusan itu dengan berat hati tetap dijalankan. Waktu itu banyak pegawai sekolah seperti petugas tata usaha, satpam, pegawai dapur, dan tukang kebun yang memutuskan keluar dari SMA Bakti Husada sebab pendapatan mereka makin berkurang. Hal ini bisa dipahami karena banyak yang masuk dalam generasi awal para pegawai yang berharap kesetiaannya dihargai, bukannya malah dianggap remeh.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Pak Maman memutuskan tetap mengabdikan dirinya di Bakti Husada biarpun gajinya dikurangi. Otomatis Pak Maman menjadi orang terakhir dari angkatan awal karena formasi guru dan pegawai kini sudah terdiri dari orang-orang baru. Dalam acara perpisahan kawan-kawannya seangkatan yang hengkang, Pak Maman juga mendapat kesempatan berpidato dan berujar ia sudah menganggap Bakti Husada sebagai rumahnya jadi akan sayang bila memutuskan untuk keluar \u2018rumah\u2019. Usai pidato singkatnya, semua guru, termasuk kepala sekolah, serta para pegawai yang hadir berdiri untuk bertepuk tangan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. Diingat Presiden<br><\/strong><em>Masitoh, pernah sekelas dengan presiden dan Maman<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Maman? Oh iya, dia tinggal beberapa pintu di sebelah rumahku, ternyata kami bertetangga. Dulu kami sekolah di Bakti Husada sama-sama sampai lulus. Saya ingat di angkatan kami dulu banyak sekali lulusannya yang jadi \u2018orang\u2019. Ada yang ke luar negeri, jadi jenderal, polisi, politikus, teknokrat, bahkan presiden juga angkatan kami lho! Hehe.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi sebenarnya saya tidak begitu ingat soal Maman karena dulu dia jarang ikut main sama kami. Kalau wajahnya sih, samar-samar ingat lah. Saya juga jarang di rumah jadi tidak selalu sempat mengecek kabarnya. Kabar terakhir yang saya dengar dia sudah punya anak, bukan? Katanya anaknya sudah SMA ya? Apa anaknya masuk ke Bakti Husada juga? Kalau iya, selamat deh!<\/p>\n\n\n\n<p>Oh, mengenai reuni? Betul memang angkatan kami beberapa kali mengadakan reuni dan satu kali dihadiri Presiden jadi acaranya tertutup. Maklum, ada Presiden jadi penjagaan harus ketat sekali. Soal Maman, emm\u2026 terus terang saya lupa apakah dia datang atau tidak. Sepertinya saya tidak&nbsp; pernah melihat dia hadir di reuni-reuni kami. Nggak tahu apakah diaundang atau tidak. Waktu Presiden datang reuni, kami ya ngobrol-ngobrol tentang kenangan sekolah dulu. Di sela-sela obrolan, ada kawan yang sempat menyinggung Maman dan ditanggapi oleh Presiden, \u201cKalau Maman, saya tidak khawatir karena dia pasti jadi orang berhasil.\u201d Pastilah Maman bangga namanya diingat oleh Presiden!<\/p>\n\n\n\n<p>5<strong>. Pengakuan dari tempat tidur<\/strong><br><em>Maman, tukang sapu sekolah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Hidupku dihabiskan di sekolah Bakti Husada. Bahkan setelah lulus, aku pun bekerja di sana selama 40 tahun lebih. Awalnya aku masuk berkat bantuan saudara yang kenal dekat dengan seorang guru Bakti Husada dan buatku ya sekolah adalah tempat belajar. Titik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, seiring waktu barulah ketahuan rupa sebenarnya dari Bakti Husada, yaitu sekolah anak-anak orang kaya, orang terpandang, orang berpangkat! Tiap hari omongan para anak-yang beruntung itu cuma duit\u2026 duit\u2026 duit\u2026 dan duit, satu-satunya yang justru tidak kupunya. Akibatnya, aku menjadi terasing dan jarang diajak main. Paling dua tiga yang mau dekat samaku, Hendra si ketua kelas, Nita anak Pak Haji, dan\u2026 aduh siapa namanya dia itu\u2026 yang terpilih jadi anggota Paskibraka.&nbsp; Ya cuma itulah. Yang lainnya cuma berkawan dengan sesama pemilik duit yang berlimpah ruah. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Makanya jangan heran jika alumnus Bakti Husada memiliki jabatan tinggi dan kaya raya, karena sejak lahir hidup mereka memang sudah begitu! Tapi tengoklah aku yang jadi pegawai di sekolah, ya tidak bisa kemana-mana setelah lulus karena tidak berada dan tidak punya kenalan orang penting. Sebenarnya aku tidak pernah mau bekerja lama-lama jadi tukang sapu, apalagi ketika gaji semua pegawai dikurangi. Aku pun sempat berpikir keluar dari Bakti Husada tapi terus mau kerja apa?&nbsp; Usiaku sudah 60 tahun dan tahunya cuma menyapu, mengepel, dan sekali-kali jaga parkir. Boro-boro pindah kerja, tak dipecat saja sudah bersyukur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selama di sekolah aku siap melakukan segala hal buat nambah penghasilan. Bapaknya Si Masjuki itu, dulunya juga guru di Bakti Husada. Dia sering minta aku untuk mencari calon murid&nbsp; untuk \u2018dibantu\u2019 masuk sekolah. Sialan! Aku harus mutar-mutar mencari orangnya sementara dia yang cuma duduk-duduk di kantor malah dapatnya jauh lebih banyak. Sudah ikut komplotan korupsi, eh hidupku tetap saja susah. Tapi untunglah aku tidak pernah tertangkap karena sambilanku itu. Atau jangan-jangan semua guru dan pegawai juga main sambilan panas itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang orang-orang menganggapku sebagai orang yang berdedikasi. Dalam senja usiaku, aku sudah tidak bisa lagi banyak bicara. Gerakku juga tidak selincah dulu, yang cepat mengumpulkan sampah atau gesit mengatur parkir di sana-sini. Sekarang suaraku lebih mirip rintihan dan jalanku selangkah demi selangkah. Namun orang-orang rasanya malah lebih hormat kepadaku! Guru-guru dan pegawai-pegawai yang baru ternyata lebih tahu sopan-santun dibanding angkatan lama dulu, yang mungkin tahunya aku cuma orang miskin yang kebetulan saja bisa masuk Bakti Husada. Tapi yang sekarang lain, tiap kali melewatiku, mereka menyapa sambil menganggukkan kepala. Anak-anak juga begitu, selalu memberi hormat tiap berpapasan denganku.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi tetap saja aku kesulitan untuk makan sehari-hari sekalipun.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pernah dengar kawan-kawanku dulu bikin reuni tapi tak pernah ada yang mengajakku, termasuk Hendra atau Nita atau siapa itu yang aku lupa namanya. Sejak tamat, tak satupun kawan sekelasku yang pernah menghubungi. Kalaulah aku diundang reuni pastilah aku bisa minta bantuan mereka. Gaji jenderal, polisi, politikus, pejabat dan Presiden, ya kami pernah satu kelas selama setahun, pasti bisa menghidupi 10 orang tukang sapu sekalipun! Mungkin mereka masih ingat aku, tapi ya sekedar ingat saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sialan! Perutku sebelah kanan sakit lagi. Sudah seminggu lebih aku tak bisa bangkit dari tempat tidur dan suaraku semakin merintih. Semoga anakku yang kerja di pabrik rokok bisa cepat datang, membawa obat untukku. Itu janjinya tiga hari lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ah sudahlah. Tuhan\u2026 apabila memang waktuku sampai di sini, rasanya aku hanya akan diingat sebagai tukang sapu! Mau apa lagi.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 361 Desember 2022 Sekolah boleh cuti, guru-guru boleh berganti. Tapi tukang sapu, dia tetap abadi 1. Kebaikan Bang MamanMardi, anak pemilik toko batik Aku mengenal Bang Maman sejak hari pengumuman seleksi masuk SMA. Waktu itu SMA Bakti Husada dipadati para siswa dan orang tua yang ingin mendaftar. Ramai sekali orang-orang berkerumun di meja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1057,808,804,1396,1250,1407,894,1251],"class_list":["post-6430","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-cerita","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi361","tag-gianluigifahrezi","tag-pesuruh","tag-sekolah","tag-tukangsapu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6430","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6430"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6430\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8164,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6430\/revisions\/8164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6430"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6430"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6430"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}