{"id":6747,"date":"2023-01-14T21:10:03","date_gmt":"2023-01-14T21:10:03","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6747"},"modified":"2026-07-15T15:43:06","modified_gmt":"2026-07-15T15:43:06","slug":"mengais-kekeluargaan-prima-yuanita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6747","title":{"rendered":"Mengais Kekeluargaan &#8211; Prima Yuanita"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 362 Januari 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang wanita tengah membuang serpihan-serpihan kekeluargaan di bawah lemari kayu yang berselimut debu. Mulutnya yang seperti dua seluncuran saling bercumbu itu menggumam, \u201cAku tak lagi membutuhkannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa kau membuangnya, Gauri? Apa kau tahu berapa harga sebuah kekeluargaan?\u201d tanya sang Ibu. Suaranya terdengar seperti tokoh kartun wanita berambut keriting di televisi yang kerap memarahi anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri menggeleng, \u201cAku hanya tahu Ayah dan Ibu mematahkannya begitu saja, tanpa bertanya padaku sebelumnya. Jadi kupikir kekeluargaan di rumah ini tak lagi berharga!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBukan salah Ibu, Ayahmu yang membuat kekeluargaan itu patah!\u201d<br>\u201cYa ya ya! Aku tahu Ibu akan berkata begitu. Lalu keesokan harinya, Ayah akan berkata sebaliknya, dan keesokan harinya lagi Ayah dan Ibu akan beradu mulut, dan keesokan harinya lagi, barang-barang di rumah ini akan terbang, berjatuhan, dan hancur berantakan, termasuk kekeluargaan,\u201d ujarnya lantang. \u201cBukankah begitu!\u201d<br>\u201cTapi kini Ayahmu telah pergi, Gauri!\u201d<br>\u201cItu karena orang-orang di luar sana menawarkan kekeluargaan yang lebih segar, Bu! Mereka mahir merawat kekeluargaan. Tak seperti yang ada di rumah ini: luntur, lusuh, lecek, dan&#8230; <em>hoeeek<\/em>!\u201d Seketika Gauri menutup mulutnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kembali dipandangnya serpihan-serpihan kekeluargaan itu. Bentuknya tampak rapuh seperti biskuit; serbuk-serbuknya yang kelabu berguguran, kulitnya mengisut seperti kulit ayam yang digerogoti tungau, kaki-kakinya nyaris buntung dan aromanya bak goni yang disimpan di gudang berbulan-bulan. Serpihan kekeluargaan itu benar-benar tampak menyedihkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu Ayah dan Ibunya selalu mengagung-agungkan kekeluargaan di depan orang-orang. Mereka melambung-lambungkan kekeluargaan melampaui kepala mereka. Warnanya mengkilap-kilap menyilaukan orang yang memandang. Tak jarang banyak orang yang iri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan setiap bulan, Ayah dan Ibu akan menghadiri perjamuan yang dihadiri orang-orang yang memiliki kekeluargaan dengan warna terang benderang dan harum semerbak mawar. Masing-masing akan memamerkan kekeluargaan mereka.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni adalah yang paling mahal, karena didatangkan langsung dari Swiss,\u201d kata salah seorang ibu dengan menunjukkan kekeluargaan bercorak kuning keemasan dan ungu magenta di dalam genggaman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak mungkin! Inilah kekeluargaan yang asli!\u201d sahut ibu yang lain, \u201cdibuat melalui penelitian bertahun-tahun oleh profesor di Jerman!\u201d<br>\u201cKau salah! Punyakulah yang asli, sudah terdaftar di Perserikatan Bangsa-Bangsa,\u201d sahut ibu lain. Mereka memuntahkan apa saja yang bisa membuat orang lain mabuk kepayang. Para ibu memang lihai mengupas kualitas kekeluargaan yang mereka punya.<\/p>\n\n\n\n<p>Decakan dan tepuk tangan bergemuruh, sesekali ada yang menggelengkan kepala dan mencibirkan bibir. Cahaya-cahaya telepon genggam berpijar-pijar menangkap gambar-gambar dan suara di sekitar. Lalu tak lama berselang, makanan-makanan lezat nan hangat akan terhidang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di saat itu, Gauri akan menyumpal kedua telinganya dengan <em>earphone<\/em>. Sementara matanya serius menatap ponsel. Ia teringat ucapan Ibunya ketika mencoba menolak diajak pergi ke tempat itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau hanya perlu duduk manis dan menyantap yang mereka suguhkan. Anggap saja mereka tak berbicara apa-apa. Atau kalau perlu, anggap saja tidak ada siapa-siapa. Beres, kan?\u201d Sang Ibu terus membujuk Gauri, sampai ia memilih lebih mudah duduk manis menyantap semua suguhan daripada mendengar bujuk rayu Ibu yang tak henti-hentinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tempat yang dikerumuni orang yang kepalanya dipenuhi bayang-bayang kekeluargaan itu, Gauri membungkam mulut berjam-jam. Kalaupun ada orang lain yang mengajaknya berbicara, maka, jika benar-benar tidak mendengar, ia akan pura-pura tidak mendengar. Baginya, yang disaksikannya sesungguhnya hanyalah khayalan dan bualan belaka.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena nyatanya, tak pernah ada kekeluargaan seperti yang mereka dengung-dengungkan di hadapan orang-orang. Tak pernah ada kekeluargaan seperti yang mereka pampangkan di depan orang-orang. Setiba di rumah, kekeluargaan yang mereka pamerkan itu akan memudar cahayanya, akan menguap aroma wanginya bersama bentakan-bentakan dan benturan-benturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga setiap raganya berada di antara orang-orang itu, pikirannya mengembara jauh entah ke mana. Dan bertahun-tahun kemudian, pengembaraan itu pada akhirnya tidak hanya menyeret pikirannya. Ketika di suatu malam yang berhujan ia melihat Ibunya beserta seorang lelaki lain menunjukkan kekeluargaan baru di depan orang-orang dan, seperti yang pernah terjadi sebelumnya, tanpa bertanya terlebih dulu kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka ia -tanpa bertanya dulu pada Ibunya- memutuskan untuk pergi jauh.<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri tak mengerti dan tak pernah mau mengerti apa yang terjadi pada Ayah, Ibu, maupun kekeluargaan yang ia tinggalkan sebagaimana ia berpikir bahwa Ayah dan Ibunya telah meninggalkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun sesungguhnya ia tidak benar-benar serius ketika mengatakan ingin mendapatkan kekeluargaan yang baru. Di tempat yang baru, ia memang kerap mendengar orang-orang menawarkan kekeluargaan: di jalan-jalan, pasar, kantor, swalayan, bahkan di rumah kontrakan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKekeluargaan&#8230; kekeluargaan\u2026 murah\u2026 murah! Beli dua gratis satu!\u201d<br>\u201cKekeluargaan&#8230; kekeluargaan&#8230; khusus hari ini diskon 50 persen langsung dibawa pulang!\u201d<br>\u201cKekeluargaan&#8230; kekeluargaan&#8230; rusak bergaransi sepuluh tahun uang kembali!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Suara-suara yang bagi orang lain menggiurkan itu, ternyata bagi Gauri tak ubahnya roti isi yang tak berisi dan basi. Dan roti isi seharusnya berisi dan bergizi. Tapi jikalau tak memiliki isian dan sudah basi, lalu untuk apa dibeli?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah kubilang, aku tak butuh kekeluargaan! Sana pergi!\u201d ucapnya sambil menghalau orang-orang itu seperti mengusir seekor kucing yang mengendap-endap ingin mengambil ikan di meja makan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Maka orang-orang pun tak lagi menawarkan kekeluargaan pada Gauri. Mereka menjauhi Gauri. Tak ada yang mau bicara dengannya, tak ada yang mau menghubungi ponselnya. Tapi hari itu, di suatu pagi yang panas karena mati lampu, ponselnya yang selama ini membisu tiba-tiba berdering berulang kali, menjerit-jerit seperti anak yang minta dibelikan es krim.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri mengangkat telepon dengan ragu-ragu. Seketika hatinya bergetar, tangannya gemetar. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan seorang lelaki di seberang sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Gegas ia menutup telepon lantas pergi melesat ke tempat yang sebenarnya tak pernah lagi ingin ia kunjungi. Dan itulah kali terakhir ia menatap wajah Ibunya: sorot matanya padam, bibirnya kerontang. Seolah-olah sang Ibu benar-benar tak mau lagi bertemu dan berbicara dengannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri tertunduk meratapi wanita kurus yang terbaring di depannya. Lalu berduyun-duyun orang berdatangan. Mereka berjejer dengan wajah muram dan berpakaian serba malam. Tapi saat itu, orang-orang tak membawa kekeluargaan. Entah di mana kekeluargaan. Mungkin mereka sembunyikan di dalam saku, dompet, atau kerudung panjang yang melilit kepala para wanita dan sesekali digunakan untuk mengusap cairan bening yang mengalir dari mata-mata yang hening.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berbilang waktu kemudian, orang-orang berwajah muram itu mengusung sang Ibu ke tempat yang jauh. Gauri mengikuti barisan orang itu. Cahaya matahari menyengat kuat. Desau angin mengiringi perjalanan orang-orang berwajah muram bersama debu-debu dan dedaunan kering yang melayang-layang. Di ujung pandang, tampak bunga-bunga kamboja mengayun-ayunkan tangannya, lalu meloncat menyapa wajah-wajah itu setelah tiba di atas lahan lapang yang berisi gundukan-gundukan tanah yang berjajar. Mereka lalu berhenti di suatu tempat yang teduh dan memasukkan sang Ibu ke dalam lubang.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Lubang itu kemudian ditutup sedemikian rapat hingga tak ada satu pun yang terlihat selain tanah basah dan kerikil-kerikil kecil. Aneka bunga ditaburkan, lalu tanpa diduga wajah-wajah muram itu mengeluarkan serpihan kekeluargaan yang disimpan di dalam mulut mereka. Mereka melambung-lambungkannya ke udara. Kekeluargaan yang tak lagi utuh itu membentuk bulatan-bulatan kecil yang mengambang lalu beberapa lenyap di balik awan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri takjub dengan banyaknya kekeluargaan di sana. Baginya pemandangan itu lebih menarik ketimbang yang sering dilihatnya di tempat perjamuan dulu; meskipun kekeluargaan di hadapannya hanya berupa serpihan dan potongan-potongan. Tiba-tiba bentuk kekeluargaan itu mengingatkannya pada serpihan-serpihan kekeluargaan yang pernah ia lempar di bawah lemari kayu. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dia pun bergegas pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah itu kini sebagian dindingnya retak dan atapnya bocor jika hujan bertandang. Bagian sudut-sudutnya digelantungi sarang laba-laba, lantai-lantainya jembatan semut dan rayap, dan gorden-gordennya menguarkan bau kotoran cicak. Ia menyisir setiap ruangan yang tak lagi mengeluarkan suara-suara riuh seperti ketika Ayah dan Ibunya berada di sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu ia membuka pintu kamar tidur: gagangnya yang berkarat mengeluarkan bunyi seperti orang sekarat. Dengan cepat ia menyambar sebuah lemari yang ditopang papan kayu yang tak lagi sejajar berdiri. Ia merogoh lorong lemari itu. Tangannya dijulurkan sampai ke dalam, lalu bergeser ke sekitarnya pelan-pelan. Namun ternyata ia tak menemukan apa-apa di sana selain butiran-butiran debu dan semut-semut kecil yang tampak kelaparan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gauri menyesal telah membuang kekeluargaan. Ia juga menyesal telah menolak banyak orang yang menawarkan kekeluargaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya ia memutuskan untuk mencari kekeluargaan. Ia bertanya pada setiap orang di jalanan, pasar, swalayan, terminal, dan bangunan-bangunan besar lainnya, namun tak ada yang mau bicara dengannya. Pantang menyerah, ia pun mencoba mencari kekeluargaan di tempat-tempat sampah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMungkin ada sebagian yang tercecer di sana,\u201d katanya seorang diri. Tentu saja, tak ada orang yang mau bicara dengannya lagi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mencongkel-congkel tumpukan sampah yang dikerubungi lalat dan belatung-belatung di berbagai tempat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDasar wanita gila!\u201d gerutu seorang lelaki yang berjalan melewatinya.<br>\u201cMenjijikkan!\u201d kata lelaki lainnya sambil bergidik dan pergi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah berjam-jam ia mengais kekeluargaan di tempat-tempat sampah, namun tiada hasil. Di langit, matahari bersinar dengan garang. Dalam keadaan peluh yang bercucuran dan pandangan yang meremang, Gauri pun teringat suatu tempat, di sana orang-orang pasti akan memberi kekeluargaan dengan sukarela.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Prima Yuanita<\/strong>, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 362 Januari 2023 Seorang wanita tengah membuang serpihan-serpihan kekeluargaan di bawah lemari kayu yang berselimut debu. Mulutnya yang seperti dua seluncuran saling bercumbu itu menggumam, \u201cAku tak lagi membutuhkannya.\u201d \u201cKenapa kau membuangnya, Gauri? Apa kau tahu berapa harga sebuah kekeluargaan?\u201d tanya sang Ibu. Suaranya terdengar seperti tokoh kartun wanita berambut keriting di televisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1409,1401,1403,1402],"class_list":["post-6747","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi362","tag-kekeluargaan","tag-keluarga","tag-prima-yuanita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6747"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8161,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6747\/revisions\/8161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}