{"id":675,"date":"2017-01-12T02:57:00","date_gmt":"2017-01-12T02:57:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=675"},"modified":"2020-06-27T03:02:58","modified_gmt":"2020-06-27T03:02:58","slug":"teheran-dalam-stoples-11","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=675","title":{"rendered":"Teheran Dalam Stoples"},"content":{"rendered":"\n<p>Ayatollah Khomeini adalah manusia setengah dewa yang menguasai seluruh kehidupan di Iran termasuk keluargaku. Ibu merasa kalau kami harus buru-buru meninggalkan Iran. Harus.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia tak mau negeri yang ia yakini akan bergejolak mengambil masa laluku. Itu tidaklah benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku dan teman-temanku hanya tahu bahwa laki-laki itu adalah pahlawan. Entah dipandang dari sudut mana. Kehidupan boleh bergejolak, tak ada gedung bioskop tak apa, tak ada barang impor Eropa tak masalah karena lingkungan Iran tak ada habisnya bagi kami sang penguasa cilik.<\/p>\n\n\n\n<p>Apapun yang terjadi dengan Iran, pandangan semua orang masih saja tetap sama. Aku orang asing bagi mereka. Orang yang kadang membuat hati marah. Mungkin ayah juga merasakannya di lingkungan kerja. Mungkin ia juga dipinggirkan oleh teman-teman bangsa Iran, karena ayah adalah orang Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Awas minggir,&#8221; kataku pada kingkong besar itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menghalangi jalanku. Aku ingin pulang dan kami dihadang di gang yang sempit persimpangan menuju rumahku. Khafsa telah meninggalkan aku sebelum aku berbelok menuju gang rumahku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat di tanah lapang biasanya aku bermain ia menghadangku. Dia mendorogku saat aku mendorong tubunya. Tubuhku tersungkur di jalanan. Tentu saja aku kalah adu kekuatan dengan dia. Tubuhnya tiga kali lebih besar dari tubuhku. Jalanan agak becek hingga bajuku terkena genangan air. Kotor sekali. Kedua tanganku seolah menyentuh tanah yang lembek.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau mau apa?\u201d<br>\u201cKemarin kau bilang aku apa?\u201d dia mendorong bahuku dengan tangan besarnya. Aku tersentak mundur terkena tendangan itu. \u201cKau bilang aku kingkong kan?\u201d<br>\u201cIya, kenapa?\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Dia mendorong lagi dan aku terdorong satu langkah.<br>\u201cApa maksudnya itu?\u201d<br>\u201cTubuhmu kan besar, kulitmu juga lebih hitam dari temanmu dan kau kasar,\u201d kataku tanpa merasa takut sedikitpun.<br>\u201cDasar Afghan!\u201d<br>\u201cAku Bukan Afghan!!!\u201d teriakku.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa burung yang ada disekitarku mungkin tersentak kaget. Aku juga tersentak kaget dengan keberanianku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Jangan teriak\u2026!\u201d<br>\u201cKau juga berteriak,\u201d kataku sambil mendorongnya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhnya tak bergeser sedikitpun. Tubuhnya tetap diam dan dia malah menertawakan diriku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPergi kau kingkongg besar..!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Duhh\u2026 Dia meludahi wajahku. Aku menatapnya. Bau ludahnya yang tepat di wajahku membuatku jijik. Lendir putihnya, berbau tak sedap seperti kotoran anjing. Aku langsung mengelapnya dengan tanganku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHei&#8230;. Apa yang kau lakukan?\u201d teriak seseorang dari rumah Faris.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menatapnya. Itu Faris, si kribo datang. Aku tersenyum melihatnya karena aku yakin ia akan membelaku. Kingkong langsung mukanya berubah menjadi merah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhnya gemetar dan dia dia langsung meninggalkan aku. Dia tak sempat menoleh padaku seolah ada dendam di antara keduanya atau mungkin ketenaran klan Khan sebagai penguasa komplek yang suka mengencingi anak terdengar pula olehnya. Aku tak ambil pusing yang penting ia telah pergi.<\/p>\n\n\n\n<p>Faris langsung menatapku. Ia melihat bajuku yang berwarna hitam bermotif lumpur. Ia mengandeng tanganku dan kami berhenti sejenak di bawah pohon di tanah lapang. Ia membersihkan bajuku dengan sangat serius. Aku tatap keseriusan itu dan ia lalu mengelap tanganku dengan kedua tangannya. Setelah dirasa cukup, ia berhenti.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApa yang dilakukannya?\u201d<br>\u201cOh&#8230; kingkong itu? Biasa\u2026\u201d kataku dengan enteng seolah tabiat kingkong adalah makanan wajibku di sekolah.<br>\u201cKau sedih?\u201d<br>\u201cTentu,\u201d kataku sambil menatap beberapa pohon yang mulai sedikit meranggas.<br>\u201cLalu mengapa tak menangis?\u201d<br>\u201cUntuk apa menangis? Malahan jika aku menangis kingkong akan semakin senang.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Dia tersenyum lalu menatapku. Seolah ia tahu kemarahanku dengan sikap kingkong.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku jamin ia tak akan melakukannya lagi.\u201d<br>\u201cKau janji?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dia hanya mengagguk pelan. Aku menatapnya dengan tersenyum dan memang benar setelah kejadian itu kingkong memang tak pernah lagi mengangguku.<\/p>\n\n\n\n<p>Faris memang pemberani, berbeda dengan Ali temanku itu. Entah kapan ia mampu mengubah tabiatnya yang penakut dan pengecut itu.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku ingin Ali seperti Faris, yang gagah dan pemberani walau agak menyebalkan. Faris yang setiap tindakannya tak pernah aku ragukan.<br>***<br><em>bersambung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ayatollah Khomeini adalah manusia setengah dewa yang menguasai seluruh kehidupan di Iran termasuk keluargaku. Ibu merasa kalau kami harus buru-buru meninggalkan Iran. Harus. Ia tak mau negeri yang ia yakini akan bergejolak mengambil masa laluku. Itu tidaklah benar. Aku dan teman-temanku hanya tahu bahwa laki-laki itu adalah pahlawan. Entah dipandang dari sudut mana. Kehidupan boleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,64],"class_list":["post-675","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel","tag-78","tag-aminatul-faizah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=675"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":678,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions\/678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}