{"id":6785,"date":"2023-03-14T22:31:37","date_gmt":"2023-03-14T22:31:37","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6785"},"modified":"2026-07-15T15:36:22","modified_gmt":"2026-07-15T15:36:22","slug":"pecinan-di-malang-kudusan-hingga-freemasonry-dewi-sartika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6785","title":{"rendered":"Pecinan di Malang: Kudusan Hingga Freemasonry &#8211; Dewi Sartika"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Catatan, edisi 364 Maret 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti tur heritage bertema Pecinan Kota Malang yang diadakan <em>Komunitas Malang Oldphoto<\/em> (MOP). Kesekian kalinya saya mengikuti acara tur: sebagai penyuka sejarah selain juga untuk menambah pengetahuan. Tur juga saya manfaatkan sebagai liburan dari urusan pekerjaan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi yang mendung itu saya tiba di Klenteng Eng An Kiong, titik pertemuan kami.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"650\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6786\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-300x200.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-768x512.png 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-750x500.png 750w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Peserta tur heritage Pecinan di depan Klenteng Eng An Kiong. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya memutuskan untuk melihat-lihat bagian dalam klenteng. Ini sebuah kesempatan langka menurut saya karena tak semua orang bisa masuk ke dalam. Warna merah mendominasi bangunan klenteng. Pada bagian teras, terdapat beberapa tiang dengan hiasan naga yang melilit pilar-pilar tersebut. Sejumlah lilin merah raksasa tampak menyala. Seorang perempuan paruh baya dengan dupa di tangan terlihat sedang melakukan penghormatan di depan meja, dengan sepiring jeruk dan pir.<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu memutar tubuh, pandangan saya lalu tertuju pada ruang utama sembahyang di klenteng. Bagian dalam ruang ini begitu mewah. Lagi-lagi warna merah masih mendominasi. Sebuah meja altar dengan ukuran kira-kira tiga kali dari meja altar di teras berada tepat di depan patung Dewa Bumi. Tak ketinggalan wadah dupa keemasan turut melengkapi ruangan. Untuk sesaat saya kembali terkesima menyaksikan pemandangan di depan saya, persis seperti yang saya alami setahun lalu ketika pertama kali mengunjungi klenteng ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pasar Besar Malang:&nbsp; Sumbangsih Komunitas Tionghoa dan Arab<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"732\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6788\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-1.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-1-300x225.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-1-768x577.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Potret lawas Klenteng Eng An Kiong. (igmalangoldphoto)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sekitar jam 8 pagi, kami pun mulai Tur Pecinan Kota Malang dengan beranjak keluar klenteng yang terletak di perempatan Jalan RE Martadinata. Lalu lintas mulai padat meski Hari Minggu, berhubung jalan ini kerap dilalui kendaraan berat serta berada di jalur menuju Pasar Besar Malang, kawasan Pecinan Lama (Kebalen), dan pertokoan di Jalan Gatot Subroto.<\/p>\n\n\n\n<p>Deru kendaraan bersahutan seiring penjelasan Irawan Paulus selaku pemimpin tur. Pak Ir \u2014sapaan akrabnya\u2014menjelaskan Klenteng Eng An Kiong berdiri tahun 1825, dipelopori Letnan Kwee Sam Hway, seorang pemimpin komunitas Tionghoa. Mulanya, bangunan ini berukuran kecil, lama-kelamaan makin diperbesar seiring jumlah komunitas Tionghoa yang bertambah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerumunan para peserta tur ternyata menarik perhatian pengguna jalan raya. Sesekali, pengendara motor menoleh ke arah kami. Saya menyusuri Jalan Pasar Besar sesudah Pak Ir selesai berbicara. Sepanjang jalan, kiri-kanannya dipenuhi toko-toko. Menurut cerita, dulunya, kawasan ini menjadi pemukiman orang-orang Tionghoa. Rumah mereka berukuran besar dengan halaman luas. Karena zaman makin berkembang, area ini lalu berubah menjadi kawasan pertokoan. Halaman depan pun disewakan sementara rumah asli masih berdiri di belakang pertokoan. Namun kini umumnya, rumah- rumah asli pun sudah hilang selain sebuah rumah yang masih berdiri. Keberadaannya tertutup toko di depannya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"650\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6790\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-2.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-2-300x200.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-2-768x512.png 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-2-750x500.png 750w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Irawan Paulus memberi penjelasan tentang Soto Basket Pecinan. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kami semua berdiri di depan satu warung kecil, yang mirip lorong kecil yang diapit toko. Saya baru sadar keberadaan tempat tersebut meski hampir tiap hari lewat Jalan Pasar Besar. Sebuah spanduk dengan tulisan Soto Basket Pecinan terpasang di atas pintu warung yang sudah ada sejak tahun 1951 silam. Lalu, kenapa dinamakan soto basket? Dulunya, ada banyak lapangan basket di sekitar Jalan Pasar Besar. Setelah main basket, biasanya orang-orang melepas lelah dengan makan soto. Jadilah soto basket.<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan lalu berlanjut. Mendung masih menggantung di langit. Kami tiba tepat di depan Pasar Besar Malang. Sebelum Pasar Besar ada, orang-orang Tionghoa dan Arab sudah berdagang di tempat ini&nbsp; selain kalangan pribumi. Mulanya, pemerintah kolonial bermaksud mendirikan pasar dekat&nbsp; Stasiun Kota Baru, tetapi mereka menolak. Mereka justru&nbsp; meminta pemerintah kota agar mendirikan&nbsp; pasar di wilayah ini dengan cara menyumbang tanah. Akhirnya, selama periode 1921 hingga 1925, pasar&nbsp; pun dibangun.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam Pasar Besar terdapat Warung Haji Ridwan yang berjualan sejak 1925 dengan menu andalan yang masih sama pula: rawon. Awalnya, Haji Ridwan berjualan di luar kemudian menempati bedeng dalam pasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Selesai mendengar pemaparan tentang Pasar Besar, mata saya tertuju pada sebuah bangunan di pojok seberang jalan. Mengikuti aba-aba Pak Ir, kami semua menyeberang jalan dan berdiri tepat di depan bangunan itu. Saya pun teringat saat saya dulu bepergian dengan paman melewati Jalan Pasar Besar dan paman bertanya tentang Toko Tolaram. Saya hanya mengernyitkan dahi. Di kemudian hari, saya baru tahu kalau Toko Tolaram adalah toko kain terkenal di Malang di masa lampau. Bangunan yang ditunjuk Pak Ir adalah bekas Toko Tolaram yang didirikan Kanchand Vaswani dari India. Sayangnya, toko itu sekarang kosong, tinggal kenangan bagi cikal bakal konglomerasi perusahaan Tolaram yang pindah ke Singapura.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kudusan dan Malaise<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"548\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6791\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-3.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-3-300x169.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-3-768x432.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Deretan toko tua di Jalan Zainul Arifin atau Kudusan. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kami beranjak ke Jalan KH Zainul Arifin, yang disebut juga sebagai daerah Kudusan atau Jalan Kudusan. Ada cerita di balik sebutan itu. Dahulu, terjadi krisis ekonomi atau <em>malaise<\/em> yang mengguncang dunia termasuk Hindia Belanda atau Indonesia masa kini. Kesulitan ekonomi membuat banyak orang asal Kudus berdatangan ke Malang. Umumnya orang-orang tersebut mempunyai keahlian menjahit dan juga menjadi distributor rokok mengingat saat itu Kudus sudah terkenal dengan industri rokok kretek. Karena orang-orang Kudus di Malang yang menetap di Jalan KH Zainul Arifin itulah makanya kawasan ini dikenal sebagai Kudusan. Sebenarnya, tak hanya orang-orang Kudus saja yang datang mendiami Kudusan, juga orang-orang Gresik. Tapi nama Kudusan sudah terlanjut melekat.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Kudusan ini ada Gang Kudusan, seperti tertulis di mulut gang. Namun ada sebutan lain untuknya, Gang Gajah, seperti dijelaskan Pak Ir.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGang gajah. Orang-orang dulu menyebutnya demikian. Mengapa? Karena pada tahun 1960-an ada sirkus yang mainnya di alun-alun. Sirkus itu punya gajah. Nah, kandang gajahnya di Gang Kudusan. Bahkan di tahun 1980-an ada klub sepakbola yang dinamakan PS Istana Gang Gajah,\u201d jelas Pak Ir.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"532\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-4.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6792\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-4.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-4-300x164.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-4-768x419.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Gang Kudusan yang disebut juga Gang Gajah. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Pak Ir kembali melangkah diikuti peserta lainnya. Lalu-lintas di Jalan KH Zainul Arifin mulai padat. Kami pun berjalan beriringan di tepi jalan dan berhenti di dekat perempatan Kudusan. Sebuah bangunan dengan rancang khas bangunan era kolonial berwarna putih menjadi perhatian kami: bangunan bekas NIMEF (<em>Nederlandsch-Indische Metaalwaren Emballage Fabrieken<\/em>). Dahulu, gedung tersebut pernah dipakai sebagai showroom sekaligus kantor NIMEF yang memproduksi dan sekaligus menjual mesin-mesin. Pabrik pernah berada di Kendalpayak namun mengalami buni hangus tahun 1947 saat Agresi Militer Belanda. Dalam perjalanannya, NIMEF juga berperan penting sebagai pencetak <em>Oeang Repoeblik<\/em> <em>Indonesia <\/em>(ORI) sesudah kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"548\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-5.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6794\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-5.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-5-300x169.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-5-768x432.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Bekas bangunan NIMEF dengan dominasi warna putih di pojok Jalan KH Agus Salim. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Tak jauh dari tempat kami memandangi bekas gedung NIMEF -yang selalu mencuri perhatian saya kala melewati perempatan Kudusan- terdapat warung minuman Es Tawon. Jalan Zainul Arifin ini agaknya tempat kuliner jadul dan sebagian masih bertahan, seperti Es Tawon yang sudah ada sejak 1955. Hanya sekitar sepuluh meter dari warung es, ada bangunan sederhana yang dijadikan warung ronde Titoni. Mulanya, tempat berjualan ronde Titoni ini berada di Jalan Pasar Besar tepatnya di muka Toko Jam Titoni, asal muasal nama warung ronde. Masih di sekitar sini, terdapat perusahaan <em>Nam Hien<\/em> yang memproduksi kue koya <em>Tau Sa Ko<\/em>, yang sering dipakai sebagai seserahan keluarga lelaki Tionghoa saat melamar calon mempelai perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Markas Freemason Pertama di Malang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari Kudusan, Pak Ir memimpin peserta tur menuju Jalan Ariesmunandar atau dikenal dengan Klojen Kidoel. Jalan ini relatif sepi, tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Di sini ada satu bangunan yang mencolok dengan kesan segar. Dinding dan pintu kembarnya dicat warna hijau. Dekat pintu terpasang plang nomor rumah berangka 42. Pada salah satu sisi terdapat bangunan tambahan dengan cat warna serupa. Di bagian atas pintu dan jendela terpasang banner <em>Tailor Bulan Purnama<\/em>, yang sudah ada sejak dulu walau pemilik rumahnya sudah berpindah tangan kepada orang asal Kudus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"549\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-6.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6796\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-6.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-6-300x169.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-6-768x432.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Pajangan foto pernikahan di depan sebuah rumah. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Pak Ir kemudian membawa kami ke depan sebuah rumah berpagar dan seorang lelaki bertopi maju ke depan. Ia berdiri di samping Pak Ir untuk memajang sebuah foto. Dengan seksama, saya memperhatikan foto tersebut, yang menampilkan laki-laki dalam balutan (seperti) seragam militer dan pengantin perempuan dengan gaun putih yang diapit banyak orang, yang mungkin keluarga pengantin perempuan di depan sebuah rumah. Rumah di depan kami adalah rumah di foto tua itu. Beberapa bagian depan rumah masih utuh. Sayangnya, kami tidak bisa masuk untuk melihat apakah rumah tua masa kolonial itu masih terjaga keasliannya atau sudah dipoles seperti bangunan tambahan di depan yang jauh lebih modern.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, kami memasuki halaman rumah putih bertingkat. Agak terkejut juga ternyata bangunan ini sudah ada sejak zaman kolonial padahal di mata saya, bentuknya tak jauh beda dengan bangunan modern lain. Menurut Pak Ir, rumah itu merupakan loji Freemason yang pertama di Malang. Gerakan Freemason masuk ke Malang akhir 1800-an dengan para anggota kaum berada yang sering melakukan kegiatan sosial. Loji pertama Freemason ini berdiri pada 1914, bersamaan dengan ditetapkannya&nbsp; Malang sebagai <em>gementee <\/em>(kotapraja). Selain sebagai markas, di loji juga terdapat perpustakaan dengan&nbsp;koleksi ribuan buku. Setidaknya, ruang perpustakaan ini masih ada selama periode 1924 hingga 1933&nbsp;meski loji telah pindah tempat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"548\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-7.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6799\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-7.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-7-300x169.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-7-768x432.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Peserta tur di depan bangunan bekas Loji Freemason. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Bekas <em>Vrijmetseelar loge<\/em> (loji Freemason) ini bertingkat dua dengan jendela lantai bawah melengkung dan ditambah pengaman teralis besi. Menurut ucapan Arief Disanda Kantina Setiawan Putra\u2014pendiri&nbsp; <em>Malang Oldphoto<\/em>\u2014bangunan <em>Vrijmetseelar loge<\/em> mengadopsi gaya vernakular (gaya arsitektur yang&nbsp; mengadopsi konten lokal), yang jadi tren di Belanda saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait Freemason, saya jadi teringat <em>Da Vinci Code<\/em> dan film <em>National Treasure<\/em>, tentang lantainya yang berwarna hitam-putih. Jadi, apakah di dalam rumah tersebut ada lantai seperti itu? Senang rasanya ketika kami boleh masuk gedung.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya sedikit tercengang melihat debu dan barang-barang berserakan di dalamnya. Tampaknya rumah ini sudah lama tidak ditempati. Dengan hati-hati saya naik tangga dan menemukan -sama seperti lantai bawah- lapisan debu menghiasi setiap sudut ruangan. Kedua mata saya melihat-lihat ke sekeliling&nbsp; sembari berjalan dan tibalah saya di sebuah ruangan: dengan motif lantai hitam-putih. Inilah tempat&nbsp; penerimaan anggota baru Freemason sekaligus ruang rapat. Saya kemudian memutuskan untuk&nbsp; berkeliling di lantai atas&nbsp; walau ada rasa takut yang terjelaskan. Usai tur, seorang peserta mengaku,&nbsp; pundaknya ditepuk saat&nbsp; berada di lantai tersebut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"548\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-8.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6801\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-8.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-8-300x169.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-8-768x432.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Para peserta berada di ruang yang pernah digunakan untuk upacara penerimaan anggota baru Freemasonry. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Tur berlanjut dan hanya berjarak sekitar sepuluh meter terlihat sebuah bangunan berwarna biru. Cukup besar ukurannya. Bangunan ini milik ANIEM (<em>Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatscapij<\/em>) atau perusahaan listrik yang pernah memasok kebutuhan listrik untuk Kota Malang. Di dalam bangunan yang lebih mirip gudang ini, dahulu terdapat mesin-mesin yang memanfaatkan air Sungai Brantas sebagai pembangkit tenaga listrik saat listrik kota padam.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"961\" height=\"723\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-9.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6802\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-9.png 961w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-9-300x226.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-9-768x578.png 768w\" sizes=\"(max-width: 961px) 100vw, 961px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Bekas bangunan ANIEM (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Selesai menjelaskan bangunan ANIEM, Pak Ir kemudian meminta kami membalikkan badan untuk menghadap sebuah rumah cantik. Saya pikir sebuah bangunan baru karena tampak depannya sudah mengikuti rumah zaman kini. Saya salah!<\/p>\n\n\n\n<p>Kami masuk rumah dan di ruang tamu telah tertata rapi bermacam-macam kudapan dengan kopi dan teh. Kami pun melepas lelah sejenak dan sambil menikmati sajian dari rumah, Pak Ir menjelaskan tentang bangunan rumah ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"733\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-10.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6803\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-10.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-10-300x226.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-10-768x577.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Pintu geser berkaca patri. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya mengamati ke sekeliling rumah. Model pintunya masih menggunakan pintu geser, di pintu utama menuju di ruang tamu serta pintu ruang tengah. Ciri-ciri rumah era kolonial tahun 30-an juga masih dipertahankan seperti penggunaan lantai teraso dan pemakaian kaca patri warna-warni maupun jendela besar yang berfungsi sebagai ventilasi. Rumah ini pada era kolonial diipakai sebagai tempat tinggal bagi pegawai ANIEM. Saat ini difungsikan sebagai penginapan oleh pemiliknya, Bu Wiwik.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"649\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-11.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6804\" style=\"width:840px;height:559px\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-11.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-11-300x200.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-11-768x511.png 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-11-750x500.png 750w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"> <em>Peserta di depan bekas sekolah Tionghoa. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kami meneruskan perjalanan tur, ke sebuah rumah dengan pagar hijau yang tak berdiri tegak lagi. Rumah itu terdiri dari dua bangunan dan yang menjadi tujuan adalah bangunan di sisi kanan, yang menurut Pak Ir, pernah menjadi Sekolah Tionghoa (<em>Holland Chinese School<\/em>). Para peserta tur boleh masuk ke dalam dan aura bangunan tua sudah terasa dengan langit-langit berupa plafon metal. Pemisah antara ruangan juga tidak biasa untuk rumah masa kini karena masih berupa dau pintu kembar dengan ventilasi di atasnya yang diukir rapi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari <em>Holland Chinese School<\/em> kami teruskan ke <em>Societeit Insulinde<\/em>, tempat kegiatan sosial orang-orang Belanda, termasuk para serdadu KNIL, dan kaum pribumi terpilih. Tak jauh dari bangunan tua di Jalan Ariesmunandar inilah terletak titik nol Kota Malang. Sebenarnya ada tiga titik nol Malang. Yang pertama di bekas rumah karesidenan dan kini menjadi kantor pos sedang yang kedua di depan kantor pajak. Yang ketiga yang berlaku sampai sekarang adalah yang ditetapkan pemerintah pasca kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTitik nolnya yang mana?\u201d tanya&nbsp; Indarti Widiya, teman baru saya yang biasa disapa Iin.<\/p>\n\n\n\n<p>Telunjuk saya mengarah ke sebuah titik di dekat Jembatan Brantas di Jalan Gatot Subroto. Beberapa  pohon rindang tumbuh di pojok jembatan. Di sampingnya terdapat sejumlah tiang listrik. Sebuah penanda berwarna kuning terselip di antara tiang-tiang tersebut. Itulah titik nol Kota Malang. Iin,&nbsp; mengangguk kecil mendengar jawaban saya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"650\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-12.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6805\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-12.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-12-300x200.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-12-768x512.png 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-12-750x500.png 750w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Orem-orem ketupat. (wag)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya dan Iin berjalan beriringan untuk melanjutkan tur. Meskipun tadi di rumah Bu Wiwik, sudah disuguhi berbagai kudapan, ternyata perut kami tak menolak saat diajak makan siang dengan menu: orem-orem, makanan khas Malang. Kami semua berbaris rapi untuk antri makanan di sebuah rombong penjual orem-orem di pinggir Jalan Gatot Subroto. Hanya tersedia beberapa kursi plastik, tapi banyak teman yang tak keberatan makan sambil berdiri. Ditemani suara kendaraan bermotor yang lewat, saya menikmati dengan lahap orem-orem hingga tandas.<\/p>\n\n\n\n<p>Usai makan siang kami tiba di seberang jalan Apotik Boldy. Sebuah bangunan tua yang hingga kini masih&nbsp; utuh.&nbsp; Letaknya&nbsp; masih berada di Jalan Gatot Subroto. Di era kolonial, jalan ini bernama <em>Spoorstrat<\/em> atau&nbsp; Jalan Kereta Api. Sebelum menjadi apotik, tepatnya sebelum kemerdekaan, bangunan tersebut&nbsp; adalah toko alat tulis kantor. Lalu, sekitar tahun 1960-an menjadi Apotik Boldy hingga akhirnya tutup&nbsp; sebelum pandemi corona.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Boldy&nbsp; sendiri berasal dari nama seseorang asal Armenia. Di belakangnya ada bangunan lain, yang&nbsp; sampai&nbsp; sekarang masih digunakan untuk praktek dokter. Saking terkenalnya apotik ini, gang yang&nbsp; berada di&nbsp; sampingnya diberi nama Gang Boldy. Lebih terkenal ketimbang nama aslinya, Jalan Mangun&nbsp; Sarkoro.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesudah mendengar penjelasan tentang Apotik Boldy, kami kembali ke tempat pemberangkatan,&nbsp; Klenteng Eng An Kiong, yang akan menjadi penutup tur. Hanya beberapa menit berjalan, tibalah kami di&nbsp; klenteng dan saya langsung duduk di kursi untuk melemaskan otot-otot kaki. Di klenteng ini para&nbsp; peserta diberi kebebasan untuk berkeliling sendiri atau langsung pulang. Saya bersama Iin memutuskan&nbsp; berkeliling melihat ruang-ruang di klenteng yang berisi patung para dewa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"425\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-13.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6806\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-13.png 975w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-13-300x131.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/image-13-768x335.png 768w\" sizes=\"(max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Salah satu ruang ibadah di Klenteng Eng An Kiong. (dokpri)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya tak menghitung ada berapa persisnya ruangan di klenteng dan ada berapa pula patung para dewa. Saat itu suasana dalam klenteng mulai ramai dengan kedatangan para pengunjung yang hendak berdoa sekaligus merayakan Cap Go Meh. Sesekali aroma dupa menguar memenuhi hidung saya. Tak luput, mata kami juga agak perih terkena asap dupa.<\/p>\n\n\n\n<p>Selesai berkeliling, saya memutuskan duduk di deretan kursi di teras klenteng. Hanya berjarak satu kursi, seorang lelaki paruh baya yang menurut saya perawakannya lebih menyerupai keturunan Arab menyapa saya. Kami berbincang-bincang. Di akhir pembicaraan, laki-laki itu berpesan agar sorenya saya datang lagi ke klenteng untuk menonton rangkaian acara Cap Go Meh. \u201cNanti juga ada pembagian lontong Cap Go Meh,\u201d pesan lelaki tersebut. Saya hanya mengangguk.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan tidak tertarik, tapi rasanya hari itu sudah usai. Berjalan kaki selama tiga jam sejak delapan pagi,&nbsp; dan menyerap beragam informasi dari Pak Ir, saatnya buat saya untuk istirahat dan mengenang tur yang memikat itu.<br><em>***<br>Februari 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Dewi Sartika<\/strong>, seorang ibu rumah tangga yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Anggota&nbsp; komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan, edisi 364 Maret 2023 Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti tur heritage bertema Pecinan Kota Malang yang diadakan Komunitas Malang Oldphoto (MOP). Kesekian kalinya saya mengikuti acara tur: sebagai penyuka sejarah selain juga untuk menambah pengetahuan. Tur juga saya manfaatkan sebagai liburan dari urusan pekerjaan rumah tangga. Pagi yang mendung itu saya tiba di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5],"tags":[871,808,1425,1432,1423,1424,965,259,1422],"class_list":["post-6785","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","tag-catatan","tag-ceritanet","tag-dew-sartika","tag-edisi364","tag-freemason","tag-kudusan","tag-laporan","tag-malang","tag-pecinan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6785","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6785"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6785\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8152,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6785\/revisions\/8152"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6785"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}