{"id":6929,"date":"2023-08-14T20:39:31","date_gmt":"2023-08-14T20:39:31","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=6929"},"modified":"2026-07-15T15:25:05","modified_gmt":"2026-07-15T15:25:05","slug":"mimin-ibu-dan-ayah-ayah-syifa-aimbine","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6929","title":{"rendered":"Mimin, Ibu, dan Ayah-ayah &#8211; Syifa Aimbine"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 369 Agustus 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Mimin punya ayah. Semua orang punya ayah. Mimin pasti juga punya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin dulu punya Om Eko. Walau sudah tidak tinggal serumah dengan Mimin dan Ibu, masih memberi uang jajan saat bertemu di warung Bu Juju dua minggu lalu. Ibu dan Om Eko pernah menikah dan Mimin punya adik yang lucu, Dodo. Kemudian Dodo meninggal dan Om Eko jadi sering marah, lalu pergi. Mimin tidak boleh memanggil Om Eko sebagai ayah, karena, kata Ibu, Om Eko bukan ayah Mimin.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada pula Om Bowo, yang datang ke rumah hampir tiap malam, memeluk tubuh Ibu, lalu pulang esok paginya. Om Bowo suka memberi Ibu banyak uang. Mimin juga dapat uang jajan. Namun Ibu mengusir Om Bowo karena Mimin bercerita Om Bowo suka mencolek bokong Mimin. Padahal Mimin sudah boleh memanggilnya ayah- \u201cbiarpun bukan ayah beneran\u2026\u201d kata Ibu. Ibu juga marah sama Mimin. Katanya tak boleh diam saja kalau ada yang mencolek.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi ayah Mimin di mana, Bu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin ingin mendengar jawaban meski juga takut kalau Ibu marah dan menendang perut Mimin, seperti pada sebuah malam. Atau meraih sapu dan memukul betis Mimin sampai kayunya patah di sebuah siang. Ibu suka memukul: pagi. siang atau malam. Apalagi jika pulang larut malam selepas kerja. Kata tetangga Ibu sering mabuk. Jalannya sempoyongan dan matanya merah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu tuh, ayah kamu. Tuh yang di tivi, cakep banget, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu menunjuk seorang pria di drama TV. Mimin kesal, sedih. Ibu selalu menganggap pertanyaan Mimin lelucon. Padahal bagi Mimin, ayah sangat penting. Mimin ingin menunjukkan pada Putri dan kawan-kawan di sekolah, kalau Mimin sama seperti mereka. Jadi Mimin bukan anak haram seperti diteriakkan Bu Ikus, pemilik warung depan sekolah saat Mimin bilang tahu gorengnya tak enak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBu, Ayah Mimin sudah meninggal ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin Mimin sama dengan Marta, anak kelas sebelah. Marta juga tidak punya ayah lagi. Katanya beberapa bulan lalu meninggal karena dipatuk ular di sawah. Mungkin ayah Mimin juga meninggal dipatuk ular, atau ditabrak truk, atau sakit seperti kakeknya Indah, tetangga sebelah kiri Mimin. Tidak mengapa. Mimin bisa mengunjungi kuburan Ayah setiap mau bulan puasa. Tapi Ibu tetap bilang ayah Mimin tidak mati dan tetap tidak mau bilang hidup di mana.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu kembali menggeleng, mematikan TV, lalu masuk ke kamarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedih. Mimin sesak napas. Mata Mimin panas. Namun, kalau Ibu mendengar Mimin menangis, Ibu pasti marah. Lebih baik ditahan. Mimin pergi saja ke rumah Sekar, di gang sebelah. Sekar pasti sedang main.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekar, walau lebih kecil, adalah satu-satunya teman Mimin yang mau berbagi mainan. Kata ibunya, Sekar terlambat bicara. Sudah mau empat tahun, tak satu kata pun keluar dari mulut Sekar. Ia hanya bisa tertawa, menangis, dan marah. Namun, Sekar tidak pernah marah sama Mimin. Setiap Mimin datang Sekar pasti senang.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekar sedang main masak-masakan dengan ayahnya di ruang tamu. Sekar terlihat tertawa saat ayahnya memotong-motong sayuran plastik. Tertawa semakin besar saat ayahnya pura-pura kepanasan memegang kompor mainan. Bahagianya Sekar, punya ayah yang mau bermain dengannya. Ibu Sekar tak terlihat, mungkin sedang bekerja di rumah besar di jalan ujung gang.<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin sungkan untuk masuk tapi Sekar melihat dan melambaikan tangan kencang. Om Toyo, ayah Sekar, segera memanggil.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSini masuk! Mau main sama Sekar, ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin mengangguk tapi ragu dan malu. Mimin jarang bertemu Om Toyo. Kata ibu Sekar, Om Toyo kerja di luar kota dan jarang pulang. Mimin hanya beberapa kali bertemu. Sore itu, Mimin ingin main sama Sekar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya Om.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin, Sekar, dan Om Toyo bermain bersama dan tertawa bersama. Pasti begini rasanya kalau<\/p>\n\n\n\n<p>punya ayah. Om Toyo lucu: berteriak kesakitan tangannya kepotong pisau plastik, makan lahap wortel mainan, dan bersendawa kuat. Mimin dan sekar tertawa-tawa riang. Seru sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin tidak tahu kapan Om Toyo menutup pintu. Mimin kaget suara TV yang dinyalakan. Keras. Om Toyo bilang mau menidurkan Sekar yang menguap. Mimin mau pulang tapi Om Toyo tak membuka pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSini, tidur sama Sekar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di kamar Om Toyo menepuk-nepuk Sekar hingga tertidur. Mimin menatap langit-langit kamar. Tak pernah ada yang menepuk-nepuk punggung Mimin. Rambut Mimin dibelai Om Toyo. \u201cBegini rasanya tidur siang dengan ayah.\u201d Perut Mimin terasa geli, Mimin sangat senang. Om Toyo sangat baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Om Toyo menarik ikut ke kamar sebelah. Sekar tidur sendiri. Mimin takut dan melepaskan cengkeraman. Om Toyo menutup mulut Mimin. Kalau teriak, leher Mimin mau dicekek. Mimin kesakitan, tidak bisa bergerak, Om Toyo jahat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOm Toyo, sakit. Mimin sakit, Om.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Om Toyo ternyata jahat. Mimin tidak mau ayah seperti Om Toyo, Mimin tidak mau punya ayah.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin takut jika bertemu laki-laki. Mimin takut melihat Pak Guru, Mimin juga teriak melihat bapak-bapak lewat depan rumah. Semuanya jahat. Mimin tidak mau sekolah lagi. Badan Mimin terasa lemas, perut Mimin sakit. Mimin mau di rumah sama Ibu namun Ibu makin sering marah. Ibu membanting piring dan gelas. Rumah berantakan. Mimin takut dan mengunci pintu. Mimin cuma bisa menangis sampai mengantuk. Lalu kembali mimpi didatangi Om Toyo lagi dan lagi. Mimin takut tidur.<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin berbaring menutup kepala dengan bantal. Mimin mengintip saat Ibu masuk kamar. Mimin. Mimin melihat Ibu memegang pisau. Ibu menangis terus dari tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNasib kita sama Mimin!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu Ibu memeluk Mimin. Mimin mau membuka namun tiba-tiba leher Mimin sangat sakit. Ibu menusuk leher Mimin dengan pisau. Mimin sesak napas. Mata Mimin panas. Mimin berusaha melepaskan pelukan Ibu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa Ibu\u2026.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mimin tidak mau punya Ibu. Juga ayah.<br>***<br><em>Depok, 2 Agustus 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Syifa Aimbine<\/strong>, seseorang yang mencoba menulis kembali dengan pena macetnya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 369 Agustus 2023 Mimin punya ayah. Semua orang punya ayah. Mimin pasti juga punya.&nbsp; Mimin dulu punya Om Eko. Walau sudah tidak tinggal serumah dengan Mimin dan Ibu, masih memberi uang jajan saat bertemu di warung Bu Juju dua minggu lalu. Ibu dan Om Eko pernah menikah dan Mimin punya adik yang lucu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1471,1467,1465],"class_list":["post-6929","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi369","tag-mimin","tag-syfaaimbine"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6929"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8139,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6929\/revisions\/8139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}