{"id":6959,"date":"2023-10-14T22:54:23","date_gmt":"2023-10-14T22:54:23","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=6959"},"modified":"2026-07-15T15:17:55","modified_gmt":"2026-07-15T15:17:55","slug":"surat-untuk-sam-prima-yuanita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=6959","title":{"rendered":"Surat untuk Sam &#8211; Prima Yuanita"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 371 Oktober 2023<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Belasan tahun silam saya pernah menemui seseorang di dekat pohon kantil yang bergoyang diterpa angin September yang gersang. Orang itu akan bertolak ke Jakarta dan saya berjanji menghampirinya sebelum jam satu siang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada tujuh lembar kertas surat yang ingin saya berikan. Entah nanti suka atau tidak, saya sudah tersenyum-senyum membayangkan orang itu akan tersenyum-senyum membacanya. Surat-surat itu adalah kisah kami semasa SMA.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dada saya berdentam-dentam begitu tiba di depan agen bus Solo-Jakarta di dekat perempatan utama kota. Tangan saya gemetar mendekap amplop cokelat yang terlipat. Saya menyisir tempat berkumpulnya orang yang akan bepergian. Lalu tiba-tiba pandangan saya terpaut pada sosok lelaki berjaket biru yang berdiri di sudut halaman, di samping pohon kantil. Ketika tanpa sengaja lelaki itu menoleh dan pandangan kami bertumbuk, mendadak ia menunduk, seolah sibuk menghitung bunga-bunga putih yang sebagian rontok berserakan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSam!\u201d Saya yang harus memanggil terlebih dahulu, \u201c\u2026sudah lama?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menggeleng. Tanpa basa-basi saya langsung menyodorkan amplop cokelat. Saya bingung karena mulutnya selalu senyap. Ia menerima lalu membolak-baliknya. Setelah itu ia menatap saya tiga detik lantas berpamitan karena bus yang akan membawanya ke ibu kota lekas berangkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami pun berpisah. Perpisahan yang, barangkali, bagi Sam tiada arti. Namun tidak demikian dengan saya. Hati saya serasa ditusuk-tusuk ranting pohon kantil begitu menyadari kami bakalan jarang berjumpa: ia melanjutkan kuliah di Jakarta sementara saya di Solo. Apakah saya telah jatuh cinta? Entahlah. Saya tidak tahu persis apa itu cinta.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Yang saya tahu mencintai sesuatu berarti kita menyukai segala hal tentangnya. Lalu apakah saya menyukai segala hal dari Sam? Sepertinya jawabannya justru bertolak belakang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sam memiliki wajah -yang menurut kawan-kawan di sekolah- menyerupai aktor terkenal, Anjasmara. Padahal selama ini saya benci melihat akting Anjasmara di televisi dan harus berebut televisi dengan ibu karena Anjasmara jadi pemeran utama di sinetron kesayangan ibu. Pada akhirnya kami sepakat untuk bergantian. Ketika giliran ibu tiba lalu wajah aktor itu nongol di layar, saya pun terpaksa melihat lalat-lalat yang usil, atau semut-semut kecil, atau cicak-cicak dekil yang sebenarnya tidak penting digubris.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Rasanya terselematkan dengan tidak melihat Anjasmara, akan tetapi Sam, kawan saya itu, malah langsung menemui saya di dalam mimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh Tuhan, bagaimana bisa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Saya tak mengerti. Dan saya semakin tak mengerti ketika esoknya Tuhan membuat mimpi saya benar-benar terjadi. Malam itu saya melihat Sam terperosok ke semak-semak dengan sepeda motornya. Saya berteriak minta bantuan, tetapi tak ada yang mendengar. Lalu esoknya, ketika di sekolah, saya melihat bekas luka di wajah Sam. Kata Ipul, kawan sebangkunya,&nbsp; Sam habis menghantam pagar rumah milik tetangga.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Ah<\/em>, pasti ini hanya kebetulan,\u201d batin saya. Namun selepas kejadian tersebut ternyata saya masih memimpikan Sam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di suatu malam yang lain, saya melihat Sam berdiri di antara barisan lelaki berbadan tegap dan berseragam hijau gelap. Kepalanya tampak mengkilap. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di tengah hutan sampai akhirnya suara ibu yang lebih nyaring dari kokok ayam membuat mata saya terbuka lebar. Dan mata saya semakin terbuka lebar ketika tiba di sekolah menyaksikan belasan kawan berkerumun di bangku paling belakang: mereka menggoda Sam dengan penampilan barunya. Kepalanya plontos persis yang saya lihat di dalam mimpi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda apa lagi ini, Tuhan?\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Semenjak hari itu saya berharap semoga tidak menjumpai Sam di mimpi. Padahal di dunia nyata kami jarang bertegur sapa. Ia sosok yang muram, pelit bicara, dan suka menunduk di hadapan saya. Betapa saya lega ketika malamnya saya tidak memimpikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi keesokan hari saya menemukan wajah Sam muncul di langit-langit kamar, lalu di lemari kaca, lalu di meja belajar, meja makan, bahkan kaca spion motor. Saya melihat sosoknya di mana-mana. Karena tersiksa dengan keadaan tersebut, maka saya kembali berdoa agar tidak menemukan wajahnya di mana pun.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTuhan, saya ingin terbebas dari sosok lelaki itu!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Pada 19 Juni bersamaan dengan pengumuman kelulusan SMA, saya tak menemukan Sam. Seharusnya saya bahagia karena doa saya terkabul, tapi tidak. Tanpa Sam, dunia saya seolah sayur tanpa garam. Seperti ada sesuatu yang hilang. Saya berusaha melupakan Sam dengan berkeliling kota bersama beberapa kawan: jalan-jalan ke kafe, restoran, bioskop, swalayan, hingga ke kebun binatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi hati saya masih terasa hampa. Dalam situasi tersebut tiba-tiba saya teringat dengan saran guru bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJika kalian sedang gelisah, menulislah! Menulis bisa menjadi terapi untuk diri sendiri!\u201d Lantaran penasaran dengan kebenaran nasihat tersebut, saya pun memutuskan untuk menumpahkan perasaan saya lewat tulisan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSam harus membacanya,\u201d kata saya sesaat selepas tulisan itu rampung. Dan ada banyak kegelisahan saya, hingga seluruhnya ada tujuh lembar tulisan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi saya tidak tahu bagaimana menghubungi Sam. Tiba-tiba saya teringat buku kenangan kelulusan yang tersimpan di laci belajar. Ada nomor ponsel Sam di sana. Dengan dada yang berdebar-debar saya memberanikan diri mengiriminya SMS. Dan betapa perasaan saya kian membuncah ketika Sam membalas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBesok aku berangkat ke Jakarta. Kau bisa menemuiku di agen bus dekat perempatan sebelum jam satu.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaiklah, tunggu aku ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia hanya menjawab \u201cY\u201d setelahnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau payah sekali dalam menulis kalimat, Sam!\u201d rutuk saya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya memang tidak menyukai sesuatu yang singkat. Kendati demikian, tetap saja saya ingin berjumpa. Maka terjadilah pertemuan singkat kami pada siang itu di agen bus Solo-Jakarta, yang terkenang hingga belasan tahun berselang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bus berwarna merah-biru itu mengangkut puluhan orang menuju Jakarta, termasuk Sam. Saya hanya mengamati tanpa melambaikan tangan seperti yang dilakukan orang lain pada seseorang yang meninggalkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApakah Sam sudah membaca surat itu?\u201d batin saya pada malam harinya. Gundah kembali menyerang hingga mata sulit terpejam. Akhirnya saya kembali mengirim pesan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana pendapatmu dengan ceritaku, Sam?\u201d<em>&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jantung saya berdegup kencang menunggu jawaban dari Sam. Namun hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari kemudian, pesan saya bertepuk sebelah tangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya menyesal telah memberikan surat berisi cerita kami semasa SMA itu padanya. Tentang kami yang hampir sering bertabrakan di perpustakaan, yang datang terlambat ke sekolah dan dihukum bersama, hingga mimpi-mimpi aneh yang jadi kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa jadi surat dari saya sengaja dilempar Sam ke jendela supaya ditemukan preman di jalanan, atau disobek-sobek dan dibuang, mungkin juga ditinggalkan di bus bersama sampah-sampah, dan bisa jadi dibaca tapi ia enggan memberi komentar. Entahlah. Saya tak tahu kenapa Sam tega mengabaikan pesan saya, dan juga surat-surat itu. Sampai bertahun-tahun lamanya pesan saya tak juga dibalas. Keterlaluan, saya pikir, mengabaikan keberadaan manusia. Seandainya dia balas \u2018belum saya baca\u2019 tentu saya bisa terima tapi sama sekali senyap bertahun-tahun!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTuhan, tolong beri balasan padanya yang setimpal!\u201d pinta saya di suatu malam yang hening. Sehening perasaan saya pada Sam yang tak lagi menyisakan sesuatu yang teramat berharga.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah melewati ribuan malam yang panjang, doa saya, sepertinya, dikabulkan. Hari ini tiada angin tiada hujan tiba-tiba Sam mengirim pesan melalui email.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menulis kalimat dengan sopan sebagai pengantar, lalu menjelaskan alasan tentang waktu yang amat lama untuk membalas pesan saya, dan menjelaskan rencana kepulangan ke Solo. Sebelum menutup dengan tutur yang santun pula, dia menulis, \u201cApakah bisa bertemu di dekat pohon kantil, seperti dulu. Bus dari Jakarta akan tiba pukul delapan pagi.&nbsp; Kau bisa menemuiku di agen bus dekat perempatan setelah jam delapan.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya pun tersenyum, mengambil telepon genggam. Hening sejenak, sepertinya Tuhan memberi saya waktu untuk memutuskan apakah memberi balasan seperti dalam doa saya atau memaafkannya. Segera saya menaruh telepon ke dasar tas, tertumpuk buku-buku tebal dan bekal makan siang yang masih hangat.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu saya mendadak bermimpi Sam lagi. Kali ini, dia bersama puluhan laki-laki dan perempuan berserakan terlentang beku di dasar jurang. Bus malam dari Jakarta tergelincir masuk jurang.<br>***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>&nbsp;<strong>Prima Yuanita<\/strong>, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bertangga nada mayor. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di berbagai media. Buku kumpulan cerita pendek yang telah terbit berjudul Kidung Bakti (Nomina, 2023). Bisa dihubungi melalui akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 371 Oktober 2023 Belasan tahun silam saya pernah menemui seseorang di dekat pohon kantil yang bergoyang diterpa angin September yang gersang. Orang itu akan bertolak ke Jakarta dan saya berjanji menghampirinya sebelum jam satu siang. Ada tujuh lembar kertas surat yang ingin saya berikan. Entah nanti suka atau tidak, saya sudah tersenyum-senyum membayangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1057,808,804,1481,1474,1475],"class_list":["post-6959","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-cerita","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi371","tag-prima_yuanita","tag-surat_untu_sam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6959","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6959"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6959\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8131,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6959\/revisions\/8131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}