{"id":7083,"date":"2024-02-14T21:04:32","date_gmt":"2024-02-14T21:04:32","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7083"},"modified":"2026-07-15T14:55:18","modified_gmt":"2026-07-15T14:55:18","slug":"lagu-bulan-desember-khalil-satta-elman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7083","title":{"rendered":"Lagu Bulan Desember &#8211; Khalil Satta Elman"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Puisi, edisi 375 Februari 2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>di antara kelindan angin sisa kemarau, kita mulai<br>mencatat kenangan yang pelan-pelan dihapus rintik hujan<br>angka-angka pada kalender kemudian gugur pada dada<br>kita memungutnya sebagai apologi air mata<\/p>\n\n\n\n<p>detik demi detik menuliskan nama-nama masa lalu.<br>dengan seribu tangan kerinduan, kita menabuh damaru<br>untuk sekadar merayakan yang hendak bepergian<br>tiba-tiba kesedihan menjadi paling sungai di kaki perbukitan<\/p>\n\n\n\n<p>kita tinggal memilih, kembang api itu meletus di sebuah kota<br>atau pada dada kita. sambil berpura-pura abai pada hiruk-pikuk<br>orang-orang yang menangisi dan menertawakan kenangan<\/p>\n\n\n\n<p>kita percaya bahwa, sedetik yang lewat adalah kenangan, sedetik&nbsp;<br>yang akan datang tak teraba angan. tapi kita tetap membiarkan&nbsp;<br>detik demi detik lewat begitu saja, tanpa memungut yang berharga.<br>***<br><em>Yogyakarta, 2023-2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center has-black-color has-text-color has-large-font-size\">Cerita Buat Zakiyya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">sebelum nyanyianku serupa rintih seruling&nbsp;<br>terpisah dari rumpunnya, aku pernah berkata:<br>tak ada yang membikin gemetar kini,&nbsp;<br>kebahagian yang dibawa ricik sungai dari jantung hutan<br>tepat ketika angin pelan-pelan mengiris daun pisang di ujung pematang&nbsp;<br>telah menelan habis kesedihan. dan dari tepi sungai itu,&nbsp;<br>juga kudengar nyanyi jernih batu-batu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">pendar teplok yang dibawa terbang kunang-kunang menziarahi&nbsp;<br>malam berlumut. bulan padam menjelma kerinduan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">sehampar kabut yang menjemput keheningan perlahan susut.&nbsp;<br>pagi juga beringsut, setelah mengatakan cinta&nbsp;<br>dengan bahasa segar daun-daun hijau&nbsp;<br>yang selamat dari pukulan lebam angin kemarau<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">kemudian, tahun kerap berganti wajah di almanak&nbsp;<br>senja semacam resital kesedihan<br>anak-anak kehilangan alun karinding,&nbsp;<br>hingga tak menemukan batas musim dan sekat angin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">udara berlapis asap pabrik memenuhi dusun kita yang tak lagi cantik<br>hutan terbakar. hujan enggan memukul atap, atau sekadar<br>mencium tanah kita yang sekian lama retak.<br>sungai seperti menemukan jalan lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">aku bercerita sebagai mayat dari masa depan, sebab masa depan<br>merupakan kuburan bagi segala yang berbentuk kenangan<br>tapi, di penghujung waktu nanti, masih bisakah kita minum atau mandi<br>tanpa harus perigi. tanah kita lebih surga daripada&nbsp;<br>yang ditawarkan kitab suci.<br>***<br><em>Yogyakarta, 2023-2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Khalil Satta Elman<\/strong> lahir di Sumenep, 7 Mei. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan cerpen. Tulisan-tulisannya sudah terpublikasi di perbagai media cetak dan daring. Menjadi pemenang ketiga lomba penulisan puisi Kompetisi Bahasa dan Sastra Tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Mempersiapkan buku keduanya yang bertajuk Skizofrenia.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puisi, edisi 375 Februari 2024 di antara kelindan angin sisa kemarau, kita mulaimencatat kenangan yang pelan-pelan dihapus rintik hujanangka-angka pada kalender kemudian gugur pada dadakita memungutnya sebagai apologi air mata detik demi detik menuliskan nama-nama masa lalu.dengan seribu tangan kerinduan, kita menabuh damaruuntuk sekadar merayakan yang hendak bepergiantiba-tiba kesedihan menjadi paling sungai di kaki perbukitan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[1508,808,1510,1506,1507,809,824],"class_list":["post-7083","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-ceritabuatzakiya","tag-ceritanet","tag-edisi375","tag-khalilsattaelman","tag-lagubulandesember","tag-puisi","tag-sajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7083"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8116,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7083\/revisions\/8116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}