{"id":7152,"date":"2024-05-14T20:53:12","date_gmt":"2024-05-14T20:53:12","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7152"},"modified":"2026-07-15T14:43:28","modified_gmt":"2026-07-15T14:43:28","slug":"serenade-rindu-tjahjono-widarmanto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7152","title":{"rendered":"Serenade Rindu &#8211; Tjahjono Widarmanto"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Puisi, edisi 378 Mei 2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>\/1\/<\/p>\n\n\n\n<p>lelahkah kau setelah mencatatkan jejakmu pada paruh matahari?<\/p>\n\n\n\n<p>maka rebahlah di pangkuanku seperti awan rebah di bulan yang basah<br>atau seperti embun malam yang rebah di daun dan reranting pohon<\/p>\n\n\n\n<p>rebah. rebahlah. akan kudongengkan kembali hikayat-hikayat purba<br>tentang seonggok cinta yang selalu biru menyanyikan rindu yang gelisah dan cemas<\/p>\n\n\n\n<p>rebah. rebahlah. dalam pangkuanku<br>engkau akan menangkap isyarat-isyarat itu<br>: rindu yang bertapa seperti karang<br>tempat laut menitipkan&nbsp; gelombangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\/2\/<\/p>\n\n\n\n<p>burung-burung bentangkan sayapnya mengabarkan&nbsp;<br>sepotong rindu yang seliat warna malam<\/p>\n\n\n\n<p>maka,&nbsp;matamu akan berkabar tentang api<br>yang mengabu karena dicekam sepi<br>gelisah yang menggumpal jadi pecahan-pecahan karang<br>dan rindu itu berlumut di sana jadi prasasti: tentang gairah gelombangmu.<\/p>\n\n\n\n<p>sekejap aku tulis puisi-puisi<br>mengusung segenap kosa kata tentang rindu itu<br>lantas mengabadikannya jadi mantra-mantra gaib. <br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center has-black-color has-text-color has-large-font-size\">Kepada yang Bernama Cinta (1)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Kepada siapa kita berjalan mendekat?<\/em><br><em>Ke arah mana kita hanyut bersama pasir?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Ia menjadikan kita cuma dari sekedar lempung disusun seperti puzle<br>mainan kanak-kanak yang bisa tumbuh dan berkembang namun rentan<br>menuju remuk menjadi serpihan kayu di kuburan dimakan ngengat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">kita akan berjalan mengendap-endap ke utara.ngeri dan was-was<br>menerka takut dan cemas ditebas dari depan atau ditikam di bokong<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">tak bisa kita berlari menjauh dari mata yang mengintai di balik utara itu<br>menanti dengan birahi menyala&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>tak bisa tidak kita harus berjalan mendekat ke arahmu<\/em><br><em>walau tak bisa diterka hanyut ke arah surga atau neraka<\/em><br>*** <br><em>-ngawi-kedung dani-<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center has-black-color has-text-color has-large-font-size\">Kepada yang Bernama Cinta (2)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Bagaimana aku harus menyebut dan menyapamu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">lidah akan pasti kelu saat bersua<br>sedang setiap lezat menajam di ujungnya<br>nikmatmu tak hanya menggumpal di urat lidah<br>namun juga akan meresap ke dalam sel-sel kelenjar tubuh<br>seperti nikmat cinta yang lepas saat mata saling berkerling<br>hanya sekilat di puncak sekedap<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Dan di peluk erat lekat kudekap kau: gelombang puncak hebat yang nikmat!<br>***<br><em>-ngawi-<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Tjahjono Widarmanto<\/strong>, penyair yang tinggal di Ngawi. Buku puisinya yang telah terbit di antaranya Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018) dan Bersepeda dari Barat ke Utara sampai Tulang Rusukku Tumbuh Bulu (2021).<\/em>&nbsp;<em>Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puisi, edisi 378 Mei 2024 \/1\/ lelahkah kau setelah mencatatkan jejakmu pada paruh matahari? maka rebahlah di pangkuanku seperti awan rebah di bulan yang basahatau seperti embun malam yang rebah di daun dan reranting pohon rebah. rebahlah. akan kudongengkan kembali hikayat-hikayat purbatentang seonggok cinta yang selalu biru menyanyikan rindu yang gelisah dan cemas rebah. rebahlah. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[808,1116,1536,809,1349,824,1087],"class_list":["post-7152","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-ceritanet","tag-cinta","tag-edisi378","tag-puisi","tag-rindu","tag-sajak","tag-tjahjonowidarmanto"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7152"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7152\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8104,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7152\/revisions\/8104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}