{"id":7158,"date":"2024-05-14T20:52:53","date_gmt":"2024-05-14T20:52:53","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7158"},"modified":"2026-07-15T14:44:09","modified_gmt":"2026-07-15T14:44:09","slug":"hari-yang-tak-lagi-sama-dewi-sartika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7158","title":{"rendered":"Hari Yang Tak Lagi Sama &#8211; Dewi Sartika"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 378 Mei 2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kibbutz Mishmar HaEmek tak seperti biasanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak dua minggu lalu, sekelompok lelaki dari luar kibbutz datang sambil menenteng senjata. Warga kibbutz pun bertanya-tanya. Begitulah kata ayahku,&nbsp;Janusz, saat mengungkap keresahan warga.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOrang-orang saling berbisik waktu Haganah mendatangi kibbutz. Akhirnya mereka laporkan keresahannya kepadaku,\u201d kata ayah ketika kelompok lelaki bersenjata itu datang tempo hari.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMengapa mereka ke sini, Ayah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApalagi kalau tidak untuk melindungi kita dari orang-orang Arab, Josef. Mereka khawatir kibbutz ini akan diserang. Sebenarnya aku pun tak suka mereka datang. Aku lelah berdebat sama orang-orang Haganah, jadi terpaksa kuiyakan saja. Syukurlah orang-orang kibbutz bisa mengerti meski dengan wajah keruh.<strong>\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Aku tersenyum hambar. Alasan yang baru saja kuterima itu benar-benar tak masuk akal mengingat Mishmar HaEmek terletak agak jauh dari desa Arab. Yang justru kukenang kuat adalah hubungan baik dengan orang-orang Arab di kampung sekitar kibbutz. Aku ingat berkejar-kejaran dengan riang bersama Ahmad dan Ismail, walau belakangan kami jadi terpisah: aku bertani di kibbutz dan mereka berdua di kampungnya. Sesekali aku rindu mereka, tapi sudah terlalu sibuk dengan tugas sekolah, bertani, dan main sesama kawan anak kibbutz.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi aku tak pernah punya alasan untuk memusuhi orang-orang di luar kaumku karena memang tak punya pengalaman buruk, seperti sesama umat Yahudi lain yang datang belakangan ke Tanah Palestina. Kerap kudengar kisah mereka yang dikurung di ghetto dan kekurangan makanan maupun minuman. Aku ingat juga beberapa anak yang tiba dengan tubuh kurus kering kerontang dan menyantap lahap semua makanan yang kami bagikan ketika tiba di kibbutz. Sedangkan keluarga kami tak pernah menjalani pengalaman buruk selama tinggal di Polandia dulu. Ayah, kata orang-orang, tergolong berada dan kerap membantu orang sekitar sehingga disegani oleh semua orang, warga Polandia asli atau Jerman pendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan Ayah pula yang berulang-ulang menegaskan kepada kami semua di rumah agar tetap menghormati setiap orang tanpa pandang bulu. Sejak kecil, kami kerap mendengar nukilan kisah orang baik dari Samaria, yang membantu orang Yahudi yang dirampok di Yerikho ketika sesama orang Yahudi justru tidak memperdulikan korban perampokan.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu, ketika mengenang kembali kedatangan pertama Haganah itu, aku merasa terombang-ambing. Hati kecilku menolak kedatangan Haganah namun akalku seperti menerima keberadaan mereka dengan alasan menjaga kami, bukan hanya dari orang-orang Arab sekitar tapi juga mungkin dari serigala-serigala liar atau ular berbisa yang mematikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah ketukan dari luar rumah membangunkanku dari renungan malam itu. Kututup segera kitab Taurat dan sadar bahwa setengah jam lalu aku sedang mendaras Taurat dengan syahdu. Bergegas aku membuka pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sosok lelaki dengan tubuh berisi dan wajah bercambang lebat berdiri tepat di hadapanku. Tangan kanannya memegang sebatang rokok yang tersisa separuh.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku tadi mendengar suaramu dari luar. Apa yang sedang kau baca?\u201d tanya Avraham. Dia salah seorang anggota Haganah yang kukenal. Tidak dekat tapi kami saling menyapa dan sesekali ngobrol. Ia lebih kerap ngobrol panjang lebar dengan ayah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApa kau butuh sesuatu?\u201d aku bertanya balik, mencurigai Avraham punya niat lain. Namun, bukan jawaban yang kudapat. Tanpa permisi ia langsung masuk ke dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Hampir saja aku naik pitam. Ia tak pernah selancang itu. Saat malam tiba meski tidak setiap malam, Avraham memang kerap mengetuk pintu untuk mengajak ayah dan aku&nbsp; berbincang. Namun, tak pernah selarut ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku kedinginan, maafkan aku. Mantelku dipakai Moshe, rekan berjagaku malam ini. Izinkan aku di sini lima menit saja,\u201d ucap Avraham setengah memohon. Ia lalu duduk di kursi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku paham, mengangguk kecil, dan menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau membaca Taurat?\u201d tanya Avraham. Matanya mengarah ke Taurat di meja.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSeorang rabi di Jerusalem memberinya. Kami berkenalan waktu berdoa di Tembok Ratapan dua bulan lalu. Kupikir tak ada salahnya aku membacanya. Sudah seminggu aku mendarasnya sebagaimana mendaras Talmud. Sengaja kubaca malam hari sesudah ayah tidur walau ia tak akan terbangun. Terlalu pulas jika ia tidur,\u201d jawabku sambil menjaga nyala api di atas tungku. Aku berniat menjamu Avraham dengan minuman hangat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDulu, aku pernah membaca Taurat saat masih Moskow. Tapi sebagai selingan saja. Apa warga kibbutz ini ada yang berasal dari Moskow?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak, kebanyakan kami dari sebuah kota kecil di Polandia. Kebetulan ayah yang menjadi pemimpinnya.\u201d Kusajikan teh hangat yang kental kepada Avraham yang segera meraihnya lalu menyeruput keras.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku bersyukur sekali bisa ke sini. Andai saja ayah tak mengungsikan keluarganya dari Moskow, tentu kami bakal terkurung di ghetto. Atau mungkin sudah mati.\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terdiam mendengar kata-kata yang meluncur ringan dari bibir Avraham. Alasan yang sama dari&nbsp;para warga kibbutz ketika berangkat menuju Tanah Yang Dijanjikan. Masih terekam dengan jelas di kepalaku cerita tentang orang-orang yang menganggap ayah sebagai pemimpin mereka, yang bersemangat&nbsp; mendorong ayah pergi ke Palestina.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Menuju Palestina menjadi cita-citanya dari dulu. Ayah pun tak membuang waktu. Setibanya di Pelabuhan Haifa, ia langsung membawa kami ke Jerusalem untuk mengunjungi Tembok Barat sebagai tujuan pertama. Meskipun ayah bukan umat yang taat beribadah, tetapi kulihat sendiri kedua bola matanya yang mulai renta itu berkaca-kaca saat tangannya menyentuh Tembok Barat.<\/p>\n\n\n\n<p>Barulah kami menuju Lembah Yizreel, mendapat sebidang tanah dari sebuah lembaga amal, membangun rumah, dan bertani bersama warga kibbutz lain, yang datang berkumpul dari berbagai pelosok dunia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku dulu tinggal di Kibbutz Degania di Utara. Kuputuskan pergi dari sana untuk bergabung dengan Haganah demi menjaga kalian. Kau mungkin tak pernah berpikir bisa saja orang-orang yang dulu kau kenal baik kelak memusuhimu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSelama ini kami aman. Kami tak pernah punya masalah dengan orang-orang Arab begitu pula sebaliknya,\u201d Aku berusaha menyangkal ucapannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Avraham terkekeh. Ia lantas berdiri menghampiriku, \u201cPercayalah, suatu saat nanti, mereka akan menghajarmu tanpa ampun. Hari ini tak lagi sama dengan sebelumnya. Kau harus hati-hati. Sejak tahun lalu hubungan orang Yahudi dan Arab memanas. Kudengar di Jerusalem, orang-orang serba ketakutan&nbsp; begitu pula di Hebron karena nyatanya sejumlah orang Yahudi terbunuh. Siapa pembunuhnya? Entahlah, tapi mereka yang datang menyeberang dari sana.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menatapku sambil mengangguk-angguk kecil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kutatap balik wajah Avraham yang mulai dihinggapi kerutan di beberapa bagian. Kali ini&nbsp; air mukanya terlihat mengeras seakan sedang memperingatkanku. Obrolan kami malam ini tak seperti biasanya<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBesok malam aku dan Moshe tak bertugas di kibbutz ini. Kami pergi ke kibbutz lain,\u201d katanya sambil berlalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan pagi saat matahari belum mencapai sepenggalah, Avraham bersama lima rekannya berpamitan. Sambil merapikan ransel dan senapan laras panjang di pundaknya, Avraham terus menasehatiku agar lebih waspada sambil berusaha membujuk agar bergabung Haganah. Aku diam saja membatu sebagai pesan sama sekali tidak berminat.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu siang yang terik, beberapa pekan setelah kepergian Avraham, aku bersama pemuda dan kaum perempuan di kibbutz hendak memanen hasil pertanian di ladang. Baru saja kami tiba di ladang, sejumlah polisi asal Inggris yang mendapat mandat di Palestina dari kaum zionis yang ingin mendirikan negara Yahudi datang bersama polisi Arab mendekati kami. Mereka mendesak kami semua pergi mengungsi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOrang-orang Arab hendak kemari. Mengungsilah segera agar tidak terjadi pertumpahan darah seperti&nbsp; di Hebron,\u201d pesan singkat dan tegas dari salah seorang polisi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tetap bersikukuh karena yakin merupakan hak kami untuk hidup dan bertani di wilayah Kibbutz Mishmar HaEmek. Ketika orang-orang Arab datang, suasana sempat memanas dan sempat terjadi perkelahian fisik sebelum dilerai polisi Inggris dan Arab. Beberapa orang Arab yang kami kenal seketika menjadi beringas seolah tak pernah saling kenal. Kami pun tak kalah beringasnya, merasa terusir dari lahan yang sudah kami rawat selama ini. Di tengah adu kebringasan itu, hatiku terasa amat lega tak melihat Ahmad dan Ismail di kerumunan sebelah sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Esok harinya ayah meminta semua warga kibbutz mengungsi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kejauhan, di atas truk yang membawa kami,&nbsp;kupandangi Mishmar HaEmek. Ada sejumput sesak di dada. Kami terpaksa pergi. Haganah menyertai kepergian kami, sementara polisi Mandat Inggris berjanji akan menjaga kibbutz.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat tiba di pengungsian, kami mendengar kabar dari Safed tentang orang-orang yang terbunuh. Maka kami pun tinggal lebih lama lagi di pengungsian.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar dua minggu mengungsi, akhirnya kami dibolehkan pulang kembali ke Mishmar HaEmek. Sepanjang perjalanan, perasaan cemas menyertaiku&nbsp;dan juga warga lainnya. Kami semua hening dengan wajah-wajah tegang menatap gurun-gurun pasir yang kami lewati.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tiba di Mishmar HaEmek siang hari dengan hati bergemuruh. Tak ada lagi hijau tanaman yang menghiasi ladang. Begitu pula rumah-rumah kayu yang sudah menjadi abu. Satu per satu warga kibbutz menangis sejadi-jadinya. Kerja keras kami menjadi sia-sia. Janji polisi Mandat Inggris untuk menjaga kibbutz kami tidak terwujud.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menoleh ke ayah yang berdiri di sampingku. Ayah mencoba tegar walau wajahnya tak mampu berbohong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPolisi Mandat Inggris berbohong. Mereka berjanji menjaga kibbutz ini,\u201d ucapku sambil mengepalkan tangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita mulai dari awal lagi, Josef. Kibbutz ini adalah hidup kita.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Peluh keringat merayapi dahiku. Lekas, kumasukkan tangan ke saku celana yang sudah berhari-hari kupakai untuk mengambil saputangan. Namun, yang kudapat justru selebaran. Aku baru ingat, Avraham memberikan selebaran saat pamit. Ketika itu, aku hanya melihatnya sekilas lalu melipatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuamati dengan seksama selebaran yang berisi ajakan bergabung&nbsp; dengan Haganah. Pandanganku kemudian terarah kembali ke depan. Mishmar HaEmek nyaris tak bersisa sama sekali. Seketika, aku teringat ucapan Avraham.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini tak sama lagi seperti hari-hari sebelumnya. Kibbutz Mishmar HaEmek telah menjadi sumber kehidupan kami semua. Aku berjongkok sembari menunduk berusaha meredakan gejolak di dada. Dalam hati, aku berjanji tak akan membiarkan orang-orang Arab datang lagi menghancurkan kibbutz kami.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita harus menjaga kibbutz ini dengan darah kita. Besok, kita semua mendaftar jadi anggota Haganah. Kita akan menjaga tempat ini dan kibbutz-kibbutz lainnya dengan senjata,\u201d ucapku lantang setelah&nbsp; berdiri tegak kembali.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak berselang lama, sorak-sorai para pemuda menggelora. Hari-hari berikutnya pun tak lagi sama. <br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Catatan:<\/p>\n\n\n\n<p>* Penyerangan terhadap Mishmar HaEmek merupakan bagian dari yang disebut Kerusuhan Palestina tahun 1929.<br>* Kibbutz: permukiman awal orang-orang Yahudi saat pindah ke Palestina. Biasanya disertai dengan usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.<br>* Tembok Barat : Tembok Ratapan<br>* Talmud: Kitab para rabbi pada abad ke-2 hingga ke-5 yang mencatat pembahasan tentang pengajaran Taurat.<br>* Degania : Kibbutz pertama Yahudi di Palestina pada tahun 1910.<br>* Haganah : kelompok paramiliter Yahudi yang kelak menjadi cikal bakal Israel Defense Force (IDF)&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Dewi Sartika<\/strong>, seorang ibu rumah tangga yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Anggota&nbsp; komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 378 Mei 2024 Kibbutz Mishmar HaEmek tak seperti biasanya.&nbsp; Sejak dua minggu lalu, sekelompok lelaki dari luar kibbutz datang sambil menenteng senjata. Warga kibbutz pun bertanya-tanya. Begitulah kata ayahku,&nbsp;Janusz, saat mengungkap keresahan warga. \u201cOrang-orang saling berbisik waktu Haganah mendatangi kibbutz. Akhirnya mereka laporkan keresahannya kepadaku,\u201d kata ayah ketika kelompok lelaki bersenjata itu datang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1529,1536,1532,1530,1531],"class_list":["post-7158","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-dewisartika","tag-edisi378","tag-kibbutz","tag-palestina","tag-yahudi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7158"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8105,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7158\/revisions\/8105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}