{"id":7543,"date":"2025-04-14T20:40:23","date_gmt":"2025-04-14T20:40:23","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7543"},"modified":"2026-07-15T14:01:31","modified_gmt":"2026-07-15T14:01:31","slug":"terpikat-puisi-teringat-puasa-taufik-nandito","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7543","title":{"rendered":"Terpikat Puisi Teringat Puasa &#8211; Taufik Nandito"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Catatan, edisi 389 April 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Petang baru saja berakhir ketika saya dan seorang kawan menginjakkan kaki di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pertengahan Maret lalu. Kami tiba untuk menghadiri majelis bulanan Kenduri Cinta besutan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama kelompok Maiyah Jakarta. Malam itu, Kenduri Cinta mengangkat tema Puisi dan Puasa yang meromantisasi laku berpuasa di tengah suasana bulan Ramadhan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kala itu, kami sudah tiba di jantung TIM tempat Kenduri Cinta biasa berlangsung. Panggung masih kosong. Sekian lembar karpet biru tergelar, tetapi baru diisi segelintir orang. Belum ada tanda-tanda majelis akan segera dimulai. Mafhum, kami biasa datang di atas jam sepuluh malam ketika acara separuh berjalan dan massa sudah tumpah ruah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"943\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.19.32-943x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7546\" style=\"width:667px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.19.32-943x1024.jpeg 943w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.19.32-276x300.jpeg 276w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.19.32-768x834.jpeg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.19.32.jpeg 1040w\" sizes=\"(max-width: 943px) 100vw, 943px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Pada bulan puasa, kami malah tiba di TIM lebih dini. Sebab, kawan saya ingin mampir di toko buku milik penyair Jose Rizal Manua untuk mencari buku puisi. Sudah belasan kali kami datang ke Kenduri Cinta, tetapi hanya sempat melirik ke toko buku yang konon menjadi salah satu ikon TIM itu. Kami ingin membayar tuntas rasa penasaran yang sudah hampir setahun lamanya terpendam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bangunan toko buku terletak selemparan batu dari balik lukisan raksasa Raden Saleh. Sebongkah papan kayu bertuliskan Galeri Bengkel Buku Deklamasi terpacak di atas pintu kaca toko. Dindingnya bercat putih dan terpasang enam jendela yang terbagi dua mengapit pintu. Mendekati toko, terlihat enam orang sedang bermain catur sambil mengobrol. Mereka menoleh sebentar ke arah kami dan kembali khusyuk ke papan catur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hawa pengap langsung terasa begitu saya memasuki toko yang luasnya mungkin setara lima kamar indekos pada umumnya di Ibu Kota. Bagian tengah toko diisi tiga lemari besar yang menyimpan buku-buku tebal. Lemari lainnya menempel di sisa dinding ruangan. Pada sisi kanan ruangan, terdapat meja bundar berkaki pendek tempat ratusan majalah lawas tertumpuk. Mungkin ada ribuan buku tersimpan di toko buku itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kendati denah ruangannya terasa sesak, ada dua orang bapak-bapak terlihat betah bersantai di bangku sandaran. Mereka tersebar di sisi kanan dan kiri ruangan. Yang di sisi kanan asyik bermain dengan seekor anak kucing. Yang di sisi kiri sibuk menyibak halaman sebuah majalah. Sungkan mengusik situasi bersantai mereka, kami memilih mencari buku di bagian tengah toko saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Masih pada niat awal, saya hanya melihat-lihat saja sedangkan kawan berambisi menemukan buku puisi. Waktu berburu berlangsung cukup lama, mungkin memakan waktu lebih dari satu jam. Selama itu pula keringat saya mengucur deras, sehingga kaus saya menjadi lebih gelap karena basah. Saya terkesan dengan tekad kawan saya yang masih betah menggeledah deretan buku-buku.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana Archimedes berteriak Eureka, kawan saya berseru \u201cYosssh\u201d sambil memegang sebuah buku. Naga-naganya ia menemukan buku puisi dari salah seorang&nbsp; penyair Persada Studi Klub (PSK), Yogyakarta yang sekian lama ia buru. Betul saja, ia menemukan buku kumpulan cerita pendek karangan penyair Iman Budhi Santosa berjudul <em>Kalimantang<\/em>. Kendati bukan buku puisi, kata dia, tapi itu adalah buku prosa dari maestro penggubah puisi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sependek yang saya ketahui, PSK adalah tempat pendiri Jamaah Maiyah sekaligus Kenduri Cinta, Emha Ainun Nadjib menempa bakat sastranya dalam bimbingan penyair Umbu Landu Paranggi di Malioboro, Yogyakarta. Kawan saya sejak dulu bersetia mengikuti berbagai pengajian Maiyah. Di sisi lain, ia ingin mempelajari nafas sastra dalam karya-karya para punggawa PSK. Kemungkinan besar, itulah asalnya ia berseru saat menemukan buku Romo Iman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Niat awal saya rupanya meluruh, menjadi ingin ikut berburu buku. Ketika saya menyampaikan kepada kawan tentang bergantinya niat semula, ia meringis diselingi tawa tipis. Ia mengingatkan agar saya jangan sampai khilaf membeli banyak buku. Ia tahu, sebelumnya saya baru membeli tiga buku lawas di Blok M, Jakarta Selatan. Peringatan itu mengharuskan saya sanggup menahan hasrat kala beburu buku.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dua buku yang saya beli di Blok M berjenis prosa. Satunya lagi sebuah catatan etnografi tentang suatu masyarakat adat di Pulau Nias. Sudah sekian lama kawan saya terus-menerus membujuk agar saya mulai membaca buku-buku puisi, \u201cPaling tidak mengkoleksi saja dulu,\u201d katanya. Pendapat dia, prosa tanpa sedikit saja sentuhan puisi akan bernasib sebagai naskah ketikan belaka.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pencarian buku puisi mungkin berjalan satu jam. Sekujur tubuh saya terasa basah kuyup karena keringat terus mengucur. Saya kebetulan menemukan buku-buku dari beberapa penulis legendaris seperti Boris Pasternak dan Walt Whitman. Namun, hati saya belum benar-benar berdesir bertemu \u201cmereka\u201d. Momen Eureka untuk saya baru terjadi setelah bertemu dengan buku memoar <em>Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45 dan Penyair Danau Toba.<\/em>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami menyudahi agenda perburuan buku. Mungkin karena mendengar sepintas kata kelar terlontar, salah seorang yang duduk bersantai akhirnya beranjak menghampiri kami. Ia bertanya, apakah kami semata-mata ingin ke toko buku atau ada tujuan lain? Saya menjawab, bahwa tujuan utama kami sebenarnya datang ke majelis Kenduri Cinta sambil menyempatkan diri datang ke toko buku ini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Buku hasil buruan kami akhirnya dibanderol total Rp85 ribu. Kawan saya menganggap banderol itu masih mahal, seharusnya bisa jauh lebih murah. Perdebatan tak terelakkan, penjual dan kawan saya tarik ulur perkara harga untuk satu buku. Akhirnya, seorang kawan penjual, yang tampak berusia jauh lebih tua, mendatangi kami dan meminta dua buku itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa diduga, pria tua itu memukul pelan buku <em>Kalimantang<\/em> ke kepala kawan saya seraya mengatakan, \u201cYa sudah kalau minta total 50. Tapi jangan berhenti membaca. Buku pilihanmu itu bagus,\u201d kata pria tua itu. Keluar gerutu dari kawan saya setelah kepalanya dipukul buku. Ia langsung ngacir ke tempat Kenduri Cinta setelah membayar. Tempatnya hanya sekitar seratus langkah dari toko buku.<\/p>\n\n\n\n<p>Massa Kenduri Cinta mulai memadati tempat acara, tersebar di penjuru kawasan jantung TIM, dekat kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kami duduk bersila di sebuah sudut bangunan dan bersandar di tembok sambil membaca buku yang kami beli dalam keremangan malam. Dalam situasi duduk bersila, kawan saya masih saja menggerutu perihal kepalanya digetok buku.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesi pertama yang diisi teman-teman Maiyah Jakarta menandai dimulainya Kenduri Cinta. Seorang pemapar membedah arti puasa menurut mistikus Imam Al-Ghazali. Mengutip Imam Al-Ghazali, pemapar itu mengatakan puasa bermakna sebagai usaha menahan segala hawa nafsu pada kerja inderawi manusia. Misalnya makan, tutur kata, pendengaran, hingga penglihatan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"942\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.20.09-942x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7545\" style=\"width:663px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.20.09-942x1024.png 942w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.20.09-276x300.png 276w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.20.09-768x835.png 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-13-at-17.20.09.png 1150w\" sizes=\"(max-width: 942px) 100vw, 942px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Di tengah paparan tentang hawa nafsu, kawan saya bercerita tentang tempat kerjanya yang melakukan efisiensi total dalam dua bulan ke depan. Ia mengeluhkan perusahaan tempat kerjanya meminta ia dan rekan-rekannya mencari pekerjaan baru selama kurun waktu itu. Dua-tiga umpatan melayang dilanjutkan gerutu dan keluh kesah. Tidak ada satu pun kutipan puisi yang keluar dari mulutnya saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Selesai mendengarkan curhatan kawan, salah seorang kerabat jauh menghubungi saya. Saya bergegas mencari tempat lengang di sekitar situ agar bisa mendengarnya berbicara di ujung gawai. Kerabat itu sebenarnya seorang senior saya di Lembaga Pers Mahasiswa. Selisih usia kami terbentang cukup jauh, 20 tahun. Tapi, kami sempat bertemu dalam sekian reuni di kampus kami dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapan kami berlangsung nyaris satu jam lebih. Mulanya, ia menanyakan kabar saya selama di Jakarta dan bertanya mengapa saya belum juga mengunjunginya, meskipun tinggal di kota yang sama. Merasa bersalah sekaligus malu, saya hanya bisa menjawab rasa suntuk dan lelah membuat saya ingin beristirahat di indekos saja saat akhir pekan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu ia menasihati saya tentang pentingnya prihatin dalam keadaan serba tidak pasti belakangan waktu ini. Hingga di ujung percakapan, ia mengingatkan saya untuk banyak bersyukur sebab masih bisa bekerja sampai. Percakapan berakhir dan saya kembali ke tempat semula, hingga menyadari sesi dari teman-teman Maiyah Jakarta telah usai. Di tempat saya duduk, tampak satu kawan lain lagi ikut bersila di situ dengan bermasam muka. Ia datang jauh-jauh dari kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.<\/p>\n\n\n\n<p>Sembari ikut bersandar di tembok, kawan satu lagi itu curhat tentang masalah tempat kerjanya. Ia resah mengetahui beberapa rekannya mengalami pemutusan kontrak kerja. Walaupun memiliki keresahan serupa dengan mereka, tapi saya baru saja mengutarakannya kepada kerabat jauh, sehingga saya tidak perlu menghembuskan hawa pesmistis lagi dalam pembicaraan mereka. Cukup mereka berdua yang mengeluh dan saya menjadi pendengar saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak ingat sudah berapa jam kami lewati tanpa mendengarkan sebagian besar isi babak pertama Kenduri Cinta. Tanpa terasa, sesi utama yang kini biasa dipimpin oleh putra Cak Nun, Sabrang, telah dimulai. Ia terlihat sedang nikmat menghisap rokoknya dalam-dalam sambil duduk bersila bersama empat pembicara lain di atas panggung. Barang sebentar, Habib Ja\u2019far -pendakwah di televisi dan media sosial- menyusul Sabrang dan duduk bersedekap di sebelahnya. Ia menjadi salah satu pembicara kunci di babak pamungkas acara itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Habib Ja\u2019far mulai berbicara, kawan saya menutup keluhannya dan berganti tema pembicaraan tentang hobi memancing. Saya abaikan saja dan mulai menyaksikan dengan saksama penjelasan Habib Ja\u2019far tentang kaitan puisi dan puasa. Yang menarik, Habib Ja\u2019far mengatakan puasa itu bisa dimaknai sebagai puisi. Seharusnya, menjalankan ibadah puasa tidak harus terpaku pada apa yang membatalkan dan mana yang tidak. Tapi dijalankan dengan pemaknaan untuk dapat merasai keindahan dan mempuitisasi prosesnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Habib Ja\u2019far berkisah, ada ulama yang ketika berpuasa justru tidak membaca Al-Qur\u2019an, sebab kegiatan itu membuat ia merasakan kelezatan di perut. Ia mengutip seorang mistikus yang seakan berdeklamasi mengatakan, puasa seperti batu yang dibalut pada perut dan seperti api yang membakar penyakit hati. Intinya, puasa adalah bagaimana kita bisa menahan nafsu pada perut, karena hal yang terletak di perut bisa menentukan jalan pikiran kita.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pendek kata, menurut Habib Ja&#8217;far berpuasa harus dimaknai sungguh-sungguh agar ia menjadi ibadah yang puitis dan tidak jatuh menjadi soal-soal teknis. Selesai jatah Habib Ja\u2019far berbicara, kawan yang baru menyusul sudah mengajak sahur. Saya teringat, sudah hampir sembilan jam kami berada di TIM. Perut saya keroncongan karena waktu berbuka hanya diisi dua ubi rebus dan secangkir kopi. Ia minta diisi lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Makanya saya mengiyakan ajakan sahur dan mengatakan kepada kawan yang kepalanya dipukul buku tadi, bahwa waktu sahur telah tiba. Ia malah bertanya, \u201cEmang kamu puasa?\u201d Saya hanya menjawab sekenanya saja, \u201cKebetulan besok pengen puasa.\u201d Ia menyahut lagi, \u201cTiba-tiba jadi pengen puasa ya?\u201d&nbsp; Tawa kami bertiga menggelegar dini hari itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya membatin semoga keluhan tentang pekerjaan tidak berlanjut di warung makan, supaya sahur kami menjadi pembuka puisi untuk puasa hari itu, selain tentunya ditemani buku para penyair yang sudah terbeli.<br>***<br>Cipete, 24 Maret 2025<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Taufik Nandito<\/strong>, lahir dan besar di Solo (Surakarta). Alumnus Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada 2019\u20132021 lalu, terlibat sebagai tim penulis biografi di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Kini berdomisili di Jakarta Selatan dan berprofesi sebagai periset konten di media ekonomi dan bisnis. Di samping pekerjaan utama, aktif menulis sketsa, esai, dan feature di sejumlah media komunitas. Juga gemar mengoleksi serta mengkliping buku dan majalah lawas.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan, edisi 389 April 2025 Petang baru saja berakhir ketika saya dan seorang kawan menginjakkan kaki di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pertengahan Maret lalu. Kami tiba untuk menghadiri majelis bulanan Kenduri Cinta besutan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama kelompok Maiyah Jakarta. Malam itu, Kenduri Cinta mengangkat tema Puisi dan Puasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61],"tags":[871,808,1589,1592,1590,1591],"class_list":["post-7543","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","tag-catatan","tag-ceritanet","tag-edisi389","tag-kenduricinta","tag-puasa","tag-taufiknandito"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7543"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7543\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8072,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7543\/revisions\/8072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}