{"id":7549,"date":"2025-04-14T20:40:05","date_gmt":"2025-04-14T20:40:05","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7549"},"modified":"2026-07-15T14:03:40","modified_gmt":"2026-07-15T14:03:40","slug":"darwis-sebuah-kisah-senja-dan-kenangan-muhammad-solihin-oken","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7549","title":{"rendered":"Darwis, Sebuah Kisah Senja dan Kenangan &#8211; Muhammad Solihin Oken"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cepen, edisi 389 April 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Darwis akhirnya menyadari bahwa hidupnya sekarang jauh berjarak dari potongan gambar klise dalam kamar gelap. Waktu membuncah kehadiran subjek dirinya pada potongan gambar. Bayang gambar muncul dan hidup menjadi foto. Foto itu hidup menjadi dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau ingin menempuh waktu, Darwis? Atau sedang, atau telah? Atau melepaskan waktu dari foto-foto, mungkinkah?\u201d Sebuah suara berkedap dalam ruang saat dia memeriksa foto-foto itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia ingin berpikir tentang waktu, tapi dia hanya seorang pemimpi fotografi, bukan filosof. Bukan seperti Heidegger yang suka berpikir tentang waktu, yang memungkinkan manusia memahami keberadaan. Darwis hanya pemimpi fotografi dan fotografi adalah dirinya. Juga dirinya adalah fotografi. Tapi tiba-tiba segala impian fotografinya dihancurkan waktu. Seperti bayang gambar pada klise yang dihancurkan waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ruang. Bagaimana kita menatap ruang? Menata komposisi? Menatap hubungan gambar subjek-objek? Subjek yang hilang; dirinya, si Fotografer!<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Kamera adalah sebuah persona dalam menangkap gambar. Begitulah anggapan umum, setidaknya itu yang dipercaya Darwis selama berpuluh tahun memotret. Dan kamera selalu ada dalam genggamannya. Maka dia merasa setiap kehadiran sebuah gambar menjadi berarti. Eksistensi dirinya sebagai fotografer ada dengan kehadiran gambar. Dan kehadiran itu seperti merengkuh waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Matanya pun menangkap jalan-jalan kota seperti siluet-siluet kecil. Senja beringsut dan pergi. Cahaya hilang ke kegelapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapan manis dan indah terangkum kala senja. Tapi Darwis bisa merasa senja lebih manis dan indah kala dia memotret di tengah kesendirianya. Bagaimana dia menggantung kamera ke bahu atau lehernya, menggenggamnya di antara telapak dan ruas-ruas jemarinya, meletakkan jendela penglihat kamera tepat di matanya, dan matanya pun menatap pemandangan dengan ruang serta detailnya. Dirinya sedang merengkuh; waktu senja.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis, kapan waktu pun, tak pernah dapat melepaskan diri dari fotografi. Sejarah fotografi merangkum dan merangkai sejarah dirinya. Seperti kamera yang mencipta fotografi. Seperti fotografi mencipta modernitas. Seperti modernitas mencipta kota-kota dan kosmopolitan baru. Darwis terlentang dalam penciptaan fotografi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia mengambil gambar dalam setiap langkah. Menangkap peristiwa dan menciptakan impresi dalam gambar. Dia memberi informasi tentang manusia dan peristiwa dalam guratan ekspresi dan citraan gambar dalam foto-foto ciptaanya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis memang seperti seorang Darwis, pencari kebenaran cahaya Ilahi. Di antara cahaya dan gelap, dirinya berada seperti fotografi bergerak dari terang ke gelap, dari gelap kepada keindahan. Esensi cahaya atau sinar menjadi esensi nilai fotografinya. Darwis telah bermain-main dengan cahaya, bahkan dia bermandikan cahaya ketika mulai menyorot lampu-lampu kepada objek yang dijelajahi dan dimainkannya. Diolah sedemikian rupa hingga cahaya dirinya mengenai objeknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Cahaya diri Darwis mengenai wajah, rambut, pipi, hidung, bibir, mata, dada di depan kamera. Darwis berada antara cahaya dan tubuh. Cahaya mencari tubuhnya, tubuh membutuhkan cahayanya. Darwis adalah cahaya itu, sekaligus juga tubuh itu. Dia meliuk-liukan cahaya ke tubuh dan tubuh-tubuh itu meliuk-liuk di antara ruang dan waktu untuk terhampar di sampul&nbsp; majalah-majalah cetak dan kaset.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan ruang dan waktu? Seperti&nbsp; garis yang melintang dan tiba-tiba hilang. Sampul majalah dan kaset telah lenyap, ke ruang waktu yang kosong. Ruang yang maya dan waktu tak terdefinisikan lagi ketika majalah cetak dan kaset telah hilang dan runtuh kejayaannya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis tak tahu bagaimana menemukan kembali sejarah hidupnya. Sejarah fotografi seperti telah terkubur di tengah revolusi gadget; sejarah dirinya pun seolah telah berakhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia berjalan mengitari senja. Ke bukit-bukit, ke gunung-gunung, ketika cahaya datang dan membawa semangat hidupnya kembali. Keindahan cahaya membentuk rupa, membawa garis, membentuk sudut. Darwis ingin mengecap cahaya yang begitu indahnya namun Darwis tak dapat mengecapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis berjalan melintasi sungai, melewati jalan terjal, memanjat ke tebing-tebing; semakin dia ingin mengejar cahaya semakin menjauh cahaya darinya. Dia ingin berkata: \u201cKalau hari ini aku tidak mati, maka matahari juga takkan mati.\u201d Darwis menenteng-nenteng kameranya, membawanya berputar-putar ke kafe-kafe dan galeri-galeri,&nbsp; ke kursus-kursis, ke pameran-pameran, ke diskusi-diskusi, ke kampus-kampus. Darwis bergerak ke sana ke sini, ke bawah ke atas, ke ujung ke tengah, ke gerak tak beraturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi dunia abad XXI kini bukan seratus tahun lalu ketika fotografi mencapai puncak kejayaan, saat Darwis menikmati masa-masa itu. Ketika dunia terbilang antara yang umum dan yang khusus, maka spesialisasi menjadi pertumbuhan yang pesat, seperti: media, periklanan, hingga fotografi. Dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini semuanya rontok. Taka ada pegangan antara yang umum dan yang khusus. Semua seperti berantakan hari ini, menyisakan reruntuhan sejarah media cetak dan visual. Tak ada yang tahu apa yang menjadi utas bisnis ekonomi masa depan. Darwis dan semua orang dan semua teknologi dan semua kecerdasan buatan AI menunggu dan meraba arah gerakan teknologi. Langkah manusia dan teknologi hampa ketika mencoba menjawab utas bisnis masa depan.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis mencari, dan terus mencari, namun tak juga menemukan. Dia lelah, kadang ingin berhenti pada kenangan. Kenangan dapat melepaskan diri dari persoalan hari ini, setidaknya. Kenangan dapat membasuh waktu dari kehampaan. Tapi kenangan dan rindu telah kehilangan waktu? Hampa eksistensi.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis mencoba mendekatkan diri pada kata. Foto-foto didekatkan pada kata, dihubungkan dalam siklus waktu. Foto dan kata. Kata dan foto. Foto menyimpan waktu. Kata mungkin akan terbebas, tak berafiliasi dengan waktu. Dia membayangkan dirinya merindukan kata. Foto-foto menitipkan kerinduannya pada kata. Dia ingin melepaskan foto atas waktu, dan meletakkan dirinya pada kata.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia ingin menemukan dirinya dalam kata, dan kata itu berdiri bersamanya. Sebuah foto tanpa waktu, hanya kata: cinta, rindu, hujan, senja, hitam, putih, gelap, dan kenangan. Kata-kata itu membawa cahaya, foto-foto itu juga membawa cahaya; tanpa waktu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis menyeringai pada kata dan sebagaimana hidupnya berbicara tentang foto dan kehidupan. Tapi waktu tak ingin pergi dari foto-foto itu, dan memekakkan tubuhnya pada kesunyian, pada virus. Kata-kata itu telah pergi ditangkap virus.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis kembali berjalan sendiri. Foto-fotonya, juga dirinya, mencoba menahan waktu.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Foto dan dunia, foto dan waktu. Masa lalu yang pergi dan waktu yang hilang. Bagaimana dengan kekinian?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis tak ingin mempertentangkan masa lalu atas masa kini. Karena masalah muncul dari kecongkakan na\u00eff atas kaum elit, feudal, kelas, dan modal. Jarak sosial yang timpang itu kini dipotong teknologi internet. Semua, tak berjarak dan tak berbatas. Pembebasan manusia dari keterkungkungan sosial, batas, dan jarak.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis mulai berpikir di luar waktu. Berpikir di luar fotografi. Berpikir tentang teknologi dan pembebasan, tentang fotografi dan pembebasan.&nbsp; Dia mulai mencoba tak terikat pada kamera. Dia pun memotret dengan teknologi gadget HP.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis memotret dengan kebaruan. Merangkum fotografi dan HP. Kamera pernah membatasi orang merangkai foto dan kata. HP membebaskan dan memberikan akses kepada semua orang atas citraan gambar dalam foto. Teknologi internet dan HP membawa pembebasan manusia dari keterkungkungan atas batas yang dulu direkayasa kaum elitis, feudal, dan modal.<\/p>\n\n\n\n<p>Ruang dan waktu dunia berubah dirombak rekayasa sosial yang dibangun teknologi. &nbsp; Cara komunikasi dan pola relasi merombak cara berpikir dan berperilaku manusia. Maka Darwis berpikir, dan terus berpikir, bergerak dan terus bergerak. Dia turun menarasikan fotografi dan pembebasan dalam dunia universal dan semakin egaliter. Sebuah narasi kebersamaan untuk melepaskan elitisme, yang pernah mengawetkan ketertinggalan dan keterbatasan akses informasi dan pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis berpikir, bergerak. Berpikir, bergerak. Tapi, dia manusia bukan mesin. Setiap mengejar kemajuan, dia pun mengejar waktu. Mengejar usia. Dia sadar, harus mengukur segala harapan, sebelum lelah. Dia terlalu tua mengejar kemajuan dan melawan waktu. Dia tak ingin sia-sia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dia teringat pada senja dan kenangan. Sesuatu yang indah. Darwis kembali berpikir tentang yang indah. Dan dia sadar dan percaya, dia hanya akan berdiri atas hidup yang indah di antara senja dan kenangan.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Muhammad Solihin Oken<\/strong>, tinggal di Bogor. Kelahiran Jakarta 1970. Mantan Jurnalis. Pernah kuliah di IISIP, Jakarta (lulus 1996), mengikuti kelas Epistimologi di STF Driyarkara (1994), mengikuti Course Multikulturalisme dan Penterjemahan di Program Paskasarjana FIB UI (2004). Telah menerbitkan 4 buku: Antologi Puisi \u201cSelenggang Sajak\u201d (2016), Analisa Kritis Puisi Chairil Anwar: Konstruksi Rima dan Gaya (2016), Antologi Puisi Baru \u201cSajak Selikur\u201d (2023), dan Novel \u201cSang Perahu\u201d (Mei 2024).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cepen, edisi 389 April 2025 Darwis akhirnya menyadari bahwa hidupnya sekarang jauh berjarak dari potongan gambar klise dalam kamar gelap. Waktu membuncah kehadiran subjek dirinya pada potongan gambar. Bayang gambar muncul dan hidup menjadi foto. Foto itu hidup menjadi dirinya. \u201cKau ingin menempuh waktu, Darwis? Atau sedang, atau telah? Atau melepaskan waktu dari foto-foto, mungkinkah?\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[808,804,1589,964,1594,1596,1595,1593],"class_list":["post-7549","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi389","tag-foto","tag-fotografi","tag-hp","tag-kamera","tag-oken"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7549","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7549"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7549\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8074,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7549\/revisions\/8074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}