{"id":7575,"date":"2025-05-14T21:52:33","date_gmt":"2025-05-14T21:52:33","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7575"},"modified":"2026-07-15T14:00:04","modified_gmt":"2026-07-15T14:00:04","slug":"mat-walid-dan-serangga-serangga-paling-hari-niskala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7575","title":{"rendered":"Mat Walid dan Serangga-Serangga Paling Merepotkan &#8211; Hari Niskala"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen, edisi 390 Mei 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Petang sepulang menengok petak yang hendak ditanami jagung, Mat Walid memikirkan lagi satu jenis rencana mulia. M-u-l-i-a, begitu ia mengeja satu per satu huruf dari kata yang jarang keluar dari mulutnya. Rencana tersebut pernah ia bicarakan dengan guru Biologi, beroleh pujian setinggi langit sebelum si guru Biologi mati akibat serangan jantung. Tanpa mengurangi rasa hormat pada almarhum yang selama hidup turut mendaras seluk-beluk jantung, bolehlah serangan jantung yang menimpanya disebut sebagai takdir.<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid membubuhkan coretan pada halaman pertama buku tulisnya sebagai langkah awal mewujudkan rencana m-u-l-i-a\u2013diejanya kembali kata itu ketika menuliskan judul. Rangkaian huruf kapital di sana kemudian dapat dibaca: DAFTAR SERANGGA PALING MEREPOTKAN. Demikianlah judul yang ia inginkan sejak tujuh tahun silam, yang telah jadi cetak biru dalam benaknya. Kala itu, si guru Biologi masih segar-bugar dan gemar bersiul-siul ketika masuk kelas. Pada rentang masa itu pula, di luar pujian yang diterimanya, Mat Walid mendapatkan hadiah buku dari guru Biologi itu, berjudul <em>Kiat-kiat Budidaya Jangkrik sebagai Pengantar Membangun Rumah Tangga Bahagia<\/em> karya Arthur Kartolo.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan buku itu adalah buku langka, berhenti dicetak ulang ketika harga bahan pangan nasional meroket.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun buku 413 halaman berisi kiat-kiat bijak itu hanya sedikit menarik minatnya. Lagipula jangkrik bukanlah satu jenis serangga yang merepotkan, kendati banyak teman sepantarannya kerap melontarkan nama binatang itu sebagai kalimat umpatan atau makian. Ia sendiri, entah mengapa, tidak pernah terobsesi dengan jangkrik, kecuali pada suaranya. Suara jangkrik ia yakini dapat menimbulkan ketenteraman, membimbingnya menuju sunyi, dan mengusir sekawanan tikus yang berusaha merampok bahan makanan di dapur. <\/p>\n\n\n\n<p>Ditemani suara jangkrik, ia dapat menulis dengan tenang dan leluasa. Ia lalu makin khusyuk, makin leluasa sambil sesekali mengudap ubi rebus, lalu tak sengaja buang kentut. Tak lama kemudian satu kabar duka melalui corong masjid mengejutkannya. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;\u2026sudilah kiranya sampean sekalian mendoakan yang baik-baik, dan jangan lengah. Tetap jaga kebersihan dan waspadai keberadaan nyamuk demam berdarah di sekeliling sampean!\u201d, demikian ucap marbot masjid menutup berita duka.<\/p>\n\n\n\n<p>Binatang yang disebut melalui pengeras suara itu tak pelak akan masuk dalam senarai. Jadi, bagaimana nyamuk dapat digolongkan sebagai jenis serangga yang merepotkan? Mula-mula, Mat Walid membikin narasi tak seberapa panjang tentang Raja Namrud di Babilonia yang mati, bukan akibat serangan jantung melainkan nyamuk yang menerobos rongga hidung dan menghajar isi kepalanya. 400 tahun nyamuk itu bersarang di rongga hidungnya! Mat Walid bergidik bercampur takjub dan lama-lama merasa pusing sendiri membayangkan kepalanya disiksa nyamuk selama 400 tahun. Ubi rebus yang tengah ia kunyah nyaris menjadi muntahan konyol. Cepat-cepat ia paksa telan kunyahan ubi rebus itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, waktu menggelinding lebih cepat. Suara dengung nyamuk mengusik pendengarannya berkali-kali hingga ia kemudian mendapati diri di satu ranjang rumah sakit dengan perban membebat sekujur tubuh. Sulit untuk mengatakan, tapi percayalah, ia terbaring tak berdaya di rumah sakit disebabkan serangga. Serangga setan yang menyerangnya adalah samber mata, yang tak lebih besar dari lalat namun punya perangai agresif setara Tazmanian Devil.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Apa kabarmu, Mat? Nama saya Antonius Sukrasana. Saya ada di sini untuk mengawasimu.&#8221;, ucap seorang dengan tekanan yang terkesan dibuat-buat.<\/p>\n\n\n\n<p>M-e-n-g-a-w-a-s-i, kata ini dieja Mat Walid dalam hati, dan dirasainya ada kesan kurang ajar yang membikin darahnya terpompa naik ke ubun-ubun demikian cepat. Lalu, perasaan pengap dari bebatan perban membikin matanya terbelalak tanpa dapat dipahami oleh orang dihadapannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid tak mengenal orang bernama Antonius Sukrasana, baik dari buku-buku bacaan tentang serangga (jadi, dapat dipastikan bahwa Antonius Sukrasana bukanlah nama spesies serangga) maupun dari obrolan yang berseliweran dari kedai kopi langganannya. Lagipula, adakah hal yang membahayakan dari dirinya hingga ia perlu &#8220;diawasi&#8221;?<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tenanglah, Mat, saya tidak bermaksud kurang ajar atau menuduhmu sebagai orang berbahaya. Saya percaya kau orang baik,\u201d sambung Antonius Sukrasana, seperti dapat membaca pikiran Mat Walid.<br>&#8220;~\u2713^#*&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid tak dapat mengatakan apapun. Bau obat-obatan dan selang infus kini merepotkannya. Namun, kiranya itu belum seberapa. Beberapa detik melintas dan Antonius Sukrasana mengabarkan hal lain yang lebih merepotkan ketimbang bebatan perban, selang infus, dan bau obat-obatan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kau perlu tahu maksud baik kedatangan saya, Mat,&#8221; ucap Antonius Sukrasana dengan nada gamang.<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid, sekali lagi, hanya bisa memandang wajah lawan bicaranya, meyakini bahwa tidak ada &#8220;maksud baik&#8221; yang gratis, hingga kemudian terbit kecurigaan yang lebih tebal.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mat, tanpa mengurangi rasa hormat padamu, saya akan membayar penuh biaya perawatanmu di rumah sakit ini. Kau tak perlu khawatir. Mendiang ayah saya belum sempat membalas budi pada mendiang ayahmu. Saya merasa perlu melakukannya, membalas budi itu lewat kau: saya akan membelikanmu kaki palsu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid sesungguhnya tidak tahu apa-apa soal &#8220;balas budi&#8221; yang dimaksud, dan ia tidak kenal dengan ayah Antonius Sukrasana. Namun, alih-alih berusaha mencari tahu perihal siapa dan apa alasan balas budi itu, pikiran Mat Walid justru terpaku pada frasa &#8220;kaki palsu&#8221; yang diucapkan belakangan. Tanpa menunggu aba-aba jenis apa pun, lekas disibaknya selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Di sana, melalui penglihatannya yang masih normal, didapatinya pemandangan kaki buntung menyerupai dahan pohon randu yang baru ditebang, berbebat perban, kaku-menyedihkan, dan menghadirkan perasaan ngilu yang menekan-nekan kepala dan mengimpit dada sebelum ia kembali tak sadarkan diri.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Di perempatan ketiga, sebagaimana seharusnya, Mat Walid ambil belok ke kiri. Sepeda motor GL Max yang dipacunya melaju mulus, hanya sesekali melindas kerikil seukuran kelereng atau kaleng minuman bersoda. Itulah sore yang membahagiakan, sebab hari pertunangan dengan Rin Farhana telah ditentukan. Tiga pekan lagi. Mat Walid tak sabar hendak mewartakan kegembiraan itu kepada paman dan bibi dan saudara yang mendukung kisah asmaranya selama ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Rin Farhana sendiri terus tersenyum, seolah para malaikat sedang memainkan harpa dan menaburkan bunga-bunga dari balik awan. Matanya yang cokelat-cemerlang masih memandangi tempat Mat Walid berbelok. Tak mau buru-buru beranjak, dipandangnya lagi perempatan ketiga itu hingga sepuluh menit lamanya. Sepuluh menit itu ia membayangkan hal-hal menyenangkan yang kerap jadi bahan obrolannya dengan Mat Walid saat berkencan di taman atau di kedai kopi.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka akan berumah tangga, menjadi pasangan suami istri yang mengurus sawah dan ladang. Dalam lamunan itu, Rin Farhana menghadirkan fragmen dirinya dan Mat Walid makan malam dengan hidangan sederhana dari hasil berkebun. Kemudian, mereka mengudap kedelai rebus di atas lincak sambil bergosip soal belalang sangit yang beraroma sengit, juga tentang anak-anak di kampung yang mengeluh soal tungau yang nekat bersarang di kulup yang belum dikhitan.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam makin indah, sebab Mat Walid bersedia mengiringinya bernyanyi lagu <em>Livin&#8217; on a Prayer<\/em> dengan petikan gitar kopong, dan jika lagu itu selesai, mereka mengobrolkan hal lain, mungkin tentang gebalau geo-politik global atau perihal ekosistem sastra tahun 2065 di negeri tropis +62. Lalu, jika semua obrolan dianggap kelar, Mat Walid akan menggendongnya masuk ke dalam kamar, membacakannya satu puisi tentang perjuangan kelas. Mereka kemudian saling pandang,saling mengukir senyum, mengukur isi hati masing-masing, hingga akhirnya bercinta sebagai pasangan suami-istri.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu akan berlangsung berhari-hari, bahkan selamanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, sialnya, bayangan yang serba indah itu mesti berakhir oleh gelegar petir. Hujan tiba-tiba mengguyur, memaksa Rin Farhana bergegas masuk rumah. Sementara di tempat lain, tepat setengah jam setelah Rin Farhana mengakhiri lamunannya, satu jenis kemalangan menimpa Mat Walid. Di antara upayanya mengebut sepeda motor dan menahan dingin setelah hujan reda, Mat Walid melewati jalan pintas sepanjang jalur kereta api.<\/p>\n\n\n\n<p>Entah bagaimana ia kemudian dikejutkan oleh sepasang samber mata. Mat Walid mungkin lupa bahwa makhluk itu selalu berkeliaran bebas menjelang petang. Tak ada waktu baginya untuk mengelak, dan satu mobil pikap pengangkut ayam sayur lekas menyambutnya dari arah berlawanan. Tubuh Mat Walid terpental sekian meter, mendarat dengan posisi telentang di atas jalur kereta api. Nyeri dan firasat akan beberapa tulang belakang yang remuk menghantuinya beberapa detik. Dan, selanjutnya, kau telah tahu, ia mendapati dirinya berada dalam kubangan nasib yang hitam, dalam rentang waktu cukup panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kubangan nasib hitam itu nyatanya turut menenggelamkan Rin Farhana. Ia kecewa, tentu saja, lalu menggerutu sambil terus menangis. Mat Walid yang akan bertunangan dengannya bukanlah Mat Walid berkaki buntung, pikirnya seraya memandangi potret berisi dirinya dan Mat Walid.<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid-nya adalah lelaki berkaki kuat yang mampu menopang tubuh sendiri, juga tubuhnya sebagai calon istri. Dalam ketegangan melawan adukan perasaan, ia membeku di pojok kamar selama dua pekan tanpa menyentuh makanan apapun. Gelegar petir dari arah barat daya lalu membuatnya tersentak, mendorongnya mengambil keputusan paling sembrono; membatalkan rencana pertunangan yang tinggal tiga hari lagi, dan Mat Walid dibikin demikian merana karenanya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mat Walid sudah mati&#8221;, Rin Farhana berucap pada bayangan dirinya di cermin. Ia berani berucap demikian setelah seorang bibi menyarankannya menerima pinangan lain yang datang belakangan.<br>&#8220;Menikahlah dengan Yan Bratajaya. Kau akan menemukan kehidupan yang sempurna, anak manis.&#8221; bisik sang bibi dibarengi usapan lembut di rambutnya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Rin Farhana benar-benar menikah dengan Yan Bratajaya, tepat 730 hari setelah membatalkan pertunangan dengan Mat Walid.<\/p>\n\n\n\n<p>Di bulan-bulan awal pernikahan, pasangan suami-istri itu kerap berpelesir ke luar kota bahkan ke negeri-negeri asing beriklim subtropis untuk sekadar berbulan madu atau berswafoto di pelbagai situs Keajaiban Dunia. Untuk hasil swafoto maupun video yang terekam, Rin Farhana telah menyiapkan media penyimpanan berkapasitas besar demi menampung semuanya (ia berharap dapat memamerkan kenangan perjalanan itu kepada para kenalan atau kepada anak-cucunya kelak).<\/p>\n\n\n\n<p>Tak perlu heran mengapa mereka bisa berpelesiran hingga sekian ratus mil dan membeli tiket pesawat; Yan Bratajaya adalah pewaris tempat pengolahan gula merah yang mempekerjakan ratusan anak buah, juga rumah makan yang memiliki tujuh puluh cabang di tujuh puluh kota berbeda. Dan tak banyak orang tahu, ia memiliki arena sabung ayam yang tersembunyi di ujung gang sempit, yang -tentu saja- dikelola atas nama orang lain. Kehidupan nyaris sempurna itu dapat Rin Farhana nikmati, meluapkannya dengan menangis terharu di pelukan suaminya, atau lewat pergumulan dan saling lumat di atas ranjang.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Apa kau bahagia, Sayang?&#8221; tanya Yan Bratajaya suatu hari di sebuah penginapan tak jauh dari menara Eiffel.<\/p>\n\n\n\n<p>Rin Farhana mengangguk, menyembunyikan satu jenis perasaan yang bahkan tidak dipahami dirinya sendiri. Pertanyaan sama kemudian hadir saat mereka mengunjungi Antwerp, Alexandria, Rio de Janeiro, Kyoto, dan Paramaribo. Rin Farhana memberikan jawaban sama, dan mereka baik-baik saja, melanjutkan pelesiran hingga ke Oslo dan St. Petersburg sebelum kembali ke rumah baru mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sekarang, katakan, apa kau bahagia, Sayang?&#8221; tanya Yan Bratajaya ketika mereka menempati rumah baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan itu berdengung pelan seperti kegaduhan lalat, dan sekali lagi Rin Farhana mengangguk, tersenyum, tanpa sadar telah mengembuskan hawa curiga ke benak Yan Bratajaya. Lalu, saat pertanyaan sama diajukan beberapa bulan kemudian, dengan perasaan mendidih, Rin Farhana menjawab, &#8220;Saya bahagia, tapi, kau anggap saya apa? Waktumu lebih banyak kau habiskan dengan ayam-ayam aduan &#8211;mungkin kau juga punya &#8216;ayam&#8217; jenis lain.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Apa maksudmu, Sayang?&#8221;<br>&#8220;Tidak. Sayalah yang harusnya bertanya, apa maksudmu membikin janji temu dengan perempuan lain di kafe dan di hotel? Saya melihatnya tanpa kau sadar, berkali-kali, kau menggenggam tangan dan memeluk perempuan yang lebih muda dari saya. Sesekali mulutmu yang seperti moncong tapir itu bahkan mengecup keningnya. O ya, belum termasuk yang di luar kota, mungkin kau punya lebih banyak lagi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yan Bratajaya merasa tertangkap basah. Ia tak bergerak, memandang sebentar pada mata istrinya yang cokelat, lalu menenggak tuangan bir terakhir sebelum melontarkan kalimat yang ia tahan beberapa menit,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kau tak perlu tahu siapa perempuan itu, dan di luar sana, saya tahu ada kenikmatan lain yang perlu dijajal.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar itu, didihan perasaan Rin Farhana mencapai puncak. Ditamparnya dua belah pipi Yan Bratajaya. Lelaki itu tak membalas, tak ambil pusing, dan berlalu tanpa melihat wajah istrinya. Kalimat yang sama itu keluar dari mulut Yan Bratajaya semakin sering tiap kali mereka bertengkar. Tak ada yang tahu berapa jumlah tepatnya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Nyaris serupa dengan pelesiran yang pernah dinikmati pasangan suami-istri itu, Mat Walid juga dapat berpelesiran, hanya saja ia melakukannya lewat media sosial. Ia melakukan korespondensi dengan beberapa orang dari negeri-negeri asing dalam upayanya memasarkan obat pembasmi serangga dari perusahaan milik Antonius Sukrasana. Ia tak lupa menjalin pertemanan dengan para mahasiswa, ilmuwan, dan guru besar yang menekuni ilmu tentang serangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Demi memenuhi obsesi menyusun buku tentang serangga-serangga paling merepotkan, pertanyaan-pertanyaan tidak terduga kerap muncul dalam kotak percakapan, misal: <em>Apa yang dilakukan kepinding di Ethiopia pada jam istirahat?, Apakah rayap juga bekerja di perpustakaan nasional di Finlandia?, Bagaimana petani Vietnam mengatasi ulah belalang sangit?, Apakah kau sebagai orang Maroko pernah berurusan dengan kutu beras?, Apakah kecoak dapat hidup di sekitar hutan Amazon?, Bagaimana orang Hawaii menyelamatkan pohon kelapa dari wawung?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak semua contoh pertanyaan itu tepat sasaran, tentu saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Di luar aktivitas korespondensi (kebetulan ia sedang mencopot kaki palsunya), kaki kanan yang terlanjur buntung masih dipandanginya dengan cara paling pilu. Ia berharap kaki yang buntung di bagian lutut itu akan tumbuh menjadi betis dan telapak kaki yang utuh sebagaimana semula. Makin lama memandang, batinnya makin kacau, sebab seminggu hingga setengah dasawarsa penantiannya tak membuahkan hasil. Ia nyaris meledak dalam amarah, hampir-hampir membanting ponsel di genggamannya. Tak lama kemudian Antonius Sukrasana muncul.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Hei, mengapa kau copot kaki palsumu?&#8221;<br>&#8220;Tak apa. Suatu hari kau harus bawa saya ke Madagaskar atau Havana.&#8221; jawab Mat Walid, berusaha menyembunyikan geramnya sendiri.<br>&#8220;Ada serangga unik apa di tempat yang kau sebut itu?\u201d<br>&#8220;Ada banyak serangga unik di hutan-hutan dan gunung-gunung. Kau bisa lihat ini\u2026&#8221; Mat Walid menunjuk layar ponselnya.<br>&#8220;Luar biasa. Kau sudah siap memulai bisnis serangga?&#8221;<br>&#8220;Saya hanya akan meneliti serangga-serangga paling merepotkan. Tapi bisnis serangga\u2026 boleh juga, ya, ketimbang bisnis kaki palsu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Antonius Sukrasana tergelak sebelum duduk dengan kaki kanan menimpa kaki kiri dan menyulut sigaret kretek.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kau tahu, Mat, pemesanan mengalami peningkatan. Banyak nomor luar negeri menghubungi saya, memesan obat pembasmi serangga. Minggu depan kirim ke Swiss dan Kolombia. Bulan depan kirim ke Bangladesh dan Nepal. Dua bulan lagi kita akan wujudkan keinginanmu itu.&#8221;<br>&#8220;Ke Madagaskar? Ke Havana?&#8221;<br>&#8220;Persis. Persiapkan dirimu.&#8221;<br>&#8220;Kau tidak sedang bercanda?&#8221;<br>&#8220;Kau dapat lihat saya serius, meskipun belakangan Negara sering bermain-main dan mencekik saya dengan  beban pajak.&#8221;<br>&#8220;Terima kasih, Anto.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Obrolan itu padam beberapa detik saat Antonius Sukrasana memadamkan bara sigaret pada asbak.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ngomong-ngomong, saya ada kabar lain yang tak kalah penting.&#8221;<br>&#8220;Katakan.&#8221;<br>&#8220;Kau masih ingat Rin Farhana?\u201d<br>Sambil memegangi kepala dan menampakkan wajah lesu Mat Walid menjawab, \u201cTentu.&#8221;<br>&#8220;Kau masih mencintainya?&#8221;<br>&#8220;Itu tak penting. Katakan saja kabar yang kau mau sampaikan.\u201d<br>&#8220;Baik. Belum lama saya ke Glagahombo untuk memasarkan obat pembasmi serangga. Saya mampir ke kedai kopi dan mengobrol dengan seseorang. Orang itu, orang yang meminta saya merahasiakan namanya, mengatakan bahwa Yan Bratajaya mati.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid mengangkat kepala, terkejut seolah kena gigit semut rangrang di tengkuknya. Ada perasaan gelisah, namun terbit pula kelegaan karena Rin Farhana tak akan lagi memperoleh siksaan fisik maupun batin. Tentang bagaimana ia tahu Rin Farhana beroleh siksaan-siksaan itu, Antonius Sukrasana jugalah sumber informasinya. Dan tentang kematian Yan Bratajaya, melansir dari sumber -yang minta dirahasiakan namanya- Antonius Sukrasana bercerita panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika disarikan, kurang-lebih begini:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Usai memberikan uang gaji untuk seratusan anak buahnya di tempat pengolahan gula merah, Yan Bratajaya mampir ke kedai kopi (kedai yang kebetulan jadi tempat Antonius Sukrasana mengaso dua pekan kemudian). Seseorang-yang-minta-dirahasiakan-namanya melihat Yan Bratajaya memesan kopi dan duduk di satu bangku kosong. Tak lama kemudian datang lelaki yang ditaksir berusia lima puluhan, duduk di samping Yan Bratajaya, menyungging senyum tanpa hambatan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Mereka mengobrol, beradu argumen selama tiga puluh menit dan sama-sama menyeruput kopi hitam sebelum si lelaki berusia lima puluhan memberi wejangan. Seseorang-yang-minta-dirahasiakan namanya- mencuri dengar wejangan, atau tepatnya strategi meraup suara dan merebut simpati orang-orang. Lalu dapat disimpulkan bahwa Yan Bratajaya akan mendaftarkan diri sebagai calon wali kota.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Bagaimana istrimu?&#8221;, tanya si lelaki berusia lima puluhan begitu wejangannya kelar.<br>&#8220;Baik-baik saja.&#8221;<br>&#8220;Jangan lupa manjakan dia. Pulang dan peluklah dia. Jangan picu pertengkaran lagi.<br>Bagaimanapun kau butuh dia, ya\u2026 walaupun hanya untuk menaikkan perolehan suara. Orang- orang akan melihatmu sebagai pria penyayang keluarga, dan\u2026 kau akan terpilih.\u201d<br>&#8220;Baik. Terima kasih. Walaupun dia belum memberi saya anak, saya akan perbaiki bentuk perlakuan saya padanya.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Si lelaki berusia lima puluhan tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol untuk Yan Bratajaya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201dNgomong-ngomong, saya harus pergi. Kita bisa mengobrol lagi besok.&#8221;, kata Yan Bratajaya sambil menengok arloji di tangan kanannya.<br>&#8220;Mengapa buru-buru?&#8221;<br>&#8220;Ada janji.&#8221;<br>&#8220;Mau menemui pacarmu? Dengar, demi kebaikanmu, kau harus jaga diri. Mulailah ambil jarak dan jangan biarkan orang-orang memberi penilaian miring.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Saat si lelaki berusia lima puluhan berkata demikian, seseorang -yang minta dirahasiakan namanya- melihat semut kecil berwarna cokelat kemerahan menerobos masuk lewat bagian bawah kaus oblong yang dikenakan Yan Bratajaya. Tak ada orang lain tahu, dan seseorang-yang-minta- dirahasiakan-namanya tadi tak tahu pula kalau semut kecil itu akan menyiksa Yan Bratajaya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Saya terima saranmu. Sampai jumpa.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Belum lima langkah menapakkan kaki menuju meja kasir, Yan Bratajaya tiba-tiba ambruk telungkup, berguling telentang, lalu telungkup sambil memegangi pantat, lalu telentang lagi dan berteriak kesakitan hingga semua orang di kedai\u2013termasuk seseorang yang minta dirahasiakan namanya\u2013merubung seperti kawanan laron.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dua pelanggan yang bertubuh gempal berusaha mengangkatnya, beberapa yang lain menelepon ambulans. Dalam keadaan tersiksa hampir lima belas menit Yan Bratajaya hanya bisa mengaduh dan memaki pada apa saja. Wajahnya berangsur pucat dan tak ada seorang pun tahu masalahnya. Si lelaki berusia lima puluhan panik dan menelepon Rin Farhana, dan sebelum telepon dijawab, tubuh Yan Bratajaya mengejang, menghadapi sakaratul maut yang tampak nyeri.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Antonius Sukrasana menutup ceritanya, membikin Mat Walid melongo dan lesu.<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Walid tak tahu apakah Antonius Sukrasana berkata jujur atau sedang menunjukkan kepiawaian merangkai cerita. Beberapa menit ia hanya diam, menunduk, dan meninggalkan pertanyaan lirih yang belum terjawab: mana lebih merepotkan, serangga-serangga yang namanya sedang ia susun, atau cintanya pada Rin Farhana?<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Hari Niskala<\/strong>, tinggal di Tulungagung. Bukunya yang telah terbit berjudul &#8220;Vita Brevis, Suwung Longa&#8221; (kumpulan cerita pendek) serta &#8220;Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai&#8221; (novel).<\/em><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, edisi 390 Mei 2025 Petang sepulang menengok petak yang hendak ditanami jagung, Mat Walid memikirkan lagi satu jenis rencana mulia. M-u-l-i-a, begitu ia mengeja satu per satu huruf dari kata yang jarang keluar dari mulutnya. Rencana tersebut pernah ia bicarakan dengan guru Biologi, beroleh pujian setinggi langit sebelum si guru Biologi mati akibat serangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1057,808,804,1597,967],"class_list":["post-7575","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-cerita","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi390","tag-hariniskala"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7575","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7575"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7575\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8070,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7575\/revisions\/8070"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7575"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7575"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7575"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}