{"id":7586,"date":"2025-05-14T21:52:57","date_gmt":"2025-05-14T21:52:57","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7586"},"modified":"2026-04-15T09:08:23","modified_gmt":"2026-04-15T09:08:23","slug":"pada-sebuah-privilese-ika-yuliana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7586","title":{"rendered":"Pada Sebuah Privilese &#8211; Ika Yuliana"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Tulisan dari residensi seni di Cite des Arts Paris, Januari &#8211; Maret 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Catatan, edisi 390 Mei 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tak terduga dan serba terburu-buru, rasanya paling tepat untuk menggambarkan bagaimana tahun 2025 dimulai dengan sebuah musim dingin di kota Paris. Oktober berlalu setelah baru saja meninggalkan pekerjaan penuh-waktu di sebuah organisasi nirlaba, lantas November mengambil jeda dan secara mendadak ketika sudah mendekati tenggat, mendaftar program residensi yang dibuka oleh Institut Francais Indonesia. Seminggu setelahnya mendapat kabar diterima; maka Desember mau tak mau dihajar tetek-bengek mengurus visa dan persiapan keberangkatan dengan catatan: semua orang akan libur Natal dan tahun baru -belum lagi tambahan kecemasan visa ditolak.<\/p>\n\n\n\n<p>Hajabnya!<\/p>\n\n\n\n<p>Berangkat tanggal 1 Januari dari kota Malang ke Bandara Juanda-Surabaya, di saat semua orang sedang malas-malasnya bangun dan keluar rumah setelah merayakan malam tahun baru. Bersama dua sahabat yang mengantar, kami menyempatkan untuk makan makanan favorit di area pecinan Pasar Atom, dan kwetiaw goreng autentik Chinese yang muncul di kepala ketika diingatkan: \u201cpuas-puasin lah makan yang kau suka sebelum tiga bulan makan-makanan dingin&#8230;\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas keinginan untuk memenuhi selera pun membuncah, seakan-akan makanan yang masuk ke perut bisa disimpan bak kantung cadangan makanan dalam punuk unta yang akan berjalan jauh. Namun memang ini akan menjadi perjalanan jauh -harus berada di udara selama delapan jam dan berhenti sejenak di Dubai- disambung jarak tempuh kurang lebih tujuh jam lagi sebelum mencapai kota Paris. Plus tambahan waktu untuk melewati batas pemeriksaan imigrasi dan menunggu bagasi yang tak pernah bisa diprediksi lamanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja rentetan ini bukan pengalaman pertama sebagai pemegang paspor negara yang masih disebut negara dunia ketiga. Dan aih, akan jauh lebih lama lagi untuk mereka yang tinggal di pelosok!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"870\" height=\"632\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/6C542DEA-E929-49BF-BD5F-C75F6F614EAD-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7590\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/6C542DEA-E929-49BF-BD5F-C75F6F614EAD-2.png 870w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/6C542DEA-E929-49BF-BD5F-C75F6F614EAD-2-300x218.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/6C542DEA-E929-49BF-BD5F-C75F6F614EAD-2-768x558.png 768w\" sizes=\"(max-width: 870px) 100vw, 870px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"674\" height=\"528\" data-id=\"7593\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.04.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7593\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.04.png 674w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.04-300x235.png 300w\" sizes=\"(max-width: 674px) 100vw, 674px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"482\" height=\"636\" data-id=\"7591\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.10.47.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7591\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.10.47.png 482w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.10.47-227x300.png 227w\" sizes=\"(max-width: 482px) 100vw, 482px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"712\" height=\"548\" data-id=\"7592\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.18.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7592\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.18.png 712w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.18-300x231.png 300w\" sizes=\"(max-width: 712px) 100vw, 712px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Apartemen tempat tinggal berbentuk studio di Studio Le Marais, pusat kota Paris.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Persiapan yang kurang dari sebulan sempat menimbulkan pening tak tentu. Selain karena ini adalah perjalanan jauh ke belahan dunia lain dengan waktu tinggal yang cukup lama, yaitu tiga bulan, ada alasan lain pula karena kesempatan residensi merupakan transisi praktik saya. Selama ini saya bergiat bersama kelompok atau kolektif seni lalu menjadi seniman\/periset individu namun kemudian berlanjut pada pertanyaan eksistensial: apakah saya yang bukan lulusan sekolah seni dan belajar dengan bekerja sebagai palugada (<em>apa yang lu mau, gue ada<\/em>) di seni-budaya bisa disebut sebagai \u2018seniman\u2019? <\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pertanyaan tersebut mulai meluntur ketika tiba di Cit\u00e9 des Arts (Cite Internationale des Arts), yang konon adalah salah satu program residensi tertua di Eropa, yang sudah menaungi segala macam bentuk dan latar belakang manusia yang bersinggungan dengan segala medium-seni sejak 1965 dan dari seluruh penjuru dunia. Bisa jadi mereka memang seniman dan belajar seni formal, arsitek dan <em>urban planner<\/em>, periset dan akademia, kurator dan manajer seni, pembuat film fiksi atau dokumenter, geografer, dan lain sebagainya. Namun setiap orang sebenarnya hanya perlu menjelaskan kecenderungan praktik seninya, kebutuhan ruangnya, dan menjelaskan bagaimana kota Paris akan mendukung proses kreasi-risetnya, dan menemukan pendanaan untuk melakukan residensi di sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya dan dua orang lagi dari Indonesia didanai oleh Campus France, institusi yang mempromosikan pendidikan tinggi Prancis dan juga mengelola beasiswa pendidikan untuk warga asing. Yang didanai adalah tiket pulang-pergi, visa, akomodasi, transportasi, plus uang harian untuk makan. Jumlah totalnya cukup untuk membeli tiket masuk museum-museum, tiket metro, nonton bioskop dan pertunjukan teater, membeli <em>croissant <\/em>dan <em>cafe au lait<\/em> setiap hari. Bahkan, bagi saya, uang bulanan tersebut cukup untuk membayar kos bulanan di Malang! -sebagai kelas pekerja yang merantau dan belum mempunyai rumah sendiri, namun juga tak tinggal bersama orangtua di dunia yang serba kapitalis ini. Bagi saya dan kawan-kawan sekelompok saya, biaya sewa adalah satu hal yang paling menyedot pengeluaran, dan juga pikiran secara otomatis. <\/p>\n\n\n\n<p>Usut punya usut, memanglah salah satu maksud dari program residensi seni yang didanai penuh adalah untuk mengupayakan ruang bagi seniman untuk berkarya, tanpa memikirkan uang sewa dan biaya hidup harian. Khususnya untuk para seniman yang baru merintis, maka residensi seni menjadi alternatif cara hidup di kalangan <em>emerging artists<\/em>. Jelas bukanlah hal yang mudah untuk bisa hidup dari menjadi seniman murni.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak sedikit seniman yang hidup dari residensi ke residensi -fenomena mobilitas seniman ini pernah dibahas oleh seorang peneliti KUNCI cultural studies, Brigitta Isabella, yang melihat teman-teman seniman di lingkungannya di Yogyakarta yang malang melintang ke berbagai negara untuk melakukan residensi. Tapi alih alih menyebutnya <em>rockstar<\/em> internasional yang melakukan tur dunia, ia menyebutnya dengan istilah \u201cSeniman Gelandangan Kosmopolit\u201d yang menurut saya banyak benarnya! Bagi orang-orang biasa yang tak punya warisan dan modal, banyaknya kesempatan residensi masa kini juga memungkinkan seniman untuk meniatkan diri mendapat modal finansial atau penghasilan tambahan dengan menghemat&nbsp;budget perdiem&nbsp;atau&nbsp;budget&nbsp; produksinya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"884\" height=\"664\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.34.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7598\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.34.png 884w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.34-300x225.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.34-768x577.png 768w\" sizes=\"(max-width: 884px) 100vw, 884px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"514\" height=\"698\" data-id=\"7596\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.03.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7596\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.03.png 514w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.03-221x300.png 221w\" sizes=\"(max-width: 514px) 100vw, 514px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"508\" height=\"694\" data-id=\"7597\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.14.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7597\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.14.png 508w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.14-220x300.png 220w\" sizes=\"(max-width: 508px) 100vw, 508px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Berkumpul dengan kemauan untuk membenamkan diri, mendengarkan, bertemu orang, dan terhubung.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dan kalau dibaca lagi, residensi sebenarnya dirancang sebagai faktor yang akan menyumbang kontribusi penting untuk mencapai cita-cita seni global, jika berkaca pada pengalaman seniman-seniman Indonesia sejak tahun 1950-an. Salah satunya adalah Affandi yang diundang untuk berkeliling Amerika Serikat selama empat bulan. Dan saya yang sejak tahun 2011 merantau dan tinggal di kamar kos kecil di Jakarta yang berpindah-pindah, lalu tinggal di kabupaten di Jawa Barat yang segala halnya komunal, bisa memulai tahun 2025 dengan tinggal di rumah residensi yang cukup luas dan lengkap untuk diri sendiri. Dan rumah residensi itu terletak di pusat kota Paris pada musim dingin, di samping Sungai Seine, yang dikenal banyak orang di seluruh dunia dan jadi tontonan dunia saat pembukaan Olimpiade Paris 2024! Apa namanya kalau bukan sebuah privilese?<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan Januari yang abu-abu dan depresif bagi manusia tropis seperti saya, memunculkan pertanyaan yang cukup intens soal diri -juga tentang apa yang sebenarnya harus Anda bawa ketika melakukan residensi seni? Nampaknya -saya cukup yakin meskipun sering mendengar soal residensi- nyaris tak pernah ada semacam panduan yang menjelaskan &#8220;Apa itu residensi seniman? Dan apa artinya menjadi seniman residensi?&#8221; Saya membayangkannya menjadi sesuatu yang asing bagi orang-orang di luar lingkungan seni, seperti halnya orang awam melihat seorang saintis menggunakan jas putih di dalam sebuah laboratorium tertutup -yang digambarkan oleh antropolog-sosiolog Prancis, Bruno Latour dalam karya etnografinya <em>Laboratory Life <\/em>(1979)<br>bersama Steve Woolgar. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan-pertanyaan ini telah menemani saya sejak hari pertama saya tiba di Paris. Alih-alih mencari jawaban langsung, saya mulai mengumpulkan pertanyaan -setiap hari- dengan sabar, seperti sketsa di tepi buku catatan dan menempelkannya di dinding kosong di studio residensi. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kompas saya selama tiga bulan residensi di Cit\u00e9 Internationale des Arts.<\/p>\n\n\n\n<p>Studio saya terletak di lantai dua gedung utama -dekat dengan tempat tinggal dan tempat kerja banyak seniman lainnya. Kedekatan ini membantu mendorong percakapan sehari-hari, umpan balik spontan, dan makan malam bersama yang terkadang berubah menjadi kritik informal atau sekadar pertukaran pendapat yang menyentuh hati tentang kehidupan dan seni. Cit\u00e9 mengumpulkan penduduk interdisipliner: seniman visual, musisi, penulis, penari, bahkan arsitek dan perencana kota, dari ragam usia yang luas. Merupakan kesempatan langka untuk berada di komunitas yang sangat beragam dalam praktik dan perspektif. Salah satu inisiatif paling bermanfaat yang ditawarkan oleh residensi ini adalah sesi terapi seni, yang mendukung seniman saat mereka menavigasi medan proses kreatif mereka yang terkadang sulit dan menyendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Setiap Rabu malam, studio terbuka mengundang kami untuk berbagi karya yang sedang kami kerjakan. Ini<br>menjadi tantangan sekaligus anugerah: bagaimana kami mengartikulasikan apa yang sedang kami buat -bahkan jika belum &#8220;siap&#8221;? Malam-malam seperti ini sering kali memicu dialog, koneksi, dan momen pengakuan di antara para seniman yang mungkin tidak akan pernah bertemu sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya jadi percaya: Anda tidak perlu membawa apa pun -kecuali keterbukaan. Datanglah dengan kemauan untuk membenamkan diri, mendengarkan, bertemu orang, dan terhubung. Hadirlah bersama komunitas seniman di sekitar Anda, biarkan ide proyek awal Anda berkembang, atau bahkan bergeser sepenuhnya. Perhatian Anda mungkin mengembara ke arah yang tidak terduga, dan itu tidak apa-apa. Di situlah prosesnya dimulai. Selama di Cit\u00e9 des Arts, saya menyaksikan bahwa pengalaman terkaya tidak datang dari pelaksanaan proposal proyek yang saya tulis beberapa bulan sebelumnya. Sebaliknya, pengalaman itu datang dari pertemuan, dari kolaborasi, dari pertemuan spontan antara praktik dan ide. Di Cit\u00e9, Anda tidak hanya diundang untuk memamerkan karya. Anda diundang untuk menjadi diri sendiri, diundang untuk berada dalam proses.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Momen Keberanian: Malam Kegagalan<\/strong><br>Suatu malam seperti itu memberi saya momen kejelasan yang tak terduga dan keberanian. Dalam percakapan dengan sesama penghuni tentang karya yang belum selesai dan perasaan &#8220;tertinggal&#8221;, kami berbicara terus terang tentang kegagalan -bukan sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi sebagai ruang untuk refleksi, pengalihan, bahkan humor. Momen itu membekas dalam ingatan saya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"870\" height=\"682\" data-id=\"7599\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.25.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7599\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.25.png 870w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.25-300x235.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.12.25-768x602.png 768w\" sizes=\"(max-width: 870px) 100vw, 870px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"874\" height=\"670\" data-id=\"7600\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.51.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7600\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.51.png 874w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.51-300x230.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.11.51-768x589.png 768w\" sizes=\"(max-width: 874px) 100vw, 874px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Menjamu makanan Indonesia untuk teman-teman sesama seniman residensi.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Momen itu memberi saya keberanian untuk menggagas sebuah karya pertunjukan berjudul Malam Kegagalan untuk studio terbuka bulan Maret. Itu adalah gerakan yang ceria namun tulus: Saya memasak bala-bala (gorengan sayur) secara langsung di studio sambil berbagi monolog dan gambar yang diproyeksikan -tindakan simbolis yang menghubungkan kata bala dalam bahasa Indonesia (yang berarti bencana atau nasib buruk) dengan makanan yang menenangkan dengan nama yang sama. Dengan mengajak hadirin makan gorengan, saya mengajak mereka untuk &#8220;memakan nasib buruk,&#8221; tertawa bersama saya, dan merenung bersama saya. Itu menjadi ritual pribadi, tetapi juga ritual bersama. Saya belajar bahwa menerima kerentanan di hadapan orang lain dapat membebaskan dan bahkan menyembuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mengamati kota Paris dari Le Marais<\/strong><br>Cit\u00e9 des Arts terletak di jantung Le Marais, dikelilingi oleh bangunan bersejarah seperti Notre Dame dan Pompidou Centre. Tinggal di kawasan bersejarah dan wisata seperti ini memiliki keistimewaan sekaligus keunikan. Stasiun metro dan transportasi umum mudah diakses. Ruang publik sangat banyak; Anda dapat menemukan taman atau alun-alun kecil setiap 50 langkah. Paris mengundang Anda untuk berjalan-jalan, berkeliling, dan mengamati.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat yang sama, perbedaan budaya -terutama dalam hal bahasa dan kebiasaan sehari-hari- menimbulkan tantangan tersendiri. Dengan bahasa Prancis tingkat pemula, hal-hal sederhana seperti berbelanja bahan makanan atau memahami sistem administrasi menjadi pelajaran kecil sehari-hari tentang kesabaran dan kerendahan hati. Budaya jajanan kaki lima tidak umum di sini seperti di Asia Tenggara, tetapi toko bahan makanan Asia sangat mudah ditemukan, memberikan sedikit kenyamanan dan keakraban saat rindu kampung halaman melanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara tentang ekosistem seni, Prancis memiliki ekosistem mapan yang mendukung industri seni dan pendidikan. Ada infrastruktur yang tidak hanya untuk memamerkan karya tetapi juga untuk penelitian dan pengembangan seni jangka panjang. Dari lembaga hingga residensi hingga pendanaan publik, Prancis menghargai peran seni dalam masyarakat dengan cara yang terlihat dan nyata.<\/p>\n\n\n\n<p>Di luar residensi Cite, salah satu pertemuan paling berkesan yang saya alami selama residensi adalah dengan Ibu Farida Soemargono, penulis kamus Prancis-Indonesia. Ia telah tinggal di Paris selama lebih dari 50 tahun. Percakapan kami mengingatkan saya bahwa pengetahuan diaspora  dan pengalaman hidup juga merupakan bagian dari ekosistem seniman, yang memelihara, historis, dan sangat pribadi. Mungkin saya akan menuliskan kisah tentang Bu Farida di lain kesempatan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"894\" height=\"666\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.13.04.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7601\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.13.04.png 894w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.13.04-300x223.png 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Screenshot-2025-05-14-at-22.13.04-768x572.png 768w\" sizes=\"(max-width: 894px) 100vw, 894px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Ibu Farida Soemargono, penulis kamus French &#8211; Indonesian dan penggagas Indonesian Studies in Paris (INALCO) bersama Nuril Basri, Ayu Cempaka, dan Yuliana Sandy.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tiga bulan residensi, apakah terjawab pertanyaan eksistensial saya? Apakah saya menjadi yakin bertransformasi menjadi seorang seniman dari yang tadinya cuma pegiat palugada? Pertanyaan yang sepertinya akan terus menjadi kompas saya selamanya di dunia, bukan hanya sepanjang tiga bulan residensi di Cit\u00e9 Internationale des Arts di Paris. Tapi di latar belakang kompas itu, kini, ada gambar keterbukaan, kemauan, pembenaman diri, interaksi sosial, dan keterhubungan. <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Hajabnya = Mampusnya<\/em> <\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>***<br><em><strong>Ika Yuliana Rusiadi (<\/strong>1992) adalah seniman dan peneliti independen yang lahir di Banda Aceh dan dibesarkan di Medan, Jakarta, dan Majalengka. Praktik seninya mencerminkan pengalamannya tinggal di berbagai kota dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk film dokumenter, seni pertunjukan, instalasi, dan teks, yang memfokuskan karyanya pada dialog tentang keadilan sosial dan perkotaan, khususnya pada praktik yang melibatkan masyarakat dan kolaborasi komunitas. Sejak SMA juga aktif menulis cerpen untuk surat kabar seperti Harian Waspada. Lulusan master Antropologi Sosial di Universitas Indonesia dan Jurnalisme Penyiaran dan Studi Hak Asasi Manusia dari Sekolah Hukum Jentera. Ia menggagas perpustakaan kolektif Pembaca Pantura (2018) dan Museum Ajip Rosidi di Jawa Barat (2019). Selain itu, ia turut mendirikan ansambel musik tanah liat LAIR (2018-2022), yang memadukan musik tradisional dan kontemporer melalui penelitian tentang musik Tarling pesisir Cirebon. Karya ini berpuncak pada proyek Terracotta Route, yang berkeliling Kanada dan Eropa termasuk Toronto Biennial dan Documenta Fifteen di Kassel, 2022. Saat ini, Ika tinggal di Malang, Jawa Timur.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan dari residensi seni di Cite des Arts Paris, Januari &#8211; Maret 2025 Catatan, edisi 390 Mei 2025 Tak terduga dan serba terburu-buru, rasanya paling tepat untuk menggambarkan bagaimana tahun 2025 dimulai dengan sebuah musim dingin di kota Paris. Oktober berlalu setelah baru saja meninggalkan pekerjaan penuh-waktu di sebuah organisasi nirlaba, lantas November mengambil jeda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5],"tags":[808,1597,1599,965,1601,1600,1602],"class_list":["post-7586","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","tag-ceritanet","tag-edisi390","tag-ikayuliana","tag-laporan","tag-paris","tag-residensi","tag-seni"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7586","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7586"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7586\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7917,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7586\/revisions\/7917"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7586"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7586"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7586"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}