{"id":7679,"date":"2025-09-14T19:47:24","date_gmt":"2025-09-14T19:47:24","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7679"},"modified":"2026-07-15T13:50:50","modified_gmt":"2026-07-15T13:50:50","slug":"apa-yang-kita-indonesia-punya-sekarang-indah-darmastuti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7679","title":{"rendered":"Apa Yang Kita, Indonesia, Punya Sekarang? &#8211; Indah Darmastuti"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Catatan, edisi 394 September 2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>September 1945 Jepang menyatakan kalah Perang Dunia II. Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom. Kaisar Hirohito melihat negerinya hancur, rakyatnya kocar kacir. Di antara reruntuhan itulah, Kaisar memanggil orang-orang kepercayaannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerapa guru-guru kita yang masih tersisa? Kumpulkan mereka!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kaisar tidak bertanya berapa jumlah tentara yang masih ada atau senjata apa yang masih kita punya. Tetapi berapa guru yang tersisa.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, pemerintah Jepang menyerahkan nasib negerinya ke tangan para guru. Menempatkan guru sebagai profesi yang sangat penting dan harus diprioritaskan. Rupanya guru yang dimaksud bukan hanya dia yang setiap hari bicara di depan kelas. Tetapi guru di sini termasuk petani, petugas pemadam kebakaran, penjahit baju, pembuat sepatu, pembuat roti, peternak dan sesiapa yang bisa memberi contoh cara bertahan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Jepang sadar betul bahwa untuk membangun kembali negerinya, dibutuhkan generasi yang cerdas dan berintegritas. Hasilnya? Seperti yang disaksikan oleh dunia sekarang ini. Jepang menjadi bangsa yang kuat dan berpengaruh. Teknologi maju, ekonomi kuat. Semua itu tidak lepas dari dedikasi para guru yang kepadanya masa depan negeri dititipkan. Bukan kepada tantara atau polisi, apalagi politisi yang berebut kursi.<\/p>\n\n\n\n<p>Betapa tinggi penghargaan bangsa yang maju kepada guru. Mereka menganggap guru adalah rahim yang dipersiapkan untuk melahirkan generasi terdidik. Bangsa yang maju tentu sadar bahwa pendidikan adalah pilar utama yang menopang kokohnya sebuah bangsa, dan aku sangat setuju.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun melihat realita saat ini di Indonesia, sayangnya bangsa Indonesia belum sampai ke sana. <\/p>\n\n\n\n<p>Negara belum memprioritaskan pendidikan, belum maksimal memberi perhatian dan belum bertanggung-jawab penuh atas terselenggaranya pendidikan yang adil dan merata. Misalnya: masih banyak gedung-gedung sekolah yang kurang layak untuk belajar. Biaya sekolah sangat tinggi dan gaji guru jauh tertinggal bahkan masih ada yang bertahun-tahun menjadi honorer tanpa kepastian pengangkatan utamanya di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebijakan-kebijakan menyangkut pendidikan, belum pro-rakyat menengah ke bawah. Kurikulum tak kunjung (di)matang(kan) sehingga ganti menteri ganti kebijakan yang justru memusingkan para penyelenggara pendidikan. Bahkan guru yang seharusnya fokus pada materi pendidikan, masih dipusingkan dengan administrasi dan laporan itu-ini. Padahal idealnya, negara masih harus memfasilitasi para guru untuk mengembangkan diri serta menimba pengetahuan dari sumber-sumbernya, bukan malah disibukkan tugas administrasi. Tentu saja intelektual para guru kurang berkembang maksimal, padahal itu diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari aku berdebat ringan dengan seorang kawan, mana yang lebih dulu: sekolah digratiskan agar mendapatkan bibit pencipta bangsa yang maju, atau majukan bangsa dulu biar sekolah bisa gratis. Dari pertanyaan itu harusnya sudah jelas, untuk menjadi bangsa yang maju, pendidikan harus maju. Tetapi bagaimana mau memajukan pendidikan kalau kebijakan-kebijakan yang diambil justru meleset dari maksud adanya pendidikan itu sendiri. Pengadaan seragam ditenderkan, buku-buku bahan ajar diproyekkan, pengadaan fasilitas di<em>mark-up<\/em>. Sampai-sampai kesulitan mengurai sebenarnya akar permasalahan itu ada di mana? Yang mana dulu yang harus diselesaikan, sebab di hampir semua lini selalu ditemui masalah intergritas.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditambah lagi Pemerintahan Prabowo Subianto sekarang ini memunculkan program Makan Siang Gratis (bukan pendidikan gratis) yang justru memunculkan masalah baru. Beberapa media melaporkan makanan itu beracun, tak layak dimakan apalagi memenuhi standar gizi. Intinya eksekusi di lapangan masih kedodoran.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Makan siang gratis bukan program yang buruk asal penanganannya bagus dan mekanismenya jelas. Bisa bekerjasama dengan wilayah setempat dan pro-UMKM yang dikelola dengan baik yang mana sangat mungkin menjadi lapangan kerja bagi warga kecil. Bukan ditenderkan yang akhirnya jatuh lagi di tangan pemilik modal besar yang naluri bisnisnya menangkap bahwa itu adalah peluang menambah kekayaan, bukan bertujuan untuk membantu pemerintah dalam rangka memenuhi gizi untuk menanggulangi <em>stunting<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Di negara-negara lain juga ada program serupa, tetapi alur dan penangannya sudah disiapkan dengan baik. Soal makan siang di sekolah ini, mengingatkan aku pada buku Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi).<\/p>\n\n\n\n<p>Tomoe Gakuen, tempat Totto-chan belajar secara formal adalah sekolah yang inklusif pada masa Perang Dunia II. Menggunakan gerbong kereta bekas sebagai ruang kelasnya. Sekolah ini mempunyai gaya unik soal bekal makan. Peraturan yang ditetapkan adalah setiap anak membawa bekal makan siang \u201csesuatu dari laut dan sesuatu dari darat\u201d (yang saya baca sebagai standar makanan gizi seimbang) yang akan dinikmati bersama di bawah pengawasan Kepala Sekolah, Sosaku Kobayashi. Sebelum makan, bekal mereka akan dicek, kalau dilihat ada yang kurang memenuhi standar gizi, maka sekolah akan melengkapinya. Sehingga tak ada kesenjangan di situ. Tidak ada anak yang membanggakan diri karena makan siangnya istimewa. Atau anak menjadi rendah diri karena orang tuanya hanya mampu memberi makanan seadanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan yang diselenggarakan dengan cara yang asyik dan imajinatif tentu akan melahirkan generasi-generasi yang kreatif. Kalau ditarik ke zaman sekarang, memang tidak adil kalau dibandingkan. Tetapi pola yang digunakan Sosaku Kobayasi tentu sangat bisa terapkan mengingat kondisi masyarakat Indonesia lebih banyak hidup di daerah yang masih organik.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka tunda dulu bicara AI dan perkembangan teknologi yang super canggih karena itu masih menjadi barang aneh bagi sebagian besar anak-anak usia sekolah dasar-menengah di Indonesia.&nbsp; Lebih strategis kalau kebijakan-kebijakan yang diambil negara itu berpijak pada realita daerah masing-masing, bukan disentralkan dan dipukul rata tanpa melihat fakta lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Faktanya untuk pemajuan pendidikan yang menjangkau anak-anak usia sekolah termasuk anak-anak difabel masih timpang.&nbsp; Utamanya anak-anak yang berada jauh dari pusat pemerintahan. Mengapa terus menerus didengungkan penggunakan AI padahal mental dan psikologi anak-anak jelas belum dipersiapkan dengan baik. Mengapa tidak mengoptimalkan kecerdasan asli sembari mematangkan psikologi anak untuk menyiapkan mereka menghadapi tantangan zaman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku merasa negara belum terlambat untuk mengejar dan menjangkau anak-anak itu. Aku tidak mengatakan mengejar ketertinggalan, karena kesiapan setiap anak tentu beda-beda. Namun, adalah tugas negara menyiapkan generasinya demi meraih masa depan yang layak dan bermartabat.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mencoba optimis. Apabila negara melaksanakan dengan baik dan menghadirkan sistem pendidikan yang matang dan fokus pada pengembangan mental dan intelektual, pasti negara akan memetik hasilnya kelak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi, temanku berpendapat bahwa masa depan anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha ini sudah menjadi kekhawatiran kolektif. Mungkin itu benar untuk anak-anak yang dibesarkan di kota-kota yang sudah tersentuh moderintas. Tetapi tidak untuk anak-anak yang tinggal di daerah. Mereka anak-anak emas yang harus dimunculkan kilaunya dengan cara alami bukan dipaksakan dengan kurikulum yang sulit diterapkan di tempat-tempat tertentu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku masih menaruh harapan besar pada generasi-genrasi kini yang tumbuh secara organik untuk menjadi calon-calon penyelenggara negara yang memartabatkan manusia asal mereka dipercayakan pada pendidik-pendidik yang diprioritaskan oleh negara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi aku terenyah dan hatiku sangat sedih saat membaca berita di media sosial. Lalu aku bertanya pada diri sendiri, apakah harapanku terlalu muluk tentang pendidikan untuk anak-anak masa kini? Apa yang kita punya sekarang ini? Pendidikan yang bagiku adalah benteng terakhir sebuah bangsa telah bobol.&nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hari itu aku patah hati. Bagaimana wajah pendidikan kita tidak pucat pasi, la orang mentri pendidikannya malah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi\u2026 eentah apa yang sesungguhnya terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Paringi tabah duh, Gusti.<\/em><br>***<br>*. Berilah aku kekuatan, Tuhan. <\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Indah Darmastuti<\/strong>,<\/em>&nbsp;<em>tinggal di Solo sebagai penulis, pegiat sastra, juga pegiat difabel. Karya fiksinya bisa ditemukan di berbagai media dan juga sudah diterbitkan, seperti seperti Kepompong (Jalasutra, 2006), Kumpulan Novelette \u2018Cundamanik\u2019 (Sheila, 2012), dan \u2018Makan Malam Bersama Dewi Gandari\u2019 (Bukukatta, 2016), \u2018Pengukur Bobot Dosa\u2019 (Marjin Kiri, 2020). Dia pendiri situs Difalitera (<a href=\"https:\/\/difalitera.org\/\">difalitera.org<\/a>), dengan misi menyediakan karya-karya sastra untuk kau difabel. Juga aktif dalam buletin sastra Pawon (<a href=\"http:\/\/www.pawonsastra.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">pawonsastra.com<\/a>)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan, edisi 394 September 2025 September 1945 Jepang menyatakan kalah Perang Dunia II. Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom. Kaisar Hirohito melihat negerinya hancur, rakyatnya kocar kacir. Di antara reruntuhan itulah, Kaisar memanggil orang-orang kepercayaannya.&nbsp; \u201cBerapa guru-guru kita yang masih tersisa? Kumpulkan mereka!\u201d Kaisar tidak bertanya berapa jumlah tentara yang masih ada atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,3,5],"tags":[808,1625,974,1317,1623,895,1624],"class_list":["post-7679","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-komentar","category-laporan","tag-ceritanet","tag-edisi394","tag-indahdarmastuti","tag-indonesia","tag-mbg","tag-pendidikan","tag-prabowo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7679","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7679"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7679\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8056,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7679\/revisions\/8056"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7679"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7679"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7679"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}