{"id":7761,"date":"2025-12-14T21:17:35","date_gmt":"2025-12-14T21:17:35","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7761"},"modified":"2026-04-15T09:03:38","modified_gmt":"2026-04-15T09:03:38","slug":"bendera-rasisme-dan-ditabrak-mobil-liston-p-siregar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7761","title":{"rendered":"Bendera Rasisme dan Ditabrak Mobil &#8211; Liston P Siregar"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Catatan<em>, edisi 397  Desember 2025<\/em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Belakangan ini, di Inggris, sentimen anti-pendatang meningkat. Ada unjuk rasa besar-besaran di pusat kota London menentang kaum pendatang dengan alasan para pendatang membuat beban negara semakin berat sehingga layanan sosial pun semakin berkurang. Kaum pendatang juga dituduh telah mencuri lapangan kerja yang mestinya, menurut mereka, cukup untuk menampung warga Inggris.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan lainnya adalah para pendatang menyebabkan lunturnya nilai-nilai Inggris. Tragisnya tak satupun pengikut unjuk rasa, yang diwawancarai media, bisa menjelaskan apa nilai-nilai Inggris yang didengungkan itu. Penjelasan yang memang tak perlu karena intinya adalah ada sekelompok orang bersikap anti kaum pendatang. Titik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sentimen itu menyebar cukup meluas, termasuk di kampung tempat tinggal kami, New Eltham, sekitar 30 menit perjalanan kereta api ke arah Tenggara dari pusat kota London. Di beberapa tiang listrik di jalan utama kampung, ada yang mengibarkan bendera Inggris (silang merah di dasar putih) atau disebut St George dan juga bendera Inggris Raya (silang merah dan putih di dasar biru). Kedua bendera itu memang \u2018disalah-gunakan\u2019 oleh sekelompok orang menjadi perlambang nasionalisme kanan yang anti pendatang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya cukup kuatir karena belasan tahun tak penah menyaksikan dan mengalami sentimen anti pendatang secara langsung. Di kampung tetangga, Eltham, beberapa tahun lalu memang pernah ada kelompok pendukung partai politik aliran ekstrim kanan, British National Party (BNP), yang berkumpul menegaskan sentimen anti pendatang. Namun cuma sekali dan tak menyebar. Kampung Eltham itu dulunya juga tersohor dengan pembunuhan bermotif rasisme atas warga kulit hitam, Stephen Lawrence, oleh empat anak muda kulit putih pada tahun 1993, yang menjadi kasus nasional. Cuma di kampung kami, New Eltham, rasanya, tak pernah terlihat dan terasa sentimen seperti itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka kali ini, pada tahun 2025, saya agak kuatir walau istri saya, Lisa, mengingatkan bahwa yang memasang bendera cuma sekelompok kecil orang yang bising. Dan jika saya memang mengalami rasisme langsung maka segera saja melaporkan ke polisi karena tergolong tindak pidana. Bagaimanapun rasa kuatir tak segera musnah begitu saja dan tetap terasa nyata, walau memang intensitasnya berkurang.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya pun mengadu kepada Betty, jemaat gereja kampung kami yang masih sehat walafiat pada usia 98 tahun. Dia dulu lahir di rumah, yang hingga sekarang menjadi tempat tinggalnya. Betty juga menegaskan itu cuma sekelompok kecil orang yang bising dan setuju jika bendera itu dibiarkan saja berkibar. \u201cKalau diturunkan, maka mereka jadi merasa diperhatikan. Kalau dibiarkan artinya tidak diperdulikan,\u201d jelas Betty.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengibaran beberapa bendera itu juga saya bahas dengan tetangga. Pasangan asli Inggris yang sudah menjadi tetangga tulen karena saling membantu seperti di kampung saya di Medan dulu, juga menyarankan agar tidak usah memperdulikan. Elaine menegaskan selalu ada orang seperti itu di mana-mana tapi hanya sekelompok kecil sedangkan Andrew menyamakan dengan pertandingan sepak bola internasional. Pada musim Piala Dunia, Piala Eropa, atau kejuaraan internasional yang penting yang melibatkan Timnas Inggris maka bendera Inggris St George (silang merah di dasar putih) selalu dikibarkan di depan rumah para penggemar bola.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi intinya tidak usah pedulikan. Rasa kuatir memang semakin berkurang walau masih saja tetap tersisa.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Selasa 23 September 2025, sekitar pukul 08.30-an saya mengayuh sepeda dengan santai selepas berenang rutin. Sisa-sisa musim panas masih terasa dengan sinar matahari yang masih muncul walau cuaca panas tak menyengat lagi. Jalanan agak menurun dan dari arah depan ada mobil yang melaju cukup kencang. Karena mobil itu kencang maka saya tenang saja meneruskan kayuhan sepeda berhubung dengan kecepatan seperti itu maka mobil akan terus melaju di jalur sebelah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi ternyata tiba-tiba mobil itu berbelok ke kanan dan saya kaget melihat pengemudinya, seorang ibu muda, yang juga kaget melihat saya di depan mobilnya tapi tak sempat langsung menginjak rem.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlempar lah saya melayang ke atas dan terjerembab jatuh dengan bagian pantat kiri yang pertama mendarat di aspal, lantas tubuh sisi kanan, dan lengan kanan, sebelum kepala yang terlindungi helmet. Syukurlah saya sadar sepenuhnya ketika sudah terlentang di aspal menatap ke ruang angkasa yang biru. Segera wajah seorang ibu muda yang panik muncul di depan saya dan berteriak, \u201cKamu baik????\u201d Saya tegaskan bahwa saya sadar sepenuhnya, dan itu amat melegakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasa yang amat sakit menyerang di bagian pinggang dan belakang dengan cairan yang sepertinya menggumpal membuat saya menyamping sebentar ke kanan dan bertanya pada ibu itu, \u201cApakah berdarah?\u201d Dia tidak melihat darah dan belakangan saya baru tahu dari putri saya, Matta, bahwa tubuh manusia berespon secara otomatis mengirim seluruh cairan tubuh ke bagian yang terkena benturan kuat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika saya kembali terlentang menghadap angkasa lagi, tampak tiga wajah tambahan selain ibu yang menabrak saya tadi. Mereka berempat berjongkok gusar di depan saya sementara ada sekitar empat lima orang lagi berdiri di latar belakang empat wajah yang berjongkok. Semuanya tampak cemas karena -saya duga- menyaksikan langsung saya terlempar terbang ke atas sebelum mendarat brutal di atas aspal yang kasar, karena jalan kampung tidak sehalus jalan raya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada jam itu lalu lintas di sekitar kampung kami agak sibuk walau tidak sampai macet. Masa-masa itu banyak ibu dan bapak mengantar anaknya ke kedua SD lokal. Juga ada suami atau istri yang mungkin mengantar pasangannya ke stasiun kereta api untuk berangkat kerja. Termasuk juga orang-orang yang berjalan kaki menuju ke stasiun atau setopan bus di jalan raya. Itu yang membuat orang-orang cukup ramai untuk segera berkumpul di sekeliling saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pria yang berdiri mengusulkan, \u201cApakah saya perlu telepon ambulans?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMungkin tak perlu\u2026,\u201d tanggap saya mengangkat kaki kiri dan kanan bergantian ke udara. Walau sakitnya bukan main tapi bisa diangkat dan saya lega. Lantas saya angkat tangan kiri juga dengan rasa sakit serta tangan kanan yang amat sakit di bagian tulang rusuk tapi tetap bisa terangkat sedikit. Semakin lega rasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTak perlulah\u2026\u201d tegas saya lagi dan tetap berbaring terlentang.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang ibu yang berjongkok persis di sebelah kanan bertanya, \u201cKepalamu sakit?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak\u2026 Saya dalam keadaan sadar sepenuhnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHelm-mu membantu melindungi kepala\u2026\u201d kata ibu itu yang berjongkok dengan tangan kirinya menopang lembut pundak kanan saya. Dia ikut melihat siku lengan kanan memar terkena benturan aspal ketika saya menarik lengan kaus untuk melihat salah satu sumber rasa sakit di bagian siku.<\/p>\n\n\n\n<p>Di bagian belakang, seorang pria lain menyarankan, \u201cSebaiknya panggil ambulans\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Namun saya tak mau terlalu lama menunggu di jalanan dengan asumsi bahwa saya dalam keadaan sadar penuh sehingga petugas ambulans akan datang cukup lama. Jika korban kecelakaan lalu lintas tidak sadar maka ambulans akan segera datang secepat mungkin. Menyadari saya rasanya tidak tergolong prioritas maupun bukan dalam kondisi darurat itulah yang membuat saya tak mau menunggu ambulans berlama-lama di jalanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang masih berkumpul di depan saya dan pria yang menyarankan memanggil ambulans tadi kembali mendesak, \u201cTunggu saja ambulans datang\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi saya menegaskan bahwa saya dalam keadaan sadar sepenuhnya dan masih bisa menggerakkan tubuh walau terasa amat sakit di bagian belakang pinggang dan pantat kiri serta bagian tubuh atas sisi kanan. Melihat saya cukup yakin dengan keputusan itu, maka beberapa orang kemudian pergi dengan urusan masing-masing. Seorang pria lain menawarkan, \u201cApakah kamu perlu dibantu untuk duduk?\u201d namun saya merasa mau tenang dulu berbaring di atas aspal dan yakin kelak bisa duduk perlahan-lahan dengan bantuan orang lain. \u201cTerimakasih tapi saya mau berbaring dulu.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu yang menopang pundak saya&nbsp; masih tetap berjongkok di posisi yang sama. \u201cKamu yakin tak perlu ambulans?\u201d tanyanya lagi dengan nada lembut, seperti mau meyakinkan saya tanpa terdengar menggurui. Saya memang memang tak mau berlama-lama menunggu. Ibu yang menabrak saya tak kelihatan lagi tapi saya mendengar suaranya dan beberapa orang lain di sekitar kami. Saya pun minta Ibu di sebelah saya untuk membantu duduk dan pelan-pelan memang bisa duduk walau rasa yang amat sakit menyerang di pantat, pinggang, dan tulang rusuk kanan serta lengan kanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu itu menawarkan mengantar saya pulang dengan mobilnya. \u201cNanti sepedamu dibawa suami saya.\u201d Saya merasakan dia betul-betul membantu dengan aura yang positif dan menenangkan. Ketika saya siap berdiri, maka dibantunya saya berdiri dan dibimbingnya saya terseok-seok selangkah demi selangkah menuju mobilnya di seberang jalan. Dibukakannya pintu dan dipastikannya saya duduk dengan nyaman di mobilnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTunggu sebentar, saya akan minta nomor kontak dia,\u201d kata ibu itu dan meminta nomor telepon saya sebelum menyeberang kembali ke lokasi kecelakaan. Dari dalam mobil saya melihat ibu yang menabrak saya dikelilingi beberapa perempuan lain dan ada yang memeluknya. Saya yakin dia juga pasti kaget menabrak orang telak di depan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pria mendekati mobil dan bertanya alamat rumah. Rupanya dia adalah suami dari ibu yang akan mengantarkan saya pulang. Dia mau jalan duluan membawa pulang sepeda yang saya tak tahu kondisinya. Segera dia pergi mengambil sepeda dari lokasi kecelakaan di seberang dan saya melihat sepeda itu memang masih bisa didorong, bukan diangkat. Jarak dari lokasi kecelakaan ke rumah sekitar 0,6 miles atau 1 kilometer.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu yang menolong kembali lagi, \u201cSudah ada nama dan nomornya,\u201d merujuk ke ibu muda yang menabrak saya tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam mobil, kami berkenalan lebih jauh. Namanya Dawn sedang suaminya yang mendorong sepeda adalah Mike. Keduanya akan berangkat ke pusat kebugaran yang sama dengan tempat saya berenang. Jadi arah saya pulang sedang arah mereka pergi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDia menyetir kencang karena pas di depan kami. Nanti saya bisa menjadi saksi kalau kamu mau melaporkan ke polisi,\u201d jelasnya menegaskan posisinya berada di pihak saya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerimakasih\u2026 Juga sudah menolong saya. Tapi kalian jadi terlambat ke pusat kebugaran.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh itu tidak masalah\u2026 kami latihan sendiri jadi bisa kapan saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tiba di rumah dibantunya saya ke luar dari dalam mobil. Sambil menunggu Mike tiba mendorong sepeda, kami bertukar nomor telepon dan Dawn juga memberi nomor telepon ibu penabrak, Lizzi. Saya disarankan masuk ke dalam rumah untuk duduk sambil menunggu Mike tapi sebenarnya rasa sakit lebih terasa ketika duduk, seperti ketika di dalam mobil, karena bagian yang paling sakit jadi tertekan. Posisi berdiri sepertinya justru memberi ruang bebas kepada bagian pantat dan pinggang sebelah kiri yang sakit itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama Mike tiba di rumah dan saya pun kembali mengucapkan terimakasih kepada keduanya, yang aura-nya terasa memang orang baik. Mike menaruh sepeda di depan garasi dan sebelum mereka pergi, saya minta peluk dari keduanya. Satu per satu saya peluk hangat dan Mike bercanda, \u201cAh saya juga dapat\u2026\u201d Mereka pun siap-siap berangkat ke pusat kebugaran dan Dawn menyarankan untuk menggunakan obat penghilang rasa sakit, \u201cSebentar lagi adrenalin kamu akan habis dan akan terasa lebih sakit.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi itu Lisa, sedang bekerja mengajar Bahasa Indonesia di pusat kota London. Juga putri saya, Matta, sudah masuk kerja. Tapi rasanya memang tak perlu bantuan khusus karena saya bisa jalan walau terseok-seok dan kesakitan. Kedua tangan juga bisa digerakkan walau yang kanan tak bisa bergerak penuh seenaknya karena tertahan rasa sakit di tulang rusuk. Bagaimanapun saya bisa menyiapkan sarapan dan duduk dengan tenang di ruang kaca belakang rumah dengan semburan sinar matahari sisa-sisa musim panas.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya bisa menikmati sarapan dengan tenang karena beruntung dalam keadaan sadar sepenuhnya, sejak ditabrak, terlempar ke udara, mendarat di aspal, terlentang dan melihat angkasa di atas serta orang-orang yang berdatangan. Jadi saya sepenuhnya sadar dengan keadaan sekitar. Manajer segera saya telepon untuk minta cuti sakit dan dia langsung membuat cuti terbuka sampai saya pulih untuk siap kembali bekerja. \u201cKamu juga harus menelepon klinikmu!\u201d perintahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Segera saya telepon dan tak lama dokter menelepon balik menegaskan bahwa saya harus diperiksa di Gawat Darurat. Saya tunggu istri pulang kerja, sekitar jam satu siang. Lisa panik melihat saya jalan terseok-seok dan mendengar laporan kecelakaan. \u201cMestinya kau harus tunggu ambulans datang Pak!,\u201d katanya kesal melihat saya tak mau menunggu ambulans di lokasi kecelakaan. \u201cGimana kalau ada luka serius yang tidak terlihat mata awam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dia mungkin benar tapi saya juga paham sepenuhnya bahwa saya bisa menggerakkan kedua kaki dan tangan walau kesakitan. Juga bisa jalan walau terpincang-pincang selangkah demi selangkah. Dan itu tadi, saya merasa amat lega karena sadar sepenuhnya detik demi detik. Buat saya itu yang paling penting: kepala atau otak tak terkena dampak benturan keras.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum Lisa pulang kantor, bel rumah berbunyi. Lizzi, ibu yang menabrak saya tadi, datang bersama suaminya. Dia minta maaf dan berharap tidak ada luka serius dan bisa segera pulih. Keduanya juga menegaskan kerusakan sepeda akan diganti. Saya membawa mereka ke garasi dan memperlihatkan sepeda, yang saya baru saya lihat dengan seksama. Setangnya bengkok hampir 90 derajat. Juga roda depan agak tersendat. Lizzie dan suaminya menegaskan lagi agar memberi tahu mereka kelak berapa biaya perbaikan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya senang dengan kedatangan mereka yang mencerminkan bahwa mereka juga perduli dengan kondisi saya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Menunggu layanan Gawat Darurat di Inggris bisa berjam-jam. Itu sudah cerita biasa di Inggris dan kami alami sendiri ketika masa-masa awal kanker yang diderita Lisa tahun 2018 lalu. Tujuh tahun berlalu tidak berarti layanan menjadi semakin baik karena sering terdengar orang yang antri selama delapan hingga 10 jam sebelum mendapat pengobatan di Gawat Darurat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Siang itu tujuan saya ke Gawat Darurat lebih untuk memastikan tidak ada luka yang serius, yang tampak maupun yang tidak tampak. Jadi kami ke rumah sakit yang lebih kecil yang masih masuk dalam kabupaten kami dengan harapan antrian tidak akan terlalu panjang. Ada benarnya karena kami \u2018cuma\u2019 menunggu sekitar 3,5 jam sebelum bertemu dokter.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum bertemu dokter, saya dipanggil untuk bertemu perawat yang memeriksa hal-hal yang mendasar -seperti tekanan darah dan detak jantung- serta keluhan apa yang membuat pasien sampai merasa perlu ke Gawat Darurat. Saya masih berjalan terpincang-pincang selangkah demi selangkah dengan wajah yang tampak masih menahan sakit. Perawat itu -yang saya duga berusia sekitar 50-an dengan tubuh besar dan terkesan berotoritas- bertanya kenapa saya datang ke Gawat Darurat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Maka saya jelaskanlah bahwa saya ditabrak mobil ketika sedang bersepeda dan menjelaskan bagian tubuh yang sakit. Dia kemudian mencek data-data pribadi saya dan memeriksa tekanan darah dan bertanya serius dan ketus, \u201cNanti masih mau naik sepeda lagi???\u201d Saya menjawab bahwa ini kecelakaan kedua tapi yang pertama dulu saya cuma diserempet dari samping sedang yang ini telak ditabrak dari depan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItulah, masih mau naik sepeda lagi!!!\u201d tegasnya, seperti ibu-ibu yang marah kepada anaknya karena melakukan kegiatan yang berbahaya. Mungkin bekerja di Gawat Darurat, membuat dia sering bertemu dengan para pesepeda yang terkena kecelakaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya pun terdiam dan menjawab dengan jujur walau dengan nada ragu, \u201cMungkin ya&#8230; nanti&#8230;. Sekarang rasanya masih traumatis jadi pelan-pelan akan naik sepeda lagi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau menunggu kecelakaan yang ketiga!!!\u201d ulangnya lagi dengan serius dan meneruskan pekerjaannya hingga tuntas. \u201cSudah, nanti dokter akan memanggilmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Saya keluar dan saya ceritakan kepada Lisa pengalaman dengan suster itu dan dia tertawa, \u201cKayak mamak-mamak kita.\u201d Persis, seperti itulah adanya: mamak-mamak yang memberi tahu sesuatu hal yang benar tapi anak-anaknya tak mau mendengar.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika dokter memanggil, Lisa ikut ke dalam karena pingin tahu juga kondisi tubuh saya usai ditabrak mobil. Dokter asal Afrika itu memukul-mukul pelan dengan tongkat kecil berkaret ke bagian-bagian tubuh dan tidak terasa sakit. Dia juga memeriksa dengan stetoskop sambil meminta saya menghirup dan melepas nafas. Mata saya juga diperiksanya dengan seksama sebelum memutuskan bahwa tidak ada tulang yang patah maupun luka di dalam tubuh tapi memar semata.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau melihat usiamu dan kamu masih bisa jalan, itu juga pertanda tidak ada yang patah. Kalau ada yang patah pasti kamu tidak sanggup jalan lagi,\u201d jelasnya. Bagaimanapun dia menegaskan jika rasa sakit memburuk dalam satu dua hari ke depan maka saya harus kembali ke Gawat Darurat. Pak dokter tidak memberi resep namun menyarankan untuk minum obat bebas penghilang rasa sakit, Ibuprofen dan Paracetamol bersamaan -yang baru saya tahu bahwa masing-masing bekerja dengan cara yang berbeda untuk menghilangkan rasa sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari itu Selasa 23 September dan dua hari lagi, Kamis 25 September, saya dan Lisa rencananya akan menyeberang ke sebuah kota kecil di Prancis, Charleville-Mezieres untuk menikmati Festival Boneka Internasional. Karcis untuk menonton tiga pertunjukan boneka sudah dibeli walau akan banyak pula pertunjukan gratis. Saya sudah memesan pula tiket kereta api pulang pergi untuk membawa mobil menyeberang Selat Channel yang memisahkan daratan Inggris dan Prancis.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Rencananya kami akan menyetir total sekitar 5,30 jam setelah menyeberang Selat Channel naik kereta api. Bisanya tugas saya menyetir sedang Lisa menjadi <em>co-pilot. <\/em>Tapi kondisi saya tidak memungkinkan untuk menyetir sejauh itu karena duduk saja masih terasa sakit. Kami juga belum memastikan untuk tetap pergi atau tidak dengan prinsip \u2018ya lihat saja nanti.\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi kami sampaikan rencana itu kepada dokter,&nbsp; yang menjelaskan tak masalah kalau saya tidak menyetir namun duduk saja sebagai penumpang. Tapi Lisa mau memastikan apakah duduk saja cukup aman karena ingin menghindari suasana yang semakin buruk selama dalam perjalanan dan juga ketika sudah tiba di kota tujuan di Prancis.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa tidak masalah. Itu kan Prancis, mereka juga punya layanan kesehatan yang mapan. Kalau kalian mau ke Afrika, maka saya akan bilang tidak boleh\u2026\u201d jawabnya serius.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaik dokter, terima kasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu keluar dari ruang periksa, kami berdua tertawa karena dokter itu adalah keturunan Afrika. Terasa lucu juga dia mengkontraskannya dengan layanan kesehatan Afrika untuk menegaskan bahwa menyetir ke Prancis dengan kondisi tubuh saya saat itu akan baik-baik saja. Dan penjelasan dokter \u2018Afrika\u2019 itu membuat kami memutuskan untuk cukup yakin tetap berangkat ke Prancis jika memang rasa sakit tidak memburuk.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kami tidak bisa pergi ke perayaan ulang tahun sahabat kami Helen pada Selasa malam itu, walau sudah memastikan akan datang dan hadiah untuk Helen juga sudah disiapkan. Perayaan ulang tahun itu bukan besar-besaran namun amat pribadi dengan kelompok kecil: Helen, suaminya Jonathan, putrinya Maya lantas adik Helen serta suaminya, dan kami berdua. Helen dan Jonathan memang sudah menjadi saudara kami sejak dulu pertama kali tiba di London tahun 1995 lalu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi agak disayangkan kami tak bisa hadir tapi terlalu berat rasanya buat saya untuk langsung berangkat dari Gawat Darurat dan melakukan perjalanan menyeberang Sungai Thames ke restoran tempat perayaan. Dan di sana harus duduk pula sedikitnya dua jam ketika rasa sakit, seperti dugaan Dawn, semakin terasa. Lagipula tidak enak rasanya menjadi \u2018masalah\u2019 dalam sebuah pesta perayaan ulang tahun yang mestinya berlangsung riang dengan hanya tujuh orang yang hadir. Helen dan Jonathan jelas bisa menerima alasan itu dan kami berjanji akan bertemu jika saya kelak sudah pulih sepenuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua hari kemudian, setelah rasa sakit memang tidak semakin memburuk walau amat berkurang sedikit sekali, kami pun berangkat ke Charleville-Mezieres, kota kecil di sebelah utara Paris. Lisa yang menyetir selama hampir enam jam sedang saya bertugas sebagai <em>co-pilot<\/em> dengan catatan tiga kali kesasar walau sudah mendapat bantuan dari Satnav mobil!<\/p>\n\n\n\n<p>Kami juga membawa bekal Ibuprofen dan Paracetamol 500 mg. Saya tak terlalu suka dengan obat penghilang rasa sakit kimiawi tapi saya coba juga. Dan rasanya, sepanjang perjalanan tetap saja terasa sakit walau memang agak berkurang secara tidak meyakinkan. Maka setelah empat jam berlalu -ketika sudah boleh minum obat lagi- saya malah memutuskan untuk menahan rasa sakit itu saja daripada menelan tambahan obat kimiawi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimanapun Ibuprofen amat membantu Lisa. Menyetir hampir enam jam jelas membuat dia amat lelah. Namun kondisinya lebih buruk lagi karena di Prancis menyetir di sebelah kiri -berbeda dengan Inggris yang sama dengan Indonesia- maka Lisa cukup tegang selama menyetir enam jam-an. Jadi walau amat lelah, dia tidak bisa langsung tertidur. Maka ditelannya Ibuprofen dan lelaplah dia tertidur. Keesokan harinya kami hanya istirahat santai di kamar hotel karena petangnya baru nonton pertunjukan boneka dan Lisa minum lagi Ibuprofen supaya tidur enak seharian.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadinya dia yang perlu bekal obat penghilang rasa sakit itu, bukan orang yang sebenarnya sakit.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Pulang dari Prancis ada dua pesan masuk: dari Lizzi dan Dawn. Saya bukan pengguna WA jadi jika tak ada<em> roaming <\/em>maka tak bisa menerima pesan jika berada di luar Inggris. Keduanya ingin tahu perkembangan pemulihan usai tabrakan. Saya jelaskan bahwa kondisi membaik walau pinggang kiri dan rusuk kanan masih amat sakit. Juga saya ceritakan bahwa kami baru pulang dari Prancis menyetir namun jadinya Lisa yang menjadi supir dalam perjalanan panjang itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Lizzi menjawab dia merasa kasihan pada Lisa dan menyampaikan maaf berhubung Lisa yang jadinya harus menyetir. Sedang Dawn menyampaikan kelegaan bahwa kami kembali tiba dengan selamat di London dan tertarik dengan Festival Boneka Internasional itu. \u201cSaya akan cari di internet tentang festival itu.\u201d Dawn juga mengatakan dia dan Mike akan liburan ke Berlin, Jerman, dan saya membalas, \u201cPingin dengar cerita tentang Berlin nanti kalau kalian sudah pulang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pesan dari Lizzi praktis masuk harian, antara lain ingin memastikan bahwa saya tidak menderita luka permanen karena jika, misalnya, tangan kanan saya tak bisa digerakkan bebas seperti biasanya, jelas lah dia kuatir. Sakit permanen akibat ditabraknya bisa membuka kemungkinan korban melapor ke polisi atau mengajukan gugatan hukum. Mungkin saja menghindari kemungkinan itu yang menjadi motif Lizzi untuk mencek pemulihan kondisi saya secara rutin. Namun harus saya akui pula bahwa pesan-pesannya cukup bersimpati. \u201cMaaf kalau kamu belum kembali berenang\u2026\u201d atau \u201cKalau sudah memperbaiki sepeda, beritahu saya biayanya ya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Teori saya adalah, selain ingin memastikan tak bakal terjerat hukum dan memang berkarakter perduli, Lizzi juga menderita \u2018shock.\u2019 Masih tergambar di benak saya wajah kagetnya ketika menabrak saya dan juga ketika mendekati saya terbaring di atas aspal dan berteriak panik, \u201cKamu baik???\u201d Jadi menyapa saya secara rutin itu bisa jadi juga semacam terapi bagi dia untuk pelan-pelan meredakan trauma yang dialaminya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan dia ikut senang ketika di awal November saya membalas pesannya dengan menjelaskan sudah kembali rutin berenang dengan jarak dan kecepatan yang sama dengan sebelum kecelakaan. Biaya perbaikan sepeda langsung dikirimnya pada hari yang sama ketika saya mengirim tanda terima. Saya juga menawarkan untuk bertemu ngobrol bersama suami dan istri, cuma sulit menemukan waktu berhubung mereka masih punya anak usia sekolah yang belum bisa ditinggal malam hari. Sedang usulannya agar bertemu Minggu siang, amat sulit buat kami karena biasanya akhir pekan saya dan Lisa punya banyak komitmen sosial. Tapi Lizzi dan saya sepakat sekali waktu akan menemukan waktu untuk \u2018<em>catching up<\/em>\u2019 bertatap muka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang tatap muka dengan Dawn dan Mike terwujud. Beberapa hari setelah mereka pulang dari Jerman, saya usul untuk bertemu di salah satu pub kampung kami, di seberang barisan tiang listrik yang dipasang bendera Inggris Raya dan Inggris St George. Tak ada masalah buat mereka untuk ke luar malam karena kedua anaknya sudah dewasa. Maka bertemu lah kami berempat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertemuan yang menyenangkan karena obrolan yang nyambung: mulai dari hobi nonton musik, suka berkunjung ke museum, rutin ke pusat kebugaran, juga tentang hidup di London yang semakin mahal tapi tetap merupakan kota yang menarik. Saya dan Mike punya kesamaan tambahan: minum ale atau bir Inggris di pub-pub menarik atau unik di London dan hampir semua pub yang dia sebutkan pernah pula saya datangi. Obrolan sekitar tiga jam itu membuktikan bahwa mereka berdua memang orang baik, yang bukan sekedar melakukan kewajiban sosial membantu orang yang menderita kecelakaan lalu lintas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pulang dari pub kami berempat pulang berjalan kaki sambil ngobrol ringan dan mereka yang lebih dulu berbelok ke kanan. Kami berempat saling berpelukan hangat dan sepakat untuk bertemu lagi sebagai teman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya dan Lisa meneruskan perjalanan. Malam itu, benak serta hati saya akhirnya ikut memastikan bahwa pengibaran bendera berbau rasisme itu dilakukan oleh kelompok minoritas yang bising. Dawn, Mike, Lizzi, dan suaminya -juga beberapa orang yang datang siap membantu waktu kecelakaan- jelas tak mau ikut terbawa ke dalam semangat anti pendatang yang dicerminkan lewat pengibaran bendera Inggris St George dan Inggris Raya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka semua warga kulit putih Inggris -kecuali seorang pria yang tampaknya etnis Asia Selatan- sedangkan saya -dari penampilan fisik- bisa dipastikan langsung merupakan orang pendatang. Dan saya bisa merasakan tawaran bantuan mereka untuk sesama umat manusia -terlepas dari apa pun rasnya- terasa amat alami dan bukan dibuat-buat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cuma saya perlu melalui proses yang menyakitkan tubuh saya sendiri untuk sampai pada titik keyakinan yang sebelumnya sudah ditegaskan Lisa, Betty, Elaine, dan Andrew. Seperti kata orang Inggris \u2018<em>learn the hard way<\/em>\u2019,&nbsp; maka saya harus belajar lebih berat: pakai ditabrak mobil dulu!<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Liston P Siregar,<\/strong> mantan jurnalis dan kini mengelola ceritanet.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan, edisi 397 Desember 2025 Belakangan ini, di Inggris, sentimen anti-pendatang meningkat. Ada unjuk rasa besar-besaran di pusat kota London menentang kaum pendatang dengan alasan para pendatang membuat beban negara semakin berat sehingga layanan sosial pun semakin berkurang. Kaum pendatang juga dituduh telah mencuri lapangan kerja yang mestinya, menurut mereka, cukup untuk menampung warga Inggris.&nbsp; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61],"tags":[1656,1687,1029,1244,1657,1658],"class_list":["post-7761","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","tag-catata","tag-edisi397","tag-inggris","tag-london","tag-rasisme","tag-sepeda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7761"}],"version-history":[{"count":19,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7761\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7914,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7761\/revisions\/7914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}