{"id":7790,"date":"2026-01-14T21:28:14","date_gmt":"2026-01-14T21:28:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7790"},"modified":"2026-04-15T09:12:35","modified_gmt":"2026-04-15T09:12:35","slug":"hantu-hantu-membawa-makanan-t-wijaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7790","title":{"rendered":"Hantu-Hantu Membawa Makanan &#8211; T. Wijaya"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Puisi<\/em><em><em>, edisi 398 Januari 2026<\/em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya saya menangis bersama ibu di Bukit Barisan, sebab laut di langit merindukan Merapi, Singgalang, Talamau, Sinabung, dan Leuser. Tubuh-tubuh leluhur menjadi lumpur dan pohon-pohon dipaksa mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Hantu-hantu membawa makanan, sisa pesta dari panggung organ tunggal. Kuasanya memaksa Tuhan menyingkirkan ilmu pengetahuan dan daftar panjang kematian. Mulutnya dipenuhi merkuri dan asap metamfetamina. Seakan percuma, Tan Malaka pernah mengajak mereka sekolah. Bukit Barisan menjadi upah para leluhurnya, yang diperas sultan dan tuan tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya menangis bersama ibu dan harimau, tanpa susu dan rahim Bukit Barisan. Di media sosial, masih terekam perempuan-perempuan cantik dari Bukit Barisan mengenakan kalung dan gelang emas, memamerkan skincare, dan selalu menggunakan tisu toilet.<\/p>\n\n\n\n<p>Hantu-hantu membawa makanan, sisa dari pertemuan yang menjijikan, yang kami harapkan hingga tubuh membeku di hadapan Tuhan.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\">Proposal Rawang<\/p>\n\n\n\n<p>Kuda lumping dikirim ke rawang. Menari bersama sawit dan udang windu, hingga berkabut asap Proposal tikar purun. Truk dan perahu membawa sapi, lele jumbo, bebek, nila, dan kambing.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dusun rawang mengering, Husin tidur bersama kerbau yang dulunya milik sultan, anak dan istri menyantap mi instan. Anak tertuanya mencari sinyal di jalan perkebunan sawit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuda lumping di tubuh sungai. Memanggil tongkang-tongkang batubara. Harimau dan gajah merusak kebun dan ternak. Buaya merampas ayah dan ibunya. Dikirimlah ekskavator dan pawang. Masuklah segala jin. Melihat hutan seperti kebun singkong. Perahu mengeras dan retak di belakang rumah walet.<\/p>\n\n\n\n<p>Silo kehilangan ibu bersama tembangan di Tulungselapan. Bertemu harapan di panggung organ tunggal. Tubuh berkeringat seperti tumpahan CPO di sungai, leher-leher pegal, mungkin kematian melampaui kemarahan gajah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuda lumping berbisik tentang Bangka, Jambi, Kalimantan dan Riau. Menari bersama banjir, longsor, dan kelahiran jutaan babi. Sebagian menemui jin di dalam kolong.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuda lumping mengganti surga milik Suku Mapur, Suku Laut, Suku Siak, dan Suku Anak Dalam. Kekayaan leluhur menjadi harta karun, maka cukup mengirim pesan singkat. Inikah Melayu?<\/p>\n\n\n\n<p>Menarilah hingga banjir besar itu kembali.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>T. Wijaya<\/strong>, lahir di Palembang, 25 Desember 1970. Menetap di Palembang. Saat ini selain menulis sastra, juga aktif di Teater Potlot dan sebagai jurnalis di Mongabay Indonesia [Mongabay.co.id]. Pengalaman kerja antara lain kontributor RCTI (Jambi), Lampung Post, Detik.com, dan Pantau. Menulis esai dan karya sastra di Media Indonesia, Sriwijaya Post, Republika, Koran Sindo, dan lainnya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puisi, edisi 398 Januari 2026 Akhirnya saya menangis bersama ibu di Bukit Barisan, sebab laut di langit merindukan Merapi, Singgalang, Talamau, Sinabung, dan Leuser. Tubuh-tubuh leluhur menjadi lumpur dan pohon-pohon dipaksa mati. Hantu-hantu membawa makanan, sisa pesta dari panggung organ tunggal. Kuasanya memaksa Tuhan menyingkirkan ilmu pengetahuan dan daftar panjang kematian. Mulutnya dipenuhi merkuri dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[1669,808,1688,809,824,1534],"class_list":["post-7790","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-bukitbarisan","tag-ceritanet","tag-edisi398","tag-puisi","tag-sajak","tag-twijaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7790"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7921,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7790\/revisions\/7921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}