{"id":7844,"date":"2026-04-14T19:19:43","date_gmt":"2026-04-14T19:19:43","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7844"},"modified":"2026-04-15T09:18:56","modified_gmt":"2026-04-15T09:18:56","slug":"vimshati-varshani-alexander-robert-nainggolan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7844","title":{"rendered":"Vimshati Varshani &#8211; Alexander Robert Nainggolan"},"content":{"rendered":"\n<p>&#8211; asrina novianti<\/p>\n\n\n\n<p><em>Puisi, edisi 401 April 2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>1.<br>bukankah aku acap meluruh ketika dirimu menjauh, saat bujangku menghilang di balik gaunmu. dan setiap pelukan atau genggaman tangan adalah bahasa yang beternak. kita yang muda, riang dalam mamah-biak rencana.<br>&#8220;jangan takut, selama bersama,&#8221; dan kuhabiskan lagi seluruh rindu. bahkan saat musim hujan datang menjemput&#8211; kerap ada rentang jarak. pernikahan barangkali adalah janji sakral, bukan sekadar wangi mawar dari gaun pengantin.<br>di antara dua pulau, aku yang terpukau. mengembara ke rahimmu, membalut selaput tubuh yang kukuh. tapi ada nafas janin di sana, sebagian asmara membekas di antara kita. engkau menjelma ibu dengan gembur payudara dipenuhi susu.<br><br>2.<br>dan kita berlompatan setiap kali hari berganti. dari kontrakan satu ke lainnya. di kepalaku ada petak  yang acak, mengembara sepanjang jalan duri kosambi. bahkan saat engkau hanya sendiri di kelam malam. aku yang bertahan pada jadwal kerja. menunggu pagi tiba.<br>&#8220;percayalah, kita akan bertahan. segalanya hanya riak ombak yang akan landai,&#8221; kuusap lagi rambutmu. menyimpan getar asmara yang lama berkobar. di akhir pekan, kita sibuk menghitung uang belanja yang semaput. namun tangis anak kita selalu mengajarkan untuk tetap sabar dan tegar.<br>maka kita lalui juga, jalan-jalan yang tergenang. gang-gang sempit di pinggiran kota, dan pelukanmu<br>begitu sempurna, mengunyah semua amarah di degup dada.<\/p>\n\n\n\n<p>3.<br>sebagaimana juga rindu. getah asmara adalah amuk dalam setiap peluk dan kecup. lalu kita mengembara lagi, di setiap lekuk kota. mengembara sepanjang sumatera, menyimpan biru laut dan kabut gunung di kepala. desir pasir atau gembur humus di punggung bukit. melawan ingatan dari segala rasa sakit. tahun melingkar persis ular, malam liat melipat erat. dan tangismu menjadi obat dari ringkasan luka, yang tak pernah bisa kujabarkan dengan ligat. namun tanganmu kerap memeluk rapat.<\/p>\n\n\n\n<p>4.<br>dan tangisan bayi pecah lagi. kelak ia akan menjadi perempuan perkasa. telah kubalut juga dengan hamparan doa. selalu ada relung cahaya, kecambah harap menguat. meski catatan belanja bulanan akan bertambah panjang. tapi kita percaya selalu ada rongga yang terbuka. meski tak pernah bisa kudiamkan tangismu yang lirih, tersedu dengan mata yang tergenang. bagaimana aku bisa masuk ke bola matamu? sekadar berenang atau berkemah di sana. dan lingkaran hitam di kelopak mata, semacam pertanda jika kita telah berjuang seluruh menyimpan tenung waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>5.<br>langit mungkin tak melulu cerah. tapi warna pastel dari wajahmu merupa gerimis yang datang saat pagi masih terbuka. petrikor yang menghimpun seluruh masa remajaku. engkau menunggu di ruang tamu, membiarkan malam terbenam di tubuhmu dan dua anak yang lelap tertidur.<br>engkau terlelap juga dipeluk kantuk. di antara misai rambut kusut, ada sekelumit cemas yang penuh harap dari senyuman bibirmu. bibir yang mengecupku dan menyimpan tubir rindu di setiap hariku. &#8220;jangan khawatir, segalanya akan berlalu dan kita akan baik-baik saja.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>6.<br>aku terbenam lagi pada setiap kisahmu. setiap wajah baru singgah, tapi kita tetap menyimpan hal-hal yang pernah diperbuat. sekelebat, kita tak sempat mengingat lagi siapa yang telah pergi. mungkin di dalam catatan harian yang selalu kau simpan di laci.lalu di lautan kota kita akan terbenam lagi. keluar-masuk ke pintu rumah makan atau tempat hiburan. anak-anak kita yang berlarian dengan kaki mungilnya, menciptakan lautan sabana di hadapan.<br>&#8220;jangan cemas, tentu kita akan baik-baik saja. setelah esok dan esok akan berlalu.&#8221;<br>ya, aku selalu menjemput pagi yang tiba di kedua matamu, mengecup pipi dan dahimu sebelum berangkat kerja. membiarkan ingatan menguning di jaket atau tahun yang berkerumun, sepanjang jejak langkah kita, kaki kecil anak-anak kita.<\/p>\n\n\n\n<p>7.<br>pada helai-helai rahimmu tumbuh janin yang kuat. ketika layar hitam-putih usg mendenyutkan sulurnya. &#8220;sepertinya saudara akan memiliki anak lelaki,&#8221; dan di persalinan, suara anak lelaki itu menggema.<\/p>\n\n\n\n<p>8.<br>asmara mungkin sebuah bangsal, namun kita tak pernah jadi tawanan di sana.<br>***<br><em>2025<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>*. Vimshati Varshani: Bahasa Sansekerta yang artinya dua puluh (vimshati) tahun (varshani) <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Alexander Robert Nainggolan<\/strong> lahir di Jakarta 1982. Bekerja di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (kumpulan puisi, Penerbit JBS, 2023), Fragmen-fragmen bagi Sayyidina Muhammad (kumpulan puisi, Penerbit Diva Press, 2024). Kini berdomisili di Perumahan wilayah Kel. Poris Plawad Kec. Cipondoh Kota Tangerang, Banten.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8211; asrina novianti Puisi, edisi 401 April 2026 1.bukankah aku acap meluruh ketika dirimu menjauh, saat bujangku menghilang di balik gaunmu. dan setiap pelukan atau genggaman tangan adalah bahasa yang beternak. kita yang muda, riang dalam mamah-biak rencana.&#8220;jangan takut, selama bersama,&#8221; dan kuhabiskan lagi seluruh rindu. bahkan saat musim hujan datang menjemput&#8211; kerap ada rentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[910,905,1686,808,1691,809],"class_list":["post-7844","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-alexanderrobertnainggolan","tag-anak","tag-asrinanovianti","tag-ceritanet","tag-edisi401","tag-puisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7844","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7844"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7844\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7928,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7844\/revisions\/7928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}