{"id":7998,"date":"2026-06-14T18:26:10","date_gmt":"2026-06-14T18:26:10","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7998"},"modified":"2026-06-14T18:50:28","modified_gmt":"2026-06-14T18:50:28","slug":"kota-arkanda-ilham-wahyudi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=7998","title":{"rendered":"Kota Arkanda &#8211; Ilham Wahyudi"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Cerpen<\/em>, <em>Edisi 403 Juni 2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Lima belas tahun yang lalu, Tuan Arkanda membangun sebuah menara kaca setinggi 32 lantai di jantung Kota Purnatama. Bukan gedung perkantoran biasa. Menara kaca itu dirancang dengan fasad kaca impor dari negeri jauh, memantulkan langit dan matahari sehingga siapa pun yang melintas akan melihat bayangan dirinya sendiri, kecil dan terdistorsi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak banyak pengusaha yang berani membangun gedung setinggi dan seambisius itu di kota yang dulunya hanya pelabuhan pengap beraroma ikan asin. Bukan semata karena biaya pembangunannya yang setara anggaran tahunan beberapa kabupaten-kota, melainkan karena tanah tempat menara itu berdiri konon labil, bekas rawa tua yang belum sepenuhnya jinak. Banyak investor mundur perlahan. Namun tidak dengan Tuan Arkanda. Ia membeli tanah itu seperti orang membeli sebungkus permen belaka.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau tanahnya lembek, kita keraskan,\u201d katanya suatu kali pada rapat direksi. \u201cKalau langitnya rendah, kita tinggikan gedungnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Begitulah tabiat Tuan Arkanda. Ia tak pernah menerima batas sebagai sesuatu yang patut dihormati. Semua baginya hanya persoalan angka dan negosiasi. Dan angka-angka di rekeningnya cukup untuk menegosiasikan apa saja, termasuk kehendak alam dan peraturan negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Menara kaca itu ia bangun bukan sekadar untuk kantor pusat kerajaan bisnisnya. Menara itu adalah simbol. Tugu. Pernyataan bahwa Kota Purnatama bukan lagi kota kecil yang hidup dari kapal dan pasar tradisional. Kota itu kini berdenyut lewat proyek-proyek Tuan Arkanda: jalan tol yang melingkar, pelabuhan peti kemas modern, kawasan hunian elite dengan danau buatan, pusat perbelanjaan yang lampunya tak pernah berkedip konon pula padam. <\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang sering menyebut Kota Purnatama sebagai \u201cKota Arkanda\u201d setengah berbisik dan setengah takut.<\/p>\n\n\n\n<p>Para pejabat dari ibu kota yang datang berkunjung selalu diajak makan malam di lantai teratas menara kaca. Dari sana, mereka bisa melihat lampu kota berkelip seperti gugusan bintang yang tunduk di bawah kaki Tuan Arkanda. Di atas meja panjang berlapis marmer, kontrak-kontrak ditandatangani dengan pena emas. Kebijakan yang semula tampak kaku, mendadak lentur. Peraturan yang semula menghambat, berubah menjadi peluang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tuan Arkanda jarang tersenyum lebar. Senyumnya tipis dan terukur, layaknya margin keuntungan dalam laporan keuangan. Ia percaya semua orang punya harga, hanya saja tidak semua orang tahu berapa harga dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah suatu masa, seorang gubernur baru mencoba menghentikan proyek reklamasi Tuan Arkanda di pesisir. Alasannya klasik: kerusakan lingkungan, nelayan tergusur, abrasi pantai. Tuan Arkanda mendengar kabar itu saat sedang meresmikan rumah sakit swasta miliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pidatonya terhenti di tengah tepuk tangan ketika asisten pribadinya berbisik padanya perihal penghentian proyek miliknya. Malam itu juga \u2014dengan jet pribadinya\u2014 ia terbang ke ibu kota menemui seorang menteri kawan lama yang dulu sering pula menghubungi Tuan Arkanda.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProyek itu menyangkut ribuan tenaga kerja,\u201d kata Tuan Arkanda dengan suara pelan tapi padat.<br>\u201cLingkungan juga menyangkut masa depan,\u201d jawab sang menteri hati-hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Tuan Arkanda menatapnya lama, lalu menyebut beberapa angka. Bukan angka kerugian, melainkan angka kontribusi. Pajak. Donasi. Investasi. Dan angka-angka lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seminggu kemudian, gubernur itu dipindahkan ke posisi lain yang lebih \u201cstrategis\u201d. Proyek reklamasi kembali berjalan, bahkan menjadi lebih cepat dan menjadi proyek nasional. Begitulah caranya menjaga menara tetap berdiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar Tuan Arkanda lakukan: ia tak pernah menikmati menara itu. Kantornya memang berada di lantai paling atas, dengan dinding kaca dari lantai sampai langit-langit. Dari kursinya, ia bisa melihat laut di kejauhan, kapal-kapal kecil seperti mainan, dan rumah-rumah padat yang tampak seperti susunan kotak korek api. <\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi ia jarang duduk diam. Paginya diisi dengan rapat-rapat. Siang hari makan bersama dengan investor. Malam dengan pejabat. Sedangkan tengah malam ia habiskan waktu dengan mendengar laporan-laporan keuangan dan grafik yang baginya harus selalu menanjak setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Anehnya, sejak menara itu selesai dibangun, Tuan Arkanda malah hampir tak pernah benar-benar berdiri lama di balkon lantai teratas yang dulu ia rancang khusus untuk \u201cmenikmati kemenangan\u201d. Padahal balkon itu luas, dilapisi kayu jati pilihan, dengan pagar kaca transparan yang membuat siapa pun merasa berdiri di tepi langit.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia selalu berkata pada sekretarisnya, \u201cNanti saja. Setelah proyek berikutnya selesai.\u201d Tapi proyek berikutnya tak pernah benar-benar selesai. Sebab selalu saja ada proyek baru yang dikerjakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lima belas tahun berlalu seperti deret angka dalam laporan tahunan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kota Purnatama semakin padat. Gedung-gedung lain mulai tumbuh, mencoba menyaingi tinggi menara kaca. Namun tetap saja, menara milik Tuan Arkanda menjadi pusat gravitasi kota. Orang-orang muda bermimpi bekerja di sana. Para kontraktor berharap mendapat satu proyek kecil saja dari perusahaan Arkanda Group.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, tubuh Tuan Arkanda perlahan mengalami perubahan. Perutnya yang dulu rata kini mulai tampak membulat. Rambutnya menipis. Dan dokter pribadinya sudah beberapa kali menyarankan agar ia mengurangi jadwal, beristirahat, menikmati hidup. <\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi ia selalu menjawab, \u201cHidup itu dinikmati setelah menang.\u201d Seolah hidup adalah kompetisi tanpa garis akhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu pagi yang terasa lebih sunyi dari biasanya, Tuan Arkanda datang lebih awal ke kantornya. Entah kenapa ia terbangun sebelum alarmnya menjerit. Kota masih setengah menguap dalam kabut tipis. Ia memerintahkan sopir berhenti di depan menara tanpa pengawalan seperti biasa. Ia ingin masuk sendiri, tanpa rombongan. Lift privat membawanya ke lantai teratas. Pintu terbuka dengan bunyi lembut. <\/p>\n\n\n\n<p>Ruang kantor itu luas, bersih, dan hening. Meja kerja mengilap. Kursi kulit hitam masih tampak seperti baru. Di sudut ruangan, pintu kaca menuju balkon terbuka sedikit, seperti sengaja dibiarkan terbuka agar angin pagi bisa menyusup. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Tuan Arkanda berjalan menuju balkon itu tanpa tergesa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berdiri di sana, memandang kota yang dibangunnya. Jalan tol melingkar seperti ular yang telah jinak. Pelabuhan sibuk. Dan gedung-gedung lain yang seperti tampak menunduk di bawah ketinggian menaranya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mendadak muncul rasa asing yang menyelinap di dadanya. Bukan bangga. Bukan juga takut. Melainkan sesuatu yang tak bisa ia hitung. Saat itulah ia menyadari ada seseorang berdiri di sisi lain balkon. Seorang tamu. <\/p>\n\n\n\n<p>Tamu itu berpakaian sederhana, kemeja putih bersih, wajahnya tenang seperti permukaan air sebelum hujan. Tidak ada kartu akses di dadanya. Tidak ada suara langkah yang terdengar sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana Anda bisa masuk?\u201d tanya Tuan Arkanda, alisnya berkerut.<br>Tamu itu tersenyum tipis. \u201cPintu selalu terbuka bagi saya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Nada kalimat itu anehnya familier. Tuan Arkanda mencoba memanggil satpam melalui interkom di dalam ruangan. Tapi tidak ada suara. Hanya dengung kosong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita belum membuat janji,\u201d katanya lagi, kali ini lebih tegas.<br>\u201cKita sudah lama punya janji,\u201d jawab tamu itu lembut. \u201cHanya Tuan yang terlalu sibuk untuk mengingatnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Angin pagi bertiup lebih kencang. Kota di bawah tampak semakin jauh. Tuan Arkanda merasakan lututnya tiba-tiba melemah. Ia berpegangan pada pagar kaca. Tidak ada luka. Tidak juga ada yang mendorong. Hanya tubuhnya saja yang tiba-tiba terasa asing bagi dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasih banyak proyek yang belum selesai,\u201d bisiknya.<br>\u201cSelalu begitu,\u201d jawab tamu itu.<br>\u201cBerapa yang kau mau?\u201d Suara Tuan Arkanda serak. \u201cSaham? Aset? Tanah? Sebutkan saja.\u201d<br>Tamu itu menggeleng perlahan. \u201cYang saya ambil bukan milik perusahaan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat itu seperti godam yang memukul ruang kosong. Dalam sekejap yang nyaris tak terasa, sesuatu yang paling sunyi dan paling berharga dalam diri Tuan Arkanda terlepas. Ia tidak melihatnya, tidak mendengarnya. Ia hanya tahu ada kekosongan yang tiba-tiba menganga.<\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhnya terkulai di lantai balkon, bersandar pada pagar kaca yang dulu ia banggakan. Dari bawah, kota tetap bergerak. Kendaraan melaju. Orang-orang berangkat kerja. Lift-lift di menara tetap naik turun membawa karyawan yang tak tahu apa-apa.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada yang melihat tamu itu pergi. Pun tak ada kamera yang merekamnya. Hanya angin pagi yang menyapu lantai balkon, seolah membersihkan jejak yang tak pernah ada.<\/p>\n\n\n\n<p>Menara kaca itu tetap berdiri tegak, memantulkan langit seperti biasa. Di dalamnya, rapat-rapat akan terus berlangsung. Proyek-proyek akan tetap berjalan. Nama Tuan Arkanda mungkin akan diabadikan sebagai legenda pembangunan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun pagi itu, di lantai paling tinggi yang dulu ia bangun untuk menantang langit, Tuan Arkanda akhirnya jatuh. Bukan karena tanah labil, bukan karena pesaing, melainkan karena satu tamu yang tak pernah bisa ditunda kedatangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kota yang sudah ia anggap miliknya itu, tetap berdenyut tanpa menunggu izin darinya.<br>***<br><em>2026<\/em><br><br><em><strong>Ilham Wahyudi<\/strong> lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU, seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur, dan anggota baru di Kede Sastra, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sastra yang didirikan oleh lima sastrawan dengan semangat untuk mengembangkan dan membentuk identitas sastra Indonesia.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen, Edisi 403 Juni 2026 Lima belas tahun yang lalu, Tuan Arkanda membangun sebuah menara kaca setinggi 32 lantai di jantung Kota Purnatama. Bukan gedung perkantoran biasa. Menara kaca itu dirancang dengan fasad kaca impor dari negeri jauh, memantulkan langit dan matahari sehingga siapa pun yang melintas akan melihat bayangan dirinya sendiri, kecil dan terdistorsi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[1057,808,804,1706,1129,1703,1705],"class_list":["post-7998","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-cerita","tag-ceritanet","tag-cerpen","tag-edisi403","tag-ilhamwahyudi","tag-kotaarkanda","tag-proyek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7998"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8032,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7998\/revisions\/8032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}