{"id":8227,"date":"2026-09-14T18:55:36","date_gmt":"2026-09-14T18:55:36","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=8227"},"modified":"2026-09-14T19:42:55","modified_gmt":"2026-09-14T19:42:55","slug":"cerita-kecil-perjalanan-sang-perahu-muhammad-solihin-oken","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=8227","title":{"rendered":"Cerita Kecil Perjalanan &#8216;Sang Perahu&#8217; &#8211; Muhammad Solihin Oken"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Catatan, edisi 406 September 2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Bukan sebuah cita-cita, tapi sebuah situasi yang mendesak dan tiba-tiba muncul, dan tidak ada jalan lain kecuali meluluskan desakan itu. Desakan bukan dari orang kedua atau ketiga, melainkan oleh sebentuk ide yang lesat dan menggelayut di atas pikiran, membawa monolog dalam diri. Ya, ide yang mendesak di atas pikiran, meski sekecil kelereng, tentu berbahaya bila tak diluluskan. Karena dia akan berakibat ide berikutnya enggan datang dan melakukan desakan. Dan itu yang membuat kenapa orang bisa kehilangan ide atau kehabisan ide. Untuk menghindari hal itu terjadi, tak ada cara lain untuk bersegera, tanpa menunda-nunda, mengeksekusinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang penulis, betapapun, ketika berjalan menempuh jalan sastra tentunya sedari awal memilih arah dan bidang penulisan yang menjadi fokus untuk diperjuangkan atau digelutinya. Karena tidak semua penulis diberi kekuatan untuk menggeluti semua bidang. Sedari awal saya telah memilih hanya menggeluti bidang puisi sebagai bidang utama dan esai bidang kedua serta bila memungkinkan bidang penulisan naskah drama\/teater sebagai bidang berikutnya. Bidang prosa novel dan cerpen tidak menjadi fokus perhatian penulisan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi, sekali lagi, sesuatu yang bukan cita-cita itu tiba-tiba datang memanggil dengan desakan dan meruntuhkan pagar tinggi yang menjadi batas untuk tidak dimasuki. Dari pagar tinggi yang runtuh itulah hadir novel \u201cSang Perahu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bagaimana Seorang Penyair Harus Menulis Novel?<\/strong><br><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:39% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"576\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-576x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8244 size-full\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-576x1024.jpg 576w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-169x300.jpg 169w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-768x1365.jpg 768w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-864x1536.jpg 864w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-1152x2048.jpg 1152w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260710_200056-scaled.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 576px) 100vw, 576px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p>Ketika ide novel itu datang, yang menjadi perhatian utama adalah posisi diri penyair. Kedua, melakukan tindak dialektik, saya benturkan ide novel tersebut dengan posisi penyair. Hasilnya, saya ingin membuat novel bukan sebagai pengarang membuat novel, tapi tetap sebagai penyair. Penyair yang membuat novel.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari benturan ide novel dan posisi diri penyair ini menghasilkan kesepakatan atau sintesa dalam monolog diri yaitu membuat novel yang di dalamnya mengandung unsur puisi. Puisi-puisi tersebut adalah puisi-puisi naratif yang telah saya tulis sebelumnya, yang memang saya persiapkan untuk kebutuhan bidang lain (naskah) dan kemudian saya pilih berdasarkan narasi novel yang saya tulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi-puisi telah dipilih dan ditetapkan. Kemudian masuk ke struktur novel: di setiap bab novel ada puisi, yang berlaku sebagai meditasi, dalam percakapan monolog subjek diri si aku naratif, Sang Perahu. Ide narasi novel telah nempel di dalam pikiran tapi tidak dalam plot atau alur cerita yang sudah pasti. Ditambah percakapan dalam bentuk surat si aku naratif, Sang Perahu, kepada kekasihnya Elsmarta. Narasi cerita kemudian bergerak secara spontan saat penulisan berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulisan meditasi atas novel dipercaya akan menghasilkan bentuk plot atau alur cerita yang tak terkira. Pembaca dapat merasakan saat membaca bagaimana plot membawa kesatuan cerita, namun dapat dibaca sebagai bab-bab yang berdiri sendiri. Selain lompatan-lompatan tak beraturan atau acak menambah semacam misteri novel.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulisan dilakukan dengan cara yang sangat konvensional, yaitu dengan pena dan ditulis dalam lembaran-lembaran kertas. Ini untuk menstimuli perekatan perasaan atas teks sebagai bagian dari olah meditasi penulisan. Unsur meditasi novel ini membangun spirit teks, membawa konsentrasi dan juga menghasilkan suatu bentuk naratif teks novel yang berbeda.<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p><br><strong>Target Waktu<\/strong><br>Membuat novel tentu membutuhkan waktu panjang. Ntah sebulan atau dua bulan atau lebih. Dan karena itu tentunya seorang penulis perlu persiapan yang matang, termasuk urusan di luar penulisan, yaitu logistik. Logistik menyangkut dana untuk kelancaran penulisan novel. Dana logistic, seberapa pun besar kecilnya, harus tersedia untuk menjaga kelancaran dan intensitas penulisan novel. Logistik yang berlaku pada saya cukup minimalis yakni untuk konsumsi makan, minum kopi, dan saya merokok, termasuk di dalamnya. Jadi, selama penulisan novel tidak boleh terganggu untuk urusan makan, kopi dan rokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena dana terbatas, jadi saya melakukan hal yang tak wajar secara umum, dengan membuat target ekstrim. Budget saya hanya punya Rp 5 juta buat bikin novel dari produksi hingga paska produksi, cetak buku (100 Eksemplar) dan diterbitkan. Alokasi dana saya tetapkan 1 juta rupiah untuk produksi dan 4 juta rupiah untuk paska produksi, Karena saya hanya punya dana logistik 1 juta rupiah untuk logistik selama penulisan novel, dan saya hitung berdasar hitungan sendiri, yang secara umum tidak masuk akal. Saya tetapkan target novel harus jadi dalam 3 minggu. Bila penulisan novel tidak selesai dalam 3 minggu, berarti gagal. Di sini ekstrimnya. Tak ada toleransi atau untuk berpikir ulang. Logistik 1 juta untuk 3 minggu, berarti logistik sehari kurang dari 50 ribu rupiah.<\/p>\n\n\n\n<p>Target 3 minggu selesai yang sudah ditetapkan harus diamankan, dan dalam eksekusi penulisan lebih cepat dari target. Untuk itu saya harus dapat membuat 5 bab cerita dalam sehari. Saya tidak tahu jumlah bab keseluruhan novel nantinya secara pasti, hanya saya perkirakan 40-50 bab novel, sebuah novel pendek.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Novel Puitik Dan Politik<\/strong><br>Novel ditulis berpijak atas ide, dimana bab-bab novel tak hanya rangkaian naratif cerita novel, tapi juga berpijak atas bahasa. Bahasa puitik novel akan mencipta kekhasan dan estetika novel.<\/p>\n\n\n\n<p>Olah meditatif membawa sentuhan pada teks. Meditasi yang saya lakukan di dalam penulisan bukan sebagaimana yang berlaku secara umum, melainkan hanya meditasi ringan berupa pengosongan pikiran sehingga melahirkan dia yang datang dari kekuatan terdalam atas pikiran, perasaan dan bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Atas meditasi ini penulisan novel berjalan, dan narasi cerita bergerak langsung secara spontan dari bab ke bab hingga sampai akhir bab. Penulisan novel dalam eksekusinya pun berjalan lancar, meski tidak selalu berjalan sebagaimana targer 5 bab sehari, kadang hanya dapat 3 bab atau 4 bab sehari, atau hanya 2 atau 1 bab pada bagian-bagian akhir penulisan novel. Di atas bangunan ide, akhirnya tereksekusi sudah, dan menghasilkan novel dalam wujud novel puitik.<\/p>\n\n\n\n<p>Novel yang kemudian diberi judul &#8216;Sang Perahu&#8217;. Sebuah novel penuh percakapan dengan goresan bahasa sastra puitik dalam olahan simbol dan tanda, dipadu plot sederhana dan tidak biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapan dan cerita novel terbangun lewat tiga unsur atau elemen: naratif, puisi dan surat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dimana tokohnya, si aku naratif, Sang Perahu, tiba-tiba mengalami turbulensi atas hidupnya dari segala aktivisme dan teror politik di era disrupsi sosial paska reformasi \u201998. Narasi &#8216;Sang Perahu&#8217; adalah penggambaran hidup seorang aktifis yang terlibat dalam arus gerakan perubahan yang melawan dan melengserkan rezim Orde Baru (Orba).<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, paska reformasi, nasibnya terpental dari jaringan aktifis \u201998 bersama tiga sahabatnya Ray, Deva dan Anggoro, serta kekasihnya Elsmarta. Mereka yang memilih sebagai kelompok kritis dan tetap menjaga jarak dengan kekuasaan tidak hanya tak mendapatkan tempat sebagai pembawa perubahan, malahan disingkirkan, dimarginalkan dan dimiskinkan, hingga tindak kekerasan melalui persekusi dan teror. Setelah tiga sahabatnya serta kekasihnya Elsmarta meninggal, Sang Perahu meninggalkan ibu kota dan tinggal menyendiri di rumah kecil dengan sebuah perapian kecil di atas jurang.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapan bathin Sang Perahu sebagai percakapan sunyi di antara jurang, perapian kecil dan rumah yang penuh serangga dan reptil. Sang Perahu adalah novel politik yang bicara tanpa berteriak, atau protes keras-keras penuh satir. Tapi sebuah novel politik yang bercakap-cakap dalam sunyi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Selesai Kurang Dari 2 Minggu<\/strong><br>Proses penulisan novel dilakukan di beberapa tempat untuk memberi atau membawa horizon ruang dalam suasana tenang dan nyaman: antara rumah, taman botani dan taman Kebun Raya Bogor. Tempat dapat menjadi penting dalam menulis, dan pergantian suasana menulis dalam<em> indoor<\/em> dan <em>outdoor<\/em> dengan lanskap taman yang penuh pepohonan membantu memberikan rasa rileks dari beban yang dapat muncul saat menulis, dan membawa sentuhan horizon ruang ke dalam teks.<\/p>\n\n\n\n<p>Novel Sang Perahu akhirnya selesai lebih cepat, hanya dalam 13 hari atau kurang dari 2 Minggu. Selesai di sini dalam arti novel sudah berlangsung dan berakhir sebagai cerita novel, namun masih butuh penyempurnaan. Penyempurnaan akan berlanjut pada proses editing atau finishing naskah.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena terbiasa melakukan meditasi (ringan) dalam menulis puisi dan bisa dibilang hampir setiap hari memberikan kelancaran penulisan novel. Dan pada hari ke-13 novel &#8216;Sang Perahu&#8217; selesai. Selesai di sini dalam arti cerita novel telah berlangsung dan berakhir, tapi belum sepenuhnya sempurna. Penyempurnaan akan berlanjut pada proses editing atau finishing naskah novel.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya novel \u2018Sang Perahu\u2019 selesai. Proses produksi selesai, langsung berlanjut ke proses paska produksi untuk di desain lay out, dicetak dan diterbitkan. Penerbitan novel &#8216;Sang Perahu&#8217; di bantu Eki Thadan, pemilik penerbit Metaforma. Dan <em>cover <\/em>depan buku &#8216;Sang Perahu&#8217; merupakan lukisan ciamik I Wayan Jengki.<\/p>\n\n\n\n<p>Novel &#8216;Sang Perahu&#8217; kemudian mendapat sambutan maha baik dan komentar dari Prof. Keith Foulcher, pengamat sastra dan ahli Indonesia dari Universitas Sydney, Australia, dan pengarang hebat Laksmi Pamoentjak. Prof Keith Foulcher dalam komentarnya tentang novel &#8216;Sang Perahu&#8217; mengatakan: Bahasanya seperti puisi, setiap halaman harus dipikirkan baik-baik baru bisa dicerna maknanya. Saya suka gaya bahasanya, menurut saya mengingatkan akan gaya Haruki Murakami (setidaknya dalam terjemahan Inggris), penuh misteri dan unsur magis, kuat dan berarti sebagai kontribusi terhadap sastra Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara pengarang Laksmi Pamoentjak dalam komentar mengungkap sejumlah hal: Sedari kalimat pertama yang indah bahkan memukau dalam kejanggalannya, ada banyak aspek menyegarkan dari novel ini. Dua di antaranya: 1. Gaya penuturan yang liris puitis-meditatif serta <em>self-reflexive<\/em> namun tetap setia pada alur prosa yang bercerita; 2. Struktur fragmen sebagai bentuk kesadaran yang tak perlu terkait satu sama lain tapi membentuk semacam keutuhan internal. Sebuah karya perdana yang menjanjikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian cerira kecil perjalanan sebuah novel, &#8216;Sang Perahu&#8217;, dimana seorang penyair masuk pagar tinggi yang runtuh, ke dunia novel atau fiksi melalui eksperimen bentuk novel meditasi dan pengagungan puitik.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Muhammad Solihin Oken<\/strong>&nbsp;lahir di Jakarta 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta (1989-1996). Aktif bersastra sejak mahasiswa dan menjadi Ketua Penyelenggara Peringatan 100 hari Sutan Takdir Alisyahbana (1994). Mengikuti program kelas Epistimologi di STF Driyarkara (1994). Mengikuti program Course di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (2004). Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996-2013. Bukunya: antologi puisi Selenggang Sajak (2016), analisa kritis puisi Chairil Anwar: Konstruksi Gaya dan Rima (2016) dan buku puisi baru Sajak Selikur (2022\/2023).<\/em>*<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan, edisi 406 September 2026 Bukan sebuah cita-cita, tapi sebuah situasi yang mendesak dan tiba-tiba muncul, dan tidak ada jalan lain kecuali meluluskan desakan itu. Desakan bukan dari orang kedua atau ketiga, melainkan oleh sebentuk ide yang lesat dan menggelayut di atas pikiran, membawa monolog dalam diri. Ya, ide yang mendesak di atas pikiran, meski [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61],"tags":[808,1730,1500,949,1734],"class_list":["post-8227","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","tag-ceritanet","tag-edisi406","tag-muhammadsolihinoken","tag-novel","tag-sangperahu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8227"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8250,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8227\/revisions\/8250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}