{"id":831,"date":"2015-09-20T08:14:52","date_gmt":"2015-09-20T08:14:52","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=831"},"modified":"2020-06-27T08:19:11","modified_gmt":"2020-06-27T08:19:11","slug":"teheran-dalam-stoples-20","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=831","title":{"rendered":"Teheran Dalam Stoples"},"content":{"rendered":"\n<p>Menang perang<br>Siang itu aku pulang sekolah besama Ummu Khoirah. Ibu tak menjemput dan begitu lonceng berbunyi ummu meminta aku menunggunya. Aku mengajak Khafsah menunggu, namun dia harus segera pulang, jadi aku duduk di bawah pohon di halaman sekolah melihat-lihat buku matematikaku sambil.<\/p>\n\n\n\n<p>Ummu ke luar dari ruang gutu dan aku berdiri menyambutnya.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana Ali, masih terus diajar ibu menulis,\u201d tanyanya.<br>\u201cMasih, ummu, tapi kadang dia lebih suka mencoret-coret saja dan ibu membiarkan.\u201d<br>\u201cItu juga belajar menulis Leila,\u201d balasa ummu tersenyum.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Hening. Aku berjalan sekitar setengah langkah di samping umum.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Baru beberapa saat meninggalkan sekolah, aku melihat anak yang dulu meludahiku, bersama dua temannya. Aku masih dendam dan semakin kami mendekat, terasa kegelisahanku meningkat apalagi menyaksikan dia tetap berdiri tak bergeming menghadap ke arah kami seolah sengaja menunggu, atau mungkin lebih tepat menantang.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika tidak bersama ummu, mungkin aku tidak usah gelisah untuk menyeimbangkan kemarahan dan pengendalian diri. Coba aku sendiri, pikirku, akan kuhadapi dia dengan gaya Khafsah ketika melawan si king kong. Biarpun rambutnya kriwul, masih cukup panjang untuk kutarik.<\/p>\n\n\n\n<p>Masih tergambar jelas di benakku, Khafsah memulai dengan menendang persis di bagian tulang kering sebagai serangan pertama. Tapi aku sedang bersama ummu, tak mungkin kukeluarkan jurus Khafsah karena ummu sudah pasti akan melerai.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Kutajamkan sorot mataku untuk menikam dalam kedua matanya, dan air mukanya tidak berubah, juga tetap berdiri dengan pose seperti menunggu kami sementara kedua temannya di belakangnya namun tidak dengan gaya semenantang dia. Aku perhatikan ketiganya mengenakan seragam yang sama, dan baru aku sadar bahwa mereka bersekolah di tempat yang sama namun masuk siang hari setelah kami. Semakin mendekat, kulihat dia tersenyum kecil, mungkin untuk ummu tapi aku melihatnya sebagai senyum sinis yang mengejek. Walau bersama ummu, secara sadar kutingkatkan kewaspadaanku.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ketika kami dalam jarak berhadapan, dia mengucapkan sopan \u2018selamat siang bu\u2019 kepada ummu dan tiba-tiba mengulurkan tangan ke arahku. Kaget, secara otomatis kuangkat tanganku dan kami bersalaman. Terasa jabatannya yang erat, dan segera kutarik kembali tanganku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku Faris. Ini Maarif dan ini Jalaluddin. Kami bertiga dari keluarga Khan.\u201d<br>\u201cKami minta maaf,\u201d kata Maarif, yang berdiri di belakang Faris.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesadaranku muncul kembali, bersamaan pula dengan rasa dendam yang masih tersisa.&nbsp;<br>\u201cKenapa?\u201d<br>\u201cKarena baba memarahi kami,\u201d jawab Faris yang aku duga menjadi pemimpin mereka bertiga.<br>\u201cJadi kalian tidak akan minta maaf jika babamu tak memarahi? Pengecut,\u201d tanggapku ketus.<br>\u201cLeila,\u201d tegur ummu dengan pelan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Teguran ummu dan tanggapan ketusku itu sepertinya berhasil mengikis dendamku. Sepertinya sebuah pukulan yang menohok sudah kelemparkan tepat ke ulu hati mereka dan wasit memutuskan aku sebagai pemenang. Tapi aku bukan pemenang yang baik dan mungkin juga untuk menuntaskan kemenangan, kubiarkan ketiganya bingung menjawab pukulan ketusku tadi dan aku tarik pelan ujung baju ummu untuk melanjutkan perjalanan. Ummu mengikut saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak mau kulihat mereka ke belakang. Dan ummu mencubit kecil pipiku.<br>\u201cIh, kamu ini anak perempuan judes,\u201d katanya sambil tersenyum lepas.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pura-pura mengusap pipiku dan ikut tersenyum. Justru muncul kebanggaan disebut perempuan judes. Apalagi yang mengatakan ummu: seperti sebuah pujian bahwa aku ternyata memiliki senjata ampuh yang amat diperlukan untuk melindungi diri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi kami tetap mau minta maaf,\u201d terdengar suara dari belakang kami. Berbalik ke arah belakang, kulihat ketiganya berdiri sebaris. Kulirik ummu dengan ekot mataku dan aku bisa melihat dia mengangguk kecil. Cuma setelah dipuji sebagai anak perempuan ketus, jelas aku harus tetap menjaga reputasiku dengan tidak langsung menjadi anak perempuan yang lembut dan lemah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBuktinya apa?\u201d tanyaku sambil sedikit meninggikan kepalaku menunjukan kuasa.<br>\u201cKau mau apa?\u201d kata Faris.<br>\u201cAku mau kalian meminta maaf pada Ali.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga anak itu saling berpandangan satu sama lain lalu Faris menatap ummu. Kuliat ummu kembali mengangguk kecil seperti ketika mengangguk kepadaku: lembut, teduh, tapi sebuah perintah berisi kepastian dan juga kebaikan. Ketiga anak keluarga Khan tidak mungkin untuk lari lagi.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201c\u2026baik,\u201d kata Maarif yang tadi pertama kali mengatakan minta maaf, setelah sempat hening sebentar.<\/p>\n\n\n\n<p>Wajahnya terkesan lega setelah mengeluarkan jawaban itu, sekaligus seperti menyelamatkan Faris dan Jalaluddin, yang mungkin masih malu mengeluarkan pengakuan atas penaklukan anggukan ummu secara terbuka.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Keluarga Khan dikenal sebagai keluarga yang paling kaya di kampung kami. Aku tak tahu kekayaannya seperti apa karena ayah dan ibu tidak pernah membahas keluarga itu. Tapi sering kudengar dari Khafsah dan teman-teman lain di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya kaya, mereka juga keluarga bangsawan. Begitulah kata kawan-kawan yang sepertinya harus mengumpulkan keberanian dulu untuk sekedar menyebut nama Khan, yang terkesan seperti berada amat jauh di atas sana, dekat dengan Tuhan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak insiden pertama peludahan dulu, terus terang sesekali muncul keinginanku untuk mengenal keluarga itu sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kekuatan mereka, yang tampaknya tidak tertandingi di kampung kami.<\/p>\n\n\n\n<p>Berhadapan dengan mereka bertiga, yang kalah dengan kejudesanku sebelum takluk sepenuhnya dengan anggukan ummu, memberi sekeping gambar tentang keluarga Khan: keluarga yang sombong namun sebenarnya tak memiliki kuasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka mungkin lebih banyak hidup dalam gelembung busa yang melayang-layang di udara tanpa arah seolah punya kekuatan untuk terbang mendekati Tuhan namun sebenarnya amat rapuh. Sebuah hembusan kecil saja bisa mengusir mereka ke arah lain atau satu tusukan pelan dan pecahlah gelembung itu.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga anak keluarga Khan yang berada di depanku adalah tetesan air dari sebuah gelembung yang pecah. Cukup membuatku luluh.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNanti aku bawa Ali dan kalian minta maaf. Sekarang kita berteman.\u201d Aku menyalami mereka satu per satu dan jabat Faris tidak seerat sebelumnya. Terasa lebih ringan, tidak dipaksakan, dan aku membiarkan kami berjabat tangan lebih lama satu dua detik. Maarif dan Jalaluddin juga menjabat tanganku dengan ringan.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku dan ummu melanjutkan perjalanan dan umm mengusap kepalaku pelan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJudes juga baik, itu bagus Leila,\u201d tuturnya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Aku tak tahu mau mengatakan apa, tapi kuraih tangannya dan kupegang sepanjang perjalanan. \u201cAku ingin punya anggukan sepertimu ummu,\u201d kataku, amat serius walau cuma di dalam hati.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di depan rumah, ummu mengatakan ingin bertemu ibu. Aku menduga ia ingin bercerita kepada ibu tentang pertemuan kami dengan keluarga Khan, sama seperti aku ingin menceritakan kepada Ali. Ia pasti senang mendengarnya, jika ia sedang membuka diri untuk kehidupan di luar tembok akal dan rasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tinggalkan ibu dan ummu dan langsung ke kamar Ali, melempar tas di lantai dan membujurkan kaki di ranjangnya. Ia menoleh dan kembali membaka buku cerita yang diberi ayah beberapa bulan lalu.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Sampai sekarang aku tak yakin apakah ia memang mengerti isi buku cerita itu atau dia sebenarnya sekedar belajar membaca huruf-hurufnya atau mungkin cuma sedang memasang tembok penutup dari kehidupan di sekitarnya. Tiba-tiba aku merasa seperti buku itu, mungkin Ali sedang mencoba mengerti aku, atau baru sekedar menelusuri satu per satu elemen karakterku dan menggunakan aku untuk bisa ke luar dari temboknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kureka-reka status Ali, aku tak pasti tapi gejolak bercerita semakin tinggi dan kulepas saja.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau tahu Ali, anak keluarga Khan akan meminta maaf kepadamu.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ia tidak melepas mata dari halaman buku.<br>\u201cKita harus mengatur waktu pertemuan.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Dia tetap tidak bergeming.<br>\u201cAku yakin mereka tidak akan mau datang ke rumah. Kau punya usul di mana sebaiknya kita bertemu mereka?\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Matanya masih terpaku di halaman yang sama.<br>\u201cMmmm\u2026.mungkin di kebun rahasia kita. Aku akan ajak Khafsah.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ali diam mematung.<br>\u201cBagaimana menurutmu Ali?\u201d aku bertanya pelan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhnya sedikit bergerak tapi tidak sampai memberi isyarat sebagai jawaban. Hanya gerakan yang amat kecil untuk membenahi duduknya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Khala Aisyah masuk dan menyuruhku mandi. Aku tak mau karena masih ingin meneruskan ceritaku, atau persisnya ingin mendapat tanggapan dari Ali. Khala ke luar lagi setelah mengingatkanku untuk segera mandi.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu masih ingat anak keluarga Khan?\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Matanya terangkat dari halaman buku dan dia melepas sebentar pandangannya ke cakrawala di luar kamar, menerobos jendela sebelum kembali menatap halaman buku di hadapannya.&nbsp;<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ia sedang mendengarkan ceritaku.<br>\u201cMereka yang meludahi kita. Tapi sekarang kita akan berteman dengan mereka.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Ali membuka halaman baru sambil melepas kembali tatapan ke luar jendela. Gerakan-gerakan yang sudah cukup kuat menjadi isyarat jawaban yang jelas, yang tentu hanya bisa dipahami oleh Khala Aisyah dan aku.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNanti kita atur perjalanan ke kebun rahasia,\u201d tuturku dan bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan yang sengaja lebih mengguncang tempat tidur, untuk menegaskan kesepakatan yang baru kami capai.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Kuambil tasku dan kutinggalkan kamar Ali, mencari Khala Aisyah ke dapur. Kupandang lembut matanya, sepertinya sedang meniru ummu yang sedang mengangguk kecil dengan pengaruh besar. Kulepas senyum kecilku, juga meniru ummu.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku harus mengajak Ali untuk bertemu anak-anak Keluarga Khan karena mereka akan minta maaf kepada Ali.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Khala diam, raut mukanya tampak melontarkan kekagetan kecil. Jika Siti saja \u2013anak seorang dokter- atau Siti \u2013dari keluarga ulama- memandang hormat, atau sebenarnya memandang takut, kepada keluarga Khan, apalagi Khala Aisyah. Dia mungkin bisa menerima Ali diludahi oleh Faris, Maarif, dan Jalaluddin atau dijadikan bahan ejekan tapi akan amat sulit menghadapi kenyataan jika Ali bermain bersama anak keluaga Khan dan tidak akan bisa menyaksikan anak-anak keluarga Khan meminta maf kepada anak Aisyah, seorang penjual kue keliling yang kini menjadi seorang pembantu keluarga.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Mencairkan kekagetan Khala sambil menegaskan pernyataan otoritasku atas keluarga Khan dan mencobanya pada Khala Aisya, aku mengangguk kecil.<br>\u201cTentu aku akan tetap di samping Ali jika bertemu mereka, Khala.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p>Khala tak menjawab dan mendorong kecil pantatku: \u201cmandi sana Leila.\u201d<br>Tapi kutahan pantatku, tak mau menghentikan begitu saja pergulatan yang hamper dimenangkan Khala Aisyah.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMereka sudah minta maaf kepdaku dan aku bilang mereka juga harus neminta maaf pada Ali.<br>\u201cApa mereka mau minta maaf?\u201d akhirnya Khala menanggapi terbuka.<br>\u201cHarus mau, Khala. Dan mereka memang sudah berjanji,\u201d sambil kudongkak sedikit kepalaku sambil meluruskan garis bibirku, sedikit pongah karena telah memenangkan sebuah perang, tapi segera kuturunkan kembali dan kulepas lagi sebuah senyum dari bibirku. Ummu Khoirah tidak seperti itu, juga Ibu.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa sudah sekarang kamu mandi,\u201d katanya sambil menunduk untuk memukul lembut pantatku dan tersenyum.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Kujingkat kakiku dan cepat kucium pipinya.<br>\u201cTerimakasih anak baik,\u201d katanya lebih menunduk sehingga wajahnya persis di hadapanku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku seperti merasakan hembusan nafasnya, dan aku diam menunggu, tapi kemudian cepat tersadar, Khala tidak akan mungkin mau mencium aku dan Ghazali.<\/p>\n\n\n\n<p>Sore itu guyuran air terasa begitu sejuk dan menyegarkan. Beberapa perang kecil sudah kutarungi, dan aku menangkan perang-perang itu.<br>***<br><em>bersambung &#8211; baca bagian sebelumnya dengan klik<\/em> <em><a href=\"http:\/\/www.ceritanet.com\/novel.htm\"><strong>novel<\/strong><\/a><\/em><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menang perangSiang itu aku pulang sekolah besama Ummu Khoirah. Ibu tak menjemput dan begitu lonceng berbunyi ummu meminta aku menunggunya. Aku mengajak Khafsah menunggu, namun dia harus segera pulang, jadi aku duduk di bawah pohon di halaman sekolah melihat-lihat buku matematikaku sambil. Ummu ke luar dari ruang gutu dan aku berdiri menyambutnya.&nbsp; \u201cBagaimana Ali, masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[91,64],"class_list":["post-831","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel","tag-91","tag-aminatul-faizah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/831","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=831"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/831\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":834,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/831\/revisions\/834"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=831"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=831"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=831"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}