{"id":879,"date":"2015-04-15T10:19:38","date_gmt":"2015-04-15T10:19:38","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=879"},"modified":"2020-06-27T10:37:07","modified_gmt":"2020-06-27T10:37:07","slug":"aku-ini-binatang-jalang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=879","title":{"rendered":"Aku Ini Binatang Jalang"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Editor: <em>Pamusuk Eneste<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Satu hal yang hingga saat ini belum tuntas dibicarakan mengenai Chairil Anwar adalah sajak-sajaknya yang terdapat dalam beberapa versi, sebagaimana nampak dalam <em>Deru Campur Debu<\/em> (DCD), <em>Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus<\/em> (KT) ,<em> Tiga Menguak Takdir<\/em> (TMT), <em>Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang<\/em>. Ambillah contoh sajak <em>Aku<\/em> (versi DCD), yang dalam versi KT berjudul Semangat.<\/p>\n\n\n\n<p>Bait pertama sajak <em>Aku<\/em> berbunyi<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Kalau sampai waktuku<br>&#8216;Ku mau tak seorang kan merayu<br>Tidak juga kau<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sedangkan dalam versi KT, sajak itu diawali dengan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Kalau sampai waktuku<br>kutahu tak seorang &#8216;kan merayu<br>Tidak juga kau<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Perhatikan kata &#8216;Ku (versi DCD) dan kata kutahu (versi KT).<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatian pula saja <em>Hampa<\/em> berikut. Menrut versi DCD sajak itu berbunyi.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Sepi di luar. Sepi menekan mendesak<br>Lurus kaku pohonan. Tak bergerak<br>Sampai ke puncak. Sepi memagut<br>Tak kuasa melepas-renggut<br>Segala menanti. Menanti. Menanti<br>Sepi<br>Tambah ini menanti jadi mencekik<br>Memberat-mencengkung punda<br>Sampai binasa segala. Belum apa-apa<br>Udara bertuba. Setan bertempik<br>Ini sepi terus ada. Dan menanti<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sedangkan menurut versi KT, sajak dengan judul yang sama ini bunyinya demikian:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Sepi di luar, sepi menekan-mendesak<br>Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak<br>Sampai ke puncak<br>Sepi memagut<br>Tak suatu kuasa-berani melepas diri<br>Segala menanti. Menanti-menanti<br>Sepi<br>Dan ini menanti penghabisan mencekik<br>Memberat-mencekung punda<br>Udara bertuba<br>Rontok-gugur segala. Setan bertempik<br>Ini sepi terus ada.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Jassin pernah mengatakan bahwa kata-kata dan tanda-tanda baca yang berbeda dalam sajak-sajak Chairil Anwar adalah &#8216;salah kutip atau salah cetak&#8217; dan &#8216;salah tik&#8217;. Akan tetapi jika kita amati kedua versi saja <em>Hampa<\/em> di atas tentu timbul pertanyaan: betulkah perubahan redaksi sajak itu hanya karena salah kutip, salah cetak, atau salah tik belaka? Apalagi kalau kita perhatikan bahwa perubahan redaksi sajak Chairil bukan hanya menyangkut kata dan tanda baca, meainkan juga menyangkut perubahan (penghilangan bait), seperti terlihat dalam sajak <em>Sajak Putih<\/em> berikut. Menurut versi TMT, sajak ini berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Bersandar pada tari berwarna pelangi<br>Kau depanku bertudung sutera senja<br>Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br>Harum rambutmu mengalun bergelut senda<\/p><p>Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br>Meriak muka air kolam jiwa<br>Dan dalam dadaku memerdu lagu<br>Menari seluruh aku<\/p><p>Hidup dari hidupku, pintu terbuka<br>Selama matamu bagiku menengadah<br>Selama darah mengalir dari luka<br>Antara kita Mati datang tidak membelah&#8230;<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Akang tetapi <em>Sajak Putih<\/em> yang ditulis Chairil di atas sepucuk kartu pos terdiri dari empat bait. Dengan kata lain ada satu bait yang hilang (atau dihilangkan) dalam<em> Sajak Putih<\/em> versi TMT tadi. Bait itu adalah&#8221;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri<br>dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!<br>Kucuplah aku terus, kecuplah<br>dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Pertanyaan kita di sini adalah: siapa yang menghilangkan bait terakhir ini? Pengarangnyakah (Chairil Anwar) atau penerbit buku (Balai Pustaka)?<\/p>\n\n\n\n<p>Teeuw pun pernah menyinggung perbedaan redaksi sajak <em>Kawanku dan Aku<\/em> yang terdapat dalam DCD dan KT. Menurut Teeuw, <em>Kawanku dan Aku<\/em> versi KT lah yang &#8216;lebih menarik dan lebih berhasil dari segi koherensi dan konsistensi.&#8217; Namun demikian, Teeuw juga menambahkan bahwa &#8216;masalah versi mana yang lebih menarik dari segi mutu sastra harus dibedakan dari masalah lain, misalnya masalah versi mana yang lebih asli, atau versi mana yang lebih baik menurut intnesi atau pilihan si penyair sendiri&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kesulitan menentukan versi mana yang lebih orisinal dan mana versi yang final menurut Chairil sendiri guna kepentingan koleksi ini ditempuh cara lain. Cara lain itu demikian: bila ada saja Chairil yang terdapat dalam dua versi, maka keduanya dimuat dalam koleksi ini. Akan tetapi jika sebuah sajak terdapat dalam tiga versi atau lebih, maka yang dimuat hanya dua versi saja, dengan catatan: sajak yang mirip atau berdekatan dianggap sebagai satu versi saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan cara ini, pembaca pun menjadi tahu adanya versi-versi sajak Chairil Anwar. Di pihak lain, diharapkan pembaca (a) ikut menentukan mana di antara kedua versi itu yang lebih bagus, dan (b) berhak pula menentukan versi mana yang akan dibacakan, dideklamasikan, ataupun dibicarakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping itu, khusus untuk para peneliti, adanya versi-versi ini membuktikan bahwa sajak-sajak Chairil Anwar masih terbuka lebar untuk distudi secara filologis.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Sajak-sajak yang dimuat dalam koleksi ini hanyalah sajak-sajak asli Chairil, ditambah dua sajak saduran. Sajak-sajak yang tadinya tanpa judul, dalam koleksi ini dberi judul demi kepentingan praktis (misalnya untuk memudahkan pengutipan). Surat-surat pendek Chairil kepada Jassin -yang selama ini dikutip di sana sini atau dimuat sepotong-sepotong- juga dimuat secara lengkap dalam koleksi ini. Selain itu disertakan pula bibliografi mengenai Chairil dan karyanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah barang tentu bibliografi ini belum lengkap karena belum semua tulisan mengenai Chairil dan karyanya belum tercakup di dalamnya. Mudah-mudahan ketidaklengkapan ini bisa dilengkapi sambil jalan, lebih-lebih mengingat bahwa hingga sekarang pun orang masih terus menulis tentang Chairil maupun karyanya.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Sistematika yang dipakai dalam menyusun koleksi ini disesuaikan dengan sistematika Jassin: sajak-sajak disusun secara kronologis. Dengan begitu, pembaca dapat melihat perkembangan sajak-sajak Chairil dari awal hingga akhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber yang digunakan untuk menyusun koleksi ini adalah: (1) Chairil Anwar,<em> Deru Campur Debu<\/em> (Jakarta: Pembangunan, 1966), (2) Chairil Anwar,<em> Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus<\/em> (Jakarta: Dian Rakyat, 1981), (3) Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani,<em> Tiga Menguak Takdir<\/em> (Jakarta: Balai Pustaka 1950), (4) H.B. Jassin (ed.), <em>Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45<\/em> (Jakarta: Gunung Agung, 1983) dan H.B. Jassin (ed.) <em>Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang<\/em> (Jakarta: Balai Pustaka, 1975).<\/p>\n\n\n\n<p>Pamusuk Eneste<br>Jakarta, 2 Oktober 1985<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Editor: Pamusuk Eneste Satu hal yang hingga saat ini belum tuntas dibicarakan mengenai Chairil Anwar adalah sajak-sajaknya yang terdapat dalam beberapa versi, sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu (DCD), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (KT) , Tiga Menguak Takdir (TMT), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang. Ambillah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,3,4],"tags":[97,98],"class_list":["post-879","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-komentar","category-puisi","tag-97","tag-pamusuk-eneste"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=879"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":883,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879\/revisions\/883"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}