{"id":929,"date":"2014-10-01T12:52:25","date_gmt":"2014-10-01T12:52:25","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=929"},"modified":"2020-06-27T13:01:12","modified_gmt":"2020-06-27T13:01:12","slug":"elegi-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=929","title":{"rendered":"Elegi Jakarta"},"content":{"rendered":"\n<p><br><em>Asrul Sani (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>I.<br>Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,<br>bimbang telah datang pada nyala<br>langit telah tergantung suram<br>Kata-kata berantukan pada arti sendiri<br>Bimbang telah datang pada nyala<br>dan cinta tanah air akan berupa<br>peuru dalam darah<br>serta nilai yang bertebaran sepanjang masa<br>bertanya akan kesudahan ujian<br>mati &#8211; atau tiada mati-matinya<\/p>\n\n\n\n<p>O jenderal, bapa, bapa<br>tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali<br>ataukah suatu kehilangan keyakinan<br>hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna<br>dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara<br>akan hilang ditiup angin<br>ia berdiam di pasir kering<\/p>\n\n\n\n<p>O jenderal, kami yang kini akan mati<br>tiada lagi dapat melihat kelabu<br>laut renangan Indonesia<br>O jenderal, kami yang kini akan jadi<br>tanah, pasir, batu dan air<br>kami cinta kepada bumi ini<br>Ah mengapa pada hari-hari sekarang , matahari<br>sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya<br>yang akan dikirim ke bumi<\/p>\n\n\n\n<p>Jenderal, mari jenderal<br>mari jalan di muka<br>mari kita hilangkan sengketa ucapan<br>dan dendam kehendak pada cacat keyakinan<br>engkau bersama kami, engkau bersama kami<br>Mari kita tinggalkan ibu kota<br>mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa<br>mari jenderal mari<br>sekali ini derajat orang pencari dalam bahaya<br>mari jenderal, mari jenderal, mari&#8230;.<\/p>\n\n\n\n<p>II.<br>Ia yang hendak mencipta<br>menciptakan atas bumi ini<br>Ia yang kan tewas<br>tewaslah karena kehidupan<br>Kita akan yang mau mencipta dan akan tewas<br>akan berlaku untuk ini dengan cinta<br>dan akan jatuh seperti permata mahkota<br>berderai sebutir demi sebutir<\/p>\n\n\n\n<p>Apa juga nasib akan tiba<br>Mesra yang kita bawa, tiadalah<br>Kita biarkan hilang karena hisapan pasir<\/p>\n\n\n\n<p>Engkau yang telah berani menyerukan<br>Kebenaranmu dari gunung dan keluasan<br>Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan<br>Jika suaramu hilang dan engkau mati<br>Maka kami akan berduka, dan akan<br>menghormat bersama kekasih kami<\/p>\n\n\n\n<p>Kita semua berdiri di belakang tapa<br>Dari suatu malam ramai<br>Dari suatu kegelapan tiada berkata<br>Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan<br>Dari perceraian tiada mungkin<br>Dan sinar mata yang tiada terlupakan<\/p>\n\n\n\n<p>Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan<br>Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja<br>Terik yang keras tiada lagi akan sanggup<br>Mengeringkan kembang kerenjam<br>Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang<br>Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin engkau orang perang dan aku petualang<br>Tetapi pada suatu hari cinta telah dijanjikan<br>Jika bulan Juni telah pulang<br>Aku akan membaca banyak pada waktu malam<br>Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang<br>Laut India akan melempar pasang<br>Bercerita dari kembar cinta dan perceraian<\/p>\n\n\n\n<p>Aku akan minta, supaya engkau<br>Berdiri curam, atas puncak dibakar panas<br>Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru<br>Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang<br>Karena bulan berangkat tua<br>Kemarau bulan berangkat tua<br>Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang<\/p>\n\n\n\n<p>Di sini telah datang suatu peranan<br>Serta kita akan menderita dan tertawa<br>Tawa dan derita dari<br>yang tewas<br>yang mencipta&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>III.<br><em>untuk seorang sahabat<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Airmata, adalah sekali ini airmata dari hari yang mengandung durja<br>Dan kelulah kekasihyang senantiasa berkisah<br>Tiadalah lagi senyum akan timbul karena suatu kemenangan<br>Habislah segala kenangan selalu pada fajar selalu yang membawa harap<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah tahu, suatu kesalahan sekali<br>Telah merobah titik asal harap<br>Dan karena gelombang yang memukul tinggi<br>Dengan segala rahasia dan senjata yang ada dalam kerajaannya<br>Telah dijadikan suatu cinta yang masak hidup lepas dari lembaga<br>Dan gamitan tangan dan mata berhenti pada suatu keluh sedan dari jiwa yang berduka<\/p>\n\n\n\n<p>Bangunlah kekasihku, berilah daku bahagia<br>Dari segala cahaya yang ada padamu<br>Bagiku, keluhan yang lama akan<br>Mematikan segala tindakan<br>Membuat lagak tiada punya tokoh<br>Ucapan kehilangan asal dan bekas<br>Serta ini pulau banyak dan intan laut yang kukasihi<br>Akan menjadi suatu bencana dari kelumpuhan orang berpenyakit pitam<\/p>\n\n\n\n<p>Aku akan hilang lenyap tiada meninggalkan nama<br>Suatu sedih sangsai dari diriku<br>Atas suatu panggilan dengan suara kecil<br>Dari laki-laki di depan laut di belakang gunung<\/p>\n\n\n\n<p>Berikanlah suatu pekikan peri<br>Dan ini akan lebih membujuk<br>Dari suatu mulut terbuka, tapi tiada berkata<br>Air mata yang terbayang, tetapi tiada berlinang<br>Dari suatu kebisuan, dari suatu kebisuan<\/p>\n\n\n\n<p>Jika ini adalah suatu impian<br>Maka janganlah lagi bermimpi<br>Bagaimanapun terang malam<br>Sedang daku akan berjaga<br>Sampai sosok tali dan tiang<br>Tergantung pada sinar pagi yang timbul<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu khianat yang telah memakan cinta<br>Suatu kekecilan manusia yang enggan beryakin<br>Suatu noda<br>Dan suatu derita dari kekasuh yang mengeluh<br>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian sahabat mari berdoa<br>mari berdoa<br>Kita akan berdoa. Kita akan berdoa<br>Kita akan berdoa, untuk pagi-hari yang akan timbul<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi ini merupakan yang terakhir dalam kumpulan<strong> Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/strong>, disusun oleh Ajip Rosidi dengan sketsa Oesman Effendi dan diterbitkan Dewan Kesenian Djakarta tahun 1972.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asrul Sani (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia I.Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,bimbang telah datang pada nyalalangit telah tergantung suramKata-kata berantukan pada arti sendiriBimbang telah datang pada nyaladan cinta tanah air akan berupapeuru dalam darahserta nilai yang bertebaran sepanjang masabertanya akan kesudahan ujianmati &#8211; atau tiada mati-matinya O jenderal, bapa, bapatiadakah engkau hendak berkata untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[104,107],"class_list":["post-929","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-104","tag-asrul-sani"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=929"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":934,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/929\/revisions\/934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}