{"id":937,"date":"2014-09-01T13:02:45","date_gmt":"2014-09-01T13:02:45","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=937"},"modified":"2020-06-27T13:23:16","modified_gmt":"2020-06-27T13:23:16","slug":"nafiri-ciputat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=937","title":{"rendered":"Nafiri Ciputat"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><br><\/strong> <em>Bahrum Rangkuti (1969) Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>1<br>Mari bersinandung lagi, sayang<br>sebagai dulu, pebila ramadhan datang kembali<br>Kita lagukan insan, cinta, dan Ilahi<br>Kita nyanyikan kehidupan: kini dan bakal datang<\/p>\n\n\n\n<p>Melodi cinta dan perjuangan<br>nyanyian mujahid mujahidah ditayang cita-cita<br>kadang remuk pecah dalam mencari kehampiran padaNya<br>kadang ditendang dunia, kar&#8217;na ingin menyatakan ilmu urfan<\/p>\n\n\n\n<p>Ale dongan! Mari kawan-kawan, para saderek, para priyantun<br>Ajjuha&#8217;l-ichwaan! Sisters and brethen di Timur dan Barat<br>O mes amis, mari berdendang, mari berpantun<br>Inilah kidung keabdian, berkilim hikmat<\/p>\n\n\n\n<p>Simakkan, simakkan&#8230;!<\/p>\n\n\n\n<p>Lama nian tak meniup seruling Khatulistiwa<br>Apakah tersendat oleh gesekan peristiwa<br>atau bisikan dari atas turun tak sempat<br>padahal bumi rindu, haus, &#8216;lah lama menantikan hujan?<\/p>\n\n\n\n<p>(Dan kita tahu, Tuhan dan malaikatNya turun ke langit bumi pada pertemuan akhir malam -kata hadits Tirmidzi- Agar tahu Ia siapakah di antara hambanya benar-benar mengabdi atau hanya bersufi-sufi)<\/p>\n\n\n\n<p>Syukur, bulan ini berkalang kurban dan kasih sayang<br>membuka pintu langit, kehampiran dan Rahman Ilahi<br>dan kita pun dituntunNya sejak tahun-tahun berselang<br>meneliti wahyuNya dan mencermati kecondongan hati<\/p>\n\n\n\n<p>seraya mencoba mengamalkan kehadiranNya<br>di tengah-tengah manusia, jin dan syeitan<\/p>\n\n\n\n<p>(Masih ingat, sayang, betapa nikmat mandi-mandi di Cilincing dibanting ombak ke sana dan ke sini. Rambutmu tergurai. Akhirnya di bawah pohon kelapa kita asyiki tafsir Quran dan Asrar-i_Chuudi. Amboi insan, Tuhan dan sastra Iqbal di pantai laut Jawa. Hati kita membadai!)<\/p>\n\n\n\n<p>hingga oleh latihan bersama -empat belas tahun silam-<br>kita didera angin, gelora, dan wahyu Ilahi habis-habisan<br>himmah menyala dan iradah memadat<br>bergumul dengan sintaksis Quran dan seluk beluk Islam<br>dalam Ghazzali, Al Maraghi, Abduh, dan Mahmud Ahmad -seringkali kita berbantah-<br>tapi hasilnya bergairah menyampaikan kerunia samawi ini ke pedalaman, kota, dan pulau<br>dari Sabang ke Banda Aceh dan Lho Seumawe<br>langsung ke Medan, Sibolangit, dan Kaban Jahe (menjuah-juah karina, kujakan sile!)<\/p>\n\n\n\n<p>Dan ummat Aceh dan Karo datang bertanya bertalu-talu<br>-Mengapa kita sampai begini<br>Banyak dzikir kita siang malam<br>hampir-hampir hancur hidung di lapik sembahyang<br>namun nasib tak berubah jua!<br>Apakah iman dan alam Islam lah terbang ke bintang Suraijja?<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kita menjawab menyimpul tanya:<br>-Pebila kita mendalami wahyu Ilahi<br>Pebila mengamalkan isinya, hingga si miskin berdiri lagi<br>Si buta dapat menikmati sinar surya?<br>Si petualang menjadi penabur kata Tuhan ke mana-mana<br>Si lumpuh rohani tegak berdiri dan menyampaikan<br>makrifat Ilahi ke tengah-tenah manusia kehilangan jalan<\/p>\n\n\n\n<p>2<br>Dan kini, sayang sesudah berbilang tahun merenungkan wahyuNya dalam kesepian malam dzikir diseling amal ibadah<br>jauh dari solek dan pamor dunia di tengah-tengah gelisah resah kota Jakarta, bebas dari selera farji dan kebendaan kita belajar menumbuh cinta pada tanah, fakir, dan Tuhan<br>Kita dirikan gubuk-gubuk pertanian dan bengkel manusia dari bahan-bahan bekas bangunan dan rongsokan pelabuhan bagi para pemukim kita: janda, jatim, miskin, dan tuna karya<\/p>\n\n\n\n<p>Bukanlah Tuhan telah berfirman sejak Ia muncul di Makkah<br>agar menjadi tangan kananNya (ashaabu&#8217;l-maimanah) melenyapkan kezaliman, miskin, dan kelaparan<br>dan mendirikan mereka yang merana kapiran?<br>Semula berat nian cita-cita ini. Memberi mereka cukup pangan, iman, dan sandang<br>Menyibuki setiap orang sejak terbit matahari<br>dengan ilmu, kerja tangan, dan kesadaran ber-Tuhan<br>agar berangsur-angsur mau meningkat pada pengabdian hakiki<\/p>\n\n\n\n<p>Kau suntik mereka sewaktu-waktu dengan tanganmu alit dan sakti<br>Kutuntun mereka sehabis gerak badan waktu subuh menyembah Ilahi<br>Kita ajari mereka sekelumit tata cara dan hukum masyarakat pertama<br>sebagai poyang kita Adam a.s menyemai dasar pergaulan manusia<\/p>\n\n\n\n<p>Dan sebagai dia, ribuan tahun berselang -bacalah Genesis dalam Taurah<br>dan Suratu&#8217;l Baqarah -kitapun menghadapi pelbagai akal licik<br>jin, seyitan, dan iblis: golongan tinggi kaum seleweng cerdik<br>dan si bulus penimbul putus asa di proyek kita: Panti Sosial Ibadah<\/p>\n\n\n\n<p>Sang jin ogah membina kaum terlantar atas dasar hidayah Tuhan<br>Ia berkata: -Perlu apa pusing-pusing menuntun tuna karya bersembahyang?<br>Cukup bagi mereka sekedar sandang dan pangan lalu diungsikan<br>ke kebun-kenun teh dan kelapa sawit di Sumatra Utara! (Ia orang berkuasa)<br>Temannya, sang syeitan, ingin meraih untung bagi golongannya<br>oleh hasut dan bisik-bisikan, kitapun tersorong kepada dua alternatif<br>tunduk pada kaidah konyol mereka secara bulat dan positif<br>atau memutuskan hubungan sama sekali. Ia melotot dan kita tak bisa apa-apa<\/p>\n\n\n\n<p>Sang Iblis, seperti prototipnya zaman dan menyaru menjadi ular<br>dilepas Ratu Jin ke tengah-tengah Nuru&#8217;l Iman kita<br>membujuk-bujuk dengan suara merayu. Ia ingin menambah dana dan sarana<br>tapi dari dalam, diam-diam ditimbulkannya kerusakan dan onar<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya jin mendekritkan alasan, segala sesuatu harus dikoordinasi dari Pusat<br>-Apakah ini bukan etatiske dan bertentangan degnan UUD empat puluh lima? -Yah, apa ndak dikata?<br>Kita dihambat dari semua jurusan<br>Beraspun distop bagi fakir miskin sehari-harian<\/p>\n\n\n\n<p>Hidup jalox de metier!<br>Hidup kecemburuan peuh ambisi!<\/p>\n\n\n\n<p>Rabbana, tahulah kita konon tak mudah beramal ibadah<br>Ingin sang jin dan konco-konconya menutup Nur Ilahi dengan bacot-bacot mereka<br>Ngomong ke sini dan ngaco ke sana<br>Politik lihai dan memecah belah!<br>Dan kitapun merambah jalan baru atas petunjuk Tuhan alam semesta<\/p>\n\n\n\n<p>Hampir-hampir kita tak bisa bergerak lagi<br>Dunia serasa kelam<br>Hanya satu harapan tinggal: tahajud tengah malam dengan cucuran airmata<br>Mengetuk pintu &#8216;arasj Ilahi dan memohon bantuan: -Allahumma, lepaskanlah kami dari bencana ini!<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak mau tahu, mereka umumnya masuk golongan jin, sebut Quran dan tertutup mata hatinya untuk agama<br>Jin semasa Adam merasa dirinya cukup mulia<br>Jin dewasa ini memalingkan muka dari apa yang bersifat ke-Tuhanan<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka benci pada wahyu Ilahi, yang tujuannya mengendalikan<br>tingkah laku insan, justru dari dalam: niat dan emosi yang dikuduskan<br>Jin dan konco-konconya melihat kondisi manusia dari luar semata-mata<br>Pembinaan Orde Baru tanpa pesertaan Tuhan dan WahyuNya<\/p>\n\n\n\n<p>Akan menghidupkan bumi sesudah matinya, firman Allah. Dan disediakanNya prasarana bagi pembinaan Bumi dan Langit baru: hati insan penuh harap dan menanti kataNya datang turun dari atas dengan segala kecerahan hingga realisasi demokrasi Panca Sila menjadi unik: karena merupakan usha penemuan baru dalam pemberian air rohani<br>pada mekanisasi pemerintahan dan seluruh lembaga politik<br>Punya kekuasaan namun tetap mengabdi pada insan dan Tuhan Ilahi Rabbi<\/p>\n\n\n\n<p>Kita menjadi pekjerja, seniman, pegawai, pengawal, pembina, dan rakyat<br>tidak megah dan menepuk-nepuk dada, tapi giat dan berjiwa pengabdian<br>Sadar, ia hadir setiap saat dan mengetahui isi relung hati yang berdetak<br>Tiada suatu luput dari ilmuNya: yang tersembunyi dan bergerak<\/p>\n\n\n\n<p>Kita berdaya menanggulangi soal-soal pelik sosial dan kebudayaan<br>mengembalikan martabat insani bagi kaum miskin dan terlantar<br>bukan media kultus kepada kelompok-kelompok beriwbawa dan tenar<br>namun dengan menumbuhkan iman dan tauhid kepada Allah s.w.t<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah kekurangan kita selamanya ini: terlalu memandang pada tokoh-tokoh<br>kuat dalam mata orang banyak: tapi kurang menilai lubuk hati mereka<br>Kita terlempar kar&#8217;na konflik pandangan hidup: hendak menghayati<br>kehadiran Ilahi dalam masyarakat. Mereka mengingkari keperluannya<br><\/p>\n\n\n\n<p>Maka dalam kebimbangan meneruskan cita-cita di bidang sosial ibadah<br>ataukah bergabung tetap dengan yang mencibirkan pesertaan Tuhan<br>dalam amal pembinaan insan, atau memilih jalan sendiri, lega<br>dan berani. Ia datang tak terduga-duga mengalirkan bantuanNya<\/p>\n\n\n\n<p>Ia Maha Kaya dan tiada suatupun mustahil bagiNya<br>seoalah-olah disungkap menjelma di tangan kita apa yang diperlukan<br>Kadang sebagai pemberian kawan, tak ingin disebut namanya<br>Kadang dari orang yang &#8216;lah lama ingin memberi sumbangan<br><\/p>\n\n\n\n<p>Atau pula imbalan karangan yang sudah tak diharapkan lagi<br>disampaikan kepada ketika pada waktu dekat putus asa<br>atau pasien yang kau tolong dari cekikan maut oleh karunia Ilahi<br>menyerahkan bantuan berlimpah-limpah<br>Langitpun tertawa<\/p>\n\n\n\n<p>Demikianlah hidup kita, sayang, sejak tahun limapuluhan enam<br>Tercapai dengan bantuan Tuhan setelah puluhan tahun berjuang<br>jatuh berkali-kali, terguling dihantam dari kanan dan kiri<br>namun akhirnya dengan semangat jihad berdiri lagi<\/p>\n\n\n\n<p>Aduhai, alangkah ajaibnya, namun mendekati kenyataan!<br>Tuhanpun dalam waktu-waktu begitu, memperlihatkan penjelmaan baru<br>Apakah ini mungkin? Padahal ia azali dan abadi!<br>Ataukah dinyatakanNya aspeknya, selama ini tak kita pikirkan?<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkata-kata dalam bahasa Indonesia dan pelambang samawi<br>Ia mutakalim, berbicara terus tanpa berhenti<\/p>\n\n\n\n<p>Terasalah ke jalan Muhammad Rasulullah<br>sebab oleh kemunculannya 131\/2 abad yang lalu, langit kian cerah hingga kini. Dan corong langit lantang bersuara penuh hikmat<br>bagi setiap insan di Timur dan Barat<\/p>\n\n\n\n<p>insan pencari Tuhan dan penegak keadilan kebenaran<br>orang yang memperkenalkan diri sebagai abdiNya<br>dan mau menjadi mazhar silat Uluhijjah<br>dalam diri, ke luar dan masyarakat seantero<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah Islam: bernisbah mesra dengan Allah<br>dan &#8216;nentiasa setia, taat kepadaNya<br>meski dilanda mara dan bahaya, kemiskinan dan maut<br>tetap padaNya asyik berpaut<br>dan sedia menerima impresi keagunganNya dalam kalbu semasa suka ataupun duka memburu<br>Oleh hasrat menumbuhkan iman dan taqwa<br>kita tolak setindak demi setindak semua kecondongan<br>angkara dan nafsu kehewanan<br>yang dilupakan naluri kita<br>Dan di dalam mendekati cintaNya kita berdaya<br>sekuat tenaga memurnikan cita, cita-cita dan amal perbuatan<br>dalam hidup pribadi dan kebersamaan<br>Giat siang malam di tengah-tengah makhluknya memperbaiki nasib mereka<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya membina umat yang cinta kepadaNya<br>hingga dalam pengabdian total<br>-kadangkala terasa tulang dan otot mau pecah-<br>ditarikNya kita ke pangkuanNya<br>dan kitapun dibujukNya, dibelaNya<br>dengan rangkaian kata kasih dan kecerlangan&#8230;<br><\/p>\n\n\n\n<p>3<br>Bukan hanya pertarungan melawan jin kita senandungkan ataupun mematah siasat bulus iblis dan syeitan<br>Kita berjihad, mengukur tenaga dengan diri sendiri: dosa, kelemahan, dan kesalahan bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu<\/p>\n\n\n\n<p>Membedah dada yang menyombong dengan perantaraan Roh Suci<br>dan kalam Ilahi, diturunkan Allah subhanuhu wa ta&#8217;ala pada malam segala malam: Lailatu&#8217;l Qadr. Masih ingatkah sayang?<br>Pebila kau tergeletak antara hidup dan mati di ranjang?<br>Dan aku menjaga dengan air mata mengalir perlahan<\/p>\n\n\n\n<p>Dan hatku terpanjat doa ke hadiratNya. Dan malam kelam.<br>Segala sesuatu terasa berat dan menekan<br>Tiba-tiba rohmu menerawang dan kau lihat sendiri tubuh kasarmu terkapar di tilam dari atas<br>-Ini kau katakan kudiam, pebila kau balik bernafas-<br>Hanya satu bergumam di ujung lidahku: La ilaha illa&#8217;l-laah!<br>diiringi sifatNya Ash Shafi, maha Penyembuh Penolak ajal<br>Kuucapkan doa ini berkali-kali. Aku sendiripun merasa nyeri dan sengal<br>Dan kulihat wajah-wajah alam Barzcah turun ke bumi<br>Subahana&#8217;Ilaah<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya tenang kau kembali<br>habis pergulatan di batas rohani<br>dan materi di penghujung kesegalan ini<br>turun naik nafasmu seirama dengan dzikirku<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di dalam mengharap-harap cemas turunnya kerunia<br>Ilahi, menjelmalah ia tiba-tiba, datang dengan rupa tak tersifatkan. Bukan dari dunia ini!<\/p>\n\n\n\n<p>Allahu Akbar!<\/p>\n\n\n\n<p>Suaranya mengumandang<br>dan wajahnya terang di lingkung cahaya<br>mengaku utusan Rasulullah salla&#8217;llahu &#8216;alaihi wa sallama<br>(Apakah Djibril, pendukung wahyu ataukah Mikail, pembawa kunci ilmu dunia?)<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu seolah berhenti<br>tapi pandangku menembus ke seberang sana<br>Dari kebatinan dalamku ke luar hasrat<br>merangsang lidahku kelu mengeluarkan<br>satu demi satu semua maksiat<br>kelemahan dan kebodohan pernah kulakukan<\/p>\n\n\n\n<p>Wajah samawi itu kian memancar<br>menuding kepadaku terus menerus<br>seraya berkata: -Jangan sangka dosamu dapat diampunkan<br>dan kau kembali ke jalan lurus<br>jika tak kau katakan semua sampai sekecil-kecilnya!<br>Dan alihkanlah hidup penuh kebaktian<br>kepada Al Chaliq Maha Pencipta alam semesta<br>Tumbuhkan pada kawan hidupmu ini cinta kasih sayang<br>&#8216;lah agak lama kau tinggalkan!<br>Pelangi hawa nafsu dan cinta kosong kau buru<br>di lembah dan ngarai sepanjang hari<br>menjadikan kau membuntu. Malah kau kian jauh dari padaNya<\/p>\n\n\n\n<p>Hidupmu selamanya ini ibarat urat bulu<br>melata memakan daun rohanimu hingga berlubang-lubang<br>Sedikitpun kau tak beranjak dari sini dan kini<br>Kau lalaikan hidup bakal datang<br>kar&#8217;na terbenam dalam selera dunia semata-mata!<br>(Aku diam terpaku menyimakkan pekerti diri sendiri)<\/p>\n\n\n\n<p>Ketahuilah, hal orang yang mencari jalan kepada Tuhan<br>kau hanya punya arti di sana, jika kau bina pribadimu sejak di sini<br>dan sering melatih diri mengatas ke alam rohani<br>dan cita-cita murni, agar dapat kau bersentuhan<br>dengan kudrat malaikat<\/p>\n\n\n\n<p>Ini hanyalah mungkin dengan berdaya mengekang arus syetanmu<br>yang terus menggejolak dan memperdayakan<br>Mulailah, singsing lengan bajumu<br>Kami akan mengulurkan bantuan<br>Carilah Nur keabdian dari sifat-sifat Ilahi<br>yang bekerja di dunia ini dan di seberang makam<br>Tak ada pemisahan antara sini dan sana<br>Keduanya tasjbhijjah dan tanzihijjah -identik dan transendensi<br>Dan jadikanlah pribadimu subyek. Bukan permainan selera<br>dan angkara murka sebagai selamanya ini<br>Inilah jalan kembali kepadaNya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kubukakan semua kesalahan, dosa, dan khianat<br>pernah singgah di percik benakku atau kubuat<br>diam-diam. Dari harta kebendaan kuhambur-hamburkan<br>hingga kecup dan peluk tubuh hangat-hangat<br>di gubuk pantai dan puncak gunung<br>(menggigil aku waktu mengulangi segala ini!)<br>Aduhai zaman edan menghilang, namun tetap membekas<br>dalam kalbu hitam. Berapa banyak sudah hati pecah dan cita-cita luhur kandas<br>di tengah jalan, dek luapan rasa<br>menjadi-jadi tak terkendalikan<br>hingga akhirnya menceret daku ke lubuk nafsu<br>durjana lain di dalam kancah kian lama<br>kian membesa dan berputar-putar<br>melengkung tak berkeputusan&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan, Engkaulah Maha Pengampun dan Penyayang<br>Segala kesalahan besar kecil<br>yang diketahui insan atapun tidak kelihatan<br>(itulah doa&#8217;ku malam itu)<br>yang merugikan orang lain<br>atau yang menodai diriku sendiri<br>yang menghapus martabatku sebagai hamba dan abdiMu<br>hanyalah Engkau yang dapat menutupnya<\/p>\n\n\n\n<p>Semuanya itu telah kubukakan kepadanya, cahaya<br>dari cita-citaku, mimpi dari idamanku<br>dalam membina keluarga penerus cita-cita PesuruhMu<br>Muhammad sall&#8217;llahu &#8216;alaihi wa sallama<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan, agaknya iapun tak sembuh-sembuh jua kar&#8217;na kesalahanku<br>bertumpuk-tumpuk dar hari ke hari<br>dicatat oleh para malaikat dan disampaikan<br>kepada Engkau<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan, pulihkanlahkembali kesehatannya sebagai dulu<br>Engkaulah Maha Penyembuh<br>dan Pengembali kekuatan makhlukMu<br>Engkaulah Hafi, Haijun, dan Qajjuum<br>Engkaulah Mahkota kesembuhan<br>Engkau sumber tenaga dan kehidupan<br>Engkau penunjuang usia dan kelanjutan bermukim<br>di dunia ini dan di akhirat kelak<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan, gerakkanlah takdirmu<br>agar ia utuh kembali<br>sehat dan segar sebagai semula!<\/p>\n\n\n\n<p>Allahumma, berilah hamba juga kesempatan<br>memperbaiki kelemahan dan dosa-dosa<br>demikian banyak kulakukan hingga saat ini<br>Apabila kuingat semuanya itu, Rabbi<br>rasanya sukar bagiku tetap berdiri sebagai insan<br>dan suami dari seorang yang Engkau cintai<br>sebagai ayah dari empat keturunan tidak bersalah<\/p>\n\n\n\n<p>Langit gelap dan menekan rongga dadaku, Ilahi<br>Ya Allah, singkirkanlah beban ini daripadaku<br>Engkau tempatku bergantung<br>Engkaulah Pelepas dari segala kesukaran<br>Engkaulah Maha Pemberi harapan<br>bagi setiap insan yang lemah<br>Engkaulah Nur, Cahaya daripada Cahaya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di dalam doa bergenang airmata<br>hati mengarus kepadaNya, Rabb&#8217;l alamina<br>menantikan keputusanNya dalam hening tengah malam<br>kau siuman. Wajahmu terang bercahaya<br>Kulihat sinar redup sepoi sekitarmu<br>Aku terkejut dan hatiku berbisik:<br>-Apakah rohnya hendak balik kepada Tuhan kini?-<br>Tetapi tiba-tiba mengalun suara:<br>Anakku&#8230; Aku Muhammad kini berbicara di bibir istrimu. Ia akan sembuh dari semua derita dan penyakitnya selama ini<\/p>\n\n\n\n<p>Bersyukurlah kepadaNya anakku<br>karena engkau telah disimakkanNya<br>DiberiNya kau jalan memperbaiki amalmu<br>sebelum meninggalkan dunia ini<br>menyempurnakan imanmu<br>dan melebur dosa-dosamu tak terkira banyaknya<br>Bergembiralah! Hiduplah beribadah<br>agar engkau masuk hitungan di langit<br>Dan cintai kawan hidupmu ini<br>Jangan kau berdusta lagi barang sejenakpun<br>Inilah inti kesalahanmu selamanya ini<br>yang mengait dosa-dosa lain<br>Ajari putriku ini seluruh Qur&#8217;an<br>sampai selesai<br>Renungkan satu-satu lafaznya dan hubungkan arti<br>yang satu dengan korelasinya di ayat lain dalam kandungan Wahyu Ilahi<br>Allah telah meletakkan hikmah berserakan dan berpautan<br>di seluruh untaian kataNya<br>Tinggalkan pekerjaanmu di kantor<br>Rezeki kalian tak usah dipusingkan<br>Tuhan akan menyediakan makanan dari langit dan bumi<br>asal kalian telaah Qur&#8217;an siang malam<br>seraya merenungkan apakah pesan-pesan Islam<br>dewasa ini untuk dunia dan tanah airmu sendiri!<br>Aku akan datang sendiri berkali-kali<br>jika ada ayat Ilahi yang kalian tak mengerti benar<br>atau oleh otak ulama salah ditafsirkan<\/p>\n\n\n\n<p>dan akan kuterangkan apakah luasan maknanya<br>untuk zaman sekarang<br>Jika ada yang lebih sulit lagi<br>Ia sendiri akan menguraikan isi firmanNya<br>Inilah haqqu&#8217;l-yakin dalam makna hakiki<br>Tuhan, berbicara dan berdialog dengan insan<\/p>\n\n\n\n<p>Berbahagialah, anakku<br>dan bergembiralah kalian<br>dalam mencari keridhaan dan kehampiran kepadaNya!<br>Bekerjalah keras<br>Zaman ini bukan untuk lengah dan bermalas-malas<br>Dan tinggalkan tanda-tanda Muslim Muslimah di dunia ini<br>Jalankan tugas-tugasmu dengan penuh kecintaan<br>Sampaikan kepada insan, apakah cinta sebenarnya<br>cinta yang dikehendaki Ilahi subhanahu wa ta&#8217;ala<br>bukan api cinta-cintaan<br>sebagai kau sendiri pernah dipermainkannya<br>dan hangus terbakar olehnya<br>Tapi cinta merealisasi kehendak ilahi di bumi ini<br>melepas manusia dan belengu-belengu dosa<br>miskin, bodoh, penyakit dan derita!<\/p>\n\n\n\n<p>Pikirkanlah benar-benar segala ini<br>dan karangkan buku berjudul &#8216;Cintaku&#8217;<br>agar dapat kau panggil mereka yang kehilangan jalan kepadaNya kembali<br>dan beroleh taufiq hidayatNya<br><\/p>\n\n\n\n<p>Jadilah penyelamat bagi jin, syetan, dan manusia!<br><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pesona ta&#8217;jub pada tadjali Ilahi ini<br>aku hanya bisa berkata:-Insya Allah, ya rasulullaah!<\/p>\n\n\n\n<p>Maka sejak malam itu (empat belas tahun silam)<br>belajarlah kita memahami lembaran ayat-ayatNya<br>senuktah demi senuktah<br>seayat di sini dinisbahkan dengan ayat lain di sana<br>sesurah demi sesurah<br>seringkali pula bersimpuh pada kaki Nabi<br>menyimakkan katanya dalam mendalami bermacam-macam<br>pelambang, nilai kata dan intihakikah Islam<br>bernisbah dengan zaman kini, lalu, dan bakal datang<br>bangsa demi bangsa dulu dan dewasa ini<br>tepat dan serongnya amal dan cita-cita insan<br>menghampiri Tuhan<br>menyatakan eksistensinya di bumi Allah ini<br>dalam pelbagai corak dan iklim berporak poranda<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh sebab itu, wahai pembaca tercinta<br>buku ini akan melukis wilayah cinta<br>nyala dan maraknya<br>mendidih menggelora lantang menjulang<br>dan apa hubungannya dengan kehidupan insan<br>cinta dalam arti luas<br>kar&#8217;na merangkum seluruh kegiatan<br>perjuangan dan cita-cita manusia Muslim Indoensia<br>sebagai kunjung dialami, pikirkan<br>dan diindera oleh hamba dhaif ini<br>yang banyak mempunyai kesalahan di zaman lalu tapi ingin menjauhinya untuk waktu seterusnya dan jika ada taufik hidayatNya<br>ingin balik kepadaNya penaka abdiNya penuh<br><\/p>\n\n\n\n<p>Mari kawan<br>Ayo kita beramal di jalanNya<br>Kita perbaiki diri<br>Kira sempurnakan tekad Kita bulatkan tujuan<br>agar menjadi abdi-abdi dan kecintaanNya!<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahrum Rangkuti (1969) Djakarta Dalam Puisi Indonesia 1Mari bersinandung lagi, sayangsebagai dulu, pebila ramadhan datang kembaliKita lagukan insan, cinta, dan IlahiKita nyanyikan kehidupan: kini dan bakal datang Melodi cinta dan perjuangannyanyian mujahid mujahidah ditayang cita-citakadang remuk pecah dalam mencari kehampiran padaNyakadang ditendang dunia, kar&#8217;na ingin menyatakan ilmu urfan Ale dongan! Mari kawan-kawan, para saderek, para [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,1],"tags":[108,109],"class_list":["post-937","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","category-uncategorized","tag-108","tag-bahrum-rangkuti"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=937"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":943,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/937\/revisions\/943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}