{"id":951,"date":"2014-04-24T13:50:29","date_gmt":"2014-04-24T13:50:29","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=951"},"modified":"2020-06-27T13:58:54","modified_gmt":"2020-06-27T13:58:54","slug":"surat-buat-pa-said","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=951","title":{"rendered":"Surat Buat Pa Said"},"content":{"rendered":"\n<p><em><br>Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kita hidup atas satu bumi tapi dua dunia<br>Kita hidup dalam satu hari tapi lain mimpi<br>Impian yang sederhana, impian dalam mimpi<br>Yang mengendap, jadi keyakinan: Warna kan jadi hijau, malam secerlang pagi<\/p>\n\n\n\n<p>Bertolak pada keyakinan, kita lepaskan<br>impian demi kepercayaan masing-masing<br>bertolak atas kasih sayang, kita lepaskan<br>kekasih paling tercinta. Kita lebih percaya<br>pada hari akan datang. Di mana manusia menancapkan hati di bumi yang dia cintai<\/p>\n\n\n\n<p>Kita hadapi apa yang musti datang<br>Kita hadapi apa yang musti kita hadapi<br>Kuingin kita rapat berbareng menyongsong<br>Kuingin jarak tiada lagi, walau harapan telah gosong<br>walau apa yang kita percayakan dan impikan adalah<br>Dua wanta dua hati<\/p>\n\n\n\n<p>Tugas kita adalah tugas mencintai bumi<br>Tugas kita mencintai apa yang harus kita cintai<br>Cintaku adalah panas matahari<br>yang mewarnai cintaku, merah atau hijau<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia datang dan menetap di sini<br>Bicara tentang hari depan tapi ia sendiri telah lama mati<br>Mereka benalu yang hidup atas kematian orang lain<br>Mengisap hingga zat penghabisan<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi manusia lama pergi<br>Manusia yang mencari bumi subur, yang hidup menggelora<br>Manusia yang mengepalkan angan karena percaya<br>Bekas jari-jari kakinya terpeta atas rumput, embun turun malam tadi<br>Ia telah pergi dan takkan kembali ke mari<br>Karena yang ia cari, yang ia mau temui<br>Tak ada di sini: Bumi subur buat manmusia berjiwa hidup<br>Kaerna yang ingin ia punyai, yang ingin ia genggam<br>Tidak ada lagi di bumi ini: Alam yang ragam warna<\/p>\n\n\n\n<p>Di sini bumi satu warna saja<br>Hanya subur bagi manusia berjiwa mati<br>Tangan yang kau ulaskan adalahh ulasan abadi<br>Cinta yang kau curahkan jadi beku, karena<br>warna cuma satu<\/p>\n\n\n\n<p>Kupercayakan nasib di genggaman tangan sendiri<br>Kupercayakan hari depan pada langkah yang kulangkahkan<br>Kutolak kasih yang kau berikan, ingin hidup sendiri<br>Ingin memilih satu warna, antara warga beragam macam<br>ingin satu cinta, antara cinta beragam macam<\/p>\n\n\n\n<p>Aklu adalah diri mereka yang hadir<br>Yang berani menolak kehadiran diri sendiri<\/p>\n\n\n\n<p>Ranting-ranting mati menemui bumi subur di sini<br>Jika malam habis dan pagi jernih, rumput kusam<br>Tapak-tapak mereka pergi takkan kembali, angin menghembuskan<\/p>\n\n\n\n<p>Nafas satu keyakinan yang diragami warna-warni<br>Mereka yang menetap namun yang tak hidup di sini<br>Karena kehilangan arah, jantungnya terhenti<\/p>\n\n\n\n<p>Kuhitung segala impian yang ingin kulepaskan<br>Kutimbang segala bintang yang melekat di langit dan di bumi<\/p>\n\n\n\n<p>Karena aku tahu arah dalam keragaman arah<br>Karena aku tak tahu arah dalam ketunggalan arah<br>karena aku mencari bumi yang kucari<br>Kulepaskan kasih dalam keragaman arah<br>Dan arahku sudah pasti<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia datang dan pergi<br>Manusia bicara, hidup atau mati, manusia bicara<br>Membicarakan kehidupan dengan jiwa yang telah lama mati<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kita hidup atas satu bumi tapi dua duniaKita hidup dalam satu hari tapi lain mimpiImpian yang sederhana, impian dalam mimpiYang mengendap, jadi keyakinan: Warna kan jadi hijau, malam secerlang pagi Bertolak pada keyakinan, kita lepaskanimpian demi kepercayaan masing-masingbertolak atas kasih sayang, kita lepaskankekasih paling tercinta. Kita lebih percayapada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[110,112],"class_list":["post-951","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-110","tag-ajip-rosidi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/951","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=951"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":957,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/951\/revisions\/957"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}